Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kuburan Kopi oleh Dahlia Irawati

Posted on Kam, 19 Nov 2020

Tangan legam penuh luka mengayun cangkul tinggi-tinggi, lalu menghunjamkannya sekuat tenaga ke tanah. Joglangan (lubang) yang digalinya melebar mengelilingi larik tanaman kopi. Tidak seperti awal tahun lalu, kini joglangan dibuat lebih lebar dan dalam. Sesekali tangannya menyeka peluh yang bersembunyi di kerut dahi. Cangkul kembali dihunjamkan sekuat-kuatnya, hingga mata cangkul rompal memecah batu.

***

Malam itu, Bapak meneleponku. Lelaki berusia 70-an tahun itu memintaku menemaninya pergi ke bank esok hari. Katanya, Bapak mau pinjam uang untuk menutup utang pada Pak Slamet. Dari temannya, Bapak tahu bahwa bunga bank jauh lebih murah dari bunga utang ke Pak Slamet.

Pak Slamet adalah pedagang kaya raya di kampungku. Ia jadi jujukan semua orang yang mengalami kesulitan keuangan. Tahun lalu, Bapak salah satu di antara mereka. Padahal, berutang di Pak Slamet sama saja masuk jerat. Ibaratnya utang sebiji, nantinya harus mengembalikan dua kali lipat.

Bapak merasa hal itu tak masalah. Ia yakin panen kopi berikut akan bagus dan hasilnya bisa digunakan untuk membayar utang. Bapak paling tahu dengan segala keputusannya.

Masa itu adalah tahun tersulit bagi kami. Cuaca buruk membuat panen kopi jelek, harganya anjlok. Hasil panen pun hanya sepertiga dari tahun sebelumnya. Itu pun, kualitasnya tidak bagus. Biji kopi tidak membesar seukuran biasanya, keropos di sana-sini. Makanya, Bapak memilih tidak menjualnya dan mengonsumsi sendiri kopi miliknya.

Pada masa sulit tersebut, aku diterima kuliah di kota. Sehingga butuh biaya besar untuk bayar SPP dan ongkos kos. Aku kos karena rumahku berjarak 50 kilometer dari kota. Jika aku memilih pergi-pulang tiap hari, akan berat untuk ongkos angkutan.

Semua itu kulakukan demi Bapak dan Ibu. Bapak adalah orang yang menyuruhku kuliah. Ibuku selalu saja membenarkan apa kata Bapak. Padahal, aku tidak setuju. Bagiku, kuliah hanya membuang-buang uang. Tapi, apalah aku di hadapan mereka berdua.

”Kenapa aku harus kuliah saat panen kopi memburuk, Pak. Apa tidak sebaiknya aku membantu Bapak saja, hemat biaya hidup?” tanyaku pada Bapak saat itu. Bapak menjawab, kuliah penting bagiku agar aku bisa mencari solusi agar tanaman kopi lebih banyak berproduksi.

Aku masih tidak terima dengan jawaban itu. Masih ada segudang tanya, seperti kenapa tidak ditunda saja kuliahku dan kenapa aku tidak boleh bekerja di kebun seperti Bapak. Tapi, saat aku hendak bertanya kedua kalinya, Bapak sudah rebah pada dipan kayu di depan perapian. Tubuhnya yang mulai renta meringkuk beralaskan sarung.

Segudang tanya kulepaskan jadi napas panjang. Pikiran dan perasaanku silih berganti bertautan. Mungkin saja, keinginan Bapak menguliahkanku adalah hasrat terdalamnya mengenyam bangku kuliah. Bapak hanya tamatan SMP. Sejak kecil ia sudah masuk ke kebun kopi. Keluarga Bapak adalah petani kopi turun-temurun. Hidup Bapak adalah kopi. Bapak tumbuh dari dan untuk pohon kopi.

Aku masih tidak terima dengan jawaban itu. Masih ada segudang tanya, seperti kenapa tidak ditunda saja kuliahku dan kenapa aku tidak boleh bekerja di kebun seperti Bapak. Tapi, saat aku hendak bertanya kedua kalinya, Bapak sudah rebah pada dipan kayu di depan perapian. Tubuhnya yang mulai renta meringkuk beralaskan sarung.

Apa pun itu, kulakoni saja keinginan Bapak. Karena memang tidak ada yang bisa membantahnya. Toh selama ini, apa yang dilakukan Bapak hasilnya selalu baik. Ibu mengajariku untuk selalu patuh pada Bapak. Selama ini, nyaris aku tak pernah melihat Ibu membantah keinginan Bapak. ”Bapakmu tahu apa yang menurutnya terbaik, Le,” kata Ibu suatu ketika padaku.

Begitu pun, saat Bapak memutuskan pinjam uang pada Pak Slamet. Aku dan Ibu sama sekali tidak protes. Dan benar saja, musim ini pohon kopi tumbuh subur sehingga panen diperkirakan akan membaik. Ada harapan, petani kopi untung besar. Lagi, keputusan Bapak benar adanya.

Begitulah Bapak, petani yang titis (penuh ketepatan) dan kuat. Hanya saja, suatu ketika aku melihat kekuatan Bapak nyaris pupus di tengah jalan. Tepatnya, saat Ibu tiba-tiba meninggal dunia gara-gara terserang angin duduk. Saat menanti panen kopi, tanpa ada tanda-tanda, Ibu harus dilarikan ke puskesmas karena sakit. Tragisnya, Ibu meninggal sebelum sempat mendapat pertolongan. Mantri desa menduga, Ibu mungkin kelelahan.

Itulah saat aku melihat Bapak seperti kain basah teronggok di pojokan. Bapak ibarat Gatotkaca yang keropos tulang-tulang besinya. Rapuh. Ia hanya terdiam di depan perapian, sama seperti kebiasaannya saat nyore bersama Ibu seusai pulang dari kebun. Biasanya saat itu mereka meneguk kopi, tertawa, dan mensyukuri hari bersama-sama. Aku melihat, kopi adalah bahasa cinta mereka berdua.

Adapun aku, aku menangis tak henti-hentinya begitu mendengar kabar meninggalnya Ibu. Siapa lagi yang akan menjadi cahaya hidupku selain Ibu. Bapak, ah, ia terlalu pendiam untuk mengerti segala keluh kesahku. Rasanya, tak ada gunanya aku kuliah tinggi-tinggi kalau tak ada senyum Ibu menyaksikan keberhasilanku.

Kuputuskan, untuk sementara aku tidak masuk kuliah. Bahkan kalau bisa, aku akan berhenti kuliah saja. Aku ingin tiap hari bisa menghabiskan waktu di kuburan Ibu, untuk sekadar berkeluh kesah seperti kebiasaanku sebelumnya. Atau, sekadar duduk di samping Bapak, berbagi kesedihan dan saling menguatkan.

Namun, ada satu hal janggal yang kulihat dari Bapak seusai meninggalnya Ibu. Bapak tidak keluar rumah, kecuali untuk menengok tanaman kopinya di kebun, dari pagi hingga sore hari. Pernah aku mencoba mengintip apa yang dilakukan Bapak di kebun seharian. Aku khawatir, duka akan membuat Bapak melakukan hal-hal yang tidak benar.

Tapi, rupanya Bapak hanya duduk di antara rimbun pohon kopi, mengelus daun, menciumi biji kopi, lalu rebah di bawah naungan batang-batang kopi. Aku sempat berpikir, mungkin Bapak ingin menyembunyikan tangis di balik gundukan joglangan yang mengelilingi pohon kopi.

Mungkin Bapak malu menangis di depanku. Selama ini, aku memang tidak pernah melihat Bapak menangis. Sama seperti aku tak pernah menangis di hadapan Bapak. Aku lebih sering menangis di pangkuan ibu.

Makanya, saat itu aku memilih tidak menanyakan apa yang dilakukan Bapak seharian di kebun. Lebih baik aku pura-pura tidak tahu.

Tepat seminggu setelah kematian Ibu, Bapak menyuruhku kembali pergi kuliah. Aku kaget. Sepenting itukah kuliah dibandingkan dengan Ibu? Aku masih ingin mengenang Ibu. Bagiku, Ibu adalah sosok perempuan paling baik dan cerdas sedunia. Ibu paling memahamiku dalam semua hal. Menurutku, ia juga sangat mengerti Bapak, meski sepengetahuanku, Bapak bicaranya hanya sepatah dua patah kata saja.

”Aku masih ingin mengenang Ibu, Pak. Apa Bapak tidak cinta Ibu?” tanyaku memberanikan diri. Aku tidak lagi merasa ada yang perlu ditahan-tahan. Aku berpikir, rasa berkabung untuk Ibu harusnya selama mungkin. Demi Ibu, yang selama ini menjadi tempatku mengadukan segala persoalan.

Bapak memandangku kaget. Mungkin ia tidak percaya aku berani membantahnya. Tetapi, Bapak tidak marah. Ia malah mengajakku pergi ke kebun, menengok tanaman kopi.

Bapak menunjukkan betapa musim ini kami akan panen besar. Biji kopi berkembang penuh, memerah ranum, dan melebat di setiap tangkainya. Siap panen. ”Setelah susah, akan datang bahagia. Biarkan waktu membahagiakanmu,” kata Bapak padaku sambil memetik si biji merah. Mungkin, melihat merahnya biji kopi menjadi penghibur atas kepedihannya ditinggal Ibu. Aku selalu kagum, bagaimana orang kampung yang hampir seluruh hidupnya habis di kebun kopi bisa sebijak itu.

Dengan dorongan Bapak, aku pun kembali ke kampus. Bapak saja sudah merelakan kepergian Ibu, kenapa aku tidak. Aku bertekad belajar dengan baik agar bisa pulang dengan ilmu kopi yang diharapkan Bapak.

Tapi, lagi-lagi, aku harus kembali pulang ke rumah, tak lama kemudian. Bapak menelepon, mengabarkan bahwa harga kopi jatuh. Panen raya membuat kopi tak ada harganya. Di pasar, harga kopi hanya setengah dari normal. Harapan untuk membayar utang pada Pak Slamet pupus sudah. Itu sebabnya, bapak mengajakku mencoba peruntungan meminjam uang ke bank. Utang akan dipakai untuk membayar utang ke Pak Slamet dan untuk keperluan merawat kopi.

”Maafkan kami Pak, kami belum bisa memberi kredit untuk kebun kopi. Bapak punya sawah? Kalau punya sawah, coba saja diajukan lagi, siapa tahu kredit bisa cair,” kata petugas bank saat kami menceritakan niat kami datang ke sana. Ia menjelaskan bahwa seusai krisis keuangan, bank harus lebih selektif memberi kredit. Kebun kopi dinilai belum bisa menjamin petani mampu mengembalikan utang.

Suasana mendadak hening setelah petugas bank memberi penjelasan. Saking heningnya, tarikan dan embusan napas pelan Bapak terdengar memenuhi ruangan. Surat tanah, yang semula didekapnya, terjun bebas dari ketiak dan menghantam keras ubin keramik yang berkilauan. Namun, Bapak tetap tak bergerak, tatapannya kosong ke depan. ”Pak… Pak….” Bapak tergagap setelah kusentuh bahunya dan bergegas mengajak pulang.

Setelah bertubi-tubi kena masalah, aku tahu, Bapak kembali terluka. Luka yang kembali menganga, setelah kematian Ibu. Kami pun pulang dengan tangan hampa. Warisan turun-temurun yang dijaganya selama ini tak ada harganya.

Sepanjang jalan pulang, aku dan Bapak tak bicara sepatah kata pun. Bapak hanya diam saat kubonceng pulang. Tagihan utang pada Pak Slamet, uang SPP kuliahku, kematian Ibu, ongkos pekerja, biaya hidup sehari-hari seperti silih berganti muncul di kepalaku. Mungkin, bayangan itu juga yang membungkam Bapak sepanjang jalan.

***

Kepingan mata cangkul yang rompal perlahan diambil oleh Bapak. Diusap dan dibersihkan dengan jari-jarinya. Lalu dengan cepat, kepingan besi itu dilempar ke dalam joglangan. Seperti pupuk yang selama ini mengisi joglangan, mata cangkul itu langsung menempel ke tanah dekat pohon kopi.

Sejenak Bapak menerawang nanar ke lubang yang menganga itu. Pandangannya beralih pada deretan pohon kopi. Ia kemudian beringsut mengambil sabit, menghela napas panjang, dan sedetik kemudian mencacahi pohon kopi.

”Orang lemah menanti kesempatan. Orang kuat membuat perubahan,” gumam pria bercaping itu sambil membabati tanaman kopi seperti kesetanan. Batang-batang pohon kopi jatuh tergeletak tak beraturan, lalu didorongnya masuk ke dalam joglangan.

Tiba-tiba Bapak terjatuh. Menelungkup seperti onggokan kain basah di pojokan. Diam tak bergerak. Hampir bersamaan, aku mendengar rintihan samar. Seketika napasku sesak. Kulihat cairan merah menetes dari batang-batang kopi yang kena babat. Pelan, kuseka cairan yang sama dari kedua mataku.

***

Dahlia Irawati : jurnalis penyuka sastra. Aktif dalam Kelompok Belajar Menulis (Kobis) Merajut Sastra di Malang.

sumber : kompas.id, 19 Nov 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme