Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Lontarak oleh Andi Suruji

Posted on Ming, 23 Mei 2004

Tidak jauh dari tempat memarkir mobil, saya melihat kakak sepupu saya bersama suaminya duduk di atas tumpukan barang bawaannya. Penumpang kapal di Pelabuhan Tanjung Priok yang baru tiba dari Makassar, sepertinya sudah turun semua. Mereka tentu telah pergi ke tujuannya masing-masing di Jakarta ini.

Wajah kakak sepupu suaminya tampak begitu cerah menghampirinya. Kami pun berpelukan, saling melepaskan rindu karena baru bertemu kembali setelah sepuluh tahun lampau, saat terakhir sekeluarga pulang kampung. Kali ini mereka datang, untuk pertama kalinya ke Jakarta, kota yang diidamkan setiap penduduk kampung, seperti juga saya dan lainnya.

“Semula kami tidak mau merepotkan, karena ada teman saya yang sudah sering ke Jakarta bisa mengantar kami ke rumah. Tetapi dia tiba-tiba batal berangkat, dan kami sudah tidak punya kesempatan lagi untuk menelepon, mengabari Ndi,” ujar sepupu saya. Suaminya pun membenarkan.

Belum saya tanggapi, sepupu saya yang memang terkenal cerewet itu nyerocos lagi. “Bagaimana kabar Andi dan anak-anak di rumah. Sehat saja toh,” katanya menanyakan kondisi istri dan anak-anak saya. Ia pun menyampaikan salam orang sekampung, seperti paman, tante, sepupu, nenek, kakek, tetangga, kepada saya dan keluarga. Sementara suaminya yang memang pendiam, hanya tersenyum terus mendengarkan ocehan istrinya.

“Baik, semuanya sehat,” kata saya, sembari meraih sepotong barang bawaannya. Kami pun berjalan menuju mobil saya.

Mereka memperhatikan ketika saya mencabut selembar uang seribu rupiah untuk tukang parkir. Begitu juga ketika memberikan jumlah yang sama lagi di pintu pemeriksaan karcis parkir. Dua lembar seribuan lagi untuk membayar karcis tol. Tak lama kemudian, di pintu tol lain, empat lembar ribuan lagi.

“Eh, de… de… de…. Mengapa kita harus membayar begitu banyak?” tanya dia heran, karena tak pernah menemukan hal-hal semacam itu di kampung. Orang dengan bangga plus ikhlas memandu dan menjaga kalau kita memarkir kendaraan.

“Karena jalan mulus ini dibangun oleh swasta, bukan oleh pemerintah, sehingga kita harus membayar. Kalau tidak mau membayar, kita bisa lewat jalan di bawah yang macet seperti itu. Tetapi, bisa-bisa seharian baru kita sampai di rumah. Ya, begitulah di Jakarta ini. Kencing di toilet saja kita harus bayar. Hanya kentut yang gratis. Seandainya angin busuk itu pun berwujud, pasti sudah dikelola juga oleh orang-orang berduit dan menikmati pembayaran dari kita. Untungnya kentut itu tak bisa dilihat, sehingga tidak bisa dibisniskan oleh mereka yang lihai melihat peluang usaha,” kata saya.

Di rumah, istri saya tak kalah gesitnya, sudah siap dengan jamuan makan siang. Kami pun langsung menuju meja makan karena memang sudah lapar, hampir tiga jam baru sampai di rumah. Suasana menjadi semarak, karena istri saya menanyakan macam-macam tentang kampung halaman. Cerita kakak sepupu saya pun menjadi panjang lebar. Bagai tape recorder yang sedang memutar kaset rekaman cerita sejak sepuluh tahun silam, pada saat kami terakhir kali pulang kampung. Si anu sudah meninggal, si anu sakit-sakitan, dan si anu sudah menikahkan anak, anaknya si anu sudah bekerja di kantor kecamatan, anak si anu menjadi guru, dan si anu menjadi polisi. Semuanya membayar uang pelicin puluhan juta rupiah.

Setelah suasana semakin cair, saya pun mulai menanyakan keperluan mereka datang ke Jakarta.

“Begini… Ndi. Dua bulan lalu, ada tim dari Pusat (begitu biasa orang desa menyebut pejabat atau orang Jakarta) yang datang ke kampung menanyakan kepada kami sekiranya keluarga kita memiliki lontarak. Katanya mereka adalah tim penyelamat naskah kuno, seperti lontarak keluarga kita itu. Ya, saya jawab jujur saja bahwa saya pun menyimpan lontarak sebagai warisan keluarga,” paparnya.

Saya sendiri tak pernah mendengar cerita apa pun dari orangtua saya, sampai mereka meninggal, soal lontarak keluarga itu. Bahwa orang-orang tua, nenek moyang kami sejak dahulu kala sudah mengenal tradisi menuliskan apa pun yang terjadi di kampung, kejadian pada keluarga, di atas gulungan daun lontar yang kemudian disebut lontarak, itu sudah sering saya dengar. Ada lontarak pertanian, adat istiadat, silsilah keluarga, perbintangan, pengobatan. Pendeknya, macam-macam lontarak yang ditulis berdasarkan keperluannya.

Ah, saya teringat waktu kecil, ketika saya belajar memanjat pohon lontar dan kaki saya gemetaran di ketinggian empat meter, lalu saya turun sembari memeluk batang lontar, dan dada saya harus luka-luka tergores batang lontar yang kasar. Celakanya, ternyata ibu saya marah besar. Saya harus menerima hukuman cambuk kuda ayah saya sebanyak tiga kali di betis.

Sepupu saya pun lalu bercerita mengenai wasiat orangtuanya sebelum meninggal. Kata dia, bapaknya sebelum meninggal, berpesan bahwa ada lontarak, naskah kuno nan keramat yang disimpannya. Lontarak itu diselamatkan oleh kakeknya ketika kampung orangtua kami dibakar oleh penjajah Belanda. Penjajah itu membakar kampung karena Arung (raja kecil) di kampung kami termasuk pemberontak yang tidak mau kompromi dengan penjajah. Akan tetapi, lontarak itu baru bisa dibuka kalau wakil dari tujuh orang bersaudara, termasuk ibu saya dan ibunya hadir lengkap. Sebelum dibuka pun lontarak itu harus diupacarakan oleh para bissu dengan memotong tujuh ekor kambing sesuai jumlah saudara kandung ibuku, berikut ayam sejumlah anak-anak orangtua kami. Karena ibuku bersaudara kandung tujuh orang, dan masing-masing memiliki tujuh orang anak, sehingga kami bersepupu sekali sebanyak 49 orang, maka sebanyak itulah ayam harus dipotong saat mengupacarakan lontarak itu.

“Lalu kapan upacaranya?” tanya saya. Terlintas di pikiran saya pasti sepupu saya itu nanti ujung-ujungnya minta bantuan untuk perhelatan upacara membuka lontarak itu.

“Rencananya bulan depan. Tim itu menyanggupi membantu dana untuk keperluan upacara itu. Mereka pun katanya mendapat bantuan dana dari Pemerintah Belanda sebagai upaya melestarikan nilai-nilai budaya kita,” paparnya bersemangat.

Saya lega, ternyata sepupu saya tidak minta bantuan dana pada saya. Saya utarakan kemungkinan saya tidak bisa menghadiri upacara itu. Alasan saya karena anak saya mau ujian akhir di sekolah dasar, dan harus ada persiapan yang baik untuk masuk sekolah lanjutan pertama. “Persaingan di Jakarta ini sangat ketat. Urusan sekolah tidak segampang di kampung. Di sini, sudah urusannya repot, uang sekolah pun cukup besar.”

Mendengar alasan saya itu, wajah kakak sepupu saya itu menampakkan rona kekecewaan. Ia pun membujuk, supaya saya mau datang. Kalau perlu, akan diusahakannya untuk membicarakan soal ini lagi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah agar Tim Pusat dan Mister Belanda itu mau menunda kedatangannya dan menyesuaikan dengan kesempatan saya pulang kampung. Pendeknya, dia ngotot menghadirkan saya, karena dia takut kualat jika membuka lontarak itu tanpa memenuhi wasiat ayahnya. Artinya, saya sebagai anak ibu saya, haruslah datang memenuhi syarat tadi. “Bisa-bisa saya tidak melihat terangnya dunia ini sampai tujuh turunan, kalau melanggar wasiat ayahku itu Andi,” katanya dengan nada memelas, penuh harap.

Istri saya pun menimpali perbincangan. “Kita pergi saja Pa. Toh sudah lama kita tidak pulang kampung,” katanya.

Ketika saya tiba di kampung dengan mobil sewaan dari Makassar, di rumah peninggalan ibu saya yang masih kekar yang bahan bangunannya terbuat dari pohon lontar, tampak sudah banyak orang yang berkumpul. Mereka tak bisa menyembunyikan rasa senangnya dengan kedatangan saya dan istri. Bagai dikomando, mereka serempak berdiri dari tempat duduknya dan bergerak mengerubungi mobil sewaan yang saya tumpangi. Sejumlah orang tua yang saya tidak kenal, bahkan menciumiku sembari berucap pujian betapa terobatinya kerinduan mereka. Menurut mereka, wajahku sama persis dengan ibuku. Bahkan Wa Laima dan anak-anaknya, keluarga yang dulu bertanggung jawab terhadap semua harta orangtuaku dan kini masih menempati dan menjaga rumah itu, silih berganti mencium tangan dan lutut saya, membuatku sangat rikuh. Dahulu, aku pernah melihat kakekku diperlakukan seperti itu, tetapi ayah dan ibuku tak pernah, karena mereka memang menghindari hal-hal semacam itu.

Semalaman saya tak bisa tidur, karena sanak saudara ramai berkumpul, bercerita nyaris tak putus-putusnya. Ada saja cerita yang sambung-menyambung mengenai kondisi kampung. Ada juga yang meminta diceritakan berbagai pengalaman hidup di Jakarta. Tidak sedikit pula yang meminta agar saya membawa anaknya ke Jakarta untuk dicarikan pekerjaan, atau sekadar tinggal di rumah membantu pekerjaan rumah. Tidak satu pun yang saya janjikan, karena bisa berabe. Harapannya sangat tinggi, apalagi kalau mereka menilai seseorang sukses di perantauan. Meski setengah teler karena kurang tidur semalaman, saya tetap berusaha tampak segar esok paginya.

“Upacara pembukaan lontarak yang suci ini akan membuktikan kita ini siapa sebenarnya. Kita adalah keturunan bangsawan yang harus dihormati. Kita akan tercatat dalam sejarah, dan akan terkenal sampai ke negeri Belanda, Andi,” kata kakak sepupuku, ketika mengantarkan aku kopi dan pisang goreng untuk sarapan.

Rupanya itulah tujuan kakak sepupuku itu. Mereka memang dikenal gila hormat. Padahal, tanpa lontarak itu pun orang sekampung juga sudah mengetahui siapa kami, sudah menaruh hormat pada keluarga kami. Namun, saya masih menyimpan pertanyaan, karena kedua orangtuaku, semasa hidupnya, tak pernah sekali pun menceritakan hal-ihwal lontarak warisan keluarga itu, tak pernah melakukan ritual-ritual seperti itu. Tetapi saya memendamnya saja, tak ingin menyinggung perasaan mereka, walaupun ada sedikit rasa penyesalan dan kedongkolan setelah mendengarkan ucapan kakak sepupuku tadi.

Masih pagi-pagi benar, mereka sudah lengkap dan siap menyambut kedatangan tamu yang mereka sebut Tim dari Pusat dan Mister Belanda itu. Benar, tak lama kemudian, tamu yang ditunggu-tunggu itu pun akhirnya muncul. Bau sedap dari masakan yang dimasak di pekarangan belakang rumah, seolah berhamburan naik rumah, bercampur dengan bau asap dupa yang sejak tadi malam dibakar di sudut-sudut rumah sebagai bagian dari ritual membuka lontarak. Sementara sejumlah bissu sejak fajar belum menyingsing, terus melantunkan syair-syair Bugis kuno yang semakin banyak kata-katanya yang tak dapat saya mengerti.

Kakak sepupuku sendiri sibuk luar biasa, menyajikan kopi dan aneka kue tradisional kepada tamunya itu. Setelah istirahat sejenak, Tim dari Pusat dan Mister Belanda itu mulai memasang komputer dan scanner yang mereka bawa. Saya hanya memperhatikan dari jauh. Dan tak lama kemudian, muncullah kakak sepupu saya dengan baju bodo membawa lontarak di atas baki kuningan yang mengkilap bagai emas, karena digosok dengan asam jawa semalaman. Warna baki yang kuning sangat kontras dengan pembungkus lontarak, kain merah dan hitam kusam. Entah sudah berapa puluh tahun tak pernah sekalipun dibuka.

Si Belanda dengan hati-hati dan khusyuk, seolah sudah sangat terbiasa, menerima lontarak itu dari kakak sepupu saya. Semua yang hadir seolah menahan napas. Hanya suara bissu yang melantun naik turun dengan irama nan syahdu, diiringi pukulan gendang dan simbal pelan, memecah kekhusyukan ritual itu. Perlahan-lahan Mister Belanda itu membuka tali pengikat pembungkus lontarak. Setelah gulungan daun lontar yang bertuliskan huruf Bugis terlihat, mulut orang-orang tua yang hadir berdesis. Saya tidak mengerti apa yang mereka ucapkan. Tanpa sadar, saya pun ikut tegang, dan berkeringat.

Mister Belanda itu perlahan melepaskan gulungan dan meletakkannya di atas scanner. Mesin pembaca huruf lontarak itu pun mulai menjalankan fungsinya. Baris demi baris naskah lontarak itu mulai terekam ke layar monitor komputer. Perlahan tapi pasti, dalam beberapa saat saja, sudah ratusan kalimat yang terekam.

Saya melihat Si Bule dan seorang yang diperkenalkan sebagai seorang profesor ahli sejarah dan antropologi, terlihat beberapa kali menggelengkan kepalanya, saling berpandangan, dan sesekali saling bisik. Saya memperhatikan semua gerak-geriknya. Tetapi, lama kelamaan saya semakin menangkap gelagat kurang baik. Keringat terus bercucuran di wajah Si Bule, akibat pengapnya ruangan karena penuh sesak, dan hawa panas yang disemburkan scanner di depannya. Lontarak yang selesai di-scanning terus membentuk gulungan besar di ujung lain. Saya mendengar semua anggota keluarga yang hadir dan membisu sejak tadi, menarik napas panjang, seolah beban berat di pundak mereka lepas seketika, saat proses scanning selesai.

Setelah mematikan mesin scanner-nya, Si Bule mengamati huruf-huruf lontarak di layar monitor komputer, membolak-balik lembar-lembar print-out naskah kuno itu, sembari sesekali menggelengkan kepalanya. Akhirnya ia menutup komputer itu. Para ahli itu pun lalu berdiskusi dengan rombongannya dalam bahasa Inggris campur bahasa Belanda. Tentu saja tujuannya supaya perbincangan mereka tidak ketahuan orang kampung yang hadir. Saya pun pura-pura tidak memperhatikan mereka, tetapi konsentrasi saya pusatkan untuk menangkap betul percakapan mereka.

“Apa yang terjadi?” tanya saya dalam bahasa Inggris, ketika mendengar perkataan yang nyaris saya tak percayai.

Semua yang hadir kaget, seolah tidak menyangka di antara orang kampung lugu dan “bodoh” itu ada yang paham bahasa Inggris. Sekilas, saya melihat rasa heran di wajah sanak saudara saya, melihat tingkah saya menyerbu masuk ke dalam lingkaran kecil tamu terhormat tersebut.

Tim Pusat bersama Si Bule menjelaskan kepada saya dalam bahasa Inggris mengenai apa yang sesungguhnya mereka temukan dalam naskah kuno itu. Saya hanya mengangguk-angguk mendengarkan penjelasannya. Saya sendiri memang bisa membaca huruf lontarak, tetapi tidak paham jika sudah terangkai menjadi kalimat panjang. Apalagi dengan tata bahasa kuno, karena banyak menggunakan kata-kata simbolik.

Mereka meminta saya untuk menjelaskan kepada sanak saudara mengenai temuannya. Sejenak saya berpikir, menimbang pantas-tidaknya saya menyampaikan sekarang, atau nanti setelah tamu itu pulang. Tetapi, saya memilih menjelaskan sekarang saja. Dengan berat hati, akhirnya saya tampil menjelaskan kandungan naskah kuno yang mereka keramatkan itu.

“Saudara-saudaraku yang saya cintai. Menurut bapak-bapak yang sangat ahli ini, naskah yang baru saja kita upacarakan dengan memotong kambing dan sekian banyak ayam, yang menurut kalian keramat, ternyata tidak menjelaskan harta karun. Tidak juga menjelaskan pembagian warisan. Pendeknya, mungkin jauh dari harapan kalian. Naskah tua ini hanyalah catatan sejumlah transaksi kuda, kerbau, sapi, dari sejumlah orang yang juga sudah mati semua.”

Mendengar penjelasan saya itu, semuanya tertunduk. Tak satu pun yang hadir di ruang pengap itu, yang berani mengangkat wajahnya, apalagi menatap saya.

“Kita semua yang hadir di sini harus mengambil hikmah, pelajaran yang sangat berharga. Sekiranya di antara yang hadir di sini masih menyimpan lontarak, janganlah disimpan terus dan dikeramatkan. Tolong dibaca, supaya kalian mengetahui isinya. Kalau cuma catatan jual-beli kuda seperti ini, mengapa harus disimpan, mengapa harus dikeramatkan, tentu tidak ada gunanya. Nah, sekiranya lontarak itu merupakan ilmu pertanian, ilmu perbintangan, ilmu perdagangan, ilmu pengobatan, tentu saja banyak gunanya. Bisa kita amalkan, kalau kita memahaminya. Tentu saja kita harus baca. Bacalah…!” kata saya.

Kakak sepupu saya yang punya hajat, yang sangat bersemangat sampai mengenakan pakaian adat, tak tampak lagi olehku. Bagai kilat, tiba-tiba saja ia menghilang dari tempat duduknya. Dia pasti malu pada saya, pada Tim Pusat dan Si Bule itu. Sementara suaminya hanya tertunduk lesu, tak sekalipun mengangkat wajahnya.

“Inilah kesalahan orang-orang tua yang kita warisi pula, turun-temurun sampai sekarang. Kita bangga sekali memiliki naskah kuno, tetapi apa isinya sama sekali tidak tahu. Orang tua kita menyimpan naskah kuno seperti ini, hanya dijadikan alat legitimasi bahwa dirinya adalah bagian dari kerajaan. Tak lebih dari itu. Ya, begini jadinya. Kita semua membodohi diri kita sendiri…!” kata saya.

Pamulang, 240304

Catatan:

lontarak: naskah yang ditulis dengan huruf-huruf Bugis di atas gulungan daun lontar;
Andi, ndi panggilan akrab buat anggota keluarga yang lebih muda.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme