Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Vampir oleh Intan Paramaditha

Posted on Ming, 18 Jul 2004

Bacalah ia dari belakang dan kau akan menemukan aku.

Kami datang dari tempat yang sama, sempit, gelap, basah, merah. Tapi ia tak menginginkanku karena ia kira aku menyusu ibu serigala.

Sebenarnya dulu aku tak pernah bercita-cita menjadi sekretaris. Jika ditanya apa cita-citaku semasa kecil, aku selalu mengatakan ingin jadi dokter, seperti juga ribuan anak kecil lainnya. Tapi saat aku tumbuh dewasa, ibuku mengamati sifatku yang rajin dan serba teratur. Aku suka membuat daftar pelajaran, anggaran uang jajan, atau daftar belanja. Aku tergila-gila pada pengelompokan. Di kamarku ada kotak-kotak khusus untuk kaset dengan aliran musik berbeda. Aku bahkan tahu baju apa yang akan kupakai hari Jumat dua minggu mendatang. Kata Ibu, “Kau lebih cocok jadi sekretaris ketimbang dokter.”

Selepas sekolah menengah aku pun masuk Akademi Sekretaris. Separuh alasanku adalah ingin memaksimalkan potensiku, separuhnya lagi adalah karena untuk menjadi dokter aku harus menyukai biologi, sedangkan satu-satunya yang kusukai dari pelajaran itu adalah klasifikasi tumbuhan dan binatang. Lagi-lagi pengelompokan dan keteraturan. Pada akhirnya kusadari pilihanku belajar di Akademi Sekretaris tidak salah karena aku lulus dengan nilai-nilai gemilang.

Aku hidup di gua-gua pekat malam, terselimuti kabut abu-abu, tak kenal pagi dan embun. Aku tak berani menantang cahaya karena aku tak seperti kalian semua. Aku terobsesi merah. Merah yang tergenang menganak sungai beraroma ikan segar.

Aku haus darah.

Aku kupu-kupu hitam bersayap beludru, terbang ke dalam lorong-lorong dan terseret dengan pusaran malam. Ia tak tahu penderitaanku, eranganku, gairahku. Ia menutup semua jendela untuk mengusirku yang terseok kehausan.

Kini aku bekerja di sebuah perusahaan jasa konsultan. Aku selalu menyetrika jas kerja dan rokku licin-licin agar terlihat serasi dengan sejuknya lantai mahogani kantorku dan dindingnya yang bernuansa cokelat susu. Cokelat adalah warna klasik yang selalu terlihat elegan. Ingin terlihat lebih profesional? Pakailah cokelat atau hitam. Lucu, dulu kupikir warna gelap hanya untuk kekuatan jahat dan warna terang untuk kebaikan.

Kadang aku mencari tikus atau anjing atau apa saja. Aku terlalu lemah untuk membuka mata. Tak bisa bertahan, aku begitu haus. Ah, andai aku bisa menukar jiwaku dengan

Darah!

Jabatanku di sini adalah sekretaris manajer pemasaran. Meja kerjaku tertata rapi tepat di luar ruangan bosku. Namanya Irwan. Ia muda, tampan, kaya, cerdas. Tentu saja ada satu kelemahannya: beristri. Baginya ini kelemahan karena ia harus mati-matian menutupi hubungannya dengan beberapa perempuan (setidaknya begitu yang kudengar di hari pertamaku bekerja). Bagiku ini juga kelemahan karena aku harus berusaha menjaga jarak mengingat intensitas interaksiku setiap hari dengannya yang mungkin bisa menjerumuskan. Aku pernah mendengar tentang perilaku seks di dunia kerja, tapi aku tidak pernah berselera melanggar kode etik dan norma-norma.

Irwan terlahir dari keluarga kaya dan ini membuatku memaklumi sikapnya yang senang bermain-main dengan kekuasaan. Ia sering memberiku tugas di luar yang seharusnya, seperti memintaku membuat surat-surat permohonan untuk proyek sampingannya di luar kantor. Pernah pula aku keluar kantor hanya untuk membayar tagihan-tagihan kartu kreditnya. Aku tahu aku berhak protes, tapi untuk sementara ini aku memilih diam sambil mengevaluasi sejauh mana ia bersikap tidak profesional.

“Ada acara sesudah jam kantor?”

Aku mengangkat kepalaku. Hari itu Irwan memakai dasi merah yang menyembul dari balik jas hitam konservatifnya. Ada yang sangat salah dengan dasi itu. Mungkin warnanya yang kelewat terang, sungguh tidak cocok dengan atmosfer kerja yang penuh warna-warna dingin.

Merah berhawa panas. Merah kadang menggumpal lengket dan tersangkut seperti permen karet. Merah menuntut pengakuan, peng-aku-an, tak bisa menunda, tak bisa luruh di saluran pembuangan.

“Saras?”

Aku menggeleng.

“Kalau begitu temani saya minum kopi.”

Jika bekerja untuk seseorang, kita akan terbiasa dengan kalimat imperatif.

Aku pun berusaha menerka makna lain di balik minum kopi. Yang ia maksud tentunya berada di ruangan ber-AC sambil menikmati kopi tak berampas dalam cangkir, bukan minum segelas kopi tubruk di warung. Yang ia maksud tentunya berada di kelas tertentu, dengan tujuan tertentu, menjalin relasi atau networking mungkin. Menarik sekali untuk perkembangan karierku, tapi mari kutegaskan lagi kalau aku tidak tertarik memperdalam relasi dengan laki-laki beristri.

Munafik.

Apakah ada konsekuensi logis jika aku menolak?

Ia menginginkan lelaki itu, tapi tak mau jadi orang pertama yang disalahkan.

“Dirut minta laporan khusus yang harus selesai besok,” katanya. “Ini pekerjaan ekstra buat saya, jadi saya harap kamu bisa membantu.”

Irwan seperti membaca keraguanku dan mencoba menekankan bahwa ajakannya bersifat rasional dan profesional, bukan sensual ataupun seksual. Setelah menimbang-nimbang, kuputuskan untuk pergi bersamanya.

Ah! Ah! Aku saudara yang berbagi hangat denganmu di tempat merah sempit itu. Aku tahu di sekolah menengah kau membaca buku porno murahan tentang sekretaris yang masuk ke ruangan bosnya tanpa celana dalam. Kau perempuan murah rekah

Ayo marah! Tidakkah kau impikan semua kebinatangan di balik rokmu yang beradab?

Maka, pergilah kami ke sebuah kafe yang memutar musik jazz tahun 50-an. Bernaung cahaya redup, kami duduk di sofa beludru merah yang begitu besar sehingga aku merasa bisa tenggelam di dalamnya. Jika tak ada kopi, mungkin aku akan mengantuk. Mengapa Irwan memilih tempat seperti ini untuk membicarakan proyek kantor?

Rumah bordil—

Kupu-kupu seperti aku memang senang remang-remang, bayang-bayang, halusinasi. Rumah meriah di dalam hutan segala serigala. Kau tak akan tahu apa pun sebelum masuk ke dalam.

Kami berbincang selama dua jam, espresso berganti capuccino. Setengah jam ia membahas laporan khususnya. Ella Fitzgerald masih merayu dengan suara emasnya, tapi aku menyimak dan mencatat seperti layaknya sekretaris profesional. Lantas kudengar ia bertanya,

“Kamu masih tinggal dengan orangtuamu?”

Aku tertegun, lalu kukatakan aku tinggal sendirian. Orangtuaku berada di luar kota dan aku anak tunggal. Ia bercerita bahwa ia juga begitu.

Kemudian dimulailah ritual yang berbahaya itu: cerita klise tentang perkawinan yang tidak bahagia. Bahwa istrinya sibuk mengejar ambisinya sendiri, bahwa tak ada anak yang mengikat kedekatan mereka.

Aku harus mengakhiri semua ini. Ia tengah mencari mangsa.

Aku juga. Adakah yang rela menyerahkan jiwa?

“Aku harus kembali ke rumah,” aku memutuskan.

Hari belum terlalu malam, tapi Irwan ingin mengantarku pulang. Kukatakan tidak perlu, tapi ia memaksa.

Oke, sampai di luar pagar.

Laki-laki itu tahu kau tinggal sendirian.

Kau dan aku memang makhluk-makhluk kesepian. Aku si pengisap penyedot kehidupan yang sekarat karena merah sudah nyaris habis punah berhenti titik.

Ia bertanya padaku apakah ia bisa ke kamar mandi. Jadi, aku biarkan ia masuk.

Masuklah, masuklah ke dalam pagar wahai para pencuri. Mari berlompat-lompatan, jangan mengendap-endap. Lihat apa yang bisa kau cicipi di kebun buah. Aku ikut karena aku juga pencuri, pencuri hidup dan mati, dan ’kan kujadikan kau

hantu.

Lalu ia duduk di kursi rotan konvensionalku, minum segelas air putih. Dibukanya satu kancing kemejanya dan dilonggarkannya dasinya — dasi yang benar-benar salah.

Lihatlah leher laki-laki itu. Sukakah kau pada es krim vanila? Kecap kebekuannya dengan lidahmu dan ia akan lumer dalam mulut.

Aku mendengarnya memanggil namaku. Ia seperti bergumam, tapi aku menangkap kata-kata terakhirnya,

“Sebetulnya kita sudah saling tahu apa yang terjadi.”

Aku gemetar. Tiba-tiba kusadari ketakutan terbesarku terjadi. Aku pernah membayangkannya dan karena aku sangat profesional aku tahu aku harus mendorongnya dengan tegas, mengusirnya bila perlu.

Tapi aku merasa ia semakin mendekatkan tubuhnya padaku. Aku bisa mencium minyak wangi bercampur aroma rokok yang menempel di rambutnya yang tercukur rapi. Aku seperti—

Tersedot?

Di pucuk es krim ada ceri bulat mengilat. Buah menggoda, menantang bahaya. Akankah aku jatuh? Tapi aku begitu menginginkannya. Aku si pengisap penyedot kehidupan.

Lehernya begitu indah. Dan aku begitu haus

Darah.

Jam 6.30 pagi. Ponsel berbunyi.

“Halo, Saras?” suara wanita di ujung sana. “Jangan lupa nanti ingatkan bosmu untuk rapat dengan klien jam 11. Ini berarti semua materi presentasi harus sudah siap. Dia sudah memintamu menyiapkannya, ’kan?”

“Ia tidak pergi kerja hari ini.”

Bacalah ia dari belakang dan kau akan menemukan aku.

Jakarta, Juni 2004

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme