Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Bunga dari Ibu oleh Puthut EA

Posted on Ming, 29 Agu 2004

Karena jarak, kami hanya saling mengirim tanda lewat bunga. Ibu yang memulai dulu, waktu itu aku baru menempati rumah kecil yang sampai sekarang uang cicilannya masih menempati daftar potongan pertama di slip gajiku. Waktu itu ibu bilang, “Kamu tidak mungkin sering-sering mengunjungiku, kalau mau melihat keadaanku, lihat saja bunga ini.” Sambil berkata seperti itu, ibu menunjukkan padaku sebuah pot dengan tanaman bunga yang mungil dan indah. Lalu, aku meletakkannya di samping jendela kamarku. Begitu bangun pagi, tumbuhan itu yang pertama kulihat untuk memastikan keadaan ibu, baru kemudian aku menyiramnya ketika hendak berangkat bekerja.

Dalam perjalanannya, tanaman bunga itu memang bisa mengatakan keadaan ibu kepadaku. Suatu saat aku melihat beberapa kuntum bunga jatuh, dengan segera aku mengangkat telepon, memastikan keadaan ibu. Ternyata ibu sedang sakit flu. Ketika suatu pagi kulihat beberapa daunnya yang masih hijau rontok, aku mendapati kabar bahwa ibu sedang bersedih karena seorang pencuri telah memasuki rumahnya dan membawa lari televisi kesayangannya. Dan ketika suatu saat aku melihat pohon itu dipenuhi oleh bunga- bunga yang bermekaran, teleponku berdering, ibu mengatakan bahwa kemarin ia mendapat hadiah dari bank tempatnya menabung. Aku pernah lupa memeriksa pohon itu, ketika ibu tiba-tiba meneleponku memintaku untuk pulang, aku sangat kaget. Ibu waktu itu hanya bilang. “Kamu tidak memeriksa bunga dari ibu, ya?” Dengan agak rikuh aku menjawab hari ini aku lupa. Lalu, ibu bilang. “Pulanglah, ibu sedang bersiap untuk naik haji tahun ini.” Tentu saja aku sangat gembira. Begitu telepon kututup, aku berlari membuka jendela, pohon bunga yang ditanam ibu seperti dikerudungi cahaya.

Belajar dari itu semua, ketika aku pulang, aku menanam sebatang tanaman bunga tepat di samping jendela kamar ibu. Ibu tersenyum saat aku bilang, “Bu, pohon ini akan mengatakan kepada ibu bagaimana keadaanku.”

Di luar dugaanku, pohon bunga yang kutanam itu benar-benar memberi isyarat pada ibu tentang apa yang sedang kuhadapi. Sewaktu aku sedang dipromosikan naik jabatan, ibu menelepon untuk menanyakan keadaanku. Lalu, aku pura-pura bertanya mengapa ibu bisa meneleponku pagi-pagi benar. Ibu bilang, pohon bunga yang kutanam terlihat segar dan banyak bunga yang sedang mekar. Sewaktu aku diputus cinta oleh Randy, ibu juga meneleponku, ada banyak bunga dan daun yang rontok sehingga ibu resah. Terakhir, ketika aku sedang berpikir keras untuk memutuskan apakah aku harus menggugurkan kandunganku karena Mas Rustam, kekasihku yang baru, ternyata sedang mendapatkan tugas ke luar kota dalam waktu yang agak lama dan dia terganggu dengan keadaanku yang sedang mengandung, ibu juga menelepon. Ibu bertanya, “Kamu sedang tertimpa masalah? Pohon yang kamu tanam terlihat layu.”

Ketika aku sudah mengambil keputusan untuk menggugurkan bayiku dan di sebuah malam Mas Rustam menelepon dari luar kota dengan membawa kabar buruk, ia harus menikahi anak bosnya karena hamil, pagi harinya ibu datang dengan pesawat paling pagi. “Ibu khawatir sekali, pohon bungamu tadi terlihat seperti mau mati.”

Hubunganku dengan ibu sangat unik. Aku anak tunggal. Bapakku bercerai dengan ibu ketika aku baru saja lulus dari SMA. Mereka bercerai dengan baik-baik. Ibu pernah bercerita bahwa dulu ia diusir oleh keluarganya karena berpacaran dengan laki- laki yang berbeda agama. Dasar ibu, ia pergi saja dari rumah bersama laki-laki itu. Lalu, mereka menikah dan ibu melahirkanku. Ibu juga pernah bercerita, ia anak pertama dari tiga bersaudara. Dua adik laki-lakinya juga pergi dari rumah, yang satu pergi dari rumah karena membobol gudang pertanian, menjual alat-alat pertanian dan hasil panen, serta membakar rumah penggilingan padi orangtua mereka. Ibu bilang, adiknya yang satu itu memang “kiri”. Alat-alat pertanian dan hasil panen orangtua mereka dijual untuk membiayai aktivitas organisasinya untuk melawan Orde Baru. Sedangkan penggilingan pagi orangtuanya dibakar oleh adiknya karena ia kecewa melihat cara pengupahan orangtua mereka terhadap orang-orang yang bekerja di lahan pertanian orangtua mereka, dan puncaknya pembakaran itu terjadi ketika adiknya ibu diusir dari rumah. Bapaknya ibuku bilang, “Di rumah ini tidak boleh ada komunis.” Adiknya ibuku marah, paginya, rumah penggilingan padi itu dibakarnya.

Adik satunya lagi, yang paling kecil, juga diusir dari rumah orangtuanya ibuku. Sejak kecil, adiknya yang paling kecil itu memang sudah suka yang aneh-aneh. Ia biasa tidak pulang ke rumah hanya karena pergi memancing di sebuah tempat selama berhari-hari. Ia juga sering tidur di kuburan tokoh-tokoh tertentu. Ia pergi begitu saja dari rumah tanpa membawa apa-apa selain alat memancing ikan, ketika bapaknya ibuku bilang, “Di rumah ini tidak boleh ada orang yang belajar klenik dan menganut ilmu hitam.”

Ibuku, sekalipun anak pertama, adalah orang yang terakhir pergi dari rumah orangtuanya. Kadang-kadang ibu bilang kepadaku. “Kamu seharusnya mengenal kedua pamanmu, mereka berdua menyenangkan sekalipun kadang-kadang memang agak brengsek.” Di mana mereka berdua sekarang, ibu tidak pernah tahu dan sepertinya tidak pernah mau tahu.

Ibuku memang agak aneh, tapi baik hati dan membanggakan. Aku mengalami masa-masa kecil yang menyenangkan dan mendebarkan. Ibuku rajin shalat dan pergi ke pengajian, bapakku rajin ke gereja, tapi aku tidak pernah disuruh untuk masuk ke salah satu agama, baik agama ibuku maupun agama bapakku. Ketika bulan puasa tiba, dan teman-temanku berpuasa, aku tidak puasa. Mereka mengira aku beragama sama dengan bapakku. Tapi ketika Lebaran tiba, aku ikut Lebaran, dan jika teman-temanku bertanya, aku menjawab kalau aku baru saja pindah agama. Kedua orangtuaku hanya tersenyum melihat tingkahku.

Ibuku marah pada sesuatu yang dulu menurutku aneh. Ia pernah marah ketika aku pulang sekolah dan memamerkan hasil tes bahwa aku mendapat nilai terbaik. Lalu, ibuku bertanya, berapa nilai teman-temanku? Aku menjawab dengan nada bangga kalau sebagian besar nilai temanku di bawah lima. Ibu langsung marah dan berkata, “Lain kali jangan pamerkan kehebatanmu jika temanmu tidak mendapatkan nilai yang sama baiknya denganmu!” Aku langsung mengadukan itu ke bapak dan bapak bilang, maksud ibuku lain kali menjadi tugasku untuk membuat teman-teman sekelasku bisa mengerjakan sepertiku atau bahkan memberi contekan. Tentu saja aku kaget.

Aku juga pernah dimarahi ibu ketika suatu saat kami berlibur dan jalan-jalan ke luar kota. Di sebuah trotoar, ada seorang pengemis dan ibu bilang. “Beri dengan uangmu.” Lalu, ibu melenggang pergi. Aku memeriksa sakuku dan tidak kutemukan uang receh, lalu aku menyusul ibu dan mengatakan bahwa aku tidak punya uang receh. Ia langsung menghentikan langkahnya dan bersuara marah, “Apakah ibu mengajarimu memberi uang hanya dengan recehan?!” Dengan segera aku balik karena kesal dan memberikan semua uangku pada pengemis itu. Aku berharap nanti ibu akan bertanya dan marah padaku karena aku memberikan semua uangku. Dan aku ingin membalas marah padanya, “Lho katanya tidak boleh uang receh?!” Tapi sayang, ibu tidak pernah menanyakannya.

Pernah sewaktu aku kecil, sepulang sekolah, teman-teman laki-lakiku sepanjang jalan menggodaku. Mereka bilang, kelak aku akan masuk neraka. Aku lalu teringat komentar ibuku saat menonton televisi, “Ah, mereka sok tahu tentang surga dan neraka.” Aku lalu mengutip kalimat ibuku, “Ah, kamu sok tahu tentang surga dan neraka.” Mereka marah, tas dan jepit rambutku ditariknya. Aku pulang dan menangis. Sampai di rumah, aku mengadu sama ibu yang sedang membaca buku. Ibu lalu bertanya, “Kamu merasa perlu melawan mereka atau tidak?” Aku menjawab perlu. Lalu ibu bilang. “Kamu berani atau tidak?” Aku menjawab, aku berani, tapi aku kan perempuan dan jumlah mereka banyak. Ibu menutup buku yang dibacanya. “Lalu, kenapa kalau perempuan?” Aku bilang, ya aku akan kalah. Ibu bilang, “Bagaimana kamu tahu kalau kamu akan kalah jika kamu tidak pernah mencoba melawan mereka.” Aku diam. Lalu, ibu berkata, “Bagaimana kalau kamu datangi lagi mereka karena mereka banyak, kamu pakai saja batu atau sapu.” Aku segera bangkit mengambil sapu, di tengah jalan aku mengumpulkan batu. Dari jauh aku sudah melempari mereka dengan batu dan ketika dekat aku menggerak-gerakkan sapu untuk memukuli mereka. Mereka lari, dan tidak pernah berani lagi menggangguku.

Hubunganku dengan ibu dan bapakku tetap hangat sekalipun mereka berdua telah cerai. Anehnya, ibuku tidak menikah lagi dan bapakku juga tidak menikah lagi. Dan, aku tidak ambil pusing dengan sebab-musabab kenapa mereka bisa cerai. Hubungan kami bertiga kurasakan sangat hangat saat-saat aku hampir putus kuliah dan saat itu sebagaimana banyak mahasiswa aku terlihat demonstrasi menentang rezim Orde Baru.

Hampir setiap hari, ibuku dan teman-temannya, baik tetangga kami maupun teman-teman pengajian ibuku, menyuplai kami dengan makanan bungkus dan air minum. Bahkan, ibu selalu menelepon bapakku untuk ikut membantu lewat teman-teman sekantornya. Di saat-saat seperti itu, ibu sering berkata, “Semoga kamu ketemu dengan pamanmu.”

Aku tidak pernah bermasalah dengan masa kecilku di mana aku dibesarkan oleh orangtua yang berbeda agamanya dan masing-masing menjalankan keyakinannya. Aku bisa tumbuh dengan keyakinanku sendiri tanpa pernah dipaksa. Aku juga tidak pernah bermasalah dengan orangtuaku yang bercerai, hubunganku dengan ibu maupun bapakku tidak bisa dihalang-halangi oleh perbedaan hubungan mereka sekarang. Aku mempunyai hubungan yang manis dengan mereka, masa lalu yang memberi lahan bagi rasa rindu, dan masa sekarang yang bergerak tidak untuk menjauhi perasaan-perasaan masa laluku.

Mereka berdua masih tetap memberi semangat, juga ketika tahun-tahun kecewa menderaku. Tahun-tahun di mana aku menjadi saksi ketika banyak aktivis mahasiswa yang dulu heroik kini lembek di tangan-tangan elit politik untuk mendukung langkah- langkah elit mereka. Kami bertiga juga melewatkan masa-masa menyenangkan ketika kami berkumpul di saat orang-orang sibuk melakukan coblosan pemilu. Kami makan bersama, menonton televisi, membaca koran, bercengkerama, memberi komentar sambil melihat monitor-monitor televisi yang bergerak menyampaikan angka-angka perolehan suara. Dua kali pemilu kami lewati dengan hangat tanpa ada keinginan untuk membohongi perasaan kami masing-masing, perasaan yang tidak kunjung mengerti mengapa banyak orang yang berbondong-bondong mengantre di kotak-kotak suara, memberikan suara mereka tanpa jelas lagi di mana arah perubahan. Kami menjadi saksi yang mencoba untuk tetap hangat menerima kenyataan politik yang sesungguhnya tidak pernah berubah.

Di antara kami, aku dan ibuku, jarang sekali saling menyimpan rahasia. Terutama aku. Ibu hampir tahu semua kisahku, baik dalam hal percintaan maupun urusan kantor. Aku tidak butuh bantuan untuk semua hal yang kulalui, hanya saja bercerita pada ibu adalah sesuatu yang sudah kuanggap menyelesaikan banyak hal. Namun, sampai sekarang, aku tidak pernah berani bercerita pada ibu kalau aku pernah menggugurkan bayi dalam kandunganku, aku takut ibu akan marah. Sekalipun aku tidak yakin kalau ibu akan marah.

Kemarin pagi, aku kaget sekali. Saat aku membuka jendela, aku mendapati bunga yang ditanam ibu seperti akan mati. Tiba-tiba rantingnya seperti mengering dan daun-daun serta bunganya rontok berjatuhan di sekitarnya. Dengan segera aku menelepon ibu. Agak lama telepon tidak diangkat dan itu semakin membuat hatiku berdebar khawatir. Untunglah setelah beberapa kali tidak diangkat, kudengar suara ibu menyahut. Dengan segera aku menanyakan kabar ibuku. Anehnya, ibu menjawab tidak ada apa-apa. Tidak ada apa-apa? Lalu, aku bilang tidak mungkin, bunga yang ditanam ibu seperti sekarat. Ibu tetap bilang bahwa tidak ada apa-apa. Rasa kesal, marah, kecewa, tiba-tiba memuncak di diriku. Aku membanting telepon, lalu pergi ke tempatku bekerja.

Di kantor, perasaanku semakin tidak enak. Akhirnya aku bilang ke atasanku untuk minta izin menengok ibuku dengan alasan ibuku sakit. Esoknya, dengan pesawat paling pagi, aku berangkat.

Tentu saja ibu kaget melihat kedatanganku. Setelah kami sarapan berdua, aku mencoba dengan berbagai cara agar ibu mau berterus terang tentang masalahnya. Tapi, ibu tetap bersikukuh untuk mengatakan bahwa hidupnya baik-baik saja. Tapi, aku juga ngotot, aku bilang, tidak mungkin, sebab bunga yang ditanam ibu mengatakan sebaliknya. Dengan tenang ibu menjawab, “Bunga itu ternyata tidak bisa dibuat patokan keadaanku.”

Aku diam. Dalam hatiku, aku merasa sangat kecewa. Aku bangkit, lalu berjalan-jalan di dalam rumah dan di sekitar rumah. Segalanya memang tampak baik-baik saja, ruang tamu, ruang keluarga, kamar-kamar, dapur, halaman belakang, semua baik-baik saja. Tapi aku kaget ketika melewati tempat di samping kamar ibu. Aku tidak melihat tanaman bungaku. Dengan segera aku mendatangi ibu yang sedang membereskan piring-piring di meja makan.

“Bunga yang kutanam di mana, Bu?” Ibu menoleh, meletakkan piring-piring di atas meja, lalu duduk. “Kan sudah ibu bilang, bunga itu sudah tidak bisa mengatakan keadaan kita masing-masing. Kamu ingat, kan… ketika ibu datang pagi-pagi karena melihat bunga yang kamu tanam terlihat mau mati? Ternyata kamu tidak sedang ada masalah apa-apa. Pulang dari rumahmu, aku mencabut bunga itu.”

Aku kembali diam. Esok harinya, aku langsung pulang. Sampai di rumahku, tanpa berpikir panjang, aku mencabut bunga yang ditanam ibu. Dalam hati aku berkata, setiap orang boleh punya rahasia.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme