Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Suamiku Jatuh Cinta pada Jam Dinding oleh Arswendo Atmowiloto

Posted on Ming, 10 Apr 2005

Sebenarnya ini bukan sesuatu yang luar biasa bagiku, karena aku tahu kebiasaan suamiku yang tidak biasa. Sebagai suami, sebenarnya ia tak beda banyak dengan lelaki lain, atau suami lain yang pernah kudengar. Dan menurut penilaianku ia termasuk suami yang baik: suami yang mencintai, bertanggung jawab, dan kadang tidak setia. Ia mencintaiku dan itu kurasakan. Ia bertanggung jawab sebagaimana suami dalam tata nilai tradisi: bertanggung jawab atas semua kebutuhan dengan sukarela. Kalau ia mengaku tidak setia, karena memiliki ukuran berbeda.

Katanya: “Bahwa sebenarnya kesetiaan itu bukan diukur apakah seseorang berkhianat atau tidak, melainkan apakah ia kembali lagi atau tidak.” Kata-kata itu mungkin menghibur, tapi tak mengubah bahwa hati seorang istri hancur karenanya. Siapa yang tidak meledak kalau mendengar penjelasan berikutnya.

“Sebagaimana kematian adalah bagian dari kehidupan, demikian juga patah hati atau sakit hati adalah bagian yang sama dengan jatuh cinta. Kalau kamu pernah mengalami sakit hati, cintamu akan menjadi sempurna.”

Mungkin akan sempurna kalau aku patah hati dengan lelaki lain, misalnya. Bukan dengan suami sendiri. “Sebetulnya sama saja. Hanya saja sebutan suamiku, menunjukkan kepemilikanmu, jadinya terasa lebih menyakitkan.”

Saat itu merupakan masa-masa yang berat bagiku. Sama beratnya ketika nafsu seksualnya begitu menggebu dan aku makin menggerutu. Sampai pada titik jenuh, sehingga sakit walau hanya disentuh. “Dalam pikiran lelaki, hubungan seks adalah bentuk cinta. Makin perkasa dia, membuktikan ia makin mencintai.” Jelas itu omong kosong. “Akan ada waktunya nanti ketika daya seksual melemah atau habis, cinta memisahkan diri dengan nafsu seksual. Ketika itu cinta tak perlu dibuktikan dengan hubungan seksual. Nafsu seks bisa mati dan berhenti, tapi cinta bisa terus jalan sendiri.” Artinya kalau setelah daya seks melemah, tapi masih bisa betah bersama-sama, itu artinya masih cinta. “Saat seperti akan datang dengan sendirinya, tak perlu dipaksa, sebagaimana usia. Tanpa kecuali semua bertambah tua, juga dunia.”

Dan kini, ia jatuh cinta kepada jam dinding. Aku bisa merasakan, karena aku sangat mengenalnya sekian lama, dan juga karena ia tak menutup-nutupinya.

“Bagaimana kamu bisa jatuh cinta kepada jam dinding itu?”

“Seperti yang selama ini terjadi,” katanya menjelaskan. “Aku melihat jam dinding itu, tertarik, dan terjadi dramatisasi dalam seluruh kesadaranku. Karena kita membelinya bersama-sama, kamu ingat hari-hari yang kita lalui bersama jam dinding. Itu yang menjadi berharga.”

Jam dinding itu memang dibeli pertama kali kami pindah ke Jakarta. Di sebuah rumah kontrakan yang hanya satu kamar-dan satu pintu untuk keluar masuk, kamar tidur hanya ditutup tirai, sehingga jam dinding itu kelihatan terlalu besar. Sebenarnya sebutan jam dinding itu tak sepenuhnya tepat. Karena kamar kontrakan yang kami tempati tidak memiliki dinding. Hanya ada papan yang ditempeli kertas semen berlapis, lalu dicat. Jam itu bisa jatuh setiap saat. Bentuknya agak bujur sangkar dengan angka yang jelas, mulai dari 1 sampai angka 12. Ini kesepakatan bersama sebelum membeli, karena kalau tidak memakai angka, atau angka Romawi, kami sering salah lihat. Agak modern, karena di bagian bawah ada lubang yang menunjukkan tanggal serta nama hari-walau dalam bahasa Inggris. Ada tombol manual untuk menyesuaikan hari di sebelah kanan atau bawah, juga untuk membetulkan tanggal, entah sebelah kanan atau bawah. Yang akan berubah sendiri dan mengeluarkan suara jeglek keras tengah malam saat berganti. Warna dasarnya coklat, ada kontur putih. Ini model yang agak mewah, walau harganya paling murah dibandingkan dengan yang ada di toko waktu itu. Dengan satu baterai tanggung, jam itu bisa menunjukkan waktu untuk jangka lumayan lama, sebelum akhirnya batu baterainya harus diganti. Di rumah kontrakan yang sempit, satu-satunya tempat ya di ruang tamu, merangkap ruang keluarga, ruang bermain. Kalau tidak salah-mestinya tidak, jam dinding itu dibeli bersamaan dengan pembelian kursi yang memakai roda di bawahnya, yang ditawarkan dengan nama kursi direktur. Praktis roda itu tak bisa bergerak ke mana-mana karena ruangan sempit. Ketika akhirnya kami bisa pindah ke rumah yang bisa dicicil selama 20 tahun, kursi direktur dan jam dinding ikut pindah. Hanya karena rodanya sering macet-atau sebenarnya takut terlindas roda ketika anak-anak mulai merangkak-kursi itu diistirahatkan. Aku lupa bagaimana nasibnya: jelas tak mungkin dijual ke tukang loak. Walau tak ada sisanya, juga dalam ingatan. Sedangkan jam dinding itu, kini menempati posisi utama di ruang keluarga. Sampai kemudian kami pindah lagi ke rumah yang lebih besar, dengan garasi lebih lebar, dengan ruang keluarga yang menganga, jam dinding itu tetap menguasai. Ditempel di atas pintu yang menghubungkan ruang keluarga dengan ruang lain yang sering dilewati. Sehingga semua orang bisa melihati. Ini menjadi masalah karena kemudian jam dinding itu berubah semaunya. Perubahan tanggal dan hari tidak terjadi tengah malam, melainkan suka-suka jam dinding itu sendiri. Bisa pagi, tahu-tahu ada suara jeglek. Sering kali lebih dari 24 jam. Beberapa kali diganti batu baterai, jadi baik lagi. Tapi yang terakhir ini, biarpun diganti batu baterai, kadang ngadat. Artinya putarannya betul-betul sesukanya. Karena mengganggu-terutama mengganggu mereka yang baru melihatnya, tempatnya berpindah ke kamar tidur.

Di kamar tidur pun kelakuan jam dinding itu sama. Baginya sehari bukan 24 jam. Mungkin 20 jam, atau lama-lama malah berhenti di pukul lima kurang lima. Sebulan lebih begitu terus. Tahu-tahu berubah sendiri. Terbersit suamiku yang menyesuaikan untuk suatu ketika, tapi terhapus dengan sendirinya karena itu tak mungkin dilakukan suamiku yang pemalas. Sedemikian malasnya ia, sehingga ketika makan dan sendoknya jatuh, ia melanjutkan dengan tangan telanjang.

“Jam itu tak ada gunanya,” kataku.

“Salah, Di kamar tidur ini kita tak membutuhkan waktu. Menunjuk ke angka berapa pun, apa bedanya.”

Mengganti dengan batu baterai yang baru pun tak ada gunanya. Membawa ke tukang reparasi jam tak ada gunanya. Ongkosnya akan mahal. Sementara jam yang sama dan sejenis atau bahkan lebih bagus cukup banyak. Ada masanya banyak perusahaan berpromosi dengan jam dinding. Bahkan juga nama yayasan yang meminta bantuan. Jumlahnya banyak sekali. Artinya jam dinding itu sudah tidak mempunyai fungsi. Selain sebagai hiasan, di mana sebagian kenangan masih bisa diingat-ingat darinya.

“Kenangan tak akan pernah bisa dikalahkan oleh waktu. Justru kenangan menang dengan waktu. Makin lama berlalu, kenangan makin bermutu. Ingat itu.”

Menjadi indah, walau bikin gundah, adalah contoh yang diberikan kemudian: “Itu sebabnya seorang lelaki yang mempunyai istri lebih satu, selalu yang memberi kenangan lama yang akan menang. Betapa pun lebih hebatnya istri kedua atau ketiga, dalam soal kenangan, selalu lebih banyak istri pertama. Bahkan untuk merasakan lebih baik pun perbandingannya dengan kenangan sebelumnya.”

“Berarti aku selalu nomor satu.”

“Setelah ibuku.”

Sebagaimana lelaki pada umumnya juga, suamiku juga pecinta ibu. Yang tidak malu-malu mengakui, tidak malu dikeloni meskipun saat itu sudah punya istri aku. Sedemikian dekatnya suamiku kepada ibunya, sehingga waktu ibunya meninggal aku sangat ketakutan.

“Sekarang yang kamu hormati, dan kau takuti sudah meninggal. Kamu pasti berani kawin lagi.”

“Mungkin.”

“Mungkin?”

“Mungkin, karena semua lelaki mempunyai bakat untuk itu. Tapi secara praktis tak akan menyenangkan. Di dunia, satu-satunya tata krama yang aneh dan disepakati di seluruh dunia adalah tata krama dalam lembaga perkawinan.

Bayangkan, seseorang naik becak atau bis kota, ia naik dulu baru bayar kemudian, mungkin di tengah jalan, mungkin di tujuan. Seseorang yang naik kereta api atau naik pesawat terbang membayar di depan, tapi untuk satu atau dua perjalanan. Dalam perkawinan pembayaran dan ikatan berlangsung selamanya. Kontrak ikatan yang paling dungu, tapi dianggap aman bagi lelaki dan perempuan.”

“Berarti kamu menyesali perkawinan?”

“Satu-satunya yang kusesali dalam hidup ini adalah karena aku tak bisa menyesali apa yang terjadi. Aku bahkan tak mampu menyesali kenapa aku tak dilahirkan di Irian atau Nepal di puncak gunung saja. Atau di tempat yang paling aku sukai, tempat yang ada sungainya, lalu aku bisa bermain sepuasnya, memandangi terus.

Menyesal hasil dari pikiran, dari nalar.

Dan nalar bahkan tak bisa menjelaskan hal yang paling sederhana dan terjadi pada semua orang: “cinta”.

Di kamar tidur jam dinding itu sebenarnya tak terlalu mengganggu, karena letaknya di kepala, agak ke atas. Sehingga ketika berangkat tidur, atau bangun, juga selama berbaring tak perlu melihat ke arahnya. Tapi memang , saat keluar dan masuk kamar, masih saja melihatnya. Dan selalu menemukan jarum jam tidak menunjukkan waktu yang disepakati.

Sehingga aku berniat memindahkan.

“Bahkan ketika kamu memindahkan, ia tetap ada. Kamu bisa merasakan keberadaannya saat tiada.”

Ada benarnya juga, karena ketika kupindahkan ke dapur, aku masih menengok ke tengah jam dinding lama dipasang. Bahkan ketika di tempat itu dipasang jam dinding baru, yang terbayang adalah jam dinding lama.

“Lelaki mengenal cinta pertama melalui ibu, demikian juga bayi perempuan. Sampai kemudian merasa perlu kepada pacar atau kekasih, sampai dengan kepada istri. Semua terjadi dengan rasa aman, karena ia tak mungkin menerima cemburu dari ibunya. Atau cemburu yang aman-yang membiarkan kita mencintai orang lain. Seorang istri, juga seorang suami tak bisa benar-benar begitu.

Baru kemudian cinta aman berlanjut ketika mencintai binatang kesayangan, ketika mencintai tumbuhan, ketika kemudian mencintai barang.

Kamu mungkin berpikir cinta semakin menurun kadarnya, dari seorang ibu ke istri, ke binatang, dan ke barang. Mungkin itu ke kedewasaan, karena kemudian bisa saja jatuh cinta ke suatu yang tak ada.”

Aku tak begitu yakin apa yang dikatakan, tapi bisa merasakan. Cinta yang harus terbagi padaku ketika ia menceritakan kemesraan ibunya, jauh berbeda dengan pacarnya, kemudian dengan binatang atau jam dinding.

“Benarkah semata-mata karena rasa aman yang membedakan cinta?”

“Bisa begitu, bisa rasa-rasa yang lain. Sesungguhnya cinta hanya ada dalam pembesaran di pikiran, di perasaan. Cinta tak akan selesai dirumuskan dengan pemikiran.”

Cinta aman bisa terus ke cucu, ke menantu, ke tanah, ke yang sudah tidak ada. Atau bahkan ke yang tak pernah ada. Atau ada, walau tak berguna.

“Seseorang hanya memiliki satu cinta. Seperti air sungai, bisa mengalir ke mana-mana, membelok ke selatan atau ke utara, tapi sebenarnya satu arus saja.”

Tiba-tiba aku sadar dan menjadi sangat jengkel. Dengan kalimatnya itu berarti perkawinan tak banyak maknanya, toh tak menghalangi cinta mengalir ke jurusan mana saja. Aku lebih jengkel karena jam dinding itu ketika dipasang di dapur bisa bergerak lagi. Memang tidak tepat untuk waktu-entah kenapa selalu lebih maju.

“Istriku, ketika kita memutuskan untuk membeli jam dinding itu, itulah keberanian, itulah anugerah yang sama ketika memutuskan menjadi suami-istri dalam suatu pernikahan. Keberanian, karena banyak cinta diutarakan tanpa keberanian menikahi resmi. Anugerah, karena itu hadiah besar. Semua itulah harga yang kita bayar untuk selamanya memiliki, merawat, memanjakan dan dimanjakan. Kita tak akan merasa aman, merasa memiliki, hanya dengan melihat di pajangan toko, atau dipasang di sini karena dipinjamkan. Bahkan ketika kita membelinya dengan mencicil, sejak awal kita merasa memiliki secara resmi ketika memandangi.

Pada jam dinding lain kita bisa mengagumi, tapi kita tak mudah jatuh cinta karena kita tak memiliki kenangan yang menjadi berharga dengan berlalunya waktu yang kita lewati bersama.”

Jam dinding bermerek Citizen itu masih bergerak-gerak-kini aku tahu jarum yang menunjukkan detik memang bergerak lebih cepat dari jam dinding lain. “Kita tahu bahwa merek itu hanya ditempel oleh penjualnya. Bisa merek yang sama ditempelkan pada jam dinding lain, atau jam dinding itu menjadi merek lain. Itu biasa dalam jual beli jam di toko. Seperti juga namamu, namaku. Bisa dipakai orang lain, atau nama kita ini hasil pinjaman nama orang lain.

Kalaupun jarum detik bergegas, kita menerimanya sebagai paket. Sebagaimana aku menerimamu meskipun kamu cerewet, atau aku yang tidak cerewet.”

Seharusnya akulah jam dinding itu: menandai waktu berlalu secara bersama, mendetakkan berbagai peristiwa dan karenanya menjadi rangkaian kenangan, yang selalu ada dan bertambah, pun ketika harus berada di dapur atau kamar tidur, pun saat waktu terulur.

Sesungguhnyalah suamiku adalah jam dinding, dan aku bahagia jatuh cinta padanya. Akulah sungai yang memiliki keberanian menerimanya sebagai anugerah.*

(0305)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme