Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Dosa Seorang Istri yang Tidur pada Pukul 19.00 oleh A. Warits Rovi

Posted on Kam, 05 Nov 2020

Duya mematut wajahnya di cermin; lelah berparam butir keringat dengan latar rambut acak tergerai ke punggung. Sepasang matanya redup dan berkedip lemah. Di lehernya ada bekas gigitan halus warna merah. Sebentar ia raba dengan jemarinya yang kurus. Bahunya yang tanpa lilitan tali kutang menampakkan lekukan tulang, senada dengan tonjolan di bagian atas pipinya yang kian menonjol. Ia merasa dirinya semakin kurus. Tulang-tulang di bagian atas dadanya yang hanya tertutup sarung juga demikian, menegaskan tugas berat seorang istri yang berusaha taat pada suami.

Azan subuh terdengar, Duya lekas gegas ke kamar mandi. Karena selain junub, ia juga harus pergi bekerja pagi-pagi. Sepintas ia menoleh ke arah suaminya yang masih tidur; mendengkur, memeluk bantal. Ia lanjut melangkah melawan irisan dingin.

Selesai salat Subuh, tas tua penuh sobekan yang terbuat dari anyaman lidi siwalan telah ia sesaki dengan peralatan kerjanya. Ada sabit, kapak, batu pengasah, sarung tangan, tali rafia juga sebotol kopi dan camilan. Lalu ia mengikat tas lusuh itu di bagian belakang sepeda ontelnya yang penyok penuh karat.

Sebentar ia kembali ke depan cermin. Mematut wajahnya kembali. Wajahnya yang tirus berminyak, kini sedikit rapi karena rambutnya tersanggul dalam balutan capil pandan yang bundar lebar. Tubuhnya tanpa lipstik dan parfum. Ia abaikan semuanya alami seolah sengaja diserasikan dengan nasibnya sebagai buruh tani. Sisa bau keringat yang sejak kemarin lekat di bajunya ia hidu sebagai lagu hidup penuh makna.

Kadang ia tersenyum, kadang meneteskan air mata. Suaminya masih mendengkur.

”Harus sekeras inikah untuk menjadi istri yang salehah?” gumamnya perih.

Sebagaimana hari-hari sebelumnya, ia senantiasa sabar membangunkan suaminya dengan lembut agar bisa pamit dengan baik. Ia tak bosan dan tak sedikit pun marah meski tangan kurusnya harus berkali-kali mengguncang tubuh suaminya agar bisa bangun. Ia tetap tersenyum meski kadang dibentak oleh suaminya.

Setelah suaminya bangun—meski masih berbaring dan matanya setengah terbuka—ia lalu mencium punggung tangan suaminya itu. Kemudian pamit untuk berangkat. Suaminya menjawab dengan suara serak sambil menguap karena mengantuk, kadang menggeliat seperti tak ada keinginan untuk membuka mata.

”Jangan lupa hari ini kamu harus pulang lebih siang, karena nanti malam Jumat,” suaminya melirik dengan tatap yang didera ngantuk. Duya tak menjawab, hanya melempar senyum dari balik capil daun pandan yang membuat wajahnya hanya bisa dilihat sebatas alis.

”Apa bahan-bahan jamuku sudah kau persiapkan? Telur, madu, pinang muda, dan jahe,” suara suaminya kembali seperti orang mabuk, matanya terpejam dan mulai memeluk guling.

”Sudah siap, Mas,” ia menoleh ke arah suaminya, mengaduk beragam rasa antara malu, lucu, dan diam-diam sedikit enek.

”Bagus. Seorang istri kalau mau masuk surga dan selamat dari neraka ya harus begitu, harus taat kepada suaminya,” sambung suaminya masih dalam keadaan merem. Duya hanya tersenyum kecut, tangannya pelan mulai menuntun sepeda ontelnya ke arah pintu.

Sebentar ia menoleh, suaminya sudah erat memeluk guling dan samar-samar mendengkur kembali. Ia menggeleng, lalu dengan seucap Basmalah, mulai mengayuh sepedanya, menembus jalan kampung yang masih gelap. Rasa dingin semakin menusuk, serasa tandas hingga tulangnya. Sepanjang perjalanan, di antara liku jalan dan kilat daun berkeramas embun, pikirannya selalu dibayang-bayangi tentang suami, surga dan neraka. Ia merasa seorang istri tak berhak menolak dan menyanggah bahkan sekadar bertanya pun tak boleh saat ia sudah berhadap-hadapan dengan suami. Sebab, seolah neraka berada di balik punggung setiap istri.

#

Suami Duya merupakan lelaki pilihan almarhum ayahnya. Hanya dia yang diterima oleh ayahnya dari sekian lelaki yang datang melamar. Kata ayahnya, lelaki itu orang yang pandai ilmu agama, ia bakal menyelamatkan keluarga dari api neraka. Saat itu, sebenarnya Duya masih kurang berkeinginan untuk berumah tangga, karena masih belia dan ingin menikmati masa remajanya dengan belajar. Tapi, ayahnya tetap bersikeras untuk segera menikahkan dia dengan lelaki itu, ayahnya takut si lelaki itu mundur dan menikah dengan gadis lain.

Ayahnya kemudian minta tolong kepada Husna, teman karib Duya, supaya membujuk  Duya agar segera menikah dengan lelaki itu. Husna melaksanakan tugas itu dengan segera. Ia bercerita tentang pernikahan yang akan mendatangkan banyak keindahan di dunia dan kelak di akhirat. Bujukan itu tak cukup hanya sekali, Husna selalu mengulanginya setiap kali bertemu dengannya dalam waktu kurang lebih setengah bulan. Hingga suatu hari, ia terpikat dengan bujukan itu, terlebih ketika Husna mengatakan bahwa pernikahan itu adalah ladang ibadah yang memungkinkan seorang wanita bisa mudah masuk surga.

#

Sudah empat tahun Duya menjalin rumah tangga, tapi masih belum punya keturunan dan ia berpikir tak mungkin akan punya keturunan, sebab suaminya melarangnya hamil. Ia selalu disuruh minum pil kontrasepsi secara rutin. Suatu ketika, ia diam-diam pernah telat, tapi saat suaminya tahu, ia langsung marah dan menyuruh Duya supaya tidak sampai hamil. Tangisnya selalu pecah setiap mengingat hal itu, padahal dirinya sangat mendamba seorang anak. Ia ingin rumahnya ramai dengan suara anak-anak seperti rumah Husna.

”Aku hanya ingin bermain denganmu di kamar setiap malam, tapi jangan sampai kamu hamil. Jika keinginanku ini kau tolak, maka kamu akan jadi istri yang durhaka, akan masuk neraka,” suaminya selalu berkata demikian setiap ia mengutarakan keinginannya untuk punya anak.

Duya memendam segala luka jiwanya sendirian, hingga di suatu pagi yang tak disangka, setelah dua tahun tidak bertemu, ia akhirnya bisa mencurahkan isi hatinya kepada Husna. Sepasang mata Husna tak berkedip saat pertama kali melihat keadaan Duya saat itu, tubuhnya kurus, tirus dan berwajah muram.

Husna menganga, jarang merespons kata-kata yang tercurah dari bibir Duya, ia seperti terkejut melihatnya. Husna semakin heran setelah ia bercerita tentang suaminya yang tidak bekerja kecuali hanya mengumbar dalil-dalil agama. Minta jatah tiap malam lengkap dengan racikan jamunya, tapi melarang Duya hamil.

”Begitukah keindahan atau ladang ibadah yang kau maksud dulu, Hus?” tanya Duya dengan suara serak.

Sebentar ia kembali ke depan cermin. Mematut wajahnya kembali. Wajahnya yang tirus berminyak, kini sedikit rapi karena rambutnya tersanggul dalam balutan capil pandan yang bundar lebar.

Husna mengernyitkan dahi dan menelan ludahnya spontan, ia baru sadar jika dari tadi dirinya tercengang. Sebelum menjawab, Husna memeluknya begitu erat seraya menangis. Telapak tangan Husna mengelus punggungnya dengan lembut. Ia tidak menyangka teman karibnya itu akan mengalami nasib seburuk itu. Ia lalu bercerita kehidupan diri dan suaminya, tepatnya bagaimana pernikahan yang sesungguhnya, tugas pokok seorang suami yang sebenarnya. Duya menyimak penjelasan Husna dengan tatap tajam, tapi butiran air dingin terus merembes dari sudut matanya yang cekung.

”Jika suami menafkahi istri secara baik, barulah istri berdosa jika ia tidak mau ketika diajak ke kamar oleh suaminya. Tapi jika suami tidak menafkahi, aku rasa istri berhak menolak,” kedua telapak tangan Husna mengelus pipi Duya. Husna berusaha menembakkan senyum. Tapi Duya merespons senyum itu dengan cucuran air mata.

#

Di balik mukena, mata Duya yang mengantuk berusaha tidak terpejam demi menunggu waktu Isya tiba. Seharian bekerja di ladang membuat tubuhnya begitu lelah. Ia menyiasati sepasang matanya supaya tidak terlelap dengan memandangi potret dirinya yang terpampang dalam perut pigura kuning emas di atas meja; ia bergaun putih, kedua tangannya mendekap serumpun bunga di dada. Pipinya masih kenyal dengan aura wajah jelita menganyam sebentuk senyum di balik kerudung biru.

Itu potret lima tahun lalu, sebelum ia menikah. Bila dibandingkan dengan keadaannya saat ini, jauh sangat berbeda. Kini, dirinya serupa sulur kangkung di tanah cadas; kurus, terlunta dengan segala kekang, tekanan dan ancaman suaminya. Semua itu membuat tubuhnya nyaris tak berdaging. Lekuk tulangnya menyerupai akar belukar yang menonjol ke beberapa bagian permukaan kulit, serasi dengan raut wajahnya yang sering terlihat muram, bermata cekung, redup dan kerap membutirkan cairan bening beserta suara isak, butiran itu melilntas di bibirnya yang kering, berjatuhan ke datar tubuhnya yang sering gemetar.

Baca juga : Alena: Seorang Lelaki dan Bangku Tua

Kesehariannya ia gunakan untuk menyelamatkan diri dari dosa, agar tidak terjerumus ke dalam api neraka—sebagaimana yang sering dijadikan bahan ancaman oleh suaminya dengan dalil-dalil berbahasa Arab—ia rela memanggang tubuhnya di bawah matahari demi mengais rezeki untuk suami, sedang di malam hari harus melayani suaminya dalam kamar tidur meski kadang dalam puncak lelah yang mencekik. Begitulah siklus hidup yang ia jalani setiap hari; siang di ladang, malam di ranjang. Sedang suaminya hanya di rumah, makan, minum kopi, dan merokok seraya terus mencari dalil-dalil agama yang bisa menjerat dia supaya takluk dalam kekangannya atas nama ketaatan.

Malam itu, sesudah salat Isya ia tertidur, wajahnya terlihat tenang dalam lelap, ditimpa cahaya lampu yang agak redup. Hanya beberapa menit dan belum mengurangi rasa ngantuknya sedikit pun, tiba-tiba suaminya membangunkannya dengan kasar sambil membentak-bentak, ia ditarik paksa hingga berdiri tergopoh, menguap dan mengucek-ngucek mata.

”Ini malam Jumat. Seorang istri yang tidur pada pukul 19.00 sepertimu akan mendapat dosa besar. Mestinya kau meracik jamu lalu melayaniku di dalam kamar,” sepasang mata suaminya terbelalak laiknya singa hendak menerkam.

”Ayo cepat ke dapur, buatkan aku jamu. Nanti jangan tidur lagi, kita akan bermain hingga dini hari,” suaminya mengedipkan sebelah mata.

Duya melangkah tertatih ke arah dapur dengan rasa kantuk yang mendera. Berkali-kali ia menguap. ”Jika suami hanya minta jatah di kasur, tapi tidak menafkahi istri dan melarang hamil, apa itu juga tidak berdosa,” pikiran Duya mulai memantikkan gumam pemberontakan.

Saat menyeduh jamu, tiba-tiba ia teringat dengan pil tidur yang sengaja ia pesan kepada temannya tadi siang. Ia mencampurnya dengan racikan jamu itu.

”Selamat tidur wahai nerakaku!” ucap Duya lirih.

Rumah FilzaIbel, 2020

***

A. Warits Rovi : lahir di Sumenep Madura 20 Juli 1988. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai, dan artikel dimuat di berbagai media nasional dan lokal,  antara lain Kompas, Tempo, Jawa Pos, Horison, Media Indonesia, Republika, MAJAS, Suara Merdeka, Seputar Indonesia, Indo Pos, Majalah FEMINA, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Bali Post, basabasi.co, Sinar Harapan, Padang Ekspres, Riau Pos, Banjarmasin Post, Haluan Padang, Minggu Pagi, Suara NTB, Koran Merapi, Radar Surabaya, Majalah Sagang, Majalah Bong-ang,  Radar Banyuwangi, Radar Madura Jawa Pos Group, Buletin Jejak, dan beberapa media online. Peringkat II Lomba Cipta Cerpen ICLaw Pen Award 2019.  Buku Cerpennya yang telah terbit Dukun Carok & Tongkat Kayu (Basabasi, 2018). Ia mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura. Email: waritsrovi@gmail.com.

sumber : kompas.id, 05 Nov 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme