Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sepasang Kera yang Berjalan dari Pura ke Pura oleh Sunaryono Basuki Ks

Posted on Ming, 08 Agu 2004

Sudahkah kau dengar kisah tentang sepasang kera yang berjalan kaki dari pura ke pura untuk melaksanakan tugas akhir yang harus diemban menyucikan roh mereka berdua?

Perjalanan sepasang kera ini tiba-tiba menggemparkan orang kota, terutama kota yang seharusnya dilewati keduanya namun batal terlaksana lantaran suratan yang menyatakan demikian. Tidak seorang pun yang tahu siapa mereka berdua, kecuali bahwa mereka adalah sepasang kera yang dengan rukunnya bagai sejoli berjalan dari Pura Batu di tepi pantai ke pura di timur kota yang juga terletak di tepi pantai. Siapakah yang diwadahinya sehingga mereka harus menanggung kisah yang menjadi bacaan orang-orang di pinggir jalan, kisah yang juga diteruskan dari mulut ke mulut dengan bumbu penyedap berbagai rasa sehingga kisah pun berkembang menjadi dongeng indah.

Tidak seorang pun tahu siapa mereka berdua dulunya, mungkin juga tak seorang pun mengingat kisah masa lalu mereka yang mungkin sudah lewat puluhan tahun bahkan ratusan tahun dalam sejarah yang tak seorang pun mencatatnya.

Perlukah kita mengungkap kisah sedih tentang sepasang kera yang berjalan dari pura di barat kota menuju pura di timur kota, jarak keduanya sekitar delapan puluh kilometer, tak mungkin ditempuh berjalan kaki dalam tempo satu hari.

Konon sepasang kera itu adalah sepasang suami istri yang bersumpah bersetia karenanya ketika mereka menjelma kembali menjadi kera, maka mereka pun tetap bersama menanggung derita dan menuai sukacita bersama. Katanya, mereka berdua sudah menjadi penghuni pura sejak mereka dilahirkan oleh induk dan jantan kera yang berbeda. Kelahirannya di halaman pura yang memang penuh berpenghuni kera itu konon adalah atas permintaan mereka berdua agar mereka diberi kesempatan menyucikan hidup mereka sehingga mereka dapat kembali menjadi manusia, kemudian hidup lagi menjadi makhluk utama dan kembali ke surga.

Dulunya, mereka berdua adalah suami istri yang sangat berbahagia, diam di sebuah rumah di kota. Mereka hidup tenteram di masa tenteram. Saat mengandung anak yang kemudian lahir sebagai anak perempuan, setiap hari istrinya menginginkan kijang guling, sebagaimana orang-orang suka memasak babi guling dan kadang kambing guling. Selalu terbayang dalam tetes liurnya kijang muda yang ditusuk besi beton dari mulut sampai ke dubur, lalu diputar pada dua tonggak besi di atas bara yang menganga. Beberapa jam kijang yang perutnya sudah diisi daun belimbing yang bercampur bumbu itu terus diputar agar matangnya rata.

Perempuan itu setiap saat membayangkan kijang yang diputar-putar di atas bara itu hingga air liurnya tetes.

“Pergilah berburu kijang, Aji, sudah tak tahan mulutku diam lidahku kering membayangkan kijang muda yang diguling, kulitnya cokelat tua dan renyah rasanya. Jangan tunda lagi, suamiku.”

Lalu, dia pun pergi bersama seorang teman ke padang perburuan di Bali Barat, malam-malam yang gelap, berdua tak bercakap bahkan seolah selalu menahan napas. Malam itu sepasang mata yang menyala tiba-tiba diam tak bergerak seolah menunggu dengan waswas, jangan- jangan laras senapan diarahkan ke kepalanya. Sepasang mata menyala itu diam bagaikan terpaku di batang pohon, hanya nyala tanpa gerak.

Lalu, terdengar suara tembakan tunggal dan mata itu pun runtuh ke tanah bersama suara tubuh yang tersungkur.

“Kena!” teriak lelaki itu. Temannya bergegas menuju tempat sepasang mata jatuh ke tanah dengan senter di tangan menyala.

“Induk kijang!” teriak temannya.

Lelaki itu agak kecewa sebab dia berharap dapat menembak seekor kijang muda yang diidamkan oleh istrinya. Rumput yang terinjak-injak kaki mereka dan semak yang terkuak, lalu temannya berteriak:

“Dia tak sendirian!”

“Mana lagi?” tanyanya.

Lelaki temannya menghunus goloknya dan menyerahkan senternya untuk dipegangnya menerangi tubuh yang rebah itu. Dengan cekatan dia membedah perut kijang itu dan sesaat mengeluarkan bayi kijang yang menggeliat dari dalamnya.

“Syukur dia masih hidup,” katanya sambil membungkus bayi kijang itu dalam kain sarung yang sejak tadi melilit lehernya.

Di rumah, mereka disambut bukan oleh sorak sorai atas keberhasilan mereka menembak seekor kijang, tetapi oleh berita yang memacu jantungnya untuk berdegup keras.

“Ibu dibawa ke rumah sakit,” kata pembantunya.

Dan kisah selanjutnya kau pasti sudah tahu, tak perlu lagi dikisahkan tentang gadis kecil yang bersahabat dengan kijangnya dan terbang ke langit mencari mamanya.

Tahun-tahun dilewati oleh lelaki itu dalam kesepian, terutama ketika anak gadisnya terbang ke langit tanpa mengucap selamat tinggal. Telah dia relakan gadis kecil itu bersama kijangnya mencari mamanya, dan kijang itu pasti rindu pada induknya yang tak pernah menyusuinya. Mereka telah bertemu di taman bunga dengan hamparan rerumputan hijau bagai permadani persia, di mana gadis kecil itu bebas berguling-guling memeluk kijangnya yang mengedip-kedipkan matanya.

Bertahun-tahun lamanya mamanya menunggu lelaki yang duduk kesepian di kursi malas di kebun rumahnya sampai pada suatu saat mereka dapat berkumpul kembali dan bersama hujan turun ke bumi sebagai anak-anak kera yang lucu. Bertahun-tahun lamanya lelaki itu menyebut nama Tuhannya dan memohon izin untuk membersihkan dirinya dari dosa, dan pembersihan diri itu harus dilakukan kembali di atas bumi yang penuh kekotoran ini.

Dari tahun ke tahun kera itu hidup berpasangan, tanpa seorang anak pun sebab mereka bersumpah untuk tidak bersatu tubuh hanya sukma yang layak terpadu walau mereka suami istri. Orang- orang yang datang bersembahyang di pura itu sering memerhatikan mereka yang konon berperilaku sebagai manusia. Mereka tidak pernah menyerang para pendoa, tidak pernah merampas buah atau kue yang dibawa sebagai sesaji oleh umat yang bersembahyang.

Mereka selalu menunggu orang-orang selesai bersembahyang dan dengan sabar pula menunggu mereka mengulurkan tangan dengan buah atau kue yang mereka terima dengan tangan pula. Bilamana ada orang yang melempar kue atau buah kepada mereka sampai jatuh ke tanah, mereka tidak mau memungutnya, dan membiarkan kera lain merebut kue itu dan lari dari arena.

Konon, mereka benar-benar berperilaku sebagai manusia, sebagai sepasang suami istri yang mencari rezeki dari orang-orang yang bersembahyang di pura ini. Mereka akan menerima buah yang bersih, yang belum digigit manusia. Pernah seseorang mencoba mengupas pisang dan mencuil ujungnya dengan tangan lalu mengulurkan pisang setengah terkupas itu kepada mereka, namun mereka diam saja tak hendak menerima pemberian itu walaupun tulus.

Di hari yang baik itu janji harus ditepati. Sepasang kera itu duduk berdua diam di depan pura utama, memohon berkah Sang Hyang Maha Menentukan lalu si jantan mendengar bisik dan kemudian mereka berdua berdiri, saling berbimbingan tangan menuruni tebing bukit menuju jalan raya. Dengan hati yang mantap mereka menghadap ke arah timur dan melangkah dengan niat mencapai pura di pinggir pantai yang terletak di timur kota, delapan puluh kilometer jauhnya.

Dari ladang ke ladang ke kebun mereka berayun, namun kadang berjalan kaki di tepi jalan sebagaimana sepasang penduduk kampung yang hendak ke kota. Orang-orang yang melihat mereka membiarkan mereka lewat, kadang menunggu dan mengulurkan dua buah pisang yang mereka terima dengan membuka senyum.

“Lihatlah, anakku. Mereka benar-benar mirip manusia,” seorang perempuan bicara dengan anak yang duduk di pangkuannya.

Pada malam hari mereka berhenti di dangau di ladang petani dan esoknya kalau merasa lapar, mereka mendekati rumah penduduk yang mengerti dan memberi mereka makanan.

Namun, sayang, tidak semua orang tahu siapa sepasang kera itu, karena memang mereka tidak pernah berjumpa dengan mereka dan tak pernah mendengar kisah mereka. Dan seorang anak muda yang menenteng senapan angin berburu burung tiba-tiba melihat mereka di atas pohon, membidik salah seorang darinya dan jatuhlah kera betina, mula-mula masih sempat bergelayut di ranting pohon namun akhirnya jatuh terbanting ke atas tanah. Kera jantan memburu turun dan memeluk tubuh yang mulai mengejang saat nyawa mulai merambat keluar darinya.

“Duh, istriku, kenapa hal ini harus terjadi lagi?” seolah dia merintihkan lagu duka yang mengusung masa lalunya.

Siapakah yang memahami rintihnya kalau mereka tak merekam sejarah yang tak pernah tertulis? Bagaimana orang tahu tentang peristiwa yang sudah berlalu?

Anak muda itu datang mendekat dan menodongkan laras senapannya, siap akan menembaknya dan merobohkannya di atas tubuh istrinya. Sekilat dia ingin mati bersama istrinya, sebagaimana apa yang mereka janjikan. Namun, dilihatnya cahaya yang menuntunnya untuk bergerak terus ke arah timur.

“Tidak!” katanya. “Bukannya aku tak bersetia padamu, istriku, tetapi ada tugas yang harus aku penuhi agar harkat kita kembali ke tempatnya semula. Aku harus sampai di pura sebelah timur, menghaturkan sembah kepada Yang Maha Berkehendak sehingga kita tetap bersatu sebagai manusia.”

Tembakan berdesis dan jantan kera itu melompat menghindar, memanjat pohon dan dari ketinggian dia melihat pemuda itu membawa jasad istrinya pulang. Di rumah orang mengulitinya dan memasak dagingnya, serta membagi gulai daging itu kepada para tetangga.

Esoknya desa gempar sebab orang- orang yang ikut memangsa daging kera itu semuanya menjadi gagu, tak bisa bicara, sementara pemuda yang dengan gagah beraninya menembak kera itu ditemukan terbujur tubuhnya di atas bale kamarnya, tak bangun lagi, dengan kulitnya yang dingin dan dadanya yang tak lagi naik turun.

Berita itu dengan cepat tersebar ke seluruh wilayah dan orang-orang berbisik tentang sepasang kera yang bertingkah laku sebagai manusia, yang tinggal di pura selama bertahun-tahun dan tak pernah mengganggu manusia.

Kera itu dengan kepala menunduk melanjutkan perjalanannya yang belum usai, pada malam hari sampai di pura di tepi pantai, dan tanpa beristirahat duduk menundukkan kepalanya di depan tempat sembahyang utama, dengan sekuntum bunga kamboja terselip di telinganya.

Berhari-hari dan malam dia tinggal di pura itu mencoba meninggalkan rasa duka yang masih menyesaki dadanya dengan besar hati.

“Aku harus menjalaninya, kisah hidup yang kujalin sendiri dari dedaunan karmaku, apakah mampu membentuk kipas yang dapat menyejukkan tubuh di kala panas menyengat atau perangkat sembahyang yang penuh dengan bunga. Siapakah yang bertanggung jawab atas perbuatan selain diri kita sendiri, dan aku harus menebus apa yang sudah kuperbuat, dan istriku harus menjalani kembali kisah sedih yang sudah terjalin menyatu dengan masa lalu.

Lalu, ketika genap lewat tujuh hari, dia mulai melangkahkan kaki kembali menuju ke barat, kembali ke pura batu di tepi pantai dan menjalani sisa hidupnya sendiri. Sisa? Berapa harikah yang tersisa? Dia tak boleh mempersoalkannya. Hari- hari lewat dengan berdoa, hari-hari di wilayah yang suci tempat manusia menyambung sukmanya dengan zat yang Mahasuci, kenapa aku tak boleh menyambung sukmaku sebagaimana mereka?

Hari-hari berlalu dan dia berharap pada suatu saat tiba saatnya dia berkumpul kembali dengan istrinya sebagai manusia, menapaki jalan yang lebih bersih agar tercapai moksa kembali menjadi zat suci, bercampur udara yang berada pada lapisan paling atas paling dekat dengan Zat Yang Mahazat.

Singaraja, 6 Agustus 2003

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme