Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kandang Kambing Nurjawilah oleh Damhuri Muhammad

Posted on Ming, 01 Nov 2020

Selapuk-lapuknya tubuh Nurjawilah setelah ditinggal suami, kandang kambing di lereng bukit itu masih jauh lebih lapuk. Atapnya tiris. Tiang utama yang sudah miring ke kiri, hanya terselamatkan oleh tebing. Balok-balok penyangga tiang berderak-derak hanya karena embusan angin tipis-tipis dari atas bukit.

Kambing-kambing piaraan Nurjawilah mengembik tak sudah-sudah, bila tempias hujan masuk dari semua sisi dinding anyaman bambu yang bolong di sana-sini. Usia kerapuhan kandang itu adalah akumulasi dari usia perkawinan yang telah memproduksi tiga anak, ditambah umur perceraian yang sudah menghasilkan tiga periode lamaran duda kaya, yang semuanya berakhir dengan penolakan telak.

”Lebih baik kawin dengan Kambing Jantan daripada menerima lamaran Manusia Jantan yang pasti undur diri bilamana tubuh istrinya sudah tinggal ampas!” gumam Nurjawilah, sambil memastikan jumlah uang pembayaran atas seekor Kambing Jantan dari Chien Bi.

”Kambing Jantan tentu akan hengkang setelah ia cukup umur untuk dijual ke Kampung Cina ini. Tapi kehilangannya selalu meninggalkan kebahagiaan. Setidaknya kelegaan setelah tabunganku aman untuk semesteran si bungsu Azman,” gumam Nurjawilah lagi.

”Sementara Manusia Jantan yang sudah pergi menurutmu hanya mewariskan penderitaan?” goda Chien Bi, sambil mengumbar senyum tanggung.

Hening sesaat. Suara azan berkumandang dari arah Masjid Raya, hanya dalam hitungan ratusan meter dari Kampung Cina itu. Nurjawilah memastikan simpul kebatan karet gelang pada lembaran-lembaran uang kertas dalam kantong kresek hitam di keranjangnya aman, sebelum ia beranjak pulang.

”Hmm… sudah Ashar, Jawilah. Baiknya kau shalat dulu saja di sini. Biar tak singgah-singgah lagi di perjalanan nanti!” kata Chien Bi, sambil menunjuk arah tempat shalat yang tersedia di tokonya.

Begitulah dunia Nurjawilah. Rumah reot. Tumpukan rumput, tali-tali kambing, kandang lapuk, dan Toko Chien Bi di Kampung Cina, tempat ia menjual kambing-kambing piaraannya, bila sudah tiba waktunya.

”Jangan lupa perbaiki kandangmu, sebelum roboh dan menimpa kambing-kambing piaranmu sendiri!” kata Chien Bi saat ia melepas Nurjawilah pulang.

”Yang kau pikirkan kambing-kambing itu saja, Chien! Kapan kau menyuruhku merenovasi tubuhku, hah?” balas Nurjawilah sambil berlalu.

Orang pertama yang ia temui dalam rencana renovasi kandang kambing itu adalah Khatib Gembrot, kakak kandung Nurjawilah sendiri. Ia tahu betul reputasi Khatib sebagai tukang kayu. Jangankan urusan kandang kambing, renovasi rumah reot yang kini dihuni Nurjawilah pun akan beres dengan mudah di tangannya.

”Tak usah bagus-bagus. Kau ganti saja tiang-tiang usang itu dengan bambu dari rumpun aur kita. Tabunganku hanya tersisa sedikit setelah melunasi semesteran Azman,” mohon Nurjawilah pada Khatib Gembrot.

”Kalau kau buru-buru, cari tukang lain saja! Aku sedang merampungkan pembangunan Musholla di kampung sebelah. Sebentar lagi mau diresmikan Bupati,” kata Khatib Gembrot, beralasan.

Itu permintaan Nurjawilah yang ketiga pada Khatib Gembrot. Sebelumnya ia berdalih, sedang mengerjakan borongan pembangunan Surau bantuan Kementerian Agama. Kepala proyek tak mengizinkan Khatib Gembrot menerima pekerjaan lain sebelum Surau itu sempurna selesai. Sebelumnya lagi, si Khatib beralibi, sedang terkilir tangan kanan lantaran mengganti kuda-kuda atap di rumah istri muda Buya Naimin. Waktu itu ia bilang harus beristirahat, paling tidak untuk tiga pekan ke depan.

”Berharap bantuan pada saudara sendiri seperti mengharapkan sisik dari ikan Limbat!” kata Nurjawilah. Kesal.

”Sudah kubilang. Bila kau tergesa-gesa, cari tukang lain. Aku sibuk!” balas si Khatib Gembrot, lebih kesal lagi.

”Kau kira tak bakal kubayar upahmu, hah? Jangan khawatir. Yang bersaudara hanya badan kita. Uang tak bersaudara, Khatib! Upahmu sesuai tarif…”

Nurjawilah makin jengkel. Satu-satunya saudara yang tersisa kadang-kadang terasa sebagai satu-satunya musuh dalam selimut. Betapa tidak? Ribut-ribut kecil Nurjawilah dengan Jukidal suaminya yang kemudian berujung dengan perceraian itu, jika dirunut jauh ke belakang, tak mungkin lepas dari andil si Khatib Gembrot. Masa itu Jukidal sedang kasmaran. Diam-diam membuat hubungan serong dengan Halidah, janda beranak dua, berpinggul besar, pemilik kedai kopi di gelanggang judi sabung. Khatib Gembrot dihantam kekalahan berlapis-lapis. Utangnya pada komplotan Jukidal lebih panjang dari tali beruk.

Namun, Khatib tak perlu repot-repot membayarnya, asalkan ia berkenan melapangkan jalan bagi Jukidal untuk memiliki Halidah.

”Bujuk adikmu, supaya ikhlas kuceraikan! Jangan terlalu dipikirkan utang-utangmu itu!” kata Jukidal.

Sejak itu mulailah Khatib Gembrot menjalankan propaganda tengiknya. Disingkapkannya hubungan serong Jukidal dengan Halidah yang terus berlangsung di gelanggang judi sabung. Tak lupa ia pastikan pula bahwa semua hasil kemenangan Jukidal, tak akan pernah sampai di rumah adik perempuannya itu. Sebab, sebelum keluar dari gelanggang, hasil kemenangan itu telah diisap lebih dahulu oleh kotak mini di kedai kopi Halidah.

”Suami Bapak Ayam!” umpat Nurjawilah seketika.

Keributan demi keributan pun tak terhindarkan. Khatib Gembrot seolah-olah sedang berpihak pada adik kandungnya. Padahal ia hanya menginginkan pecah kongsi Nurjawilah-Jukidal lekas terwujud, dan utang-utangnya yang sebelit pinggang itu, segera diputihkan.

”Tak layak kau pertahankan pejudi sabung itu! Minta cerai saja. Sebelum hidupmu semakin merana. Sebelum kambing-kambing piaraanmu ikut pula menanggung akibatnya!” kata Khatib Gembrot. Seolah-olah peduli betul ia pada nasib tak mujur adiknya.

”Sepanjang hari kau merawat ayam kinantan bengkok taji miliknya. Pernah kau mencicipi hasil kemenangan di gelanggang judi sabung?”

”Kambing-kambing itu akan menghidupimu!”

”Ikhlaskan Jukidal menjauh dari hidupmu, Jawilah!”

Dalam kejengkelan tingkat dewa, dalam napas yang terengah-engah, Nurjawilah menebang lima batang bambu dari rumpun aur di lereng bukit. Dicacah-cacahnya menjadi beberapa kepingan sebagai pengganti rangka kandang yang sudah lapuk. Sebagai tiang, sebagai balok, sebagai kasau. Tiang-tiang utama ia cat merah. Balok-balok horisontal ia cat putih. Kasau-kasau ia selang-selingi dengan merah-putih-merah. Dinding yang bolong di sana-sini, ia tambal dengan beberapa lembar sasak baru kiriman anak buah Chien Bi dari Kampung Cina.

Tampak depan dan tampak belakang kandang kambing itu membentuk tanda salib. Tiangnya merah, palangnya putih. Kalau dilihat betul-betul, maka rangka kandang kambing Nurjawilah itu, membentuk salib merah-putih.

Suatu malam menjelang perayaan hari kemerdekaan, tak ada angin tak ada hujan, kambing-kambing di kandang itu mengembik-embik tak tentu sebab. Suaranya terdengar sampai ke tengah kampung. Orang-orang bergegas ke lereng bukit, hendak memeriksa apa gerangan yang terjadi di kandang kambing milik Nurjawilah itu.

”Saudara-saudara! Jawilah telah membaptis kambing-kambing piaraannya. Tengoklah, bahkan kambing-kambing itu menolak dikristenkan!” kata Buya Naimin, sambil menggigil lantaran kedinginan.

”Salib merah-putih itu adalah pangkal soal keributan kambing-kambing ini. Pemilik kandang tak segan-segan melakukan kristenisasi di kampung kita. Ia mulai dengan memurtadkan kambing-kambing piaraannya terlebih dahulu. Astaghfirullah…” kata Buya Naimin lagi.

”Sekarang kambing-kambing itu. Nanti anak-cucu kita ia kristenkan, Buya!” sambung Syafrial, si guru ibtidaiyah. ”Mana Khatib Gembrot? Ia harus bertanggung jawab atas perbuatan adiknya!”

Di kerumunan itu, Jukidal bersyukur dalam hati. Andai saja ia tidak segera menceraikan Nurjawilah, boleh jadi dirinya akan menjadi orang pertama yang dimurtadkan. Kepada orang-orang yang sedang terbakar amarah di sekeliling kandang kambing itu, ia mengaku tidak tahu-menahu rencana-rencana busuk si Nurjawilah itu. Ia merasa sangat beruntung telah diselamatkan oleh Halidah, istri tercinta, dan atas bantuan tak terlupakan dari sabahat baiknya sesama pejudi sabung, Khatib Gembrot.

Robohkan, robohkan, bakar. Robohkan, robohkan, bakar. Tangkap Nurjawilah…

Robohkan, robohkan, bakar. Robohkan, robohkan, bakar. Tangkap Nurjawilah…

Samar-samar suara terdengar dari bilik kecil Nurjawilah. Makin lama makin terang tersimak. Tak lama berselang, halaman rumah Nurjawilah sudah penuh sesak orang.

”Keluar kau, Jawilah! Kau pancangkan salib merah-putih di kampung ini!” teriak Khatib Gembrot, sambil menggedor-gedor pintu.

”Hei Jawilah! Siapa yang memerintahkamu untuk menggerakkan kristenisasi di sini?” sambung Buya Naimin. Geram.

”Jangan diam saja kau, Jukidal! Apa yang telah kau ajarkan pada Jawilah selama ia jadi istrimu? Jangan-jangan kaulah otak dari gerakan penginjilan itu?” gertak Syafrial dalam tatapan tajam.

”Apa kau bilang? Jangan kau bawa-bawa aku! Kau bisa tengok betapa solehahnya istri mudaku Halidah sekarang! Seharusnya Jawilah juga bisa seperti itu. Bukannya memurtadkan kambing-kambing piarannya!” sangkal Jukidal. Lekas.

Dari balik pintu yang separuh terbuka, Nurjawilah menghadang kerumunan.

”Salib apa, Khatib? Salib apaaaa?” tanya Nurjawilah dalam suara lantang.

”Aku hanya merehab kandang kambing. Sendirian. Bahkan tanpa bantuanmu!”

”Berani melawan kau sekarang? Itu salib Kristen! Kau mau memurtadkan kami?” kata Khatib Gembrot.

”Usir Jawilah! Buang dari kampung!” sambung Syafrial, memprovokasi massa yang semakin banyak.

Usir Jawilah. Buang dari kampung…

Usir Jawilah. Buang dari kampung….

Yel-yel menyeruak deras. Dari mulut-mulut nyinyir orang-orang di halaman rumah Nurjawilah. Termasuk mulut Jukidal, mantan suami Nurjawilah. Suara teriakan demi teriakan itu memecah senyap malam. Tak menunggu lama, keributan itu tersebar luas ke seluruh penjuru kampung.

Jawilah bergegas turun. Ditantangnya muka-muka sangar itu. Ditatapnya tampang-tampang pandir itu. Satu per satu. Termasuk tampang Jukidal, ayah dari anak-anaknya.

”Sejak bila tiang dan balok kandang kambing bisa membuat orang pindah agama? Sejak bilaaaaaaaaaaaaaaaa?” gertak Jawilah.

Buya Naimin, Syafrial, dan Khatib Gembrot diam. Mereka bagai tergulung jauh oleh tingginya gelombang suara Nurjawilah. Jukidal gemetar ketakutan. Ia merasa bakal diterkam oleh mantan istrinya.

”Kalian tahu? Di Kampung Cina sana, orang-orang mendengar azan lima kali sehari. Tapi, mereka tak takut anak-cucunya bakal masuk Islam. Paham kalian?”

Damhuri Muhammad : pengajar di Universitas Darma Persada Jakarta, lahir di Padang tahun 1974 dan tinggal di Depok, Jawa Barat. Cerpen-cerpennya terhimpun dalam buku Cerpen Pilihan Kompas.

I Wayan Wirawan : lahir di Sukawati, Gianyar 1975. Dari tahun 1987 hingga 1992 belajar seni lukis tradisi gaya Batuan di Desa Batuan Bali. Tahun 1991 diundang oleh The International Society For Educational Information, JAPAN untuk study banding seni tingkat pelajar sebagai FIRST PRIZE. Tahun 1991 -1995 menyelesaikan studinya di SMSRN Denpasar. Tahun 1995 ia melanjutkan ke Institut Seni Indonesia Yogyakarta sampai tahun 2002. 2012 kursus Lithografi di Charles Darwin University, Northern Territory Australia, sampai sekarang aktif mengikuti pameran lukisan maupun instalasi.

sumber : kompas.id, 01 Nov 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme