Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sang Pengelana dan Teka-teki Semesta oleh Elizabeth Gabriela

Posted on Kam, 07 Jan 2021

Aku memiliki kunci, tapi tidak memiliki gembok. Aku mempunyai ruang, tapi tidak dengan ruangan. Kau bisa masuk, tapi kau tak bisa keluar. Apakah aku?

Dia berada dalam setiap makhluk penghuni jagat raya; manusia, tumbuhan, hewan, bahkan sosok tanpa nyawa sekali pun. Keberadaannya adalah dimensi dari apa yang terlukis pada kanvas angkasa, tergurat di pertiwi atau yang tergantung di antaranya.

Katanya dia adalah sosok paling penting pada perputaran poros dunia karena ialah pembentuk; siang dan malam, bulan dan tahun. Dia bisa menjadi badai yang menghilangkan segalanya, tapi bisa juga menjadi petunjuk jalan apa yang paling penting dalam hidup ini. Kabar burung mengatakan ia lebih dalam dari sekadar ukuran, lebih banyak dari partikel pembentuk sebuah planet. Banyak orang menginginkannya untuk digenggam, tapi lebih banyak lagi yang melepaskannya di dalam sebuah pelepasan paling buruk pada jurnal kesia-siaan gerak tahunan. Dia menjadi masalah karena orang-orang pikir mereka memilikinya. Dia berada di dalam lumbung ada dan tiada. Makhluk hidup dan makhluk tak hidup sering berkelana secara liar di dalamnya, maka dari itu lahirlah julukan untuknya: Sang Pengelana.

Sebutan tersebut juga hadir sesuai dengan catatan kegiatan hariannya. Sang Pengelana hidup untuk mencari jawaban. Dalam perjalanannya ia selalu membawa dua barang; jam pasir dan sebuah arloji tua. Dia berputar pada labirin misteri pencarian tentang apa makna di balik buku kehidupan, tersesat di dalam penundaan, terjerumus pada lubang kehampaan dan lenyap di balik lembah-lembah ketakutan akan mimpi. Sang Pengelana pergi dari ujung dunia yang satu ke satunya lagi, menisik tali-temali jawaban dari pertanyaan yang belum terungkap. Kebanyakan ia mendapatkan jawabannya, tapi setiap satu pertanyaan terjawab maka akan tumbuh pertanyaan yang baru. Begitulah kehidupan Sang Pengelana, beranjak dari satu persoalan menuju persoalan lain.

Suatu hari Sang Pengelana sedang mengamati sepasang burung merpati kasmaran di atas sebuah ranting pohon. Kedua binatang itu sangat memesona, bulu mereka putih bersih tanpa noda, kedua bola matanya segelap mutiara hitam. Namun, kecantikan itu tidak bertahan lama karena tiba-tiba saja merpati yang jantan oleng, dia terjatuh dan menghantam tanah. Sang Pengelana mendekati burung itu, ternyata sudah mati. Lalu tak sampai lima menit kemudian merpati yang betina juga ikut jatuh di sampingnya, menyusul pasangannya pergi meninggalkan dunia fana. Sayang sekali, mereka begitu cantik untuk menjadi kematian. Sang Pengelana yang terpaku di tempat bertanya-tanya, kenapa pemandangan indah tersebut direngut darinya dengan cara yang begitu buruk?

Akhirnya, Sang Pengelana memutuskan untuk mencari jawaban. Ia memulai perjalanan ke arah timur untuk menemui raja dari segala raja. Ia yakin, si penguasa jagat raya bisa memberikan jawabannya. Sang Pengelana melalui gurun pasir selama dua puluh empat jam hingga akhirnya tiba di pinggir teluk. Hari hendak melepas senja saat Sang Pengelana menemukan pencariannya, Matahari. Sisa-sisa kemilau warna jingga sudah meredup menjadi pertanda bahwa sedikit lagi ia akan segera pulang ke barat. ”Tunggu, tunggu! Jangan pergi dulu!” seru sang Pengelana.

Keagungan Matahari berkali lipat lebih memesona dibandingkan dua burung merpati yang tempo hari ia temui. Cahayanya berpendar bagai jubah. Matahari menoleh, ”Kau tahu sekeras apa pun aku ingin berhenti, aku tidak akan pernah bisa melawan. Apa yang kau butuhkan dariku?”

”Aku perlu bantuanmu untuk menjawab pertanyaanku, ’kenapa hal-hal yang indah sering kali direngut dengan cara yang begitu buruk dari kita?’” ungkap Sang Pengelana.

”Apa yang berawal dari keabadian hingga berakhir pada sebuah ruang semu,” balas Matahari.

”Kau tidak menjawab pertanyaanku,” ucap Sang Pengelana.

Suatu hari Sang Pengelana sedang mengamati sepasang burung merpati kasmaran di atas sebuah ranting pohon. Kedua binatang itu sangat memesona, bulu mereka putih bersih tanpa noda, kedua bola matanya segelap mutiara hitam. Namun, kecantikan itu tidak bertahan lama karena tiba-tiba saja merpati yang jantan oleng, dia terjatuh dan menghantam tanah.

Dia tertawa, ”Aku telah memberikan tanggapan. Itulah jawabannya, dirimu sendiri.” Matahari yang agung mengibarkan sasmita kebanggaannya dan dengan itu ia berpulang ke barat, lembayung ungu tua terhapus dari garis langit, menghilang di tengah kegelapan biru violet. Petang dipangkas oleh malam setelah seharian dililit oleh pita emas.

Sang Pengelana tak mengerti jawaban Matahari, maka ia berkelana kembali. Ia menyusuri pinggiran teluk hingga masuk ke dalam hutan-hutan berdaun setajam jarum jam, mendaki terus ke atas sampai mencapai dataran yang cukup tinggi. Tak lama kemudian ia bertemu dengan putra-putri angkasa, Bintang.  Dia memang tidak sebesar dan seterang Matahari, tapi Bintang memiliki daya pikat tersendiri yang tak kalah elok. Cahayanya berpendar-pendar, mengambang ceria di langit bersih tanpa awan. Bintang melihat kehadiran Sang Pengelana lalu menyapanya, ”Hai kamu! Kenapa wajahmu tampak begitu murung?”

”Siapakah yang menjadi awal setiap akhir dan akhir dari setiap tempat?” tanya Sang Pengelana langsung.

Bintang terkikik, ”Pertanyaan konyol!”

”Kenapa? Kau tidak tahu jawabannya?” tukas Sang Pengelana.

”Tentu saja aku tahu!” ujar Bintang dengan lantang.

”Lantas mengapa kau tidak mau memberitahukannya kepadaku?”

”Karena jawabannya ada di dalam dirimu sendiri. Kau adalah jawaban dari segala pertanyaan,” ujar Bintang.

Jawaban itu sama tak dapat dimengertinya seperti jawaban Matahari, Sang Pengelana menjadi jengkel, apa sulitnya sih langsung memberikan jawaban yang sudah mereka ketahui tanpa embel-embel teka-teki? Ia memutuskan untuk melanjutkan perjalannya, Sang Pengelana naik dan terus naik hingga tiba pada jalan buntu. Ia telah mencapai ujung tebing. Di bawahnya gulungan ombak berkejaran, menghasilkan harmoni bagai genta ketika menabrak badan tebing. Laut menyanyikan lagu marinir. Di antara pemetaan formasi bintang-bintang, ia bertemu dengan Bulan. Sang Pengelana selalu terpukau pada rembulan yang memiliki keanggunan tanpa batas.

”Selamat malam Sang Pengelana, ada gerangan apa yang membuatmu tampak begitu frustrasi?” sapa Bulan ramah, membaca raut wajahnya.

”Rembulan bantulah aku dengan menjawab pertanyaan ini, ’siapakah aku?’”

Bulan tidak mentertawakannya seperti Matahari dan Bintang, melainkan ia berkata, ”Kau adalah; kemarin, esok dan hari-hari harapan setelah hari ini. Kau lah si pemeluk masa silam sekaligus penyongsong masa depan.”

Sang Pengelana masih tak paham. ”Jadi, apa solusi untuk jawaban atas pertanyaanku?”

”Biarkan saja lewat, tapi jangan sampai menyesal,” kata Bulan sambil tersenyum.

Tak kunjung mendapatkan kejelasan akhirnya Sang Pengelana memutuskan untuk mencari jawaban di tempat lain. Dia kembali menuruni tebing, menelusuri gurun pasir dan hutan berdaun tajam, berkelana di antara darat, laut serta udara. Dia terus mencari dan mencari, tapi ia tidak pernah menemukannya. Sampai suatu hari saat jam pasir bagian atas menjadi kosong dan jarum jam berhenti pada satu titik, Sang Pengelana sadar bahwa memang dirinya sendirilah jawabannya karena dia adalah waktu.

sumber : kompas.id, 07 Jan 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme