Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ketika Sunyi Mengusik Sepi oleh Wilson Nadeak

Posted on Sel, 05 Okt 2004

Satu dua langkah ia berjalan mondar-mandir di depan jendela. Di luar gerimis turun perlahan mengusapkan kabut ke kaca. Sesekali ia menoleh ke kartu undangan kawin yang bertaburan di atas meja dan kemudian ia duduk menghadap meja dan membolak-balik kartu-kartu undangan itu. Bermacam-macam bentuk kartu itu, ada yang berlipat dua, tiga, dan ada pula yang hanya satu halaman saja. Sampulnya aneka ragam berlukisan dua ekor burung, ada yang gambar calon pengantin, ada pula yang bermotif kain batik dan rumah adat dan pakaian adat. Menarik dan indah. Berulang-ulang ia membaca kata-kata yang tertera di dalam kartu undangan itu, di dalamnya terdapat kata-kata yang manis, kutipan dari Kitab Suci, nama yang dihiasi dengan gelar-gelar, teks yang berbahasa Inggris, Indonesia, dan daerah. Kata, kalimat, huruf, merupakan pilihan yang indah, sangat sopan, dan sarat dengan kata klise.

Telah lama ia mengimpikan kartu undangan seperti itu, impian untuk membuatnya, bukan sekadar menerima. Suatu kali ia mengeluh kepada seorang kawannya, “Ah, hidup ini tidak adil. Dalam usia setengah abad ini saya belum pernah mengedarkan undangan, hanya menerima saja. Rasanya, semakin banyak utang saya.”

Kawannya tersenyum dan berkata, “Segala sesuatu ada waktunya, sabarlah.”

“Mereka sudah besar-besar semua. Sudah ada yang tamat dari perguruan tinggi. Tetapi mengapa mereka belum menemukan jodoh?”

“Jodoh dari Tuhan,” sambung kawannya.

“Selalu begitu. Kata-kata itu selalu menggema dari waktu ke waktu. Dari setiap mulut orang. Meluncur begitu saja. Apa tidak ada kata yang lain?”

Dialog terhenti di situ. Kawannya tidak berani melanjutkan karena ia takut tersinggung. Setiap orangtua ingin anak-anaknya menikah setelah dewasa, apalagi sudah mulai berumur. Barangkali itu naluri. Naluri yang menjadi obsesi setiap keluarga.

Sekarang, ia memilih-milih undangan mana yang paling menarik, paling cantik, dan paling mengesankan. Tidak tampak seragam. Hatinya ingin sedikit berbeda dan hendak menciptakan sesuatu yang sederhana namun lain daripada yang lain. Ada bahasa daerahnya, ada bahasa Indonesia, dan tentu saja ada bahasa Inggrisnya. Bukankah pernikahan putrinya akan dilangsungkan di Los Angeles?

Sejak istrinya menunjukkan surat pendek itu kepadanya, hatinya selalu bersyukur, seperti mendapat durian runtuh. Ada sebuah tembok yang runtuh dari dalam dirinya, tembok yang memisahkannya dari masa depan. Dan ke depan, masa depan itu sudah terbuka lebar. Orang-orang tidak akan mencemoohnya lagi, kapan ia akan memberikan undangan karena putra putrinya sudah dewasa dan tamat dari berbagai perguruan tinggi. Dadanya merasa lapang seakan-akan oksigen mengalir dengan lancar, sejuk dan nyaman.

Dari balik kaca meja itu ia mengambil surat pendek dari putrinya.

“Ibu dan Bapa yang kusayangi. Kami berniat menikah tiga bulan di depan. Kami mengharapkan kehadiran Ibu dan Bapa. Tiket akan kami kirimkan dengan segera. Kami akan sangat berbahagia kalau Bapa dan Ibu merestui pernikahan kami. Salam dari ananda, putrimu.”

Pertama kali menerima surat itu ia bertanya kepada istrinya, “Anak kita mau kawin dengan siapa?”

Istrinya menjawab, “Dengan orang kita juga.”

“Marga apa?”

“Ah, pusing amat dengan segala marga. Asal jangan dengan bule saja!”

“Apa salahnya dengan bule?” tanyanya.

“Ya, hilang dong!” jawab istrinya. “Budaya saja sudah menjauhkan kita.”

“O, begitu.”

“Ah, bapa ini bagaimana. Kita harus mensyukurinya.”

Ia perhatikan istrinya sudah mulai sibuk bertanya ke sana ke mari, bagaimana cara mengadakan pesta pernikahan. Apa-apa saja yang harus disediakan.

Berulang-ulang ia membaca surat putrinya. Surat singkat yang sarat dengan harapan hidupnya selama ini. Sekalipun surat itu pendek, itu sangat membahagiakannya. Rasa sunyi selama ini berangsur meredup, bunga-bunga harapan mulai menguncup. Kerinduan untuk memomong cucu sudah lama dipendamnya. Kini harapan itu mulai berbunga-bunga. Orang yang lebih muda dari dia sudah memiliki beberapa cucu, dia belum. Tiap kali orang menanyakan kepadanya kapan akan memiliki cucu, selalu dijawabnya dengan jawaban menghindar, “Akan ada waktunya.” Padahal pertanyaan itu sebenarnya amat menggusarkan hatinya. Selama ini ia senang berkumpul dengan anak-anaknya yang lima orang. Senang melihat mereka semua sehat-sehat dan berambisi mau ini dan itu. Tetapi tiap kali ia menanyakan kepada mereka kapan membentuk keluarga sendiri, selalu dijawab, “Ah, Bapa ini rupanya sudah bosan melihat kami.” Hal ini pun membuatnya merasa sunyi dan lebih banyak berdiam diri soal itu. Lagi pula, sejak mereka belajar di perguruan tinggi dan di luar negeri, ia dan istrinya kembali ke dalam suasana sunyi dari hiruk-pikuk anak-anak. Kembali berdua sejak menikah tiga puluh tahun yang lalu. Benteng kesunyian itu semakin mendalam ketika istrinya ikut anaknya ke Amerika dan tinggal di sana beberapa tahun. Hanya untuk “menjaga” dan memberi kemungkinan “masa depan” anaknya, harus meninggalkannya, seorang diri di rumah, di Tanah Air. Adapun ketika ia menyusulnya, dan tinggal di sana setengah tahun, itu tidak membuat benteng kesunyian itu runtuh atau retak karena ia pun mengingat anak-anaknya yang lain yang tinggal di Tanah Air. Ia kembali seorang diri karena istrinya berharap putrinya tamat dan ada yang melamarnya. Ketika saat penantian itu berlalu, istrinya kembali dan tinggallah mereka berdua di rumah. Hanya ketika musim libur, anak-anak kembali ke rumah.

BAGI yang menikah, perkawinan adalah sebuah tujuan untuk mencari kebahagiaan, memenuhi kodrat sebagai manusia, yang sukar dihindari. Pikiran mereka tertuju kepada hari yang penuh kebahagiaan itu, yang harus diawali dengan upacara sakral sesuai dengan keyakinan, bahwa manusia sesungguhnya menuruti petunjuk Tuhan. Manusia mewarnai jalan menuju upacara ini dengan hal-hal yang rinci, sarat dengan emosi, dan terikat kepada norma, kaidah, dan rambu-rambu lintas budaya yang sukar dilalui. Sejumlah aturan yang sesungguhnya tidak ada kaitan dengan tujuan pernikahan itu muncul ke permukaan, lalu syarat-syarat tertentu saling melengkapi dan harus dipenuhi. Tanpa itu, jangan harapkan pernikahan akan berjalan dengan lancar. Kecuali kedua hati yang muda itu, dengan berani menempuh jalur-jalur jalan berduri dengan “kawin lari” dan yang lain-lain tidak dipedulikan, sekalipun jalan itu membuat rasa malu kepada ayah dan ibunya-karena ayah dan ibunya mengingkari utang yang selama ini mereka terima melalui undangan-undangan dari kenalan-yang tidak “terbayar” olehnya.

Seperangkat pakaian adat dan undangan tercetak dalam tiga bahasa sudah disiapkannya dan dimasukkan ke dalam koper. Ia tidak mau kehilangan momentum yang sangat ditunggu-tunggunya itu. Apa pun biaya dan risikonya, ia mau supaya perhelatan ini sukses. Sukses untuk anak pertama adalah awal yang baik untuk sukses bagi anak-anak berikutnya. Menurut calon besannya, “adat penuh” pun akan dilakukan, sekalipun itu di negeri asing. Adat baginya, adalah bayang-bayang dirinya, sekalipun ia sendiri benci bayang-bayang, yang selama ini jarang diperhatikannya karena Matahari kota membuatnya jarang berjalan di panas terik-dan selalu berada di atas kendaraan pribadi maupun umum. Adat, adalah bagaikan sebuah topi yang harus dikenakan ketika Matahari menggigit ubun-ubun. Manusia yang terlahir di dalam lingkup adat sukar melepaskan diri dari simbol-simbolnya walaupun itu harus dibayar dengan harga mahal. Perkawinan memang sangat bersifat privasi, tetapi melibatkan komunitas dari rumpun marga yang berbeda. Lalu lahirlah pelangi keluarga. Itukah kebahagiaan itu? Akhirnya ia tiba pada kesimpulan bahwa kebahagiaan harus dibayar dengan harga yang mahal!

Upacara adat yang melelahkan berlangsung di Los Angeles (LA) di rumah kerabat dekat yang merelakan tempat, waktu, dan simpati maupun empati, sesuatu yang sangat sulit diperoleh di LA. Ia harus mengorbankan kamar tidur anak-anaknya demi menampung orang-orang yang menghadiri upacara adat sebelum pesta pernikahan itu sendiri dilakukan. Betapa pun singkatnya, betapa pun mereka itu berpikir praktis, toh upacara itu melelahkan. Tapi itu baru pendahuluan. Sesudah resepsi, masih dilanjutkan dengan “adat penuh” yang membuat orang-orang asing tercengang dan geleng-geleng kepala. Mungkin bagi mereka, jenis upacara itu sebuah hal yang amat mistis dan magis. Penuh dengan simbol dan retorika yang sarat repetisi.

Protokol pada upacara pernikahan menguraikan acara pernikahan dengan bahasa Inggris yang transparan bagi kuping orang Timur. Barangkali bagi kuping penduduk pribumi alias bule yang banyak juga hadir pada upacara pernikahan, bahasa Inggris yang demikian adalah bunyi simfoni dialek karena sesekali diselingi dengan pepatah-petitih bahasa leluhur. Mereka mengangguk-angguk, mungkin tanda kagum.

Usai resepsi, upacara adat berlangsung. Kata-kata indah berhamburan dari bibir-bibir yang berbahasa ibu. Tampaknya pengucap kata itu sendiri “hanyut” dalam emosi, mungkin sekali ia rindu tanah air karena suaranya gemetar menimbulkan rasa haru. Uang-uang rupiah berbaur dengan uang dollar. Orang-orang menari dan menari. Ada band yang mengiringi dengan lagu-lagu syahdu, dalam bahasa ibu yang membuat orang-orang Amerika, Filipina, dan China larut dalam mimpi oriental yang magis dan sunyi. Lagu-lagu cinta dalam bahasa ibu dan sesekali lagu cinta dalam bahasa Inggris.

Ayah pengantin perempuan yang paling berbahagia. Ia tersenyum terus menerima salam dari hadirin. Lunaslah sudah utang-undangan-pernikahan yang selama ini selalu diterimanya. Riak-riak kegembiraan yang muncul di wajahnya menandakan sunyi hati yang selama ini terpendam, pudarlah sudah. Ia berharap, beberapa tahun mendatang seorang cucu telah dapat ditimang-timangnya.

Beberapa bulan sesudah pernikahan putrinya yang pertama, ia mendengar kejutan baru dari istrinya.

“Kudengar dari putri kita, mereka tidak ingin cepat-cepat punya anak. Mereka belum siap karena penghasilan mereka belum memadai. Lagi pula, kata mereka, biaya merawat seorang anak cukup mahal. Kalau mereka punya anak, mereka akan keluar dari apartemen ini. Apartemen ini khusus bagi penghuni yang belum punya anak.”

“Bukankah Tuhan akan mencukupkan keperluan hidup mereka? Kalau perlu, kau tinggal di sini dulu, untuk menjaga dan merawat anak mereka,” jawabnya.

“Justru mereka tidak mau merepotkan orangtua, dan tidak mau direpotkan orangtua,” katanya.

“Maksudmu?”

“Mengurus anak itu tidak gampang, Pak. Mantu kita harus bekerja siang hari, putri kita juga. Nanti kalau ada anak, mereka terpaksa harus cari pekerjaan siang dan malam, silih berganti supaya dapat menjaga anak. Untuk itu, mereka belum siap. Begitu menurut mereka.”

Ia manggut-manggut. Harapan yang sudah mulai berbunga-bunga beberapa bulan lalu mulai melayu. Belum membentuk arah pembuahan. Hanya bunga-bunga yang menguncup dan kemudian melayu dan redup, gugur ke tanah.

Berbulan-bulan tembok kesunyian mulai terbangun di dalam dirinya. Ia jarang bertemu dengan orang. Masing-masing sibuk dengan diri sendiri. Anak dan mantunya, kalau sudah pulang kerja-yang kadang-kadang larut senja karena lembur-langsung tidur dan pagi-pagi sekali sudah bangun dan berangkat ke tempat kerja. Tidak ada lagi kunjungan ke taman hiburan semisal Disneyland atau Hollywood. Hanya sesekali ke pantai LA atau pertemuan singkat ibadah di gereja. Hidup menjadi monoton antara bangun tidur, makan, nonton TV, jalan-jalan di sekitar rumah. Siklus yang sangat menjemukan.

Setelah lima bulan di LA, kejutan baru muncul dari istrinya.

“Pak, anak kita menanyakan kapan kita akan kembali.”

“Oh ya?” jawabnya. Memang pikiran itu pernah timbul di dalam benaknya. Ketika pertanyaan muncul dari bibir anaknya sendiri, maknanya menjadi lain. Ia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, apakah ini karena putrinya dapat mengajuk pikirannya ataukah ungkapan atas rasa ketidaksetujuannya atas kehadiran mereka di sana? Apakah mereka menjadi beban bagi anak dan mantunya?

Ia tidak menjawab istrinya. Tidak juga timbul niat di dalam dirinya untuk bertanya kepada putrinya. Takut kalau-kalau begitulah kenyataan yang sebenarnya. Ia takut menghadapi kenyataan seperti itu. Pikiran yang muncul dalam benaknya ialah, pernikahan itu sudah berlangsung. Rumah tangga anaknya sudah terbentuk. Barangkali tugas mereka sudah selesai sampai di situ. Selebihnya, adalah kerisauan dan gangguan-gangguan hati nurani tidak pantas ditanyakan. Ia ingat burung-burung. Burung yang sudah layak terbang, ya, membentuk sarangnya sendiri. Burung itu sudah menjadi masyarakat burung, tak lagi bergantung kepada induknya. Kita tidak tahu apakah anak burung mengucapkan terima kasih kepada induknya karena telah memeliharanya. Kita juga tidak tahu apakah induknya pernah merasa kecewa.

Pada suatu tengah malam, ketika ia terbangun, ia membangunkan istrinya.

“Besok kita berangkat pulang,” katanya.

Istrinya mengusap-usap matanya dan kemudian berkata, “Apakah saya bermimpi?”

“Tidak,” jawabnya, “Kau tidak bermimpi.”

“Oh ya? Apa kaubilang tadi?”

“Besok kita pulang. Anak-anak di Tanah Air lebih memerlukan perhatian kita.”

“Begitu cepat?”

“Sudah waktunya,” katanya, “rasanya anak dan mantu kita kurang memerlukan kita di sini.”

“Kau terlalu perasa.”

“Mungkin ya, mungkin tidak. Dunia mereka berbeda dari dunia kita. Sebaiknya kita pulang saja.”

Keesokan harinya, anak dan mantunya mengantar mereka ke airport. Setelah pesawat tinggal landas, ia berkata kepada istrinya, “Nah, kau perhatikan tadi, bukan? Ketika kau mengatakan bahwa kita akan pulang, mereka segera konfirmasi pesawat dan sore ini kita berada di dalam pesawat ini? Mereka tidak mengucapkan kata basa-basi mengapa pulang mendadak. Tidak ada kata tanya. Tidak ada kata terima kasih karena kita telah menemani mereka di rumah setelah upacara pernikahan mereka…”

Istrinya mengunjurkan kaki dan menyandarkan punggungnya ke kursi yang dilengkungkan ke belakang. Sambil memejamkan matanya, acuh tak acuh ia menjawab, “Kau terlalu mudah tersinggung. Budaya penduduk negeri ini telah menjadi budaya hidup mereka. Mereka hidup di sini, dan untuk itu, mereka harus menyesuaikan diri dengan situasi. Mereka adalah pekerja keras dan kita patut menghargai mereka.”

Ia mencoba melihat ke awan-awan di luar lewat jendela kaca. Perjalanan panjang menuju Tanah Air sedang berlangsung. Rasa sunyi yang lain mengusik sepi yang mulai melekat dalam lubuk hatinya.

Entah berapa lama ia tertidur, tiba-tiba ia terbangun karena pesawat terasa seperti berjalan di atas batu-batu, seperti pedati. Pramugari memberitahukan bahwa pesawat melintasi perubahan hari-batas siang dan tengah malam yang pekat.

Dan sunyi itu, semakin dalam mengendap dalam perjalanan enam belas jam yang menjemukan.

Bandung, 14 Juli 2004

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme