Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Mengantar Markus Pulang oleh Tjak S. Parlan

Posted on Sab, 23 Jan 2021

Markus duduk di lantai dan menyandarkan tubuhnya pada dinding kayu. Meski masih lunglai, tapi wajahnya terlihat lebih segar malam itu. Berjarak hanya sedepa di depannya, dua orang sikerei dengan jejeneng bergemerincing di tangannya mengalunkan nyanyian yang terdengar seperti mantra. Bersamaan dengan itu, mereka juga membentangkan laka—kain berwarna merah seukuran bendera. Laka itu terus-menerus diayunkan di atas kepala Markus hingga mereka melangkah keluar ruangan dan mengibaskannya dengan kencang. Bagian ritual penyembuhan seperti itu diulang dua kali, sebelum kemudian ujung laka dicelupkan ke dalam piring yang berisi ramuan obat.

”Bagus juga rekaman wartawan itu,” ujar Abdurrahman dengan nada sinis. ”Dia akan bayar berapa?”

Lemanu menekan tombol pause sebelum kemudian meletakkan gawai di atas lantai kayu. Sedari awal, dia menduga bahwa Abdurrahman memendam sesuatu. Abdurrahman tampak kurang menyukai kehadiran tamu asing dalam ritual penyembuhan Markus malam itu. Padahal, bukan pertama kalinya seseorang dari tempat yang jauh datang ke kampung halamannya dan mengabadikan ritual semacam itu.

”Mengapa Paman berpikir seperti itu?” tanggap Lemanu. ”Dia hanya ingin menulis cerita. Dia bisa menceritakan sesuatu yang baik di kampung kita ini.”

”Mungkin saja tidak ada masalah,” ujar Abdurrahman. ”Saya hanya tidak mau kita seolah-olah menjual orang yang sedang menderita. Kamu tahu bagaimana riwayat penyakit bapakmu, kan?”

Untuk beberapa saat, paman dan keponakan itu beradu tatap. Lemanu tidak ingin menghindari sorot mata Abdurrahman yang mengintimidasi. Berikutnya, ketika Abdurrahman memilin tembakau dan membakar rokok lintingnya yang kedua, Lemanu kembali meraih gawainya. Matanya tertumbuk pada wajah Markus yang tampak lebih segar—diam-diam dia menaruh harapan, bapaknya akan pulih seperti sediakala.

”Kekuatan sikerei akan menyembuhkannya,” ujar Lemanu, lebih kepada dirinya sendiri.

Markus telah mengalami sakit yang panjang. Enam bulan sebelumnya, dia pernah dirawat di sebuah puskesmas di Muara Siberut. Pihak puskesmas menyarankan agar Markus dibawa ke rumah sakit daerah di Sipora jika kondisinya tidak juga membaik dalam beberapa hari. Namun, seperti mendapatkan mukjizat, Markus berangsur-angsur membaik.

Belakangan, Lemanu menyadari bahwa bapaknya pandai menutup-nutupi penderitaan fisik yang dialaminya. Markus selalu berusaha agar dirinya tampak baik-baik saja. Dia juga melarang keras Lemanu pulang ke Ugai untuk menjenguknya. Bagaimanapun, Lemanu memang harus menyelesaikan tugas-tugasnya di Sipora. Ketika itu belum lama dirinya bekerja di Pos Pengawas Pantai Mapaddegat. Lemanu harus membuktikan bahwa dirinya layak bekerja di tempat itu dan Markus tidak ingin anaknya gagal gara-gara sering pulang kampung. Lagi pula, Markus tidak sendirian di rumah. Masih ada istrinya dan Abdurrahman—adik kandungnya—yang bisa merawatnya dengan baik.

Untuk beberapa saat, paman dan keponakan itu beradu tatap. Lemanu tidak ingin menghindari sorot mata Abdurrahman yang mengintimidasi. Berikutnya, ketika Abdurrahman memilin tembakau dan membakar rokok lintingnya yang kedua, Lemanu kembali meraih gawainya. Matanya tertumbuk pada wajah Markus yang tampak lebih segar—diam-diam dia menaruh harapan, bapaknya akan pulih seperti sediakala.

Namun, pada suatu hari Markus mengalami nyeri kepala yang begitu hebat hingga tidak sadarkan diri. Abdurrahman bersama istri Markus dan dua orang tetangganya kembali membawanya ke sebuah puskesmas di Muara Siberut. Keesokan harinya, mengingat kondisi kesehatan Markus yang menurun drastis, pihak puskesmas merujuknya ke rumah sakit umum daerah yang ada di Sipora. Kali ini Markus tidak bisa lagi berpura-pura agar dirinya terlihat baik-baik saja. Markus pun menjalani rawat inap selama seminggu di rumah sakit daerah itu dan kondisinya berangsur membaik.

Pada hari terakhir ketika dokter yang menanganinya membolehkannya pulang, Lemanu memutuskan untuk turut serta. Laut Selat Siberut sedang tenang dan wajah Markus seperti menyiratkan harapan berumur panjang selama dalam perjalanan. Dalam perjalanan pulang itu, turut pula kawan baru Lemanu—seorang penulis dari Bengkulu. Penulis tersebut sangat senang ketika Lemanu memperbolehkannya bergabung dalam rombongan kecil itu. Sudah lama dia ingin bertemu langsung dengan para sikerei—tabib tradisional yang hanya bisa diketahuinya lewat media massa dan sejumlah buku. Namun, Abdurrahman sepertinya merasa kurang nyaman dengan kehadirannya. Setelah malam ritual penyembuhan itu, Lemanu mulai memahami apa yang sebenarnya sedang dirisaukan oleh pamannya.

”Saya pernah melihat foto-foto dalam sebuah majalah dan itu membuat saya sedih. Itu salah satu warga kampung ini. Orang itu badannya kurus dan wajahnya pucat dan menderita. Kenapa wajah semacam itu harus berada di sana? Ya, biar orang-orang di luar sana datang ke kampung kita untuk melihat ritual penyembuhan orang sakit. Orang yang menderita!” jelas Abdurrahman.

”Di mana letak kesalahannya?” tanya Lemanu. ”Apa salahnya memberitakan hal semacam itu?”

Abdurrahman tampak seperti seseorang yang sedang menahan geram. ”Kamu tahu?” ujarnya. ”Sudah berapa banyak yang datang ke sini dan berapa banyak yang mereka dapatkan? Tapi lihatlah kampung ini. Cari sinyal hape saja susah!”

Lemanu berusaha memahami jalan pikiran Abdurrahman. Dia sendiri tidak pernah memiliki pengalaman buruk dengan orang-orang yang pernah datang ke kampung halamannya—entah mereka yang mengaku sebagai wartawan, pelancong, penulis, atau peneliti. Dia juga tidak pernah merasa bahwa mereka datang untuk ”menjual” kampungnya dengan semena-mena.

”Tenang, Paman. Kawan saya itu tidak akan menjual penderitaan siapa pun di tempat ini. Dia hanya ingin menceritakan sesuatu tentang ritual pengobatan itu.”

”Saya tidak melihatnya sedari pagi. Ke mana dia?”

”Pergi ke rumah Aman Ipai dan Teu Tonem.”

”Dia tidak akan memuat wajah bapakmu yang sedang sakit di sebuah majalah, kan?”

Lemanu menggeleng. Beberapa saat kemudian, dia merasa tergelitik untuk menanyakan sesuatu kepada Abdurrahman.

”Mohon maaf, Paman,” ujar Lemanu dengan hati-hati. ”Sejak Paman pergi dan kembali bersama keyakinan yang berbeda dengan kebanyakan kami yang ada di sini, banyak hal yang berubah. Apa Paman merasa tidak nyaman lagi tinggal di kampung ini?”

Abdurrahman mengisap rokok lintingnya dalam-dalam dan berkali-kali sehingga bunyi gemerisik kecil tembakau yang terbakar itu bisa mendebarkan jantung Lemanu. Lalu tanpa diduga-duga, dia menepuk-nepuk bahu Lemanu.

”Saya lahir di sini, Lemanu, dan tetap merasa seperti dulu,” ujarnya. ”Yang berubah itu cara saya menjalankan keyakinan. Di luar semua ini, kamu pikir mudah meninggalkan Sabulungan?”

Lemanu tidak menduga akan mendapatkan jawaban seperti itu. Selagi masih muda, laki-laki yang bernama Agustinus itu pernah pergi merantau untuk belajar berdagang. Sepulangnya dari rantau, dia sudah menyandang nama lain, yakni Abdurrahman dan menjadi seorang Muslim.

”Apa kamu masih sering pergi ke Gereja?” tanya Abdurrahman seraya tersenyum.

”Tentu, Paman,” jawab Lemanu singkat.

”Meski begitu, apa kamu yakin sudah benar-benar bisa meninggalkan Sabulungan, keyakinan leluhur kita itu?”

Lemanu terdiam. Dia tatap wajah pamannya yang seolah menunggu jawaban itu. Lalu dia pun tersenyum. Namun, sebelum sempat mengatakan sesuatu, ibunya muncul di beranda rumah dengan wajah pucat dan mata sembab.

”Panggilkan Teu Tonem,” ujar istri Markus dengan suara gemetar.

Tanpa bertanya lebih lanjut, Lemanu pun bergegas menuju ke rumah Teu Tonem—salah seorang sikerei yang mengobati Markus pada malam sebelumnya. Abdurrahman, yang begitu yakin bahwa Markus sedang membutuhkan pertolongan, segera mengekor istri Markus ke dalam ruangan.

***

Setelah dua tahapan yang masing-masing diulang sebanyak dua kali tersebut, kedua sikerei memulai tahapan penyembuhan berikutnya. Pada bagian ini, Aman Ipai dan Teu Tonem memborehkan ramuan obat ke sekujur tubuh Markus yang lampai. Wajah Markus—yang tersorot kamera—tampak lebih jelas. Dia tersenyum ke arah kamera dan mencoba melambai seperti mengisyaratkan kepada seseorang agar mendekat.

”Tahan di situ,” ujar Lemanu tiba-tiba.

Penulis itu tampak gugup. Dia tidak menyangka bahwa Lemanu sudah berada di dekatnya. Mungkin karena terlalu serius menyimak ritual penyembuhan itu—dan di telinganya masih menyumpal earphone—dia tidak mendengar ketika ada langkah-langkah kaki mendekat.

”Saya tidak tahan untuk melihatnya lagi. Masih tidak percaya. Wajahnya terlihat segar malam itu,” ujar penulis itu. ”Apa kamu keberatan?”

Lemanu memandang ke sekitar. Bantaran Sungai Rereiket masih bertahan dengan pemandangan hijau yang sama: pohon nyiur, rumpun sagu, perdu, dan rumput hijau di antara jeda ladang talas. Sudah memasuki pertengahan musim hujan, dan debit air cukup tinggi sehingga memudahkan setiap perjalanan dengan menggunakan pompong.

”Saya justru berterima kasih, sudah ada yang mengabadikannya,” ujar Lemanu seraya meminta untuk menghidupkan kembali video yang telah direkam oleh penulis itu.

Wajah Markus muncul kembali dan hampir memenuhi layar gawai. Dia tersenyum tipis dan wajahnya terlihat lebih segar dari sebelumnya. Dalam sekian detik, wajah itu menjauh dan mengecil berganti dengan sosok tubuhnya yang berbalur ramuan obat penyembuh.

Baca juga : Dua Lamaran

”Kamu yakin akan kembali hari ini?” tanya penulis itu. ”Siapa tahu, kamu masih butuh berada di sini. Saya bisa berangkat bersama Abdurrahman.”

”Tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Sudah hampir sebulan berada di sini. Sekarang saatnya kembali ke Sipora,” jawab Lemanu.

Rekaman video itu pun berakhir. Penulis itu memasukkan gawainya ke dalam daypack. Pada saat yang hampir bersamaan, Abdurrahman telah menyalakan mesin pompong. Dialah yang akan mengantarkan mereka berdua. ”Ayo, sebelum turun hujan!” teriak Abdurrahman.

Lemanu dan penulis itu pun bergegas. Ketika mereka sampai di atas pompong, gerimis mulai turun. Masih butuh sekitar lima jam perjalanan untuk bisa sampai Muara Siberut. Mereka berharap tidak akan ketinggalan kapal yang menyeberang ke Sipora hari itu.

”Kita semua lega, bisa mengantar kepulangannya dengan baik,” ujar Abdurrahman, sesaat sebelum pompong melaju.

Lemanu memandang ke langit. Mendung tipis beriring di atas sungai.

Ampenan, 1 Juni-12 Juli 2020

***

Glosarium

1. Sikerei (Mentawai): Seseorang yang memiliki peran istimewa dan penting dalam masyarakat Mentawai sebagai penyembuh (tabib) atau sebagai pemimpin dalam upacara-upacara adat.

2. Jejeneng (Mentawai): Genta kecil yang digunakan dalam ritual penyembuhan oleh seorang sikerei.

3. Laka (Mentawai): Kain berwarna merah berbentuk empat persegi panjang— serupa bendera—digunakan dalam ritual penyembuhan oleh seorang sikerei.

4. Pompong: Sebuah istilah untuk menyebut sampan bermesin tempel satu. Pompong bentuknya ramping dan memanjang.

5. Sabulungan (Mentawai): Atau kerap disebut sebagai Arat Sabulungan merupakan sebuah keyakinan/kepercayaan religi masyarakat asli Mentawai.

—–

Tjak S Parlan lahir di Banyuwangi, 10 November 1975. Menulis cerpen, puisi, feature perjalanan, novel. Buku terbarunya Sebuah Rumah di Bawah Menara (Rua Aksara, 2020—Kumpulan Cerpen). Penulis bermukim di Ampenan, Nusa Tenggara Barat.

sumber : kompas.id, 23 Jan 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme