Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Gerimis Logam oleh Indra Tranggono

Posted on Ming, 27 Mar 2005

Gerimis yang turun seperti jarum-jarum logam pada senja itu gagal mengirimkan harum tanah dan hawa sejuk ke ruang sebuah paviliun di pinggang bukit itu. Jaket dan sweater memang tetap melekat di badan, tapi panas di kepala sangat sukar ditahan. Entah sudah berapa kali gelas-gelas dituang kopi panas. Entah sudah berapa puluh puntung rokok menggunung dalam asbak. Ruang itu tetap saja dibungkus asap. Ribuan kata pun meluncur dari belasan mulut. Kata-kata itu menjelma ular kalimat yang saling mendesak, saling menindih, saling menghantam, dan saling memagut.

Saudara tahu, belasan warga desa kami mati gara-gara sumur dan sawahnya tercemar limbah pabrik saudara! Apa pun alasannya, pabrik jeans itu harus ditutup jika saudara tidak becus mengelola limbahnya. Jangan paksa kami meminum air wenternya!!” Jajak menggebrak meja.

Laki-laki botak dan tambun yang disebut “saudara” itu kaget. Urat-urat di wajahnya seperti mungkret. Tangannya cepat-cepat meraih gelas dan meminumnya.

“Pakai sopan santun, Bung!” hardik lelaki bertubuh gempal yang duduk di sebelah laki-laki botak. “Bos kami tidak seburuk yang bung sangka!”

Hardikan itu tidak menyurutkan amarah Jajak. “Apa yang masih tersisa dari manusia berhati batu macam bos kamu! Apa?!”

“Sekali lagi saya ingatkan. Bung jangan merasa diri sendiri paling benar. Soal produksi jeans, bos kami sudah mengantongi izin,” gertak si Gempal.

“Tapi soal limbah?”

“Itu sudah include, Bung… include…!”

Orang-orang yang duduk di samping dan belakang Jajak saling memandang. Si Gempal memainkan asap rokoknya menjadi bulatan-bulatan seperti donat. Donat-donat asap itu menari-menari di depan wajah Jajak.

“Kami tak peduli itu sudah include atau kentut! Pokoknya, pabrik itu harus ditutup.”

“Jangan anarki, Bung! Di belakang kami, ribuan mulut buruh menganga!”

“Jangan mengatasnamakan nasib pekerja yang sesungguhnya kalian peras!”

“Mustahil kami menutup pabrik kami!” Si Gempal meraih bir, langsung menenggaknya.

“Kami akan mengerahkan demonstrasi yang lebih besar lagi!” Jajak berdiri, diikuti yang lain, lalu ramai-ramai meninggalkan ruangan itu. Lelaki botak dan Si Kekar tersenyum. Sinis.

Di luar gerimis putih masih menaburkan jarum-jarum logam. Di dalam rongga masih terasa pukulan berdentam-dentam.

Mobil ambulan menyimak tirai hujan, menyibak kerumunan orang-orang desa. Sirene meraung-raung mempertajam garis-garis kepanikan yang tergurat di wajah warga desa. Dari dalam mobil, Jajak dibantu tiga laki-laki mengusung tubuh membeku, membiru. Belum sampai di halaman rumah, mayat laki-laki itu langsung dipeluk seorang perempuan paruh baya dan tiga perempuan muda. Kata-kata mereka tenggelam dalam raung tangis. Jajak beringsut dari kerumunan orang itu ketika posisinya digantikan seorang laki-laki. Ia membatalkan niatnya untuk menenangkan perempuan paruh baya itu. Membiarkan bendungan kesedihan jebol, jauh lebih baik daripada mengumbar kata-kata yang tidak perlu, pikirnya. Ia berjalan menuju pojok rumah dan duduk di deretan kursi pelayat.

“Siapa yang akan menyusul Kang Marno. Cepat atau lambat limbah pabrik itu kan menggulung riwayat kita. Kita telah dibunuh surat keputusan yang dikeluarkan pemerintah… ” ujar seorang laki-laki yang mendekati Jajak.

Jajak hanya memandang laki-laki itu. Lalu tersenyum kecil. Pahit. Ia mencoba mengusir kepahitan itu dengan asap tembakau yang diisapnya kuat-kuat lalu diembuskannya. Ia merasakan impitan di dadanya sedikit melonggar. Namun, ketika ia mengedarkan pandangan, menyapu ruang sekitar hingga menanap jauh, dadanya mendadak kembali sesak. Pabrik jeans itu masih mengepulkan asap, masih membanjiri sungai dengan limbah wenter biru-menghitam. Aliran sungai keruh itu terasa berbalik menuju ke nadinya. Arusnya terasa sangat kuat, hingga wenter biru-hitam itu memenuhi seluruh rongga dalam tubuhnya. Sesak dadanya makin menghebat. Jantungnya terasa penuh air limbah. Juga rongga kepalanya, hingga ia merasakan otaknya terapung-apung di atas genangan limbah biru-hitam.

“Dokter hanya bilang, kamu kecapekan. Besok kamu boleh pulang,” ujar Mutia, istri Jajak sambil merapatkan selimut Jajak.

Jajak tak merasakan lagi panas tubuhnya. Kepalanya yang semula dirasakan berat kini terasa ringan. Lambungnya juga tidak merasa mual. Selang infus juga telah dilepas dari tangannya.

“Setelah Kang Marno, siapa lagi yang dibunuh air wenter itu?” ujar Jajak lirih.

Mutia terdiam, namun perasaannya bergolak. Ia merasa tidak perlu mencukil serpihan ingatan dari kepalanya. Ia tidak ingin suaminya kembali terguncang. Ia mencoba menekan seluruh perasaannya untuk bercerita bahwa sesudah kematian Kang Marno, korban yang jatuh jauh lebih banyak. Wajah-wajah korban itu kini terbayang di matanya: Khalil, Anwar, Idrus, Afandi, Yati, Marjuki, Hanif, Nirmala, Rodat, Seruni, dan entah siapa lagi. Wajah-wajah itu membiru, tapi di balik bola mata mereka tampak kobaran api. Mereka muncul silih berganti di layar ingatan Mutia. Mereka seperti mengucapkan kata-kata dengan tangan terkepal.

“Aku mendengar jeritan mereka…,” ujar Jajak tiba-tiba.

Mutia terenyak. Bagaimana mungkin suaminya membaca pikirannya? “Kamu mendengarnya? Kamu melihatnya?”

Jajak tersenyum. Pahit. Matanya memandang langit-langit kamar rumah sakit. “Aku melihat mereka di sana. Ya, mereka berjalan di balik gumpalan awan hitam sambil memegang perut mereka yang meletus. Darah mereka biru-menghitam…. Dan, tangan itu, ya tangan itu gemetar memegang usus mereka yang terburai….”

Mutia terguncang. Galau. Ia langsung meraba kening suami. Tapi ia tak merasakan kening itu panas.

“Aku sehat Mutia… Sehat….”

“Sebaiknya besok kamu tidak jadi pulang….” Mutia menghapus matanya yang basah.

“Kenapa, Mutia… Kenapa?”

“Kamu belum sehat….”

“Kamu khawatir aku gila?” Jajak tersenyum. Jari-jarinya meremas jari-jari Mutia. Air mata mengalir di parit-parit pipi Mutia.

Parit-parit itu terus mengalirkan wenter biru hitam ke sungai. Bangkai-bangkai ikan mengambang di genangan sungai yang dikencingi pabrik itu. Gemericik air hitam itu menjadi orkes sunyi bagi iring-iringan pelayat yang menuju makam di ujung desa. Kaki-kaki mereka menghajar daun-daun kering yang berguguran di kompleks makam itu. Sebelum mayat dimasukkan ke liang lahat, tampak seorang laki-laki paruh baya berpidato. Gayanya khas pejabat Orde Baru.

“Selaku daripada lurah, saya harapken daripada sodara-sodara sekalian jangan salah paham. Meninggalnya daripada Bapak Engkos ini bukan karena daripada limbah pabrik itu. Bukan. Tapi, karena e..e… daripada penyakit perut… Ya…ya disentri….”

Orang-orang menatap lurah itu dengan mata nanar.

“Perlu daripada sodara-sodara ketahui, soal limbah pabrik itu sudah kami bicaraken guna mencari daripada penyelesaiannya. Kami mengharapken daripada sodara-sodara sedikit sabar. Semoga, dalam lima anem hari nanti sudah ada kabar….”

Pak Lurah berpidato makin bergairah. Kata-katanya berbuncah-buncah. Tapi orang-orang tetap saja resah. Satu per satu para pelayat meninggalkan kerumunan. Beberapa orang tanpa dikomando memasukkan jenazah itu ke liang lahat. Pak Modin segera melantunkan doa-doa panjang. Pacul-pacul menghajar tanah merah, menimbun liang lahat.

Iring-iringan pelayat bergerak menuju pabrik. Mereka menyatu dengan kaum perempuan yang memancangkan amarah di ujung galah. Mereka berjalan berderap-derap. Merangsek ke gerbang pabrik. Serombongan satpam mencoba menghadang mereka. Terjadi dorong-mendorong. Rombongan satpam itu terpental. Para pengunjuk rasa terus merangsek ke depan. Pintu gerbang itu menjadi sasaran pukulan massa. Galah, kayu, lonjoran besi menghajar pintu logam itu. Berdentang-dentang. Menghajar gendang telinga.

Kerumunan pengunjuk rasa itu tersibak, memberi jalan puluhan orang yang menghantamkan gelondongan kayu ke pintu gerbang. Seperti dam jebol, pintu gerbang itu sia-sia menahan arus massa yang deras bergelombang. Satuan polisi mencoba menghadang dengan tembakan ke udara. Tapi nyali para pengunjuk rasa itu tidak seinci pun surut. Mereka terus bergerak. Terus merangsek. Para polisi menghalau mereka dengan pentungan. Kepala-kepala para pengunjuk rasa bocor. Ada yang terkapar. Ada yang terinjak. Massa makin kalap. Mereka balik menyerang polisi. Beberapa polisi berlumuran darah. Beberapa orang pengunjuk rasa roboh terkena timah panas.

Gerimis menghamburkan jarum logam. Menikami bumi. Menikam kicau burung-burung. Menikam cuaca yang murung.

Jajak membuka matanya. Ia merasa asing di ruangan itu. Asing juga menjumpai beberapa laki-laki yang duduk mengepung dirinya. Hanya ada satu yang ia kenal. Laki-laki berbadan gempal, yang seingatnya pernah ia jumpai dalam pertemuan antara warga dan pemilik pabrik jeans beberapa bulan yang lalu.

“Sorry… kedatangan kami mengejutkan Bung.” Suara si Gempal dengan tawa berderai. Membahana.

Jajak terdiam. Menganggap semua itu tak lebih dari lelucon basi.

“Untuk apa kalian harus menculik saya? Untuk apa kalian meneror istri saya, keluarga saya?” Jajak meradang.

“Ahhh… itu kan tak lebih dari kejutan manis. Siapa tahu, Bung jadi terkesan. Semua itu kan hanya bumbu agar kisah perjuangan Bung terasa lebih sedap dikenang….” ujar si Gempal masih dengan tawa yang berderai.

Jajak menggebrak meja. Hingga tawa itu terhenti mendadak.

“Aku sangat bangga. Bung ini sangat heroik. Tapi sudahlah… Tak ada gunanya… Kisah-kisah kepahlawanan itu sudah lama mengabu dalam asbak,” si Gempal mendekati Jajak sambil menawarkan rokok. Jajak menolak.

“Siapa Anda? Dan Anda tak punya hak bicara seperti itu. Posisi kita berbeda!”

“Dulu aku juga seperti kamu, Bung. Bahkan lebih heroik! Kakiku yang pincang ini telah kuserahkan untuk perjuangan. Kepalaku yang jadi langganan vertigo ini entah sudah berapa kali disengat listrik dalam interogasi yang menyakitkan. Tapi yang aku dapatkan? Apa? Hanya penderitaan. Hanya kemiskinan. Dan rakyat yang aku bela itu? Puah….”

“Kalau Anda capek miskin, jangan ajak orang lain jadi seperti Anda! Sia-sia Anda meracuni saya!”

“Aku bukan sejenis pengecut yang menyimpan kejahatan untuk melumpuhkan musuhnya. Apalagi, aku tak pernah menganggap Bung ini musuh. Tak pernah itu!”

Jajak mencoba menerka-nerka ke mana arah pembicaraan si Gempal itu.

“Aku hanya mengajak Bung untuk berpikir realistis!”

“Realistis atau kompromis?” sergah Jajak.

“Terserah kau lah… Tapi begini Bung. Sekarang suasana sudah berubah. Konstelasi sudah berubah. Apa yang dulu kita anggap musuh, sekarang sudah tidak jelas. Jadi lucu kan, kalau kita masih berpikir hitam-putih… Bung lihat sendiri. Banyak orang yang dulu jadi legenda kini telah mencair jadi orang biasa. Kepala mereka yang semula berisi kalimat-kalimat gagah kini berganti kartu kredit. Bung lihat sendiri, berapa puluh pejuang kini hanya jadi kelangenan kekuasaan dan uang….”

Jajak memandang ke arah jendela. Gerimis masih menaburkan jarum-jarum logam.

“Aku hanya minta satu hal dari Bung. Hentikan demonstrasi itu sebelum makin banyak korban jatuh… Okay?”

Jajak membuang muka. Kembali menatap gerimis jarum logam yang memahat kaca jendela.

Si Gempal mendekati laki-laki botak. Mereka bicara dengan bahasa isyarat. Si Botak mengeluarkan selembar kertas.

“Ini untuk Bung. Terserah Anda mau mengisi berapa. Mau enam digit, delapan digit, sepuluh digit, dua belas, lima belas, dua puluh digit… Terserah. Yang penting tidak ada lagi demonstrasi. Capek Bung… Capek….”

“Anda pikir kepalaku ini hanya berisi lumpur? Maaf, aku masih bisa hidup dengan jalan yang tidak menjijikkan ini,” Jajak membuang cek.

“Bung pikir ini semacam prostitusi? Bukan Bung. Bukan. Ini deal profesional. Ini biasa dalam perjuangan.”

“Atau Bung menghendaki tawaran lain. Pom bensin? Mall? Atau jadi staf ahli perusahaan? Bisa… bisa… kalau cara itu lebih elegan. Nanti setelah kaya, Bung tinggal bikin memoar perjuangan. Sedikit didramatisasi, tak masalah. Yang penting, legenda Bung ini tetap terawat. Simpel kan?!”

Jajak merasakan dadanya sesak. Jatungnya terasa diremas-remas. Wajahnya terasa diguyur bergalon-galon ludah. Ia meronta. Menjerit sekeras-kerasnya. Ia mengamuk. Menerjang orang- orang itu. Si Gempal menyarangkan pukulan tepat ke ulu hatinya. Jajak jatuh berderak. Roboh. Yang lain menendang kepalanya. Yang lain menghajar kakinya dengan lonjoran besi. Yang lain menginjak-injak dadanya, menendang-nendang kepalanya. Darah muncrat dari mulutnya.

Gerimis jarum logam masih menikami bumi dan menjelma tirai raksasa yang ditembus iring-iringan pelayat. Mereka menyemut menuju makam.

Dengan kruk, Jajak berjalan terseok- seok di atas jalanan yang becek. Sampai di makam, Jajak duduk menerawang pohon randu alas sambil menatap daun-daun berguguran. Di langit ia menatap puluhan orang dengan perut meletus berjalan di antara gumpalan awan hitam. Tangan mereka gemetar memegang usus mereka yang terburai. Wajah-wajah mereka yang semula membiru kini berubah merah terbakar. Mata mereka nanar memandang pabrik jeans yang terus mengencingi sungai dengan limbah hitam.

Jogjakarta, Februari 2004

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme