Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Roti Tawar oleh Kurnia Effendi

Posted on Ming, 28 Nov 2004

Setangkup roti tawar yang tersaji di meja makan menampakkan lelehan pasta selai kacang. Itu kombinasi yang paling kugemari. Meskipun ada pilihan lain, seperti selai nenas, stroberi, atau keju lembut.

Dalam seminggu aku sarapan roti tawar sedikitnya empat hari. Bahkan sesekali aku membawanya ke kantor dalam kotak makanan yang terbuat dari plastik. Pada pukul sepuluh, saat perut belum sepenuhnya lapar, biasanya aku tergoda untuk membuka bekal dan menggigit roti tawar itu dengan perasaan iseng.

“Boleh minta separuh?” suatu saat Nila memergoki.

Aku memotong bagian yang tak tersentuh gigiku. “Suka selai kacang?”

“Apa saja.” Ia tersenyum. Matanya tampak lebih lapar. “Terima kasih.”

Akhirnya aku menghentikan pekerjaan dan memandang cara Nila makan. Sungguh tak tebersit sikap curiga seandainya aku sengaja memancingnya agar ia mengunyah lebih cepat dan menelan lebih segera. Alangkah mudah jika aku bermaksud meracuninya. Tentu dia tak akan bertahan lebih dari lima menit. Selanjutnya terjungkal dari kusi dengan – atau tanpa- mulut berbusa.

Aku tersenyum, karena memang tidak bermaksud membuatnya celaka. Aku menyelesaikan separuh roti tawar dengan selai kacang itu lebih perlahan. Perutku memang belum sepenuhnya lapar.

“Kamu mau kopi? Aku baru saja membuatnya.” Nila berjalan menuju meja kerjanya di ujung ruang. Lalu kembali dengan cangkir yang tampak mengepulkan asap.

Aroma kopi menyergap, merangsang hidungku. Segera kuberikan gelasku untuk membagi kopi itu. Dengan cara yang sungguh mumpuni, Nila menuang kopi dari cangkirnya tanpa tumpah setetes pun. Hebat! Mungkin di rumah, dia sudah biasa melakukannya. Terhadap suami atau anak-anaknya. Eh, apakah dia sudah tak lajang lagi? sependengaranku, Nila tak pernah menceritakan perihal anak atau suami.

Kini aku mengamati caranya menyeruput kopi. Begitu khidmat. Tidak dengan sambil-lalu. Barangkali kopi adalah bagian dari ritualnya sehari-hari. Seperti roti tawar bagiku.

“Terima kasih roti tawarnya,” ujarnya begitu meletakkan cangkir. Menghindari salah tingkah lantaran kuperhatikan.

“Terimakasih juga kopinya…”

“Tapi kamu belum mencobanya,” Nila memotong.

“Oh ya, sebentar lagi. Masih panas.” Aku sengaja menyentuh gelas dengan telapak tangan.

“Percayalah, justru kalau sudah dingin akan kehilangan rasa sedapnya. Itu yang penting.”

Nila menyebut ’yang penting’ dengan cara seolah benar-benar penting. Maka aku pun mengangkat gelas dengan sergapan wangi kopi ke dalam lorong hidung. Kuhirup dan kucecap dengan lidah. Astaga… pahit! Tapi, tentu saja tidak kutunjukkan keterkejutan dengan ekspresi bibir dan lidah yang terjulur tanda menolak.

“Enak, bukan?” Nila tersenyum memandangku lurus.

“Hm, ya. Tapi…”

“Pahitkah?” pertanyaan yang tak perlu kujawab. Atau justru harus kubenarkan? “Aku tidak suka kopi manis,” katanya kemudian.

Dengan demikian, pikirku, besok pagi jika memang ditawari lagi, sebaiknya kutolak. Sepanjang dia tak tersinggung, tentu.

Nila bangkit dari duduk. “Kuambilkan gula di pantry Mbak Mimi?”

“Oh, tidak usah.”

“Ayolah, Seto! Daripada kopiku nanti kamu buang.”

“Pasti kuminum.” Heran. Aku berjanji, mengatakan pasti, tapi setengah hati.

“Terima kasih. Roti tawarmu enak. Lembut sekali. Boleh tahu mereknya?”

Aku menyebutkan sebuah nama. Nila pasti sudah sering mendengar nama itu. Tidak terlalu populer, tapi mudah dicari di supermarket, bahkan di circle-K.

“Eh, jam berapa ini? Sudah waktunya kerja lagi.” Nila tertawa dan berdiri. “Apakah kamu selalu meluangkan waktu untuk coffee break?”

“Kadang-kadang.” Aku tersenyum. Dari seberang sana, Nila akan sulit melihat kebiasaanku. Ada berderet meja karyawan lain. Hanya saat mengambil air dari dispenser, sesekali dia bisa menoleh kepadaku.

“Ok, selamat bekerja kembali.”

Nila melenggang. Justru setelah dia pergi, wangi parfumnya tertinggal. Light Blue. Dolce & Gabbana! Harum jasmin yang meruap. Ah, aku teringat sesuatu! Tapi segera kutepis, karena orang-orang secara bersamaan keluar dari ruang rapat menuju ke meja masing-masing. Kini ruangan dengan gaya open space itu kembali ramai.

Saat perjalanan pulang ke rumah, aku teringat kembali percakapan singkat dengan Nila. Kukira itu terjadi tiga tahun sekali. Maksudku, setelah aku bekerja di kantor ini selama tiga tahun, peristiwa itu terjadi. Padahal aku kerap membawa bekal roti tawar ke kantor dan pada pukul sepuluh sering tergoda untuk menggigitnya.

Entah kenapa, sebelum tiba di rumah aku sengaja mampir ke sebuah toko bakery langganan. Entah kenapa aku sengaja membeli roti tawar dua kali lebih banyak daripada biasanya. Diam-diam aku merencanakan sesuatu untuk esok pagi. Aku akan membawa bekal dan menunggu hingga jam sepuluh. Menunggu mataku (bukan perutku) tergoda untuk menggigit roti tawarku. Menunggu Nila melangkah mendekat dan menawariku kopi. Tapi … apakah sebaiknya kopi itu kutolak?

Kasir menyebut harga yang harus kubayar untuk dua pak roti tawar tanpa kulit. Aku teringat pujian Nila: Roti tawarmu enak. Lembut sekali. Boleh tahu mereknya?

Kubaca nama toko bakery itu seperti berusaha menghafal dari awal. Lalu kuingat-ingat, sejak kapan aku mulai menetapkan pilihan padanya? Banyak sekali roti tawar yang pernah kucoba, tapi yang ini memang berbeda. Begitu lembut. Ada semacam rasa ketagihan saat mengunyahnya.

Perjalananku berakhir di depan pagar rumah. Cahaya kuning temaram menyambutku. Seseorang telah menyalakan menjelang petang tadi. Mungkin Isah, atau ibuku. Hanya dengan mereka berdua aku tinggal di rumah tipe 45 berhalaman sempit ini. Karena itulah kupilih mobil Karimun yang tak begitu panjang.

Sebelum kuletakkan segala bawaan dari kantor, yang terdiri dari lap-top dan majalah, aku mencari Isah hanya untuk mengatakan: “Besok pagi, siapkan roti tawar lebih banyak.”

“Semua dengan selai kacang?”

Aku tertegun. Apakah sungguh-sungguh Nila menyukai roti tawar dengan selai kacang? Kebetulan tadi pagi aku membawa selai kacang, tidak ada pilihan lain. Dan Nila mengatakan: Apa saja. Dengan mata yang tampak lapar.

“Kalau begitu, buatkan juga dengan stroberi dan nenas.”

Setelah itu aku menjenguk Ibu di kamar tidurnya. Tampaknya sedang sibuk membereskan lemari bajunya. Padahal aku tak sabar ingin menyampaikan berita agak penting: “Tadi pagi ada seorang perempuan, namanya Nila, minta roti tawarku.”

Lalu pertanyaan dalam hati itu mengusik kembali: apakah Nila sudah tak lajang? Kegemarannya akan kopi pahit terasa agak unik. Karena seingatku dia salah seorang sekretaris, bukan desainer atau arsitek yang umumnya bekerja begadang.

ENTAH kenapa, kemudian, aku bangun di pagi berikutnya lebih lekas daripada biasa dan penuh semangat. Entah kenapa, sebelum ke kamar mandi aku menengok persiapan di meja makan. Tentu saja belum ada apa-apa. Mungkin Isah baru saja terjaga.

Ini hari Rabu, membayangkan Nila tidak mengenakan seragam seperti hari Senin dan Selasa. Mungkin hari ini dia akan mengenakan setelan baju ketat dengan celana panjang atau justru rok mini. Ah, mengapa serentak hatiku berdebar? Aku mandi melupakan air dingin, sambil menggosok tubuhku lebih teliti ketimbang kemarin.

Ketika aku memasukkan empat tangkup roti tawar dengan aneka rasa itu (satu di antaranya diisi taburan cokelat) ke dalam tempat yang terbuat dari plastik dengan ukuran lebih besar, tebersit keraguan. Bagaimana aku membawa turun dari mobil dan masuk ke dalam lift bersama karyawan lain di gedung 12 lantai itu? Bisa jadi menimbulkan pertanyaan yang agak menggoda: “Mau piknik ke mana, Seto?”

Aku harus tiba lebih awal, saat lift masih kosong. Tapi keraguan kedua muncul. Jangan-jangan, pada pukul sepuluh nanti, tidak ada rapat seperti kemarin, sehingga tentu banyak kawan-kawan lain di sekitar kami. Aku duduk berderet dengan karyawan lain. Bagaimana mungkin ’mengundang’ Nila ke mejaku? Atau aku yang mendatanginya? Itu justru semakin tidak mungkin, menenteng tempat roti ke wilayah sekretaris, yang berdekatan dengan tempat duduk direktur, bukan pada jam istirahat pula.

Tentu nanti ada akal! Aku pun pamit kepada Ibu dan mengurungkan niatku untuk menyampaikan peristiwa kemarin karena sedang mengejar waktu. Pandangan Ibu agak heran dengan bekal yang kubawa.

“Seto, kamu tidak akan ke luar kota, kan?”

“Oh, tidak. Kebetulan aku belum sarapan, sekalian untuk makan siang.”

“Apakah tidak ada kantin di kantormu? Kamu pernah cerita ada tempat makan yang selalu ramai.”

Aku mulai gelisah. “Kadang-kadang pekerjaan sangat padat, membuat aku harus tetap berada di tempat.”

Ibu tersenyum. Mungkin karena bangga terhadap cara kerjaku. Atau karena memergoki alasan yang kurang masuk akal? Atau hanya ingin terpingkal lantaran sejak kecil aku begitu menyukai roti tawar?

“Hati-hati di jalan.” Pesannya sewaktu kucium tangannya. “Apakah di kantormu tidak ada gadis cantik yang menjadi teman kerjamu?”

Aku nyaris tersengal. Apakah sebaiknya kuceritakan sekarang? Mungkin tak cukup seperempat jam. “Ada. Tapi tidak kenal dekat. Nanti malam kuceritakan pada Ibu.”

Aku segera berlalu sebelum bertambah banyak pertanyaan. Percayalah, nanti malam kuceritakan. Aku sedang mencoba mempertaruhkan hari ini. Sebagai tanda dibukanya kembali pintu hatiku.

Sepanjang perjalanan, banyak hal melintas di kepala. Ingatan yang berlompatan, mendesak untuk tampil di ruang benakku. Beberapa nama yang sempat tertanam lama meskipun telah jauh berlalu. Saling tumpang-tindih awalnya, kemudian mulai tersusun seperti sebuah peristiwa yang diputar ulang.

Kekasihku yang pertama, Putri, melompat dari balkon hotel lantai 23. Dia patah hati dengan Rangga dan aku mencoba menyembuhkan lukanya. Namun undangan bertemu bekas kekasihnya itu, di hotel berbintang lima, membuatnya pergi secara misterius tanpa sepengetahuanku. Beberapa lama sesudah peristiwa menyedihkan itu, aku mencoba menghibur ibunya yang tak pernah menghapus tulisan terakhir anaknya di cermin riasnya.

Untuk melupakan kenangan itu aku pindah bekerja, dari sebuah rumah produksi beralih menjadi pembuat program acara radio. Aku menjadi jarang jalan-jalan karena lebih banyak bekerja di studio. Temanku seorang dara yang gagal menjadi penyanyi dan kemudian menjadi penyiar. Ia menyukai segala sesuatu yang bergambar babi: mulai dari tas, dompet, gelas minum, t-shirt, saputangan, bahkan sprei dan boneka babi. Yang tak pernah kusangka, ia ternyata memelihara babi mungil yang boleh berkeliaran di dalam rumahnya. Itu kuketahui saat aku mengantarnya pulang sesudah acara siaran langsung pertunjukan festival band kampus.

“Meristin, apakah itu bukan robot babi?” kataku kaget ketika kulihat babi merah jambu menyerbu di depan pintu yang dibuka oleh ibunya, suatu tengah malam.

“Sembarangan ngomong!” tegurnya sambil tertawa. “Dia tak akan pergi tidur sebelum aku pulang.”

Aku lebih terkesima saat Meristin memeluk dan mencium moncong babi yang basah itu. Astaga! Seandainya aku menjadi kekasihnya, apakah aku harus berbagi bibir Meristin dengan babi itu? Aku mencoba menahan muntah. Padahal, aku mulai jatuh cinta dengan penyanyi gagal itu.

Selanjutnya aku mulai menjaga jarak agar tidak terlampau jatuh hati dan mungkin lambatlaun menjadi teman sejawat saja. Bahkan untuk sekadar berjabat tangan saja aku mulai berpikir, jangan-jangan sebelumnya Meristin mengelus-elus hidung babi kesayangannya. Dan ketika untuk kedua kalinya aku terpaksa mengantar Meristin pulang menjelang pagi, babi itu juga belum tidur. Sesungguhnya aku tak percaya pada pernyataan Meristin. Babi sialan itu pasti sudah tidur mendengkur sejak sore dan terbangun menyambut majikannya ketika mendengar suara gaduh di pagar halaman.

“Hei, Baby! Kasihan kamu belum tidur…” sambut Meristin.

Saat itu aku pun ingin muntah. Lekas-lekas aku pamit. Namun rupanya Meristin gadis yang sopan, sehingga ia mengantarku sampai ke pintu pagar. Aku tak melihat babi kesayangannya meluncur dari gendongannya persis ketika aku menjalankan mobil dengan gas penuh. Bunyi ’nguik!’ dan mobil yang berguncang oleh tubuh babi yang mungkin terlindas ban membuatku menginjak rem mendadak. Maka gemparlah pagi buta itu dengan tangis Meristin dan orangtuanya yang marah-marah. Ketika dua orang satpam melangkah dari gardu di ujung jalan, aku punya pikiran kerdil untuk segera melarikan diri. Itulah yang kulakukan. Aku akan bertanggung jawab, misalnya dengan membeli babi sebagai penggantinya, tetapi tak ingin babakbelur seandainya dua orang satpam yang kurang tidur itu lepas kendali.

Selamat tinggal Meristin! Aku pun pindah kerja lagi dan kini diterima pada bagian distribusi unit di perusahaan otomotif. Tahun-tahun berjalan dengan berusaha melupakan Putri dan Meristin. Pada suatu acara pertemuan dealer mobil seluruh Indonesia, aku bertemu dengan seorang gadis wiraniaga yang selalu meninggalkan wangi jasmin setiap kali melintas di depanku. Tiga hari tiga malam di Lido Resort membuat kami dekat satu sama lain. Namun pada malam terakhir aku kecewa karena kupergoki dia menghuni kamar yang salah bersama seorang laki-laki. Aku lebih mudah melupakannya karena ia segera kembali ke kotanya di luar Jawa, namun tak mudah melupakan aroma parfumnya. Aku mencoba mengenali jenis dan mereknya.

Kemarin Nila memiliki aroma yang sama! Light Blue!

Kini aku melambatkan mobil, memasuki halaman parkir gedung kantor. Hatiku mulai berdebar. Aku merencanakan sesuatu pada jam sepuluh nanti. Akankah Nila kali ini curiga dengan bekalku yang bertambah banyak? Aku gembira mendapatkan kantor masih lengang. Dan segera meletakkan bekalku di bawah meja kerja. Tentu belum ada yang datang kecuali office boy yang sedang merapikan ruangan.

Ketika jam kerja dimulai, perhatianku mulai terpecah pada hal-hal yang kurencanakan. Aku tidak jadi sarapan, agar jam sepuluh nanti perutku cukup lapar. Dari jauh aku melihat Nila mengenakan blouse warna ungu muda ditutup blazer dan pada lehernya tersimpul scarf. Warna yang mengganggu perasaan. Warna yang dikenakan gadis wiraniaga dari luar Jawa itu pada hari penghabisan rapat nasional. Ternyata aku masih kecewa. Tapi, pasti tak ada hubungan antara Nila dengan peristiwa itu.

Mengapa jam terasa begitu lambat? Dan rupanya aku menjadi tidak produktif. Entah kenapa, saat Nila berjalan dari ujung ruang menuju dispenser, aku seperti telah mengenal ketukan langkahnya. Seperti sebuah gerakan perlambatan, sengaja kuambil bekal dan kuletakkan di atas meja. Pagi ini tidak ada rapat, semua karyawan sedang sibuk di meja masing-masing. Sementara yang kutunggu dengan perasaan berdebar tak kunjung tiba. Nila tidak menoleh sama sekali ke arahku. Saat itu teman sebelah-menyebelahku memergoki sejumlah roti tawar dari tempat transparan dengan mata bersinar.

“Seto, bagi rotinya ya!” Entah siapa yang memiliki gagasan itu, sekitar empat orang mendekat. Adi, Yong, Yudi, dan Ibnu berkerumun. Mau tak mau aku membuka kotak bekalku. Mataku mencoba mencari Nila, tapi perempuan itu sudah kembali ke mejanya. Bahkan agaknya tak mendengar kata ’roti’ yang diucapkan teman sebelahku. Sayup aroma kopi yang diseduhnya terbang ke hidungku…

Rencana pukul sepuluhku berlalu menyedihkan. Di kotak bekal tinggal setangkup roti berisi selai nenas yang tidak kusukai. Tapi tak mungkin juga kutawarkan kepada Nila, seolah menyodorkan penganan sisa. Aku tak perlu mendengar ucapan terima kasih kawan-kawan yang juga memuji lezat dan lembutnya roti tawarku. Mereka tak pernah tahu, bahwa roti tawar itu untuk Nila!

Sisa hari yang panjang tak memberi semangat, tapi mungkin aku masih punya kesempatan mengajaknya makan siang bersama. Maka menjelang pukul dua belas aku sengaja menunggu di depan elevator, pura-pura hendak turun makan. Nanti, ketika Nila muncul dari ruangan untuk istirahat makan siang, bisa turun bersama-sama.

Saat pintu lift terbuka, seorang tamu laki-laki keluar dari kabin menuju resepsionis. Sementara itu beberapa orang keluar ruangan, sebagian dengan kotak rokok di tangan, siap turun makan siang. Lantai tujuh ini memang paling banyak memiliki karyawan. Lobi segera meriah oleh suara mereka yang antri di depan lift. Tak lama kemudian, Nila muncul dari ruangan dengan wajah sumringah. Aku menanti berdebar, siap berebut tempat jika Nila masuk ke dalam lift. Namun yang terjadi, Nila berjalan lurus menuju seorang laki-laki yang berdiri di depan meja resepsionis.

“Hai, tepat waktu kamu!” ujar Nila pada laki-laki itu. Lalu mengucapkan terima kasih pada Sofie, resepsionis yang memanggilnya melalui telepon internal. Perasaanku ciut. Kekasih atau suaminya?

Kami bersama-sama menunggu lift yang selalu penuh di kala jam makan siang. Aku tersenyum kepada Nila. Ia membalas senyumku, tapi seperti lupa kejadian kemarin. Aku tentu tak bermaksud mengingatkan, apalagi di depan laki-laki lain. Entah kenapa, aku bersyukur Nila tak memperkenalkan temannya itu. Dan entah kenapa, sewaktu pintu elevator terbuka, aku tak ikut masuk ke dalamnya. Aku memilih lewat tangga darurat.

Dalam perjalanan pulang ada yang kurasakan hilang. Tapi seperti biasa aku tetap singgah di toko roti langganan. Lama aku berdiri, sampai seorang pramuniaga mengambilkan roti tawar kegemaranku. “Oh ya, terima kasih. Tapi satu saja.”

Ketika tiba di rumah, Ibu sudah menunggu di meja makan dengan wajah yang tampak segar. Aku tersenyum dan mengatakan hendak mandi dulu. Isah menyambut roti tawar yang kubawa seraya bertanya: “Besok pagi mau bawa berapa tangkup?”

“Seperti biasa satu saja. Isi selai kacang.”

Aku pun mandi dengan perasaan ngungun. Ibu masih di meja makan begitu aku selesai mengenakan baju rumah.

“Ibu buatkan kopi, agar letihmu hilang.”

“Wah, terima kasih.” Aku pun duduk di depannya.

“Kamu janji mau ceritakan sesuatu, bukan?”

Kini aku gelisah. Kemudian mencoba mencari cangkir baru. “Kopinya dibagi dua saja.” Aromanya begitu wangi menyergap hidung. Mengingatkan harum kopi Nila kemarin pagi.

Dengan cara yang sungguh mumpuni, Ibu menuang kopi dari satu cangkir ke cangkir lainnya tanpa tumpah setetes pun. Hebat! Mungkin sebelumnya sudah biasa melakukannya. Terhadap Ayah, semasa masih hidup. Eh, bukankah Ayah sudah lama tiada? Tentu sudah lama pula Ibu tak membagi secangkir kopi menjadi dua.

“Bagaimana tentang perempuan kawan kerjamu?” tanya Ibu.

“Boleh aku minum kopi dulu?” aku mengulur waktu. Aku pun menyeruput, dan… ah! Aku menahan lidahku dalam geletar.

“Pahitkah?” tanya Ibu. Pertanyaan yang tak perlu kujawab. Atau justru harus kubenarkan? “Ayah tak pernah minum kopi manis. Itu yang membuat ayahmu kuat, tabah, dan tak mudah putus asa untuk mencapai keinginannya.”

Mungkinkah Ibu menyindirku? Kini aku harus lebih dulu mengajukan pertanyaan. “Sebenarnya sejak kapan aku gemar roti tawar?’

Ibu nyaris tertawa mendengar pertanyaanku. Mungkin kedengaran aneh. Tapi aku serius ingin tahu. Kadang-kadang terpikir, apa enaknya roti tawar? Kata ’tawar’ boleh jadi membuat perasaanku selalu tawar. Kata ’tawar’ menyebabkan segala yang kulakukan berada dalam keragu-raguan: selalu dalam keadaan tawar-menawar. Sedangkan kopi pahit, sebagaimana kata Ibu, membentuk seseorang menjadi kuat, tabah, dan tidak putus asa. Nila menyukai kopi pahit seperti Ayah!

“Pasti Ibu ingat, kapan aku mulai menyukai roti tawar?”

Kini Ibu benar-benar tertawa.

Jakarta, 15 Agustus 2004

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme