Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Rahasia Semesta oleh Elizabeth Gabriela

Posted on Kam, 12 Nov 2020

Sekurang-kurangnya semua hal di dunia ini memiliki satu titik yang hanya diketahui oleh tuannya sendiri, setidaknya segala ihwal memiliki curahan yang hanya disimpan dalam satuan tunggal. Mereka menyebutnya rahasia, sesuatu yang dipendam entah karena malu atau kadang takut untuk diakui keberadaannya. Begitu pun dengan alam, mereka juga menyimpan rahasia.

Konon, katanya sebelum gravitasi mulai menjadi fundamental bagi segala sistem kehidupan, alam semesta raya membelah diri menjadi dua bagian terlebih dahulu. Masing-masing irisannya memiliki tugas untuk memeluk para penghuni planet berikut serta rahasia-rahasia yang terkubur di dalamnya.

Perkenalkan, yang pertama namanya adalah Laut. Kadang juga ia disebut sebagai Ibu Bumi. Dia adalah si pemeluk setengah isi planet yang terdiri dari tirta nan luas. Tak ada yang tidak mencintai lautan, dia begitu memukau. Di kala hari terang maupun gelap Laut mencium bibir pantai, menyentuh daratan yang kering dengan kesejukan tiada tara. Nyanyiannya terdiri dari gelombang melodi maritim bagai genta di kala pelik. Permukaannya terdiri dari genangan besar, sering kali tampak bagai cermin saat mentari memandikannya dengan pancaran sinar-sinar emasnya. Kala malam datang, giliran sang rembulan bersama pasukan bintang-gemintangnya yang mengisi keindahan pusaka alam tersebut.

Laut adalah perwujudan dari entitas keindahan yang bersifat universal. Semua makhluk setuju akan itu. Setidaknya begitu, kecuali menurut Laut sendiri. Laut, Laut, Laut… daya pikatnya sedalam rahasia yang tersimpan di dasar samudra hatinya. Tidak seperti ruang darat atau wilayah terbuka tempat para benda angkasa bergelantungan, Laut menyimpan terlalu banyak misteri, tidak terjamah oleh siapa pun.

Matahari sedang berlibur, digantikan oleh rembulan. Malam itu mangata membelah perairan gelap layaknya sebuah jalanan lurus berwarna putih, bulan keperakan menggantung pada langit ramai bertabur bintang, betapa indahnya bumantara malam itu. Debur ombak bersahutan dalam setiap iringan gelombang pasang yang saling bergulungan. Indah, namun Laut merasa ada yang kurang. Rasa-rasanya tidak ada kenikmatan dari visi tersebut. Laut termenung di tengah keheningan malam, dia menengadah ke atas. Ah, ramai sekali di sana. Anak-anak para penghuni langit sedang berpiknik menghasilkan sebuah konstelasi yang sistematis, pancaran dari hamparan sinar-sinar mungilnya bagaikan permadani kerlap-kerlip. Memandangi lanskap itu membuat ada sesuatu menggetarkan sang Laut.

Wilayah atas adalah kekuasan ayah dari Pertiwi, Angkasa. Dia terdiri dari molekul-molekul yang membentuk ruang terbuka luas dan bebas. Angkasa begitu magis, para anak manusia rela bangun subuh-subuh untuk mengejar arunika pagi hari dari timur atau menunggu swasmita muncul di kala petang.

Tak hanya magis, namun Angkasa juga memiliki magnetnya sendiri hingga di sana selalu riuh penuh, berpenghuni. Tidak pernah ada kata sepi bagi wilayah di atas sana. Ketika matahari menggantung di antaranya, gumpalan awan-awan putih selalu menjadi penghias. Saat mentari telah berpulang ke barat, para bintang tumpah ruah beredar dengan cara yang tiada bandingnya.

”Hai Laut, ada gerangan apa yang membuatmu tampak sangat murung malam ini?” sapa Angkasa, menyadari ada yang tak biasa dari kawannya.

Laut menjawab, ”Kau begitu terhormat, wilayah kekuasaanmu selalu ramai.”

”Apa yang terjadi denganmu? Tidak biasanya kau seperti ini,” Angkasa keheranan.

”Tidak apa-apa,” ia berdusta.

Angkasa sudah bersinggungan dengan laut hampir sepanjang hidupnya, tentu saja ia tahu dengan jelas bahwa jawaban Laut tak lain adalah suatu kebohongan. Tetapi seperti yang semua orang ketahui, Laut menyimpan terlalu banyak rahasia. ”Katakan padaku apa yang mengusik pikiranmu.”

Laut menimbang-nimbang, sudikah ia membagi rahasianya kepada sang langit? Selama ini Laut menyimpan semua yang ia rasakan seorang diri, menutup celah bagi siapa pun serapat mungkin. Dan itu semua ia lakukan karena Laut merasa malu akan rahasia-rahasianya.

Angkasa mencoba menebak, ”Kau sedang sakit?”

”Tidak, aku sehat,” balas Laut.

”Yang kumaksud adalah sakit di hati dan jiwamu,” jelas Angkasa.

”Kenapa aku harus merasakan hal tersebut?” Laut membalikannya.

”Karena kau merasa kesepian.”

”Kesepian?” ulang Laut, tidak dapat menyembunyikan nada terkejutnya.

”Ya, kau merasakan hal itu bukan?” Dugaan Angkasa berasal dari fakta yang mendasar, ia mendapati akhir-akhir ini Laut selalu melihat ke atas, membandingkan apa yang Laut miliki dengan kepunyaan Angkasa.

”Tidak, aku tidak kesepian!” seru Laut.

Angkasa menatap hamparan genangan nan luas yang beriak, riakan itu seolah menyatakan hal yang berkebalikan dari perkataan Laut.

”Baiklah…” akhirnya Laut menyerah, ”aku kesepian.”

”Apa yang membuatmu merasa seperti itu?”

”Entahlah… belakangan ini aku merasa selalu sendiri. Tak seperti kau yang selalu diramaikan komplotan bintang dan para awan. Kemudian… matahari dan bulan pun tak bergantung kepadaku seperti mereka kepada engkau.” Laut menceritakan asal mula kegundahannya, merasa malu dengan fakta bahwa ia kesepian. ”Hei, bolehkah aku bertanya sesuatu?”

”Silakan,” jawab Angkasa.

”Mana yang lebih baik, kesepian di tengah keramaian atau merasa sepi di dalam kesendirian?” tanya Laut. Pertanyaannya dilatar belakangi pengamatan kepada sang langit.

”Yang pertama,” jawab Angkasa tanpa pikir panjang.

”Kenapa?”

”Karena kesepian di antara keramaian terasa dua kali lipat lebih menyedihkan ketimbang saat kau sendiri,” Angkasa berkata. ”Keadaan seramai apa pun akan tetap terasa sepi jika hatimu kosong.”

”Tak pernahkah kau lelah karena selalu sendiri?” tanya Laut.

”Oh… tidak, aku tak pernah merasakan itu,” sanggahnya.

”Kenapa?” Laut penasaran.

”Karena aku memang tak pernah sendiri,” Angkasa menjawab dengan jujur.

”Bukan berarti saat kita sendiri maka kita akan kesepian, bukan berarti jika kita kesepian maka kita pasti sendirian.”

”Tapi aku tidak memiliki apa pun…”  Laut membalas, merana.

Angkasa terheran, ”Tidakkah kau sadar? Kau memiliki harta karunmu sendiri, yaitu ribuan koral cantik dan para kerang luar biasa yang mampu mengubah luka menjadi mutiara, sedangkan aku tidak memiliki itu semua.” Angkasa adalah salah satu dari yang selalu terpukau akan kecantikan dari Laut. Dia melanjutkan, ”Mungkin bulan dan mentari memang tak bergantung padamu, tapi mereka ada untukmu.”

Entahlah… belakangan ini aku merasa selalu sendiri. Tak seperti kau yang selalu diramaikan komplotan bintang dan para awan. Kemudian… matahari dan bulan pun tak bergantung kepadaku seperti mereka kepada engkau.

Laut tertegun, ia tidak pernah memikirkan semua hal yang disebutkan oleh Angkasa. Setelah itu terdengar bunyi ombak yang menghantam bebatuan, diikuti buih-buih putih di belakangnya.

Angkasa tertawa, ”Lagipula semua itu tidak akan ada artinya jika mereka berdiri sendiri-sendiri. Semua memiliki nilainya masing-masing.”

”Apakah ’kesendirian’ sesalah itu di matamu?” balas Laut.

”Aku tidak bilang begitu. Apa yang kumaksud adalah, kau tidak akan pernah merasa puas jika terus menoleh kepada milik orang lain. Cobalah kau tengok apa yang kau miliki. Mereka tidak kalah kok,” jelas Angkasa sabar.

”Aku masih tidak mengerti dengan apa yang kau maksud.” Laut merasa jiwanya sudah terlalu hampa dan sepi.

Beberapa bintang meredup, jalanan di atas air yang berasal dari sinar bulan perlahan-lahan menghilang. Kemudian Angkasa berujar, ”Kau hanya perlu membuka mata lebih lebar untuk melihat apa yang kau punya. Lihatlah sekelilingmu dengan lebih saksama, maka kau akan menemukan betapa berharganya hal-hal yang selama ini hanya kau lihat secara cuma-cuma. Namun, di atas semua itu yang terpenting adalah kau memiliki dirimu sendiri.”

Seiringan dengan berakhirnya kata-kata Angkasa, langit hitam mulai berubah terang. Kegelapan malam memudar menjadi warna-warni nan terang. Matahari mengintip dari balik cakrawala, membubung perlahan ke atas, menghapus bayangan gelap. Permukaan tirta bergelimangan seribu nuansa warna kuning lembut bercampur merah yang tak dapat tergambarkan. Debur ombak terseret angin menuju tengah segara, di bibir pantai seorang anak manusia mengejar lilitan pita emas dari kemilau surya, ia berhenti saat kakinya menyentuh air asin, merentangkan tangannya seolah ingin memeluk semesta. Cahaya yang menyongsong hari baru membuat lautan tampak bagai intan, mengingatkan Laut tentang betapa berharga segala hal yang ada di dalam hidupnya. ”Terima kasih, Angkasa.”

”Tidak masalah. Kesepian bukanlah sesuatu yang harus membuatmu merasa malu, rasa itu tak ayal, wajar keberadanya,” Angkasa menutup topik percakapan mereka kala itu.

Dari apa-apa yang terukir pada kanvas angkasa, tergurat di dasar samudra atau yang tergantung di antaranya, kini Laut melepaskan rahasianya.

”Satu pertanyaan lagi,” ujar Laut, ”apa rahasia terdalammu?”

Angkasa tersenyum, ”Bersyukur.”

***

Elizabeth Gabriela : Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara, Tangerang.

sumber : kompas.id, 12 Nov 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme