Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Dendam, Tongkat, dan Pesan Guru oleh A Warits Rovi

Posted on Sab, 05 Des 2020

Dari balik jendela kamar kos, aku memandangi kekar dahan rambutan bersanggul daun lebat. Jam dinding kusam yang kaca penutupnya sudah pecah menunjukkan pukul 08.23 pagi. Berdetak keras di samping sebatang tongkat yang kugantung pada setancap paku. Tongkat kayu itu bergambar helai-helai rambut panjang begelombang sisa goresan mata duri carang. Ujungnya diberi tali sobekan kafan sebagai alat gantung. Tongkat itu pemberian Kiai Halim kepadaku ketika aku hendak berangkat ke kota ini. Itulah sebabnya ketika melihat tongkat itu, aku jadi teringat Kiai Halim. Ketika ingat Kiai Halim, dadaku serasa sejuk dan tenang, seolah ia mata air di hulu sungai yang selalu mengirim air ke hilir jiwa.

Di pagi yang senyap itu, kemudian aku teringat kepada ayah di kampung yang lumpuh dan tuli, sudah empat tahun berkarib kesengsaraan di datar dipan tua yang reyot dan penuh sawang laba-laba. Keluargaku sudah tidak mampu lagi untuk mengobatinya karena harta yang kami miliki sudah habis untuk pengobatan-pengobatan sebelumnya. Oleh karena itulah aku harus tandang ke kota ini, bekerja sebagai jasa semir sepatu keliling atau kadang menyewa becak dan bekerja mengayuh becak meskipun dengan kondisi fisik yang tak kekar dan kurang berotot untuk ukuran pekerja kasar pada umumnya. Namun, kekuatan selalu ada, didorong oleh rasa cinta yang dahsyat untuk menghidupi keluarga, terlebih untuk bisa mengobati ayah.

Dulu, ayah seorang pengusaha kelapa yang sukses, tapi beberapa tahun kemudian ayah difitnah sebagai tukang sihir dan beternak tuyul oleh seseorang. Orang itu memprovokasi warga untuk berhati-hati dengan ayah, akhirnya warga tidak menjual kelapa lagi kepada ayah. Warga banyak yang antipati kepada keluarga kami. Hanya sebagian kecil kerabat, termasuk Kiai Halim, guruku, yang tetap bersikap baik kepada keluarga kami.

Fitnah itu terus berlangsung dengan sadis mirip api melalap daun pisang kering berlumur bensin. Bisnis ayah menjadi lumpuh. Sudah begitu, ayah dikeroyok massa saat mencoba untuk menjelaskan yang sebenarnya. Keroyokan itu membuat ayah lumpuh dan tuli. Oleh paman, ayah diobati ke beberapa tempat, mulai dari penanganan medis hingga penanganan dukun, tapi semua tak membuahkan hasil. Tanah dan perhiasan ibu banyak yang dijual untuk biaya pengobatan ayah.

Suatu hari, keluarga kami baru tahu ternyata Kimun—tetangga kami—yang memfitnah ayah dan mengompori warga. Sontak keluargaku marah, teruatama aku dan paman, hampir saja kami berdua membunuh orang itu, tapi dia sudah lebih dulu kabur ke luar pulau. Akhirnya, kami mengembalikan celurit bergantung kembali ke paku yang menancap di tembok. Hingga suatu pagi datanglah Kiai Halim menasihatiku dengan kalimat dan intonasi yang lembut. Ia menyarankanku supaya lebih baik bekerja jika ingin membahagiakan ayah, bukan dengan cara balas dendam.

Seminggu setelah itu, setelah melalui pertimbangan yang cukup, akhirnya aku pamit untuk bekerja ke kota ini. Aku harus meninggalkan keluarga yang wajahnya selalu mengirim jejak kerinduan ke dalam hati. Meninggalkan teman-teman di surau tempat aku mengaji kepada Kiai Halim.

Ya, bila ingat itu, dadaku renyuh. Tanpa kusadari, pagi ini air mataku berlinang kembali. Ruangan kamar kos menjadi saksi bahwa aku sedang dirajam kenangan yang menyakitkan. Aku terisak, mengiringi tiktok jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 09.05. Pagi ini, aku agak siang untuk pergi menawarkan jasa semir. Mataku masih terpaku ke luar jendela, memandangi kekar dahan-dahan rambutan.

Di sela keterpakuanku menatap dahan kekar, seketika mata beralih pada seorang lelaki yang melintas di halaman kos; tubuhnya kurus dipayungi lebat rambut panjang yang dibiarkan bergerai hingga ke punggung, bibirnya tertutup lebat kumis yang hitam, sebentuk gambar tato merajah bagian bawah lengan kanannya. Ia berlalu dari halaman, menyeberang jalan dan membeli makanan di warung Bi Ijah. Aku mendekat ke jendela. Mengintai lebih rinci orang itu yang tengah sedikit berdesak-desakan dengan pembeli lain. Sekitar dua menit kemudian, ia kembali menyeberang jalan dan melintas di halaman kosku dengan sebuah tas plastik berisi barang yang tadi ia beli. Sontak aku terperanjat, mataku diatur lebih fokus ke wajah orang itu.

”Huh!” aku mendengus.

Ketika melihat wajah lelaki gondrong itu, aku teringat masa laluku. Seketika darahku naik, sekujur tubuhku terasa hangat, tangan mengepal kuat, gigi rapat bergemeretak, amarahku memuncak. Kulihat wajahku memerah dalam perut cermin yang menempel di dinding. Aku dendam kepada lelaki itu, dialah yang dulu menyebar fitnah di dusun hingga usaha ayah bangkrut dan keluargaku jatuh miskin. Rembetannya, aku harus bekerja di kota ini. Hampir saja aku membuka pintu untuk keluar mengahajarnya, beruntung mataku sempat menatap tongkat di dinding, memandangi gambar helai-helai rambut panjang yang bergelombang, makna gambar itu lalu mengahadirkan sosok Kiai Halim, menghadirkan petuah-petuahnya tentang sopan santun.

Perlahan, emosi bisa kuredam. Lelaki itu ternyata masuk ke dalam kamar kos yang hanya terpisah dua kamar lain dari kamarku. Aku penasaran, apa lelaki itu benar-benar Kimun atau bukan.

#

Di sela-sela kesibukan keluar rumah untuk menemui orang-orang yang hendak menyemir sepatu, atau kadang juga untuk mengayuh becak, aku menyempatkan diri mengamati lelaki gondrong itu, ternyata ia hanya keluar saat pagi dan sore hari untuk membeli makanan. Dilihat dari raut wajah dan keadaan tubuhnya, dia seperti menderita sebuah penyakit. Mimiknya kerap meringis seperti menahan rasa sakit dan cemas. Bila diamati secara teliti, wajahnya nyaris menyerupai wajah Kimun, tapi lebih tirus dan tua. Kadang aku menduga-duga; mungkin dia adalah Kimun yang sudah tua atau mungkin saudaranya, tapi kadang aku berkesimpulan; tidak mungkin.

Pada suatu pagi yang gerimis, akhirnya aku berkenalan dengan lelaki gondrong itu di warung Bi Ijah. Dugaanku benar, ia bernama Kimun, lelaki yang pernah menfitnah usaha ayah ketika dirinya baru berkeluarga ke desa kami. Ia hijrah ke kota ini untuk menghindari amarah keluargaku. Namun, kini, ia jatuh miskin dan hidup sebatang kara.

Seperti dugaanku, ia juga menderita penyakit kronis. Tubuhnya semakin kurus, tulang rahang dan pipinya mulai menonjol di antara balutan kulit keriput. Napasnya sering tersengal-sengal bagai motor tua menempuh tanjakan, ia sering batuk dan mendahak darah, bisanya cuma duduk sedih bersandar bantal. Bibirnya kering dan seluruh tubuhnya gemetar. Andai dendamku masih ada, sangatlah gampang bagiku untuk membunuh atau paling tidak menyakitinya.

Tato dan rambut gondrongnya sudah tak sesuai dengan keadaan tubuhnya yang sakit-sakitan. Ia kini hanya pasrah pada apa pun yang terjadi. ”Setiap hari, ia baru bisa menikmati makanan jika ada orang yang megantar,” tutur Bi Ijah suatu waktu.

Karena penasaran kepada cerita Bi Ijah, akhirnya diam-diam aku mengintip dia dari balik jendela kamar kosnya pada suatu sore. Aku sangat bahagia melihat dia dalam keadaan seperti itu. Serasa rasa sakit ayah dan keluargaku beberapa tahun lalu yang disebabkan ulahnya baru terbayar sore itu.

”Selamat menikmati kesedihan wahai durjana!” gumamku riang.

Aku bergegas pergi seraya berharap nanti malam atau besok aku mendengar kabar kematiannya yang purna dalam kesengsaraan di kamar itu.

Setiba di kamar kos, tatapku terantuk pada sebatang tongkat yang bergantung senyap di dinding, masih dengan gambar rambut panjang berupa garis-garis bergelombang, tergores dari ujung hingga pangkal. Saat menatap tongkat itu, aku juga teringat makna filosofi dari gambar rambut panjang di tongkat itu sebagaimana yang dijelaskan oleh Kiai Halim. ”Ya Allah! Mestinya aku tidak bersikap begini kepada orang yang sudah tidak berdaya,” ucapku sembari mengelus dada dan menarik napas. Lantas aku balik menuju kosnya.

Setelah memberi salam, ia menyuruhku masuk, kakiku serasa menapak ruang penderitaan. Kamar itu sangat sunyi dan menguar bau apek dan pesing. Ia terbaring lemah di selembar baliho bekas yang tergelar di lantai, berselimut sarung sambil menahan gigil, padahal sebagian tubuhnya disorot senja yang menyemburat kuning wortel dari kaca jendela. Sementara di sisinya ada dua mangkuk berisi nasi basi beserta lauknya yang menumpuk, tepi mangkuk itu dikerubungi semut dan lalat. Ia meringkuk tak berdaya. Dua tangannya bersedekap di dalam selimut.

Dalam situasi seperti itu, jika kuturuti keinginan nafsuku, begitu mudahnya untuk melampiaskan dendam sepuas-puasnya kepada orang yang dulu memfitnah ayah itu. Satu tonjokan tangan kiriku saja, sudah pasti bakal membuatnya sekarat.

Aku berperang dengan suara nafsuku. Makna gambar rambut panjang pada sebatang tongkat di dinding kos senantiasa kuhadirkan dalam ingatan sehingga aku ingat Kiai Halim dan mengurungkan niat balas dendam itu.

#

Akhirnya, aku akrab dengan Kimun. Akulah yang kini merawatnya. Kami saling bercerita perihal riwayat hidup kami masing-masing. Keakraban itu membuat Kimun menguak kejujurannya kepadaku.

”Akulah lelaki yang dulu memfitnah ayahmu itu, Fir. Aku rela kini kau balas salahku itu, bagaimanapun caranya. Jujur, aku ingin menebus dosaku,” suaranya lirih. Air matanya berlinang. Aku hanya diam, melirik wajahnya pelan. Sosok Kiai Halim dan tongkat itu masih bisa mengerem dendamku. Aku menggeleng lalu pamit pulang.

Setiba di kamar kos, kuraih sebatang tongkat pemberian Kiai Halim itu. Sejenak aku menimangnya di depan pintu. Mengamatinya dari ujung hingga pangkal.

Gambar rambut panjang berupa goresan garis-garis bergelombang itu membuatku teringat makna gambar tersebut, sebagaimana yang disampaikan oleh Kiai Halim; rambut panjang sebenarnya filosofi Madura yang berarti lemas dan lembut. Tetua Madura banyak yang bilang, ”Selemas-lemasnya rambut kalau dicukur pendek akan tetap kasar, tapi sekasar-kasarnya rambut kalau dibiarkan panjang akan lemas dan lembut”. Itu artinya, seseorang yang pribadinya lembut, tapi pikirannya pendek pasti kerap berbuat kasar, sedangkan seseorang meskipun pribadinya kasar, tapi mau berpikir panjang niscaya ia akan lembut. Dan untuk mengingatkanku tentang filosofi itu, Kiai Halim akhirnya menggambar tongkat pemberiannya itu dengan goresan rambut panjang bergelombang.

Aku tersenyum. Mencium tongkat itu seraya terpejam. Dan seketika terjadi keriuahan di halaman. Bu Kos mondar-mandir memberi tahu penghuni kos yang lain bahwa Kimun sudah meninggal. Aku bingung, mau berduka apa mau bahagia.

Rumah Ibel, 15.04.20

***

A Warits Rovi : Lahir di Sumenep, Madura, 20 Juli 1988. Karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai, dan artikel dimuat di beberapa media nasional dan lokal, antara lain Kompas, Tempo, Jawa Pos, Horison, Media Indonesia, Republika, Majas, Suara Merdeka, Seputar Indonesia, Indo Pos, majalah Femina, Kedaulatan Rakyat, dan Pikiran Rakyat. Juara II Lomba Cipta Cerpen ICLaw Pen Award 2019. Buku Cerpennya yang telah terbit Dukun Carok & Tongkat Kayu (Basabasi, 2018). Ia mengabdi di MTs Al-Huda II Gapura.

sumber : kompas.id, 05 Des 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme