Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sabrina dan Dunia Kucing oleh Risda Nur Widia

Posted on Sab, 28 Nov 2020

Sabrina tidak pernah berpikir kalau dirinya akan bisa memahami bahasa kucing. Kemampuan ini Sabrina dapat tidak sengaja tiga bulan lalu, ketika menunggu bis kota. Saat itu Sabrina melihat seekor kucing menyeberang tanpa memperhatikan jalan. Secara reflek, Sabrina berusaha membantu kucing itu. Sialnya, Sabrina malah tertabrak mobil yang sedang melaju kencang. Sabrina pun langsung jatuh pingsan selama tiga hari di rumah sakit karena kecelakaan tersebut.

Pada waktu tidak sadarkan diri inilah, Sabrina bertemu kembali dengan kucing yang berusaha diselamatkannya kemarin.

”Terima kasih sudah berusaha menyelamatkanku,” ungkap kucing itu.

”Walaupun sebenarnya, kau tidak perlu melakukannya.”

”Sudah seharusnya kita saling membantu,” jawab Sabrina.

”Sebenarnya pada hari itu tidak hanya kamu yang tertabrak, tapi aku juga,” kucing itu menjilati bulunya santai.

”Tapi kau baik-baik saja, bukan?”

”Kalau aku baik-baik saja, aku tidak akan menemui di sini,” kucing itu menyeringai.

”Jadi kita berdua sudah mati?” tanya Sabrina.

”Aku ingin balas budi kepadamu. Aku ingin memberikan satu nyawa terakhirku padamu dari sembilan nyawa yang semuanya nyaris sudah aku gunakan,” kucing mendekat. Kucing itu lalu melambaikan kaki depannya agar Sabrina mendekat. Sabrina mengikuti perintah kucing itu. Kucing itu lantas menyentuh kening Sabrina, hingga secara pelan Sabrina memejam mata.

Waktu terbangun, Sabrina sudah berada di rumah sakit.

”Kau kembali hidup,” teriak Ibunya. ”Kau kembali hidup!”

Orang-orang yang ada di ruangan itu langsung berkerumun saat Sabrina sadar. Mereka tampak tidak percaya dengan kejadian yang baru saja terjadi. Mereka menangis dan menatap dengan mata penuh tanya. Namun, Sabrina merasa terlahir lagi dengan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan kepada orang lain.

***

Kucing pertama yang Sabrina ajak bicara adalah seekor kucing putih baru milik tetangganya yang tersesat. Ketika itu Sabrina sedang lari pagi di lapangan kecil yang tidak jauh dari kompleks rumahnya. Sabrina kemudian secara lamat mendengarkan suara meminta tolong dari balik semak-semak. Merasa penasaran, Sabrian mendekat.

”Tolong aku,” kata kucing putih itu. ”Aku tidak bisa pulang.”

Sabrina diam termangu berusaha memahami apa yang terjadi ketika menyadari dirinya bisa mengerti bahasa kucing. Namun, isi kepala Sabrina masih sulit mencerna peristiwa itu.

”Apa kau tahu rumahku?” Tanya kucing putih itu lagi. ”Jangan hanya diam saja. Tolonglah aku bila kau tahu rumahku.”

Tanpa banyak memprotes keadaan ganjil yang sedang terjadi padanya, Sabrina mendekati kucing putih itu. Sabrina kemudian menyentuh kalung si kucing. Pada kalung kucing itu tertera nama yang tidak asing baginya.

”Debby?” Kata Sabrina. ”Apakah ini namamu?”

”Bukan,” jawab kucing itu. ”Namaku Bebi.”

”Namamu Bebi?” tanya Sabrina lagi.

”Kau dapat paham bahasa kucing?” Kini kucing putih itu yang bingung.

”Aku tidak tahu mengapa hal aneh ini bisa terjadi,” jawab Sabrina. ”Tapi aku paham dengan apa yang kau katakan.”

”Anggap saja ini adalah keberuntungan untukku,” lanjut kucing putih. ”Jadi kau tahu di mana rumahku?”

Sabrina dengan segera mengingat-ingat nama yang ada di kalung kucing putih itu. Sabrina merenung sekitar lima menit. Kemudian, Sabrina teringat tetangganya yang bernama hampir sama dengannya. Ia lantas mengajak kucing itu ke sana. Waktu sampai di depan rumah tetangganya, kucing putih itu langsung melompat girang.

”Ini rumahku,” tegas kucing putih itu.

Tidak lama setelah itu si pemilik kucing keluar dari rumah. Pemilik kucing putih itu merasa sangat senang ketika hewan peliharannya pulang.

***

Sulit bagi Sabrina memahami kemampuannya tersebut. Cuma Sabrina mengira pasti hal itu masih ada hubungannya dengan kejadian di waktu koma dahulu. Sabrina akhirnya memilih untuk menyembunyikan kelebihannya tersebut. Ia tidak berusaha menunjukkan kepada siapapun—termasuk pada keluarganya. Tapi sejak itu Sabrina menjadi penyambung komunikasi antara dunia kucing dan manusia.

Sabrina memanfaatkan secara baik keterampilan berbicaranya dengan kucing. Ia secara sukarela membantu tetangganya yang kehilangan kucingnya. Ia juga menolong kucing yang tersesat di jalan untuk segera kembali ke rumahnya.

Selain menolong kucing-kucing hidup yang tersesat, Sabrina pernah juga menolong seekor roh kucing tidak dapat kembali ke dunia kucing.

Waktu itu Sabrina baru duduk di teras rumahnya menikmati hujan. Tapi tidak lama kemudian datang seekor kucing oren yang menghampirinya dari tengah hujan. Kucing itu berjalan santai seakan tidak takut air. Sabrina sempat bingung melihat gelagat kucing tersebut.

”Kamu tidak takut hujan?” tanya Sabrina.

”Sekarang hujan tidak lagi aku takutkan,” jawab kucing itu.

Sabrina menatap kucing berwarna jeruk mandarin itu. Bulu-bulu kucing itu sama sekali tidak basah terkena hujan. Bulu-bulu kucing itu masih tetap mengembang kering.

”Kau lapar?” Sabrina bertanya lagi. ”Aku ada pindang goreng di lemari bila kamu mau?”

”Aku tidak lapar,” si kucing menatapnya. ”Tapi aku ingin meminta bantuanmu.”

”Kau tersesat tidak bisa pulang?” Sabrina serampangan menebak.

”Benar aku tersesat,” kucing itu menjelaskan. ”Tapi, aku tidak bisa pulang ke rumahku dahulu.”

”Kenapa kau tidak bisa pulang? Kau diusir?” Sabrina penasaran.

”Aku sudah mati,” kucing itu mengaku. ”Aku adalah roh kucing yang tidak bisa pulang ke dunia kucing karena suatu hal.”

Kucing itu secara lengkap menjelaskan kalau lima hari lalu dirinya ketabrak motor di jalan. Mayatnya disingkirkan di dekat sungai yang tidak lagi dialiri air oleh seorang penjaga toko kelontong. Selain itu, yang membuat rohnya masih tertahan, si pemilik belum tahu dengan keberadaannya saat ini.

”Aku ingin kau memberi tahu pemilikku,” ungkap kucing itu. ”Lalu, berikan kalung ini kepadanya agar aku bisa kembali ke dunia kucing dengan tenang.”

Sabrina menyetujui permintaan roh kucing itu. Ia juga menerima kalung itu untuk diberikan kepada si pemilik roh kucing. Sore harinya setelah hujan reda, Sabrina mendatangi rumah pemilik kucing tersebut.

”Seekor kucing datang ke dalam mimpiku pagi tadi,” jelas Sabrina sedikit mengarang dari cerita sebenarnya. ”Ia mengatakan baru saja tertabrak motor.”

”Mimpi? Kucing? Maksudmu si Bolu?” Si pemilik tampak bingung.

”Kucing itu menitipkan ini kepadaku,” lanjut Sabrina seraya memberikan kalung titip roh kucing tersebut. ”Kau bisa menguburkan kucingmu bila mau. Ia ada di pinggir jalan dekat dari sini. Kemarin ada seorang penjaga toko yang menyingkirkannya di sana.”

Pemilik kucing itu menangis tersedu mengetahui kucingnya mati. Sabrina tidak bisa berbuat banyak untuk menghibur pemilik kucing tersebut. Namun Sabrina sudah berhasil membebaskan roh si kucing untuk kembali ke dunianya.

***

Sabrina senang bisa membantu kucing-kucing yang membutuhkan pertolongannya. Ia juga bahagia bisa menolong para pemilik kucing yang kehilangan hewan peliharaannya. Karena perangai baiknya ini, kucing-kucing pun sangat menghormatinya. Sabrina juga dengan cepat dikenal luas oleh kucing-kucing di kota sebagai malaikat penolong.

Kebaikan Sabrina itu membuat banyak kucing menyayanginya. Kucing-kucing itu seakan ingin balas budi kepada Sabrina. Begitulah pernah ada seorang maling yang berusaha membobol rumah Sabrina. Sebelum maling itu berhasil mencuri barang-barang Sabrina, kucing-kucing itu sudah menyerang si maling hingga kabur dan tertangkap.

Sabrina senang bisa membantu kucing-kucing yang membutuhkan pertolongannya. Ia juga bahagia bisa menolong para pemilik kucing yang kehilangan hewan peliharaannya. Karena perangai baiknya ini, kucing-kucing pun sangat menghormatinya.

”Kucing-kucing itu kesurupan,” jelas maling itu kepada pihak keamanan.

”Mereka mengejarkan seperti ingin memakanku.”

Pertolongan para kucing itu membuat Sabrina aman. Tapi ada satu hal yang tidak bisa Sabrina lupakan dari pertolongan para kucing, yaitu ketika mengantarkan Sabrina ke dunia roh untuk bertemu dengan kakeknya. Waktu itu Sabrina mendadak mendapatkan kabar kakeknya meninggal. Kakeknya pun akan dimakamkan hari itu juga. Karena Sabrina berada di Yogya, sementara kakeknya di Jakarta, ia tidak bisa datang ke acara pemakaman kakeknya. Padahal Sabrina adalah cucu kesayangan kakeknya. Akhirnya, Sabrina hanya menangis sepanjang hari.

”Kau kenapa menangis?” tanya Bebi, kucing yang dahulu pernah ditolongnya.

”Kakekku baru saja meninggal dan hari ini dimakamkan,” Sabrina sesenggukan.

”Aku ingin melihat kakekku sebelum ia dimakamkan.”

”Oh, aku bisa mengantarkanmu bertemu dengan kakekmu,” jelas kucing itu.

”Bagaimana caranya?”

”Kita pergi ke dunia roh,” kucing itu menjelaskan. ”Seekor kucing bisa pergi kapan saja ke dunia roh dengan cara menumbalkan satu dari sembilan nyawanya.”

”Tapi apakah itu tidak membahayakanmu?” Sabrina ragu.

”Tenanglah,” Bebi menjilati kakinya. ”Aku masih memiliki sembilan nyawaku secara utuh. Sembilan nyawa ini juga jarang dipakai bila tidak terdesak.”

Ia menuntun Sabrina ke sungai yang tidak jauh dari rumahnya: Sungai Buntung. Sabrina sendiri semula sedikit ragu dengan ajakan Bebi. Apalagi Sungai Buntung termasuk tempat yang jarang dilalui manusia sehingga masih liar dengan ilalang dan pohon besar. Hanya saja ketika Sabrina sampai di tepinya, seluruh semak dan ketidakberaturan tak tampak. Air sungai itu bahkan mengkristal sehingga dapat Sabrina injak tanpa takut basah.

Mata Sabrina terus menjelajah area sungai yang kini berubah menjadi jalan setapak bercahaya. Semuanya tampak seperti dunia dongeng yang sulit Sabrina percayai. Sabrina melihat bunga-bunga dengan kilau cahaya yang terang. Pohon-pohon bambu yang seakan terbuat dari keramik. Daun-daun yang cernih layaknya kaca.

Kucing itu terus membawa Sabrina, hingga tiba pada sebuah pintu. Kucing itu tanpa berpikir panjang masuk ke sana. Sabrina mengikutinya dari belakang.

”Inilah dunia roh,” kata kucing itu. ”Kau bisa mencari kakekmu dengan memanggil namanya.”

Sabrina dengan segera memanggil nama kakeknya. Kakeknya pun datang seperti yang dikatakan oleh Bebi. Sabrina kemudian memeluknya erat.

”Maafkan aku tidak bisa pulang,” jelas Sabrina menitikkan air mata.

”Aku senang bisa berjumpa lagi,” tegas kakeknya. ”Kau tidak perlu sedih dengan kepergianku.”

Sabrina mengangguk. Kakeknya lantas memeluknya. Sabrina merasakan hangat tubuh kakeknya saat di dalam pelukannya. Semula Sabrina tidak paham, mengapa hal itu bisa terjadi? Tapi Sabrina tidak ambil pusing. Hari itu ia hanya ingin sejenak bertemu dengan kakeknya di dunia roh karena bantuan para kucing.

(***)

Risda Nur Widia : alumnus Pascasarjana UNY (2020). Buku cerpen tunggal terbarunya Berburu Buaya di Hindia Timur (2020). Cerpennya tersiar di berbagai media.

sumber : kompas.id, 28 Nov 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme