Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Air Raya oleh Azhari

Posted on Ming, 11 Jul 2004

Setiap air raya tiba perahu ini akan tumbuh, pikirnya. Memanjang beberapa depa. Sungguh, buritan itu akan gemuk nantinya. Palka melebar. Tiang yang baru saja ditancap akan menjulur menusuk langit menumbuhkan tangga serupa dahan tempat di mana kelak dia akan naik dan meneriakkan hoooi. Dia akan menyusul perahu Nuh.

Perahunya tak akan memuat banyak orang. Karena yakin perahunya tak bisa tumbuh secepat itu. Kapal ini akan tumbuh perlahan-lahan. Sementara dia harus bergegas menyusul perahu Nuh. Seperti gegas air yang mengalir deras di saluran belakang rumah: tempat di mana dia akan memulai pelayaran mengejar perahu Nuh. Karena itu dia tak akan mengajak ibu dan segala binatang untuk naik serta berlayar bersamanya. Ibu harus menjaga rumah, menunggunya pulang berlayar. Sementara dia tak sanggup mengumpulkan berpasang-pasang binatang untuk ikut serta. Perihal bahwa dia akan pergi sendiri mengejar perahu Nuh, dia sudah meyakinkan ibu. Ibu memaklumi saja sekaligus mengatakan bahwa Nuh dulu juga demikian, meninggalkan seorang perempuan dalam pelayarannya. Maka kenapa kelak para pelaut selalu meninggalkan perempuan mereka tiap kali berlayar. Kenapa Nuh tersesat karena tak niat mengingat, apalagi pulang menjemput, perempuannya. Sementara para pelayar sesudah Nuh kembali ke peluk perempuan mereka.

Dia tak mengerti apa yang dimaksud ibu. Yang dia tahu air raya akan menumbuhkan perahunya. Sungguh beruntung Nuh. Nuh yang diberkahi Tuhan begitu melimpah air raya sehingga perahunya sungguh cepat tumbuh. Air raya yang diturunkan Tuhan selama 40 hari 40 malam-melalui hujan tiada tara.

Maka dia terus memperhatikan hujan yang terus turun mengaliri saluran air di belakang rumah. Ihwal yang menyebabkannya menjadi juru ukur air tiap hujan reda. Di bantar saluran dia akan mengukur air dengan kupingnya. Memperkirakan berapa sehari hujan memenuhkan saluran. Menghitung-tambahkan berapa kali hujan sanggup memenuhkan saluran air. Dengan demikian dia bisa menentukan kapan air raya akan tiba: saat dia harus bersiap memulai pelayaran dengan perahunya. Karena tiap hujan turun perahunya juga tumbuh perlahan. Tapi hujan tak pernah memenuhkan saluran, padahal nyaris saja air memajuh kupingnya saat mendengar alir di dingin bantar saluran. Perahunya akan tumbuh perlahan, tak menyusut seperti air di saluran.

Nuh telah mengajak Bapak berlayar, dia berkata suatu pagi ketika anaknya bertanya ke mana Bapak berhari-hari tak pulang. Hari-hari dalam hujan yang lama dan membuat saluran air di belakang rumah bergemuruh, seolah air itu saling bergegas, kejar-mengejar-kalau kau sering memperhatikan gegas air dengan seksama: air yang satu seperti ingin menggapai air yang lain. Mengejar bahu air dikejar bahu air.

Kenapa Nuh mengajak Bapak, tanya anaknya lagi. Anak itu barangkali sedang menajamkan telinga mendengarkan kecipak air yang menampar-nampar tebing saluran-barangkali pula membayangkan sebuah perahu kecil jika diarungkan di air deras saluran, sementara tangannya mengulur menarik tali yang mengait hidung si perahu kecil.

Perahu Nuh tiris, cuma Bapak yang bisa menambalnya. Tapi atap rumah ini tiris pula, gumamnya. Lelaki itu telah abai menambalnya.

Tapi Bapak belum menyelesaikan perahuku, lihat baru perut perahu saja yang dicungkilnya. Kenapa Bapak tak mengajakku? Padahal Bapak membuat perahu bersamaku. Dan siapa Nuh? Tanya anaknya pula.

Maka perempuan itu mengisahkan kepada anaknya tentang Nuh.

Nuh lelaki yang meninggalkan istri dan anak yang telah menistakannya. Anak dan istri yang tak pernah membantu Nuh membuat perahu. Tak memercayainya pula bahwa air raya akan datang suatu ketika. Istri dan anak yang bersekutu dengan orang-orang yang tak percaya pula bumi akan direndam murka. Nuh itu seorang yang sunyi Nak, sahabatnya belaka binatang.

Tapi anakku, kita tak pernah menistakan bapak. Engkau dan aku sepenuh hati membantu bapak. Aku percaya bahwa suatu hari kelak murka itu akan datang. Benar, murka yang telah membawa bapakmu pergi. Bapakmu tak sesunyi Nuh, anakku, dia bersahabat dengan siapa saja. Karena itu barangkali Nuh mengajaknya pergi. Bapakmu, Nak, lelaki yang percaya bencana itu akan datang.

Maka berceritalah perempuan itu perihal bencana ketika air raya tatkala Nuh datang menjemput lelakinya:

Aku harus pergi kekasih, kata lelaki itu memandang ke luar jendela. Hujan memutihkan pandangan. Tiga hari sudah hujan turun tak henti. Hujan yang membuat saluran air di belakang rumah bergemuruh. Perempuan itu ingin menyangkal hujan. Ingin mengatakan kepada lelakinya bahwa hujan akan reda ketika siang tiba. Hujan itu tak akan membuat saluran di belakang rumah meluap menjadi air raya. Air raya yang akan mengambil kembali lelaki itu dari pelukannya.

Dulu dia bisa terbahak bila lelaki itu menyinggung tentang air raya. Air raya yang membuat Nuh bisa berkeliling dunia: menghindar celaka, meluaskan sabda. Air raya yang didengarnya merangkak hingga ke leher gunung, sebelum berkah hujan tambahan, menenggelamkan segala yang menjulang. Lalu perempuan itu akan mengatakan: Tuhan tak akan pernah lagi menurunkan air raya sebelum Nuh pulang menjemput perempuan dan anaknya yang karam atau melemparkan mereka sebuah pelampung, kekasihku. Barangkali juga karena tiap-tiap lelaki kini telah diberikan Tuhan perempuan-perempuan setia-seperti dirinya.

Tetapi lelaki itu bersikeras meneguhkan bahwa Tuhan akan mengirimkan air raya untuk menyelamatkan lelaki. Ini bukan perkara kesetian, ujar lelaki. Ini adalah takdir lelaki di kampung kita. Kalau Nuh cuma berurusan dengan anak dan perempuannya dan, kaumnya yang menolak percaya bahwa Tuhan akan mengirimkan air raya. Menolak dengan memuntahkan tinja ke dalam perahunya. Maka urusan lelaki di kampung ini adalah bagaimana menghindar dibariskan di depan perempuan mereka, ditanyakan tentang khianat yang tak mereka alami, dipandang seolah anjing buduk yang kerap melakukan pekerti terkutuk.

Maka, kekasihku, lelaki mesti percaya bahwa ketika air raya tiba adalah saat yang tepat untuk pergi meninggalkan kampung. Beberapa lelaki telah naik gunung untuk menghindar dari air raya, bukan? kata lelakinya lagi.

Hujan masih turun rapat lebat: kalau kau perhatikan hujan seperti tak pernah bergerak-hampir menyerupai kurungan ayam warna kelabu.

Kau tak bisa ingkarkan perempuanku, air raya seperti mengikuti takdir hidup tiap lelaki di kampung kita. Kaulihat sendiri, berapa lelaki yang mati ketika air raya. Juga perempuan dan anak mereka yang menunggu tubuh lelaki dihanyutkan di deras air raya. Aku tak ingin kau menunggu tubuhku yang terapung di air raya. Maka aku harus pergi menumpang perahu Nuh atau, menyelamatkan diri ke puncak gunung tertinggi agar air raya tak menelan tubuhku. Tapi kautahu kan air raya pasti menenggelamkan segala gunung, segala yang menjulang.

Tapi kau belum selesai mencungkil perahu itu, tunjuk perempuan ke arah seonggok pohon yang berlubang tengahnya. Padahal perempuan itu ingin menambahkan bahwa lelaki juga lupa menambal atap rumah yang telah tiris.

Katakan pada anak kita, dia harus mencungkilnya sendiri. Katakan juga bahwa perahu itu akan tumbuh tiap air raya tiba. Dan dia harus menjemputku di atas perahu Nuh kelak kalau perahunya telah tumbuh besar, jawab lelaki.

Maka siang itu pergilah lelaki. Menumpang perahu Nuh. Tapi perempuan melihat lelakinya seperti dikurung sangkar ayam warna kelabu. Perempuan itu merasakan sekujur kepala kuyup ditimpa tetesan air hujan sebab atap yang tiris karena abai ditambal lelakinya.

Anak itu tercenung setiap mendengar cerita tentang bapaknya. Dia menggeleng-geleng kepala antara takjub, percaya, dan tak percaya. Tapi dia bertekad akan menumbuhkan perahunya tiap air raya, lalu dia akan mengejar perahu Nuh untuk mengambil kembali bapak, mengembalikannya ke hadirat ibu. Kasihan ibu, kepalanya basah kuyup tiap hujan tiba: bapak lupa menambal atap yang tiris sebelum pergi dijemput Nuh.

Perempuan itu tercenung setiap mengisahkan tentang lelakinya, Nuh, perahu yang tumbuh, air raya, dan atap yang tiris kepada anaknya. Dia menggeleng-geleng kepala antara takjub, percaya, dan tak percaya karena telah menyampaikan kisah yang ganjil kepada anaknya. Sungguh, kisah itu cuma karangannya belaka. Dia tak ingin anaknya kelak merangkak gunung untuk menghindar bencana air raya dengan alasan mencari bapaknya: karena dia tahu air raya akan menelan apa pun bahkan segala yang menjulang. Dia ingin anaknya mengejar bapaknya yang dijemput Nuh dengan perahu yang tumbuh tatkala air raya. Dengan demikian dia harus tahu diri takkan pernah ada lelaki yang menambal atap rumah yang tiris: biarlah kepalanya kuyup ditimpa hujan.

Tiap air raya tiba perahu ini akan tumbuh, pikirnya. Memanjang berpuluh meter. Sungguh, buritan itu akan gemuk nantinya. Palkanya akan melebar sampai sepuluh besarnya. Tiang yang bertahun-tahun ditancap akan menjulur menusuk langit menumbuhkan dahan-dahan tempat di mana kelak dia akan naik dan meneriakkan hoooi. Dia akan mengejar perahu Nuh. Menghentikannya. Lalu dia akan melemparkan tambang kembar yang ujungnya diikat kait serupa mata kail. Dari perahunya dia akan naik ke perahu Nuh. Menemui orang itu. Bercakap-cakap barang beberapa patah kata: menyatakan bahwa Nuh sudah cukup sampai di sini membawa Bapak berlayar dan, bukankah Bapak sudah usai memperbaiki perahu. Menegaskan bahwa dia akan menjemput Bapak. Menjelaskan tentang Ibu yang sudah lama menunggu. Mengatakan juga tentang kepala Ibu yang sering ditimpa hujan (sebab atap tiris tak ada lelaki yang menambal).

Ya, dia mesti mengajarkan Nuh mengenai kerinduan-karena dia tahu orang seperti Nuh tak paham arti kerinduan. Lalu menjabat Nuh. Memperhatikan mata Nuh: sungguh Nuh orang yang gugup. Diapitnya tangan Bapak. Tentu, Bapak akan menepuk-nepuk punggungnya. Mengusap kepalanya. Mengecup dahinya. Bapak akan dituntun menuju perahunya.

Hoooi, berteriak dia dari atas tiang kapal. Melambaikan tangan ke perahu Nuh.

Ibu sudah menunggu mereka di rumah. ***

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme