Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ominara oleh Nevatuhella

Posted on Sab, 21 Nov 2020

Seandainya Bahrum masih hidup, ia pasti menjadi salah seorang yang paling tertekan atas musibah wabah pandemi korona yang terjadi saat ini. Ia meninggal setahun yang lalu, ditabrak anak muda pengendara sepeda motor yang mabuk.

Di mata warga, Bahrum bernasib sangat malang. Dalam usia belum mencapai tujuh belas tahun, ayahnya meninggal dunia ketika melaut. Bahrum yang waktu itu ikut melaut diselamatkan dari badai oleh lumba-lumba. Padahal baru kali itulah Bahrum ikut melaut. Maksud hati ayah-ibunya agar Bahrum tak canggung bekerja apa saja. Karena saat itu, ia sudah bertunangan dengan Ominara. Gadis beribukan China mualaf. Tercantik di desa Toluk Mangandar.

Selepas dari maut, Bahrum trauma berat. Ia memutuskan hubungan dengan Ominara. Alasannya takut kalau-kalau nanti Ominara menjadi janda, karena nasibnya akan sama dengan ayahnya. Padahal sesudah pernyataannya itu disampaikan pada Ominara, Bahrum tak pernah lagi melaut. Beraninya hanya menjala dan bersampan kecil ke tepi-tepi pulau yang ada disekitar pantai.

Ibunya membujuk Bahrum. Ia tak perlu harus melaut mencari nafkah. Di darat juga banyak pekerjaan. Bujukan ibunya berhasil. Bahrum menikah dengan Ominara. Pas pernikahan mereka setahun, lahirlah putri mereka Jelita. Soal nafkah sehari-hari yang selalu dicemaskan Bahrum, diatasi ibunya. Ibu yang sudah memutih rambutnya ini menjadi tulang punggung keluarga. Setiap pagi ke pasar berjualan sayuran dan umbian hasil ladangnya.

Beberapa tahun kemudian kemalangan Bahrum berlanjut dengan kematian ibunya. Tak selesai di situ, trauma menimpanya lagi pasca terjadi gempa dan tsunami besar di daerahnya. Bahrum terguncang berat, hingga tak berani tidur di dalam rumah. Ia mengeluarkan perkakas masak ke teras rumah, dan tidur di luar rumah. Lebih sering pula ia tidur di teras mushala bersama para tukang yang kebetulan sedang mengerjakan renovasi mushala. Ominara terpaksa membawa Jelita pindah ke keluarganya. Khawatir suaminya bertingkah tak wajar terhadap Jelita. Letih Ominara meyakinkan bahwa gempa dan tsunami tak datang lagi, tapi tetap Bahrum pada sikapnya.

Dua tahun menjanda di desanya, Ominara membawa Jelita pindah ke kota. Mencoba mengadu nasib dengan membuka warung makanan dan minuman. Jelita bertambah usianya, dan sudah masuk sekolah dasar.

***

Seperti biasa seharian warga Toluk Mangandar bercanda, tertawa dan menangis bersama jika kemalangan menimpa. Mereka mematuhi dengan taat aturan yang dikeluarkan pemerintah menghadapi pandemi virus korona. Anak-anak tidak bersekolah, mushala dan mesjid tidak terlalu diaktifkan, menjaga jarak, tidak bersalaman kalau berjumpa, memakai masker kalau berpergian. Soal anjuran pemerintah bekerja dari rumah, mereka tertawakan, “Bagaimana ayah si Taing  melaut dari rumah?!” ujar mereka. Gelak pun berhamburan.

Sore itu, Zoimah, para ibu, dan beberapa remaja sedang mengopek kerang di pengopekan. Mereka membentuk lingkaran sekitar enam orang. Ada juga yang tujuh atau delapan orang selingkaran. Sebagian ada yang mengopek di depan rumah sendiri.

“Mengapa kau Omi? Uwak tengok tak bertambah-tambah kopekan kau? Ha, ada apa? Sakit kau?” tanya Zoimah pada Ominara yang duduk di sebelahnya. Di samping Omi, anaknya Jelita ikut juga mengopek dengan jari-jari kecilnya. Sesekali menyibak poninya yang sudah panjang hampir menutup matanya.

Ominara menggeleng, “Tak ada apa-apa, Wak. Sehatnya aku.”

“Jadi kenapa kutengok kau tak fokus? Ah, cocoknya fokus kukatakan. Maksudku kau tak motan… ha? Eh, Jelita kenapa Omakmu…ha?” Dagu Zoimah mendongak ke Jelita.

“Mak malam-malam sering nangis, Nek.” Jelita menjawab polos.

“Menangis!?”

“Iya, nek.”

Zoimah menatap ke wajah Ominara. Pucat memang dan matanya cekung. “Makanya, cepat kau kawin. Punya suami. Tak payah kali kau mencari makan. Lagi pula, kau masih terlalu muda untuk bertahan menjanda.”

Ominara tersipu. Monika boru Aritonang yang duduk di sebelah Zoimah mendengar ucapan Zoimah senyum-senyum. Memainkan mata pada pengopek lain. Mulutnya juga di gual-gualkan. Dimoncong-moncongkannya.

“Kenak dia. Bakal dapat petuah!” Komentar Laila menyambut bola dari Monika yang duduk berseberang. Dibatasi seonggok kerang yang masih beruap. Baru direbus.

“Wak Soi,…eh, maaaaaf,” teriak Laila. “Keceplosan aku!”

“Apa kau bilang,…” langsung Zoimah bereaksi mendengar latah yang dibuat-buat Laila. “Kupungkang nanti kau dengan selopku!” Gertak Zoimah seperti biasa. Ia paling pantang kalau namanya diawali dengan huruf S. Sebabnya ia sangat jijik melihat penampilan pembawa acara dangdut Soimah di televisi.

“Hiiiiihhh!!! Jijiknya aku mendengar jeritnya itu. Jerit memanggil bala. Jerit orang kena polong. Jerit sial. Pengundang bencana!” Inilah sikap Zoimah mengapa ia sangat marah kalau namanya dipelesetkan menjadi Soimah. Terakhir ia menambah pula jijiknya kepada penampilan Soimah, menyebut jeritan kuntilanak Soimah itulah yang mendatangkan korona.

“Maaf. Wak Zoimah. Maaf, ambe seribu maaf. Selet lidahku,” ucap Laila sambil membetulkan duduknya. Sebentar tadi ia memang berdiri khawatir selop Zoimah terlalukan.

Memang sudah beberapa hari Ominara mendapat kabar buruk lewat SMS Fatih Chairuddin, sahabat Zaitun. Zaitun sedang dirawat intens di rumah sakit, karena terpapar virus korona.

Ada penyesalan dalam dada Ominara menyikapi berita ini, mengapa ia selama ini menolak lamaran Zaitun yang sudah berulang kali. Kini, ia membayangkan laki-laki itu akan pergi untuk selama-lamanya. Selalu air mata tak bisa ditahan mengalir sejati membasahi pipinya yang masih ranum.

Sebelumnya, Zaitunlah yang menyuruh Ominara dan Jelita pulang ke kampungnya, desa Toluk Mangandar tentunya. “Dua-tiga hari ini, warungmu tidak akan didatangi pembeli lagi Omi. Pemerintah melarang warung makan-minum beroperasi lagi. Pulanglah ke kampungmu. Di sana kau bisa dekat dengan keluargamu. Di kota ini tak apa yang bisa dilakukan untuk memperoleh penghasilan. Kota akan di lockdown dalam beberapa hari lagi.” Nasihat Zaitun.

Mulanya Ominara ragu. Tapi Zaitun terus meyakinkan. Zaitun menjual sepeda motornya untuk keperluan Ominara dan Jelita. Sebuah minibus disewa untuk keberangkatan keduanya, lengkap dengan memberangkatkan alat dapur hingga tilam yang sudah lusuh.

Kini waktu sudah berlalu hampir lima bulan. Berita yang diterima Ominara sangat menyayat hatinya. Ia selalu teringat kebaikan Zaitun padanya. Zaitun laki-laki santun yang banyak memberi bantuan moril dan moral kepadanya. Terlebih setahun terakhir sebelum wabah korona menggila. Zaitun aktif memperhatikan keadaan Ominara. Secara terbuka pula ia menyatakan berhasrat untuk menyunting Ominara.

Mulanya Ominara ragu. Tapi Zaitun terus meyakinkan. Zaitun menjual sepeda motornya untuk keperluan Ominara dan Jelita. Sebuah minibus disewa untuk keberangkatan keduanya, lengkap dengan memberangkatkan alat dapur hingga tilam yang sudah lusuh.

Zaitun sendiri sudah lama meninggalkan profesinya sebagai penyanyi dan serius menekuni usaha percetakan. Kesukaannya menyanyi memang tak tinggal. Ada saja grup band yang mengontaknya. Dalam hal tampil sebagai penyanyi inilah, Ominara takut akan merasa tertekan dengan banyaknya perempuan penggemar Zaitun. Ominara cemburu. Trauma bersuami Bahrum masih melekat pula di hatinya.

Merasa badan dan pikirannya sehat, kembali Ominara turun mengopek. Tiga hari ia hanya berdiam diri di rumah. Sore itu Zoimah membisikkan akan membantunya dengan minyak goreng, gula, telur dan mie instan. Sekelebat Kepling Amar mampir di pengopekan. Ibu-ibu pun segera bereaksi, “Manala bantuan sembako tu lagi, Mar? Bukankah pemerintah masih menetapkan negara darurat korona!”

“Belum ada lagi kabar dari walikota, atau dari gubernur, Cik, Ociiiik. Kalau ada kan kukabari. Tapi bantuan six hundred million dollar tu sudah tak turun lagi la kurasa.” Amar menyebut bantuan uang tunai Rp 600 ribu dengan sebutan jumlah fantastik dalam bahasa asing.

“Ha…Omi, apa kabarmu?” tegur Amar pada Ominara.

Ominara tak peduli. Hatinya yang sedang berbalut duka tak siap sapaan laki-laki, siapapun itu. Padahal Amar temannya sejak di Sekolah Dasar.

“Sombong dia Wak Soi, eh, maaf, wak Zoi…” gurau Amar.

“Tutup mulut kau, Mar. Hambus kau cepat dari sini. Nanti siar pula bini kau si Loyah!”

Usaha akhir Ominara, setelah merasakan berbagai tekanan perasaan dan dari kepalanya terasa juga ruhnya seperti dicabut malaikat Izrail bila mengingat keadaan Zaitun, setiap malam ia bersujud memohon Allah Yang Maha Kuasa membebaskan Zaitun dari penyakit yang mematikan ini. Pesan Fatih Chairuddin demikian adanya. “Lahaulla-walakuwwatailla-billah. Tak ada kekuatan lain kecuali dari Allah.” Sebabnya Zaitun sudah berada di level ujung tanduk untuk kesembuhan. Setiap hari pasien korona terus berguguran di rumah sakit yang sama.

Sudah hampir seminggu Ominara tak mengopek kerang. Zoimah sudah dua kali menjenguknya. Pada kali ketiga ia berhasil tahu semua apa yang sedang menimpa Ominara. “Baiklah sudah usaha kau itu Omi. Nazarkan pula kau akan mengerjakan sesuatu kebaikan bila Zaitun sembuh. Puasa atau yang lainnya. Kau sudah setiap malam bertahajjud. Sesiangan tak lepas wudhu untuk membaca Alquran. Kok dapat, jangan kau angkat sujudmu hingga air matamu mengucur. Menghamba di haribaan Allah subhanahuwatala. Mohooon Zaitun disebuhkan!”

***

Ibarat mendung yang menjadi isyarat turun hujan, selang beberapa hari, kabar baik mengandung harapan datang kembali dari Fatih Chairuddin. Dokter heran dan haru pada keadaan Zaitun. Minggu terakhir ia sudah koma, tapi subuh tadi, begitu azan bergema, semua alat kontrol di ruangan memberi sinyal positif keadaan Zaitun. Mata Zaitun terbuka. Jarinya bergerak-gerak. Dokter mencoba memberi sesuatu, ia memegangnya. Psikolog yang ada mengusulkan memberikan pena dan kertas ke tangan Zaitun. Mengarahkannya untuk menulis. Ahli jiwa itu yakin ada yang ingin disampaikan Zaitun yang mempunyai identitas pasien P50001 ini.

Beberapa saat, sinyal alat kontrol terus ke angka positif yang menggembirakan. Bagian otak memori Zaitun sudah berfungsi. Alat pompa jantung sudah ke level 30 persen. Ia menulis huruf-huruf centang perenang. Tapi masih bisa dibaca. Disambung huruf-huruf tersebut, terbacalah nama-nama: Ominara, Jelita, Fatih Chairuddin dan nama-nama dokter yang merawatnya. Semua yang ada mengucap tahmid dan takbir, “Subhanallah…. Allahuakbar.”

“Pasien P50001 membuka mata dan menggerakkan tangannya. Ia kini mampu menulis. Sebelumnya Pasien P50001 ini padahal sudah berada di level paling sulit untuk kemungkinan sembuh.” Demikian berita semua media hari itu.

Lebih sebulan menjalani isolasi, masa-masa kritis sudah dilewati Zaitun. Di sebuah rumah sederhana di daerah pegunungan, hadir Ominara, Jelita, dan Fatih Chairuddin mengunjungi Zaitun. Semua wajah mereka cerah. Mata mereka cemerlang mengisyaratkan kebahagiaan tiada tara. Sujud-sujud Ominara di malam hari dikabulkan Allah yang Mujib.

***

Nevatuhella : lahir di Medan, 1961. Alumnus Teknik Kimia Universitas Sumatera Utara. Buku ceritanya yang telah terbit Perjuangan Menuju Langit (2016) dan Bersampan ke Hulu (2018), serta satu buku puisi Bila Khamsin Berhembus (2019). Tahun ini akan menerbitkan buku biografi penyair Damiri Mahmud Teriakan dalam Senyap.

sumber : kompas.id, 21 Nov 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme