Rinai hujan melayang turun berupa garis-garis tipis. Mendung. Awan kelabu menggantung di langit. Pemakaman baru saja usai. Para pelayat beranjak pergi. Aku bergeming, mata tertuju ke gundukan tanah merah. Kelopak-kelopak bunga yang ditaburkan di pusaranya serupa sayap kupu-kupu. Sesaat berselang orangtuanya datang menghampiri. Si bapak meletakkan tangannya di bahuku.
”Belum mau pulang?”
”Saya ingin di sini sebentar lagi.”
Bapak itu mengangguk maklum. Sesaat tidak ada yang bicara. Kami bertiga membisu, memandang pusara orang yang kami cintai.
”Akan kusiapkan mobil,” gumamnya.
Lelaki tersebut berjalan menuju mobil yang terparkir di dekat gerbang pemakaman. Giliran istrinya mendekat, lalu mengenggam tanganku. Kedua mata wanita itu merah dan sembab. Di tangan kanannya terselip saputangan putih yang basah oleh air mata. Ia berucap lirih.
”Jangan terlalu bersedih.”
Genggaman tangannya begitu hangat. Aku balas memandang wanita tua di hadapanku. Wajahnya yang keriput terlihat lelah. Kesedihan yang aku rasakan tidak bisa dibandingkan dengan duka batinnya karena kehilangan putri semata wayang, satu-satunya keturunan yang ada. Seharusnya aku yang menghibur wanita itu, bukan sebaliknya.
”Saya kehilangannya,” kataku tercekat.
”Kita semua merasa begitu. Ini sudah takdir. Semoga dia tenang di sana.”
Wanita itu berjongkok, membelai batu nisan anaknya. Matanya yang terpejam tampak bergetar menahan emosi. Sejurus kemudian ia berdiri dan tersenyum sekilas padaku.
”Jangan terlalu lama di sini. Hujan mulai turun, kau bisa sakit.”
Aku mengangguk. Ibu itu berjalan pergi. Dibukanya payung, melindungi tubuh dari rintik hujan. Kulihat si suami menyambut kedatangan istrinya, memeluk perempuan tua tersebut sebentar, kemudian keduanya masuk ke mobil yang segera melaju. Sekarang aku benar-benar sendirian. Tak mengerti mengapa ingin tetap di sini, hanya merasa itu sesuatu yang harus kulakukan.
***
Sejak kecil ia sangat menyukai kupu-kupu. Dia betah memandangi kupu-kupu berjam-jam, beterbangan bebas di udara. Aku tidak memahaminya. Menurutku, apa yang dilakukannya sangat tak berguna dan buang-buang waktu. Beberapa kali aku mengkritik dan mencela sikapnya. Ia tidak pernah menanggapi.
Namanya Safira. Seorang gadis yang menyenangkan dengan sifat periang dan selalu optimistis. Senyumnya secerah matahari di pagi hari. Pertama kali aku bertemu dengannya saat Ayah pindah tugas ke kota lain. Rumah kami berhadapan, hanya dipisahkan oleh jalan yang tak seberapa lebar. Saat kedua orangtuaku sibuk membereskan rumah, aku bermain-main sendiri di pekarangan. Tiba-tiba ia keluar dari rumahnya dan menghampiriku.
”Kau orang baru itu, ya?” tanyanya penuh minat.
”Apa?”
”Kata ibuku rumah di depan ada penghuni baru. Jadi kau salah satunya, ya?”
”Yah, begitulah.”
Untuk beberapa saat lamanya ia memandangiku tanpa berbicara. Ketika kembali membuka mulut, kata-katanya mengejutkanku.
”Eh, kau mau lihat kupu-kupu?”
”Apa?”
”Kau mau lihat kupu-kupu?” ulangnya.
”Errr….”
”Aku tahu tempat yang banyak kupu-kupu,” potongnya. ”Ayo.”
Ditariknya tanganku, tak memberi kesempatan untuk menolak. Terpaksa aku mengikuti langkahnya. Dia mengajakku ke belakang sebuah rumah kosong. Memang banyak kupu-kupu di sana. Kulirik si anak perempuan. Ia menatap tak berkedip. Matanya bercahaya, terpesona.
”Bagus sekali, ya,” ucapnya terkagum-kagum.
”Mungkin,” sahutku datar.
Ia terlihat kecewa mendengar nada suaraku.
”Kau tidak suka?”
”Tak ada istimewanya.”
”Sayang sekali kau beranggapan seperti itu,” sesalnya.
”Aku harus pulang. Ibuku marah kalau aku pergi tanpa pamit,” kataku sebelum pergi.
Hari-hari berikutnya, gadis kecil tersebut selalu saja datang dan mengajakku melihat kupu-kupu. Ia pantang menyerah meskipun berulang kali ditolak. Terus begitu sampai akhirnya kami berteman. Sifat-sifat diriku dan Safira sangat jauh berbeda, tapi entah kenapa kami bisa jadi sahabat bertahun-tahun. Aku bekerja di luar kota begitu lulus kuliah dan tak pernah lagi bertemu dengannya. Baru dua tahun belakangan ini aku kembali.
Hari ini ada yang menggangguku. Kepala berdenyut teringat percakapan tadi pagi. Untuk kesekian kalinya Ibu mendesakku menikah. Beliau telah mengenalkan beberapa anak gadis temannya dengan harapan ada yang menarik hatiku, sejauh ini semua gagal. Akhir ceritanya selalu sama: aku suka, dia tidak atau sebaliknya. Kenyataan Ibu yang tidak berhenti berusaha membuat pusingku kian bertambah. Mendadak sosok Safira berkelebat. Otomatis kutekan nomor teleponnya.
”Nanti kau kujemput sepulang kerja,” ujarku tanpa basa-basi begitu ia menyahut.
”Boleh saja,” jawabnya santai. ”Ada apa?”
”Tidak ada apa-apa. Hanya ingin bertemu denganmu.”
Sore harinya, kujemput Safira di tempat kerjanya. Kami menghabiskan sore dengan menyaksikan sunset di pantai, dilanjutkan makan malam dengan menu terbaik sesuai tujuanku untuk membuat hari ini istimewa. Hampir tengah malam saat kami tiba di rumahnya. Safira turun dari mobil, membuka pagar. Aku mengantarnya sampai ke depan pintu. Safira tersenyum.
”Aku sangat menikmati hari ini. Terima kasih. Selamat malam.”
”Tunggu, Fira,” cegahku.
Tangan yang sudah siap membuka pintu terhenti. Gadis itu berpaling.
”Ada apa?”
Tatapannya membuatku salah tingkah. Tiba-tiba jadi hal yang sulit untuk mengutarakan maksudku. Aku berdehem.
”Begini. Bagaimana kalau kau jadi istriku? Aku bosan mencari-cari yang lain. Kita sudah saling kenal bertahun-tahun, tahu kebaikan dan kejelekan masing-masing. Jadi, aku yakin bukan hal buruk bila kita menikah.”
Gadis di depanku menggeleng.
”Terima kasih lamarannya. Maaf, aku menolak.”
Sesaat napasku serasa berhenti.
”Alasannya?”
”Karena kau dan aku tak ditakdirkan jadi pasangan kekasih,” jawabnya ringan.
”Itu alasan yang dibuat-buat.”
Bibirnya mengulas senyum yang tak kutahu maknanya.
”Begitukah?”
Safira masuk ke rumah, meninggalkanku berdiri termangu.
Hubungan kami terputus sejak peristiwa itu, lebih tepatnya aku menghindar. Terus terang aku kecewa. Tak ada yang salah dengan diriku. Aku mandiri, penghasilanku lebih dari cukup. Penampilanku pun tak mengecewakan. Tidak ada alasan bagi Safira untuk menolak. Aku yang sangat yakin diterima terempas oleh kenyataan yang bertolak belakang. Penolakannya melukai harga diriku. Telepon setahun kemudian mengubah segalanya.
Bergegas aku mandi dan berpakaian. Makan malam yang tadi kubeli sepulang dari kantor tergeletak tak tersentuh di atas meja. Dari nada suara ibunya, aku tahu keadaannya kritis. Dua puluh menit kemudian diriku sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Untungnya, aku belum menikah sehingga tidak ada istri yang cemburu melihat suaminya buru-buru pergi untuk menemui wanita lain.
Sampai di rumah sakit, aku segera ke kamar Safira. Kedua orangtuanya ada di sana. Ibunya menangis tersedu-sedu, sementara ayahnya terlihat murung dan sedih. Gadis itu terbaring di ranjang dengan beberapa alat bantu terpasang. Pakaian rumah sakit terlalu longgar di tubuhnya yang tampak begitu kurus dari terakhir kali kulihat. Matanya terpejam rapat. Yang bisa aku lakukan hanya duduk di sampingnya dan mendoakan yang terbaik.
Ia koma keesokan harinya. Setelah bertahan seminggu, Safira mengembuskan napas terakhir tanpa pernah sadar. Aku sangat berduka dan kehilangan, tapi di balik itu tebersit rasa lega karena sahabatku tak perlu menderita lagi.
***
Lamunanku terusik saat seekor kupu-kupu terbang melintas di dekatku, kemudian hinggap di atas nisannya. Sesaat berselang, kupu-kupu tersebut mengepakkan sayap, lalu terbang ke balik pohon. Rinai hujan telah berhenti.
Matahari kembali memunculkan sinarnya. Sesal menggelayut hati mengingat diriku tak ada di hari-hari terakhir hidupnya. Mengapa kuputuskan persahabatan kami hanya karena dia menolak lamaranku? Mengapa kubiarkan ego menguasai akal sehat?
”Maafkan,” bisikku pada angin.
Aku tatap kuburnya untuk terakhir kali. Daun di pohon bergoyang tertiup angin, mengiringi ayunan langkahku meninggalkan areal pemakaman.
***
Daisy Rahmi, kelahiran Manado. Kini tinggal di Jakarta. Cerpennya pernah dimuat di berbagai media massa, seperti Kartini, Inilah Koran, Suara Karya, Nova, Jawa Pos, dan Solo Pos.
sumber : kompas.id, 17 Des 2020.