Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Penyesalan oleh Daisy Rahmi

Posted on Kam, 17 Des 2020

Rinai hujan melayang turun berupa garis-garis tipis. Mendung. Awan kelabu menggantung di langit. Pemakaman baru saja usai. Para pelayat beranjak pergi. Aku bergeming, mata tertuju ke gundukan tanah merah. Kelopak-kelopak bunga yang ditaburkan di pusaranya serupa sayap kupu-kupu. Sesaat berselang orangtuanya datang menghampiri. Si bapak meletakkan tangannya di bahuku.

”Belum mau pulang?”

”Saya ingin di sini sebentar lagi.”

Bapak itu mengangguk maklum. Sesaat tidak ada yang bicara. Kami bertiga membisu, memandang pusara orang yang kami cintai.

”Akan kusiapkan mobil,” gumamnya.

Lelaki tersebut berjalan menuju mobil yang terparkir di dekat gerbang pemakaman. Giliran istrinya mendekat, lalu mengenggam tanganku. Kedua mata wanita itu merah dan sembab. Di tangan kanannya terselip saputangan putih yang basah oleh air mata. Ia berucap lirih.

”Jangan terlalu bersedih.”

Genggaman tangannya begitu hangat. Aku balas memandang wanita tua di hadapanku. Wajahnya yang keriput terlihat lelah. Kesedihan yang aku rasakan tidak bisa dibandingkan dengan duka batinnya karena kehilangan putri semata wayang, satu-satunya keturunan yang ada. Seharusnya aku yang menghibur wanita itu, bukan sebaliknya.

”Saya kehilangannya,” kataku tercekat.

”Kita semua merasa begitu. Ini sudah takdir. Semoga dia tenang di sana.”

Wanita itu berjongkok, membelai batu nisan anaknya. Matanya yang terpejam tampak bergetar menahan emosi. Sejurus kemudian ia berdiri dan tersenyum sekilas padaku.

”Jangan terlalu lama di sini. Hujan mulai turun, kau bisa sakit.”

Aku mengangguk. Ibu itu berjalan pergi. Dibukanya payung, melindungi tubuh dari rintik hujan. Kulihat si suami menyambut kedatangan istrinya, memeluk perempuan tua tersebut sebentar, kemudian keduanya masuk ke mobil yang segera melaju. Sekarang aku benar-benar sendirian. Tak mengerti mengapa ingin tetap di sini, hanya merasa itu sesuatu yang harus kulakukan.

***

Sejak kecil ia sangat menyukai kupu-kupu. Dia betah memandangi kupu-kupu berjam-jam, beterbangan bebas di udara. Aku tidak memahaminya. Menurutku, apa yang dilakukannya sangat tak berguna dan buang-buang waktu. Beberapa kali aku mengkritik dan mencela sikapnya. Ia tidak pernah menanggapi.

Namanya Safira. Seorang gadis yang menyenangkan dengan sifat periang dan selalu optimistis. Senyumnya secerah matahari di pagi hari. Pertama kali aku bertemu dengannya saat Ayah pindah tugas ke kota lain. Rumah kami berhadapan, hanya dipisahkan oleh jalan yang tak seberapa lebar. Saat kedua orangtuaku sibuk membereskan rumah, aku bermain-main sendiri di pekarangan. Tiba-tiba ia keluar dari rumahnya dan menghampiriku.

”Kau orang baru itu, ya?” tanyanya penuh minat.

”Apa?”

”Kata ibuku rumah di depan ada penghuni baru. Jadi kau salah satunya, ya?”

”Yah, begitulah.”

Untuk beberapa saat lamanya ia memandangiku tanpa berbicara. Ketika kembali membuka mulut, kata-katanya mengejutkanku.

”Eh, kau mau lihat kupu-kupu?”

”Apa?”

”Kau mau lihat kupu-kupu?” ulangnya.

”Errr….”

”Aku tahu tempat yang banyak kupu-kupu,” potongnya. ”Ayo.”

Ditariknya tanganku, tak memberi kesempatan untuk menolak. Terpaksa aku mengikuti langkahnya. Dia mengajakku ke belakang sebuah rumah kosong. Memang banyak kupu-kupu di sana. Kulirik si anak perempuan. Ia menatap tak berkedip. Matanya bercahaya, terpesona.

”Bagus sekali, ya,” ucapnya terkagum-kagum.

”Mungkin,” sahutku datar.

Ia terlihat kecewa mendengar nada suaraku.

”Kau tidak suka?”

”Tak ada istimewanya.”

”Sayang sekali kau beranggapan seperti itu,” sesalnya.

”Aku harus pulang. Ibuku marah kalau aku pergi tanpa pamit,” kataku sebelum pergi.

Hari-hari berikutnya, gadis kecil tersebut selalu saja datang dan mengajakku melihat kupu-kupu. Ia pantang menyerah meskipun berulang kali ditolak. Terus begitu sampai akhirnya kami berteman. Sifat-sifat diriku dan Safira sangat jauh berbeda, tapi entah kenapa kami bisa jadi sahabat bertahun-tahun. Aku bekerja di luar kota begitu lulus kuliah dan tak pernah lagi bertemu dengannya. Baru dua tahun belakangan ini aku kembali.

Hari ini ada yang menggangguku. Kepala berdenyut teringat percakapan tadi pagi. Untuk kesekian kalinya Ibu mendesakku menikah. Beliau telah mengenalkan beberapa anak gadis temannya dengan harapan ada yang menarik hatiku, sejauh ini semua gagal. Akhir ceritanya selalu sama: aku suka, dia tidak atau sebaliknya. Kenyataan Ibu yang tidak berhenti berusaha membuat pusingku kian bertambah. Mendadak sosok Safira berkelebat. Otomatis kutekan nomor teleponnya.

”Nanti kau kujemput sepulang kerja,” ujarku tanpa basa-basi begitu ia menyahut.

”Boleh saja,” jawabnya santai. ”Ada apa?”

”Tidak ada apa-apa. Hanya ingin bertemu denganmu.”

Sore harinya, kujemput Safira di tempat kerjanya. Kami menghabiskan sore dengan menyaksikan sunset di pantai, dilanjutkan makan malam dengan menu terbaik sesuai tujuanku untuk membuat hari ini istimewa. Hampir tengah malam saat kami tiba di rumahnya. Safira turun dari mobil, membuka pagar. Aku mengantarnya sampai ke depan pintu. Safira tersenyum.

”Aku sangat menikmati hari ini. Terima kasih. Selamat malam.”

”Tunggu, Fira,” cegahku.

Tangan yang sudah siap membuka pintu terhenti. Gadis itu berpaling.

”Ada apa?”

Tatapannya membuatku salah tingkah. Tiba-tiba jadi hal yang sulit untuk mengutarakan maksudku. Aku berdehem.

”Begini. Bagaimana kalau kau jadi istriku? Aku bosan mencari-cari yang lain. Kita sudah saling kenal bertahun-tahun, tahu kebaikan dan kejelekan masing-masing. Jadi, aku yakin bukan hal buruk bila kita menikah.”

Gadis di depanku menggeleng.

”Terima kasih lamarannya. Maaf, aku menolak.”

Sesaat napasku serasa berhenti.

”Alasannya?”

”Karena kau dan aku tak ditakdirkan jadi pasangan kekasih,” jawabnya ringan.

”Itu alasan yang dibuat-buat.”

Bibirnya mengulas senyum yang tak kutahu maknanya.

”Begitukah?”

Safira masuk ke rumah, meninggalkanku berdiri termangu.

Hubungan kami terputus sejak peristiwa itu, lebih tepatnya aku menghindar. Terus terang aku kecewa. Tak ada yang salah dengan diriku. Aku mandiri, penghasilanku lebih dari cukup. Penampilanku pun tak mengecewakan. Tidak ada alasan bagi Safira untuk menolak. Aku yang sangat yakin diterima terempas oleh kenyataan yang bertolak belakang. Penolakannya melukai harga diriku. Telepon setahun kemudian mengubah segalanya.

Bergegas aku mandi dan berpakaian. Makan malam yang tadi kubeli sepulang dari kantor tergeletak tak tersentuh di atas meja. Dari nada suara ibunya, aku tahu keadaannya kritis. Dua puluh menit kemudian diriku sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Untungnya, aku belum menikah sehingga tidak ada istri yang cemburu melihat suaminya buru-buru pergi untuk menemui wanita lain.

Sampai di rumah sakit, aku segera ke kamar Safira. Kedua orangtuanya ada di sana. Ibunya menangis tersedu-sedu, sementara ayahnya terlihat murung dan sedih. Gadis itu terbaring di ranjang dengan beberapa alat bantu terpasang. Pakaian rumah sakit terlalu longgar di tubuhnya yang tampak begitu kurus dari terakhir kali kulihat. Matanya terpejam rapat. Yang bisa aku lakukan hanya duduk di sampingnya dan mendoakan yang terbaik.

Ia koma keesokan harinya. Setelah bertahan seminggu, Safira mengembuskan napas terakhir tanpa pernah sadar. Aku sangat berduka dan kehilangan, tapi di balik itu tebersit rasa lega karena sahabatku tak perlu menderita lagi.

***

Lamunanku terusik saat seekor kupu-kupu terbang melintas di dekatku, kemudian hinggap di atas nisannya. Sesaat berselang, kupu-kupu tersebut mengepakkan sayap, lalu terbang ke balik pohon. Rinai hujan telah berhenti.

Matahari kembali memunculkan sinarnya. Sesal menggelayut hati mengingat diriku tak ada di hari-hari terakhir hidupnya. Mengapa kuputuskan persahabatan kami hanya karena dia menolak lamaranku? Mengapa kubiarkan ego menguasai akal sehat?

”Maafkan,” bisikku pada angin.

Aku tatap kuburnya untuk terakhir kali. Daun di pohon bergoyang tertiup angin, mengiringi ayunan langkahku meninggalkan areal pemakaman.

***

Daisy Rahmi, kelahiran Manado. Kini tinggal di Jakarta. Cerpennya pernah dimuat di berbagai media massa, seperti  Kartini, Inilah Koran, Suara Karya, Nova, Jawa Pos, dan Solo Pos.

sumber : kompas.id, 17 Des 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme