Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Warung Lontong Marliah oleh Abul Muamar

Posted on Sab, 02 Jan 2021

Tidak ada warung sarapan yang lebih ramai di Perbaungan pada pagi hari melebihi ramainya warung lontong Marliah. Orang-orang memadati warung yang cuma berukuran empat kali empat meter itu saban pagi. Ada yang makan di tempat, lebih banyak yang membeli bungkus. Tidak sedikit pembeli berdiri mengantre di dekat steling, mengelilingi si penjual.

”Kak Mar, aku lontong empat bungkus, ya. Pedas bikin. Pakai telor bulat…”

”Bu Mar, aku nasi biasa dua bungkus. Pakai jeroan…”

”Aku nasi uduk sebungkus pakai telur dadar, ya. Kasihkan sambalnya yang banyak…”

”Aku duluan, Mar. Mi gomak, pakai sate kerang…”

Sering Marliah kelimpungan melayani pembeli yang tak sabaran, sampai-sampai ia gagal menandai mana yang datang duluan mana yang belakangan. Untungnya ia dibantu Amah, keponakan dari abangnya. Dia membungkusi, Amah membantu mengunci bungkusan dengan tusuk lidi.

Selain lontong sayur dan mi gomak—menu sarapan yang sudah menjadi tradisi orang-orang di Sumatera Utara—Marliah juga menjual nasi biasa dan nasi gurih. Di warung itu juga tersedia pulut, lupis, dan cenil, yang disajikan dengan kelapa parut dan gula merah cair. Ada pula pisang goreng dan bakwan, yang digoreng secara dadakan oleh Ribut, kakak kandung Marliah yang bersuamikan seorang pengangguran yang pernah minggat bersama perempuan lain selama dua tahun sebelum kembali dalam keadaan terpuruk.

Warung itu berada di halaman rumah, berjarak kira-kira 6 meter dari pintu depan. Marliah tinggal berteriak bila ada persediaan yang habis. Ribut akan berlari-lari keluar membawa apa-apa yang diminta.

Satu lagi yang membantu Marliah adalah Ijal, adik kandung Amah. Jika Amah membantu Marliah melayani pembeli di warung dan Ribut menggoreng pisang dan bakwan, Ijal wira-wiri antara warung dan dapur, mengangkuti piring kotor dan mencucinya.

**

Warung lontong itu sudah buka sejak 40 tahun lalu. Namanya tetap warung lontong Nek Ronikem meski orang-orang kini lebih sering menyebutnya ”warung lontong Marliah”. Marliah merasa berhak atas warung itu karena dialah yang mengurusi ibunya. Dialah satu-satunya anak Nek Ronikem yang belum menikah dan tinggal di rumah itu. Tiga kakak, dua abang, dan seorang adiknya, masing-masing sudah berkeluarga dan tidak tinggal di rumah itu lagi sejak lama. Ketika Nek Ronikem tak sanggup lagi berjualan karena persendian kakinya sakit, Marliah otomatis menggantikan perannya. Karena itu, sewaktu Ribut tiba-tiba datang ke rumah itu lagi setelah 20 tahun berumah tangga, mengadu bahwa suaminya tak punya pekerjaan, sementara dua anaknya masih kuliah, Marliah menerimanya dengan berat hati, dan memperlakukan kakak keduanya yang usianya lebih tua sepuluh tahun darinya itu tak ubahnya pembantu lain yang diberi upah harian.

Nek Ronikem masih hidup, namun ia tidak bisa apa-apa lagi. Kalau jalan harus dituntun. Pakai baju harus dipakaikan. Mengurusinya sering membuat Marliah naik pitam. Meski tubuhnya sudah renta, mulut ibunya itu masih lincah. Nek Ronikem tak henti-henti mengingatkan supaya jangan pakai kertas untuk membungkus. Katanya, selain keramahtamahan, daun pisang itulah yang membuat warung mereka digemari orang. Pernah Marliah curi-curi kesempatan memakai kertas, mengingat harga kertas jauh lebih murah dibanding daun pisang. Namun, pelanggannya pada protes.

”Kak Mar, warung Kakak ini bermartabat karena bungkusnya pakai daun pisang. Luar dalam pula. Di tempat-tempat lain enggak ada yang kayak di sini. Paling-paling cuma lapisan dalamnya. Itu pun daun pisangnya cuma seiprit. Jadi, pertahankanlah pakai daun pisang, Kak Mar,” ujar salah seorang pelanggannya.

Sejak saat itu ia pun tak pernah lagi coba-coba pakai kertas.

**

Dua belas tahun sudah warung lontong Nek Ronikem diambil alih oleh Marliah. Selama dijalankan Marliah, warung itu makin maju. Omzet bertambah. Dulu di era Nek Ronikem, pukul 10 warung sudah tutup. Sekarang, sampai azan Dzuhur pun, masih saja ada orang yang mau membeli. Batin Nek Ronikem, mungkin itu balasan Tuhan yang tidak memberi putrinya itu jodoh. Ya, hingga menginjak usia kepala lima, Marliah belum juga menikah.

Dibandingkan gerai makan berjejaring atau kedai kopi gaya-gayaan di ibu kota provinsi, omzet warung lontong Marliah masih jauh lebih besar. Tak usahlah disebutkan nominalnya, namun sebagai gambaran, penghasilannya per hari setara dengan gaji buruh pabrik di kawasan industri. Itu baru per hari. Bayangkan dalam sebulan ia beroleh berapa.

Nek Ronikem masih hidup, namun ia tidak bisa apa-apa lagi. Kalau jalan harus dituntun. Pakai baju harus dipakaikan. Mengurusinya sering membuat Marliah naik pitam. Meski tubuhnya sudah renta, mulut ibunya itu masih lincah. Nek Ronikem tak henti-henti mengingatkan supaya jangan pakai kertas untuk membungkus.

Tak heran, warung-warung lontong lain mulai bermunculan. Tak cuma di Kampung Staman, tapi juga di desa-desa lain se-Kecamatan Perbaungan maupun di kecamatan lain di Serdangbedagai. Mereka mencoba peruntungan serupa Marliah. Namun, tak ada yang mampu menyaingi warung lontong Marliah, sekalipun mereka mematok harga lebih murah. Bagaimanapun, rasa tak dapat membohongi lidah. Dan, kemasan daun pisang yang dijaga betul dalam tradisi Nek Ronikem, luput dari amatan mereka.

Majunya warung lontong itu pun sudah diteropong oleh kakak dan abang-abang Marliah. Meski sudah berkeluarga dan tak pernah terlibat sama sekali dalam pengelolaan warung, serta tak pernah mau mengurus Nek Ronikem yang sudah tua kecuali bertandang barang sehari-dua hari saat Hari Raya, diam-diam mereka mengincar bagian warisan jika sewaktu-waktu ibu mereka mati, termasuk warung lontong itu. Hal itu sudah diwanti-wanti oleh Marliah. Maka, ia meminta ibunya untuk menandatangani surat wasiat yang menyatakan bahwa warung beserta rumah itu diwariskan untuknya. Tetapi, berkali-kali Marliah meminta, Nek Ronikem tak juga menurutinya.

**

Meski punya tiga pembantu, semua urusan mengolah masakan tetap ditangani sendiri oleh Marliah. Bukannya Amah dan Ijal atau Ribut tak mau membantu. Marliah sendiri melarang mereka. Selepas tutup jualan, Marliah membagi tugas mereka sebatas untuk menyiapkan bahan-bahan untuk jualan esok. Amah mengupas gori dan mencacahnya. Ijal mengupas kelapa dan memarutnya.

Sedangkan Ribut memotong-motong kacang panjang untuk tambahan sayur gori dan merajangi cabai ijo untuk sayur tauco. Kemudian, Amah juga mengupas kentang untuk dibikin perkedel, Ribut membeteti jeroan ayam untuk sate rendang jeroan, Ijal menyiangi kerang rebus untuk sate kerang.

Marliah baru akan mulai mengolah masakan selepas Isya. Mula-mula rendang sate jeroan yang tidak mudah basi. Menyusul setelahnya sate kerang. Kemudian menumbuk kentang yang sudah digoreng, menambahinya dengan udang kering yang sudah dihaluskan, daun seledri, serta bawang goreng, membuatnya menjadi perkedel. Perkedel yang sudah dibentuk, akan digoreng esok pagi sebelum subuh, dengan terlebih dahulu dicemplungkan ke dalam telur kocok.

Pukul 12 malam, Marliah akan tidur sejenak. Ia bangun pukul 3. Lalu ia akan memasak sayur cabai tauco, sayur gori, mi gomak berbumbu dengan rajangan kol dan sawi, sambal teri-kacang, sambal tempe rajang, telur dadar iris untuk nasi uduk, dan memotong-motong mentimun. Lepas itu, dia akan menusuki sate kerang dan sate jeroan yang sudah dimasaknya sebelum tidur.

Amah, Ijal, dan Ribut baru akan datang selepas subuh. Begitu mereka datang, warung lontong Marliah pun mulai buka.

**

Suatu hari, Amah berhenti bekerja. Ijal menyusul dua hari kemudian. Mereka beralasan ingin membuka warung lontong sendiri. Namun itu cuma alasan yang dibuat-buat. Kenyataannya, mereka tak pernah membuka warung. Mereka justru diam-diam bekerja di warung lontong orang lain. Alasan sebenarnya, mereka sudah lama memendam sakit hati pada Marliah. Bertahun-tahun mereka mencoba bertahan, namun pada akhirnya mereka tak kuat lagi.

Apa pasal? Mulut Marliah terlalu lancip. Orang-orang yang kemudian bekerja padanya menggantikan Amah dan Ijal, tahu belaka soal perangai Marliah. Kata-katanya kalau bicara, tajam menusuk hati. Terlambat sedikit, mereka dikatai anjing tak tahu diuntung. Minta libur sehari saja, mereka dikatai lembu pemalas.

Bukan tak wajar jika mereka terlambat datang ataupun minta libur. Sebab, Marliah tak kenal kata libur. Warungnya buka terus seperti hendak naik haji berkali-kali. Padahal sekalipun ia tak pernah ke Mekkah. Tak pula pernah rekreasi sekadar buat melepas penat atau istirahat buat merenung. Kalau ditanya untuk apa uang yang diperolehnya selama bertahun-tahun jualan, dengan berapi-api dia akan menjawab, untuk berobat kalau aku sakit. Begitulah. Dia mengumpulkan uang hanya untuk menatap sakit di masa depan. Betapa menyedihkan.

Sejak Amah dan Ijal pergi, tak terbilang lagi berapa orang pembantu yang sudah datang dan pergi karena tajamnya lidah Marliah. Ada yang bertahan sebulan, ada yang bertahan seminggu, bahkan ada yang cuma bekerja tiga hari. Paling lama cuma sanggup bertahan setahun. Mereka semua tadinya adalah pembeli di warung Marliah. Mereka tergiur ingin bekerja pada Marliah karena selain gajinya lumayan, mereka juga bisa makan lontong gratis tiap hari. Namun, insaflah mereka begitu menjadi karyawan Marliah. Keramahtamahan yang mereka dapatkan saat menjadi pembeli, berubah 180 derajat saat mereka menjadi pekerja di warung lontong itu. Sebagus apa pun kinerja mereka, sepatuh apa pun mereka pada perintah-perintahnya, tetap saja ada kurangnya di mata Marliah.

Ribut sendiri bukannya tak pernah kena maki. Dialah justru yang paling sering dikata-katai hewan oleh adiknya itu. Selain karena kerjanya lamban, juga lantaran ia suka mengutil sembako—catat, mengutil di sini dilihat dari sudut pandang Marliah. Saban hari, diam-diam Ribut memasukkan telur, cabai, bawang merah, bawang putih, bahkan sabun cuci piring, ke dalam tas sandang yang selalu ia bawa dari rumahnya. Semua itu dilakukannya supaya gaji harian yang ia terima dari Marliah cukup buat menafkahi suami dan dua anaknya.

Ribut sendiri tak menganggap perbuatannya itu sebagai mengutil, apalagi mencuri, namun entah mengapa ia melakukannya secara sembunyi-sembunyi.

Aksinya itu berhasil luput dari tangkapan mata Marliah selama bertahun-tahun. Namun suatu hari, setelah Amah dan Ijal tak lagi di rumah itu, ia terciduk saat sedang memasukkan empat siung bawang putih ke dalam tasnya. Marliah merampas tasnya dan memeriksa isinya. Segera setelah isi tas itu dipergoki, beragam nama hewan pun meluncur dari mulut Marliah untuk memakinya.

**

Suatu hari, untuk kesekian kalinya, Ribut dimaki dan dibentak-bentak Marliah karena ketahuan mengutil minyak goreng. Yang bikin geger, peristiwa itu berlangsung di warung saat orang-orang ramai membeli sarapan.

”Kau, kan, sudah kugaji setiap hari. Kenapa nyolong saja kerja kau? Demi lakik kau yang pengangguran itu kau jadi pencuri?”

Seperti yang sudah-sudah, nama-nama hewan menyertai makian-makian Marliah pagi itu. Tak tahan terus-menerus dimaki, Ribut pun memberanikan diri melawan, mengeluarkan sakit hati yang dalam tahun-tahun terakhir dipendamnya.

”Kau yang anjing! Rakus kau! Mau kau kuasai warung ini? Aku juga anak mamak. Aku juga punya hak di sini!”

”Hak apa?! Hak kau ada di suami kau! Ambil sana sama suami kau!”

Mendengar pertengkaran hebat anaknya di warung, Nek Ronikem, dengan langkah tertatih-tatih, keluar dari rumah menuju warung.

”Kelewatan kau jadi orang, Marliah! Ribut itu kakakmu! Warung ini enggak ada kalau enggak ada aku! Jangan sok kali kau jadi orang!”

Terpukul karena ibunya lebih membela kakaknya, Marliah meradang kesurupan. Teringat ia bagaimana dulu ibunya, bertahun-tahun lampau, tidak merestui hubungannya dengan kekasihnya, hingga ia tak lagi berminat menjalin hubungan asmara, menjadikannya gadis perawan tua. Diantuk-antukkannya kepalanya sendiri ke kaca steling. Para pembeli terperangah.

(*)

Abul Muamar, lahir di Perbaungan, 6 November 1988. Alumnus pascasarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada. Menulis kumpulan cerpen bertajuk Pacar Baru Angelina Jolie’ (Gorga, 2019)

sumber : kompas.id, 02 Jan 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme