Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sepucuk Surat oleh Virginia Woolf

Posted on Ming, 27 Jun 2021

Ada lekukan kecil di atas permukaan gunung itu bagaikan sebuah kawah yang terdapat di bulan. Lekukan itu dipenuhi salju yang tampak berwarna-warni seperti dada seekor burung nuri, tetapi terkadang tampak berwarna pucat beku.

BENDA-BENDA terserak di sana-sini. Betapa sulit bernapas atau menyingkap selubung yang menutupi kehidupan. Salju itu sama saja, sejenak seakan tampak berwarna-warni, lalu berwarna semerah darah dan putih bersih, tergantung pada hari.

Ada kuburan di lembah. Di sana ada sebuah gundukan lebar di salah satu sisi; batuan yang murni; lumpur salju; pohon pinus mencengkeram tebing batu yang terjal; sebuah gubuk terpencil; ada semacam mangkuk hijau, lalu atap yang seperti kulit telur; akhirnya, di bagian paling bawah, tampak sebuah desa, hotel, bioskop, dan kompleks pekuburan –sebuah kompleks pekuburan di halaman gereja dekat hotel yang mengabadikan nama-nama beberapa lelaki yang terjatuh saat memanjat gunung.

”Gunung,” perempuan itu menulis seraya duduk di balkon hotel, ”adalah lambang.” Ia berhenti. Ia bisa melihat puncak gunung tertinggi melalui kacamatanya. Dia menatap saksama, seolah-olah ingin memastikan benda itu melambangkan apa. Ia sedang menulis surat untuk kakak perempuannya di Birmingham.

Balkon itu menghadap ke jalan utama tempat peristirahatan musim panas Alpina, bagaikan sebuah kotak balkon di gedung teater. Ada ruang duduk pribadi dan juga tempat untuk bermain teater –semacam tirai yang menyelubungi– dipergelarkan di depan umum. Selalu ada sedikit basa-basi, kata pembuka, terbukanya selubung tirai. Hiburan perintang waktu. Jarang melebur dalam sebuah kesimpulan, seperti halnya perkawinan atau persahabatan yang berakhir. Ada sesuatu yang luar biasa dalam hal itu: tak ada kesimpulan. Kepadatan bisa diseret ke ketinggian ini. Bahkan rumah-rumah tampak rapuh. Pada saat mereka mencapainya, desa itu pun menjadi baur, tak nyata.

Seraya merendahkan letak kacamatanya, ia mengangguk pada anak-anak muda di bawah balkon hotel yang tengah bersiap untuk memulai pendakian. Ia memiliki hubungan tertentu dengan salah satu di antaranya –bibi anak muda itu adalah kepala sekolah anak perempuannya.

Masih menggenggam pena yang meneteskan tinta, ia melambai kepada para pendaki itu. Ia telah menulis bahwa gunung adalah sebuah lambang. Tapi lambang apa? Pada tahun empat puluh di abad sebelumnya ada dua lelaki yang tewas –tahun enam puluh empat lelaki. Sebab yang pertama karena tali yang putus; sebab kedua karena malam keburu tiba dan membekukan mereka hingga bertemu maut. Kita selalu memanjat hingga ketinggian tertentu. Namun, itu tak mewakili apa yang ia pikirkan setelah memandang melalui kacamatanya ke puncak gunung yang masih perawan itu.

Ia melanjutkan menulis, tetapi tak berhubungan dengan tulisan sebelumnya. ”Aku bertanya-tanya mengapa gunung itu membuatku berpikir tentang Isle of Wright? Kau ingat, saat Mama hampir meninggal dunia kita membawanya ke sana. Dan aku berdiri di balkon saat perahu tiba dengan penumpang di atasnya. Kukira itu Tuan Edward. Dia baru saja turun dari perahu. Kini semua penumpang telah mendarat. Mereka tak lagi melihat pada perahu itu. Aku tak pernah mengatakan kepadamu –kau berada di India saat itu, sedang mengandung Lucy– bahwa aku merindukan saat-saat ketika dokter datang, dia berkata, ’Ibumu tak akan bisa bertahan hingga seminggu lagi.’ Kenyataannya Mama masih hidup hingga delapan belas bulan kemudian. Gunung membuatku teringat betapa aku merasa amat sendirian saat itu. Aku terpaku menatap saat kematiannya, seperti sebuah lambang. Aku berpikir jika aku mencapai titik itu, aku akan terbebas. Kami tak bisa menikah hingga setelah Mama meninggal. Segumpal awan akan tampak menutupi gunung itu. Kurasa saat aku mencapai titik itu pastilah akan terasa hampa –aku tak pernah mengatakan kepada siapa pun. Aku berada di puncak. Aku bisa melihat dari segala sudut. Kita berasal dari sebuah keluarga India-Inggris. Aku masih bisa membayangkan, saat mendengar cerita-cerita, bagaimana orang-orang tinggal di belahan dunia yang lain. Aku bisa melihat gubuk-gubuk berlumpur itu, juga kehidupan yang liar. Aku bisa melihat gajah yang sedang minum di danau. Begitu banyak yang telah dijelajahi oleh para paman dan sepupu kita. Aku selalu amat ingin menjelajahi diriku sendiri. Tapi tentu saja, saat waktunya tiba, semua itu akan bisa kurasakan, dengan mempertimbangkan keterikatan dalam pernikahan.”

Dia menatap ke seberang jalan pada seorang perempuan yang sedang menggoyang-goyangkan sehelai tikar di atas balkon lainnya. Setiap pagi pada waktu yang sama perempuan itu muncul. Kita bisa melemparkan sebutir kerikil ke atas balkonnya. Hubungan mereka telah sampai pada titik saling bertukar senyum, hanya terpisah oleh sepotong ruas jalan yang membentang.

”Vila-vila kecil,” tambahnya, menuliskan kembali penanya, ”di sini mirip sekali dengan di Birmingham. Semua rumah membuka pondokan. Hotel itu agak penuh. Walaupun agak membosankan, makanan di sini tidak bisa dibilang buruk. Kita bisa melihat gunung dari setiap jendela. Begitulah. Kadang-kadang aku bisa menjerit saat keluar dari toko yang menjual koran –datangnya telat seminggu– selalu karena melihat gunung itu. Terkadang ia tampak seperti berada dekat di seberang jalan. Lainnya, seperti segumpal awan, hanya tak pernah bergerak. Entah bagaimana, pembicaraan di sini selalu berkisar tentang gunung, bahkan di antara orang-orang cacat sekalipun. Memang klise. Dalam badai semalam, kuharap untuk kali pertama gunung itu bersembunyi. Tetapi, seperti dibawa oleh ikan-ikan kecil, pendeta itu berseru, ’Lihat gunung itu!’

”Apakah aku egois? Aku tak merasa perlu malu kepada diriku sendiri jika aku menderita, bukan? Orang-orang pribumi di sini menderita amat parah karena penyakit gondok. Tentu saja itu bisa dihentikan jika punya uang. Apakah tak seharusnya kita malu membiarkan sesuatu yang tak tersembuhkan? Untuk menghancurkan gunung itu diperlukan sebuah gempa bumi. Aku bertanya kepada pemilik hotel pada suatu hari, Tuan Melchior, apakah ada gempa bumi saat ini? Tidak, katanya, hanya salju dan tanah longsor. Kabarnya, longsor itu bisa melenyapkan seluruh desa. Tetapi, ia menambahkan bahwa tempat ini akan aman.”

Baca juga: Antara Bahasa dan Benturan Budaya

”Saat aku menulis kata-kata ini, aku bisa melihat anak-anak muda itu memanjat lereng gunung. Mereka mendaki dengan tali bersama-sama. Kini mereka melintasi sebuah jurang.”

Pena itu terjatuh dari tangannya dan tetesan tinta mengotori kertas, membentuk garis berliku. Para pemuda itu lenyap dari pandangan.

Larut malam regu pencari baru berhasil menemukan tubuh para pemuda yang ditulis oleh perempuan itu di atas sepucuk surat yang tak selesai di atas meja balkon. Dia memegang penanya sekali lagi, lalu menambahkan, ”Sebuah hal klise. Mereka mati ketika mencoba memanjat gunung itu. Para petani menaburkan bunga-bunga musim semi di atas pusara mereka. Mereka mati saat berusaha melakukan penjelajahan.”

Tampaknya tak ada kesimpulan. Dan ia menambahkan, ”Salam sayang untuk anak-anakmu.” Kemudian ia menuliskan nama kecilnya. (*)

 

VIRGINIA WOOLF (1882–1921) : Pengarang terkemuka Inggris. Karya-karyanya berupa cerpen, novel, dan sejumlah esai yang terutama berisi pandangan-pandangannya tentang feminisme. Novel-novelnya, antara lain, Mrs. Dalloway dan To the Lighthouse.

 

ANTON KURNIA : Penerjemah karya sastra dan penulis prosa. Buku terbarunya adalah Menulis dengan Cinta: Pengantar Belajar Menulis Kreatif (Baca, 2021).

sumber : JAWAPOS, Minggu, 27 Juni 2021

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme