Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Jalan Melingkar oleh Dwi Cipta

Posted on Ming, 03 Jan 2021

Sejak pukul dua belas siang ia hanya memandangi hujan dari balik kaca perpustakaan. Tak ada lagi gairah untuk membaca. Sejak tiga jam lalu ia hanya berjalan-jalan di antara rak buku sambil membaca judul-judul buku yang berjajar rapi di rak.

Tak seperti biasanya, kali ini ruang baca sungguh sepi. Hanya ada tiga orang pengunjung perpustakaan yang tenang membaca laksana patung. Sementara tiga pustakawannya enggan beranjak dari tempat duduknya.

Ia merasa enam orang ini tak ada bedanya dengan burung kedinginan di sarangnya. Burung! Hewan terbang itu membuat ia teringat masa kecilnya. Saat hujan, burung yang enggan terbang tak bisa lepas dari bidikan ketapel Rudi, teman masa kecilnya. Ia sendiri lebih senang menyaksikan hewan itu terbang bebas. Daripada menyakiti burung, saat berburu ia lebih memilih membawakan hasil buruan Rudi.

Bila tak berburu burung, di musim hujan seperti sekarang, ia pasti sudah menghambur ke dalam hujan. Tak dipedulikannya larangan ibunya atau gelegar guntur. Suara kecipak air hujan lebih menarik daripada suara ibunya atau gelegar guntur. Suatu kali kilat terang berkeredapan di depan mata diikuti suara guntur dahsyat. Teman-temannya menghambur pulang. Namun ia tetap hujan-hujanan sembari berburu yuyu darat.

Kini, ia mendapati dirinya takut kehujanan. Alih-alih menghambur ke dalam hujan, sedari tadi pikirannya justru melenting ke mana-mana. Kampung halamannya, pacar masa remaja, hidup yang berantakan, dan ketidakberaniannya untuk pulang kampung karena merasa gagal dalam hidup.

Sekejap ia marah menyadari masa dewasanya tak seindah masa kanak-kanak. Perasaan marah itu membuncah di dadanya, mendorong tubuhnya keluar ruangan. Biarlah sekarang air hujan memandikan dirinya. Siapa tahu ia menemukan jawaban dari teka-teki hidupnya tiga tahun terakhir ini.

***

Buku-buku yang ia baca di masa remaja membelokkan cita-cita masa kecilnya sebagai seorang insinyur. Persoalannya sepele. Buku-buku itu mampu melemparkannya dari sebuah kampung kecil di pesisir utara Jawa Tengah ke perkampungan suku Indian, desa-desa sunyi di pedalaman Perancis, sungai Huang Ho di Tiongkok, atau kincir-kincir raksasa di Belanda.

Ia berpikir menjadi pengkhayal lebih menarik daripada menjadi insinyur.  Kegilaannya menghabiskan waktu dengan kisah cinta tragis Pemuda Werther, kelincahannya menulis puisi cinta murahan setelah berkenalan dengan gadis-gadis di sekolah, dan kenakalan meracuni guru sejarah dengan cerita silat Khoo Ping Hoo makin memperteguh pilihan hidupnya.

Impian itu membuat ia meninggalkan kampung halaman. Kebetulan Rudi, teman masa kecilnya, juga kuliah di kota yang sama seperti dirinya. Yang mengherankan, pemburu burung itu justru yang berkuliah di jurusan arsitektur dan kemudian menjadi seorang insinyur. Sementara Rudi bergulat dengan papan gambar, ia justru tekun membaca dan menulis puisi atau cerita.

Selepas kuliah, ketika teman satu kampungnya meniti karier cerah sebagai seorang arsitek, ia bekerja apa saja asal bisa memupuk impiannya. Ia pernah bekerja sebagai penjaga toko, penerjemah murahan, aktif di LSM, atau sopir di usaha rental mobil. Semua pekerjaan itu ia lakukan demi dunia yang dicintainya.

Sudah sejak SMA ia ingin menulis novel, namun usahanya tak kunjung terwujud sampai 10 tahun selepas masa SMA. Selama 10 tahun itu ia hanya mampu menyelesaikan sepersepuluh, seperempat, atau bahkan setengah bagian cerita. Impian itu akhirnya terkabul setelah ia keluar dari pekerjaannya di LSM dengan tabungan yang bisa menghidupinya selama setengah tahun ke depan. Itu pun setelah waktunya benar-benar dihabiskan di perpustakaan atau bersembunyi berhari-hari di sebuah hotel murahan di dekat lokasi pelacuran Pasar Kembang.

Lalu datanglah bencana itu. Ia tak bisa melupakan malam ketika sebagian kepalanya seperti akan meledak begitu novelnya rampung. Saat itu pertengahan Desember. Malam terasa dingin karena hujan turun sejak siang. Selepas petang membahagiakan itu, dengan tubuh setengah telanjang, ia masuk ke kamar mandi dan membasuh tubuhnya dengan air dingin. Hawa segar meresap ke seluruh tubuh. Namun tak lama kemudian, ia merasa hawa dingin yang ganjil perlahan menyerangnya. Ia terkesiap. Merasakan gelagat bahaya, ia keluar kamar mandi, dan lekas beranjak ke tempat tidur.

Di pembaringan ia merasa sebuah tangan maut menyentuh ubun-ubun kepala dan pusarnya. Hawa dingin merasuki seluruh tubuh diikuti sakit kepala yang mengerikan. Aliran darah di kepala seperti tersendat, dan tiap kali tersendat ia merasakan nyawanya memantul-mantul di dinding tengkoraknya. Ya Tuhan, apakah maut datang justru setelah ia mewujudkan impiannya? Ia membekap mukanya dengan bantal agar tidak mengeluarkan jeritan. Lalu kesadarannya hilang!

Ia tak tahu berapa lama dirinya pingsan. Begitu sadar, tubuhnya bersimbah keringat dingin. Selimut yang melilit tubuhnya terasa lembab. Matanya mengitari ruangan. Laptopnya masih menyala di atas meja. Dia merangkak ke arah meja untuk meraih telepon genggam. Jam dua dini hari. Hampir tujuh jam tak sadarkan diri!

Tangannya gemetar mencari-cari nomor Rudi dan berusaha menghubunginya. Dengan suara serak dan belum begitu sadar, Rudi mengangkat teleponnya. Ia menceritakan apa yang dialami petang itu hingga dirinya terjaga kembali. Begitu pembicaraan di telepon selesai, ia kembali membaringkan tubuhnya, menerka-nerka apa yang dialaminya selama hampir tujuh jam itu sampai pagi.

Pagi-pagi sekali, Rudi datang dan memeriksa tubuhnya. Kepala lelaki itu geleng-geleng. Tak ditemukan gejala aneh di tubuhnya atau sesuatu yang ganjil di kepala. Sampai menjelang siang mereka membicarakan peristiwa itu.

***

Semenjak kejadian itu ia merasa ada yang hilang dari dirinya. Tiap kali membuka buku, kalimat-kalimat di dalamnya terasa hambar. Segala yang ia baca seperti air yang melesap begitu saja di tanah musim kemarau. Selain itu, kelelahan misterius membayang ke mana pun ia pergi. Kebiasaannya berjalan kaki menyusuri setiap sudut kota perlahan-lahan lenyap.

Ke mana perginya keindahan yang ia peroleh ketika mengamati burung gereja hinggap lalu beterbangan di atas jalanan pada waktu matahari baru terbit dan jalanan masih sepi? Ke mana menghilangnya kemuraman lampu jalanan pada malam hari yang mampu melahirkan sebuah puisi kelam tentang pengembara yang tak tahu jalan pulang?

Keganjilan hidup itu membuatnya melupakan impian masa remajanya. Novel pertamanya diterbitkan dengan nama orang lain, itu pun atas desakan Rudi. Teman baiknya itu yang mengurus segala hal berhubungan dengan penerbitan novel. Ia bahkan tak peduli ketika bukunya hanya sedikit diulas di beberapa koran lokal oleh peresensi yang tampaknya kurang kerjaan sebelum diobral dengan harga murah di Shopping Center.

Namun hidup harus terus berlanjut. Dengan uang pinjaman dari Rudi, ia memutuskan membeli sepeda motor dan bekerja sebagai tukang ojek partikelir. Ia masih suka menyusuri jalanan, menghambur ke dalam kerumunan di Malioboro.

Sebagai ganti kebiasaannya ke toko buku bekas, ia sering menyaksikan konser musik atau duduk sendiri di warung kopi di Ringroad utara sampai kursi warung dikemasi dan meja-mejanya dibersihkan pelayan. Satu-satunya kebiasaan membacanya yang bertahan adalah menghabiskan koran dari halaman pertama sampai halaman terakhir. Itu pun ia lakukan untuk membunuh waktu di warung kopi.

Beruntung di warkop itu ia menemukan perempuan yang menjadi teman bercakap-cakap. Marinka, nama perempuan itu, hampir tak bisa berpisah dengan batang rokok di mulutnya. Dari mulutnya, bersama dengan asap yang tak henti mengepul, ia mendengar masa kecilnya di Jakarta, masa remajanya di Kalimantan, orangtuanya yang bercerai karena ayahnya memiliki istri muda, dan kegagalannya menjadi penyanyi jazz karena pita suaranya rusak setelah mengalami overdosis minuman.

Cerita Marinka yang hampir tak pernah putus membantunya menghabiskan waktu yang terasa hampa dan mengerikan. Tak sekadar celoteh dari mulut perempuan itu, ia juga merasakan kelembutan bibir dan kehangatan pelukannya di rumah kontrakan atau di hotel-hotel yang mereka singgahi begitu meninggalkan warkop.

Semuanya benar-benar seperti sebuah mimpi. Bersama Marinka pula ia makin masuk ke dunia para musisi yang ingar-bingar, menikmati petikan senar gitar, pukulan stik pada drum, dan lengkingan terompet, dan gemuruh tepuk tangan atau teriakan histeris penonton. Ia sering merasa dirinya memasuki sebuah dunia berkabut yang nyaris tanpa batas.

Setiap ditarik oleh tangan perempuan yang tak pernah menyebut dirinya sebagai pacar atau kekasih itu, ia merasa ditarik oleh kekuatan tak dikenal dari balik kabut, berlarian dengan sebentuk makhluk tak kasatmata, mendengar suara tawanya, embusan hangat udara di telinganya, dan erangan lembut yang membangkitkan gairahnya. Dunia yang serasa mimpi itu telah memenjara hidupnya selama hampir tiga tahun.

***

Dua minggu lalu, ketika tengah sendirian di warkop, ia membaca sebuah tulisan tentang novelnya yang ditulis tiga tahun lalu! Bagai diterangi kilat, dunia lamanya menyembul dari kedalaman ingatannya. Ia membaca kalimat demi kalimat ulasan tersebut.

Sebuah desakan tenaga yang besar mengguncang dadanya. Bagaimana kritikus itu bisa menghadirkan sesuatu yang bahkan ia sendiri tak memikirkannya, sesuatu yang tanpa ia sadari telah menyempurnakan novelnya?

Tubuhnya gemetar. Warkop masih sepi. Marinka belum tampak batang hidungnya. Ia beranjak ke kasir lalu pulang ke rumah. Telepon genggamnya dimatikan semenjak meninggalkan warung kopi untuk menghindari perempuan itu.

Di kamar belakang, ia mengambil novelnya dan membacanya kembali. Ia tenggelam dalam cerita tentang tiga tokohnya yang nasibnya saling berhubungan satu sama lain, kisah cintanya yang memabukkan dengan karakter perempuan yang mulutnya berbau tembakau dan selalu dipenuhi asap rokok. Ya Tuhan, apakah ini bukan suatu kebetulan?

Bagaimana bisa selama tiga tahun terakhir ia menjalani kehidupan yang nyaris tidak berbeda dengan nasib tokoh utama novel karangannya? Sampai pagi, ia hanya berbaring sembari mencermati novelnya sendiri dengan perasaan campur aduk sampai tidak bisa memejamkan mata sedikit pun.

Ia telah mengirim pesan pendek pada Marinka agar tak menghubunginya sampai ia menemukan semua jawaban dari teka-teki aneh dalam hidupnya. Pada siang hari ia menyembunyikan dirinya di perpustakaan daerah, kembali membaca buku, dan merasakan desiran aneh yang menuntunnya untuk menulis kembali. Malam harinya, setelah keluar dari perpustakaan, ia berjalan kaki menyusuri jalan-jalan sepi di kota ini sampai menjelang pagi.

Hari ini, entah kenapa, ia ingin pulang dari perpustakaan lebih awal dari biasanya. Hujan hampir berhenti. Sebentar lagi ia akan sampai di kontrakan. Di sepanjang perjalanan, sebuah plot novel samar-samar mengemuka di benaknya.

—

Dwi Cipta : seorang novelis, cerpenis, esais sastra, dan penerjemah. Novel pertamanya l Darah Muda terbit pada Desember 2017, sementara buku kumpulan cerpennya, Renjana, terbit pada Januari 2019. Buku terjemahannya yang sudah diterbitkan adalah Victoria (karya Knut Hamsun). Karya-karyanya berupa cerita pendek pernah diterbitkan Jawa Pos, Kompas, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Suara Merdeka, majalah Horison, dan lain-lain.

Made Kaek : perupa yang aktif berpartisipasi dalam sejumlah pameran bersama dan pameran tunggal sejak tahun 1991. Pameran tunggalnya, antara lain, Made Kaek #50 di VIN Seminyak-Bali pada 2017. Menerima penghargaan, antara lain, Citra Usadha Indonesia Foundation Award pada 1995. Buku karyanya 4 + 1 = Venezia diterbitkan pada 2004.

sumber : harian Kompas edisi 03 Januari 2021 di halaman 10 dengan judul “Jalan Melingkar”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme