Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Hanya untuk Satu Nama oleh Isbedy Stiawan ZS

Posted on Ming, 03 Apr 2005

Hanya untuk satu nama: Demi.

Kalimat itu terukir rapi di atas foto Mas Zen berlatar belakang bunga tulip yang tengah mekar. Tentunya foto itu diabadikan saat musim bunga sedang berlangsung di Belanda. Aku menerima kiriman itu dari Mas Zen tiga tahun lalu. Saat Zen kuliah di negeri Kincir Angin itu.

Di bawah kalimat itu tertulis dengan tipografi puisi: “Rademi Pratiwi,/bila musim salju tiba seperti sekarang ini,/aku makin rindu padamu./Ingin mendekapmu/sepanjang tidurku/di balik selimut tebal.//Atau dalam mantel tebal menembus salju/sepanjang jalan di Amsterdam ini/kita saling melingkarkan tangan/di pinggang.//Kau tahu,/aku selalu bayangkan/kau ada di dekatku,/dalam dekapanku…”

Dan hingga kini kenang-kenangan dari Zen masih dipajang di tembok rumahku. Kalimat indah itu, “Hanya untuk satu nama: Demi”, seperti ingin mengekalkan waktu. Tetap tidak luntur karena usia. Dan, saban hari aku selalu menatap kenangan itu. Membaca kalimat-kalimat puitik yang diukir rapi itu.

Aku menerimanya dengan bahagia sekali saat itu. Rasanya aku ingin segera terbang. Segera mendekapnya. Berlari-lari menembus salju. Dan jika gigil menyergap akan kupeluk Mas Zen. Maklum waktu itu kami baru enam bulan menikah. Kata orang, perkawinan kami masih masa bulan madu. Karena itu, masih dipenuhi oleh fantasia dan imajinasi yang indah-indah.

Sesungguhnya aku berat membiarkan Zen meninggalkanku sendiri. Kalau saja bukan karena tugas dari tempatnya bekerja dan kesempatan disekolahkan oleh perusahaan amatlah langka-tidak akan terulang oleh orang yang sama, akan kukatakan padanya: “Jangan tinggalkan aku, Mas Zen. Aku tak berani didera rindu…”

Waktu itu Zen membujukku, “Tiga tahun tidak lama, sayang. Hanya sekedip mata jika hati kita sama-sama terpaut. Kau bisa meneleponku setiap malam jika rindu. Aku pasti akan menghubungimu bila aku kangen. Kesempatan baik seperti ini tidak akan datang dua kali…”

Lalu kujawab, dengan perasaan cemburu, “Gadis-gadis Nederland pasti cantik-cantik ya, Mas? Aku khawatir kau akan jatuh cinta di sana.”

“Kau lebih cantik dari mereka, kau adalah segala-galanya bagiku. Lagi pula aku ke sana ingin sekolah, tak ada soal lain,” tegas Zen. “Marilah kita menjaga cinta kita dengan saling percaya dan jujur.”

Itulah percakapan saat-saat jelang keberangkatan Zen ke Belanda. Sehari sebelum Zen meninggalkan Indonesia, kami habiskan waktu berdua di sebuah kafe termewah di Kota BL ini. Aku memandangi wajah Zen. Ia pun seakan menembus ke dalam kedua mataku. Kupegang erat kedua tangannya. Ia meremas jari-jemariku. Menyusuri telapak tanganku, hingga mendekati siku tangan kananku. Kubiarkan jemarinya menari-nari di tanganku. Seperti kunikmati gerakan penari di panggung.

Tiga tahun bagi orang lain memang hanya sekejap. Tetapi tidak untukku yang kala itu tengah menikmati indahnya awal berumah tangga. Aku ingin menemani Zen, cuma perusahaan tempatnya bekerja tidak membolehkan. Alasannya, karyawan yang disekolahkan tidak boleh diganggu sehingga ia bisa kembali dengan sukses. Selain itu, perusahaan tidak menanggung di luar yang mendapat beasiswa. Artinya, jika aku menyertai Zen aku harus menanggung seluruh biaya transportasi dan segala keperluan selama di Belanda. Bagaimana mungkin bisa? Biaya hidup di sana sangat tinggi dibanding di Indonesia. Selain itu, kalau Zen gagal maka kami harus mengganti seluruh biaya yang telah dikeluarkan. Ini jelas sangatlah berat.

Maka aku menanti Zen dengan rindu yang mendalam. Deru kangen karena kesepian bagai ribuan lebah yang mendengung. Meski Zen tak pernah alpa meneleponku setiap malam, jelang aku ke peraduan. Hanya telepon dan suara penuh kerinduan dari Zen itu, seakan dapat menenteramkan hatiku. Aku pun bisa terlelap hingga esok pagi terbangun. Tiga bulan di Belanda, kiriman foto Zen dengan latar belakang bunga tulip yang lagi mekar kuterima. Di foto yang terbingkai rapi itu terukir tulisan Zen: “Hanya untuk satu nama: Demi”.

Ya. Aku tahu dan sekaligus aku percaya. Hanya satu nama-namaku, yang terukir di hatinya. Nama perempuan yang sejak lama mencintainya. Perempuan-dan aku tentunya-yang setia menanti, dan kini telah resmi menjadi istrinya dengan setia pula akan menanti ia kembali.

Bila rindu memendam, kupandangi foto kiriman Zen itu. Kubayangkan seindah apakah bunga-bunga tulip sesungguhnya? Kuangankan Zen menyusuri taman bunga itu. Atau melintas di bawah kincir angin. Sendiri. Gigil. Sebab salju turun tak kenal waktu. Seandainya, ya seandainya, aku ada di sisinya tak kubiarkan salju menyentuh kulitnya. Aku akan segera menepis agar dia tak merasa kedinginan.

“Ah, kau terlalu obsesif. Dingin memang jika salju sedang turun, namun tidak seperti kita bayangkan. Buktinya tak ada orang yang mati di sini tertimbun salju kan? Aku sudah siapkan mantel tebal, dan selalu kubawa jika musim salju…” kata Zen ketika meneleponku suatu malam.

“Bener Mas, enggak kedinginan. Demi mengkhawatirkan Mas Zen,” kataku manja.

“Benar, sayang. Kalau aku kedinginan, akan kubayangkan kau ada di dalam mantelku. Atau mendekapmu di balik selimut tebalku. Agar gigil hilang, kehangatan datang.”

“Aih Mas, bercanda terus!” aku merajuk. “Jangan-jangan sudah ada yang menggantikan aku ya di situ?”

“Tu kan cemburu?”

Aku malu. Lalu, kujawab, “Tidak kok. Aku tidak cemburu…”

“Lalu, apa?”

“Kangen…”

“Sama.”

Kemudian kami tertawa. Aku membayangkan Zen memelukku. Erat sekali. Lalu menggiringku ke kamar. Ah, sedang apa Zen di sana malam ini? Tiba-tiba aku disadarkan oleh dering telepon lagi. Mungkinkah Zen yang meneleponku? Ia memang baru saja lupa mengucapkan selamat tidur, seperti malam-malam sebelumnya. Segera kuraih gagang telepon.

“Belum tidur, Tiwi?”

Ah! Ternyata Mama yang meneleponku. Keluargaku memang biasa memanggilku Tiwi. Sedangkan teman-temanku acap menyapaku dengan Demi, bahkan kadang ditambah dengan Moore di belakang namaku. Mengingatkan aku pada selebriti dunia.

“Belum, Ma. Ada perlu penting Ma?” jawabku segera. Tidak seperti biasa Mama menelepon pada malam hari seperti sekarang: pukul 23.57.

“Enggak. Hanya ingin tahu keadaanmu.”

“Tiwi sehat-sehat saja, baik-baik saja kok. Mama juga baik-baik saja kan? Papa juga? Rio sudah pulang, Ma?”

“Syukurlah,” ujar Mama kemudian. “Zen sudah meneleponmu? Beberapa menit lalu dia menelepon Mama, menanyakan kabar keluarga kita. Katanya, dia sehat-sehat saja di Belanda. Hanya sebentar menelepon Mama, katanya mau meneleponmu….”

“Kok, Mas Zen tak bilang kalau habis menelepon Mama? Ya Ma, dia baru meneleponku. Hampir dua jam dia ngobrol dengan Tiwi. Cerita macam-macam deh….”

“Mungkin, menurut dia, tak begitu penting,” jawab Mama pendek. Lalu lanjutnya, “Mama sehat, Papa juga baik-baik. Tapi sudah empat hari ini belum pulang. Kau tahu sendirilah kelakuan Papamu. Rio menginap di rumah kawannya….”

“Jadi, Mama sendirian sekarang?”

“Kan ada Bik Sumi?”

“Ya. Tapi, Mama tetap sendirian!” kataku menegaskan. Dalam hati aku membenci Papa yang selalu meninggalkan Mama sendirian di rumah. Menelantarkan Mama di rumah. Sementara dia asyik berjudi sambil ditemani perempuan-perempuan anjing. Jangan-jangan papaku yang sesungguhnya anjing?

“Jangan mengkhawatirkan Mama, Tiwi. Mama baik-baik saja kok.…” Mama membuyarkan lamunanku.

“Kalau begitu, besok pagi Tiwi pulang. Tiwi mau tidur dengan Mama, menemani Mama.…”

“Tak usah Tiwi. Jangan tinggalkan rumah selagi suamimu tidak ada. Apalagi kau belum izin dengan Zen, tidak baik.”

“Aku akan menelepon Zen, minta izinnya. Sekarang. Besok pagi aku ke rumah.…”

Setelah kumatikan hubungan telepon ke Mama, segera kutelepon Zen. Berkali-kali kuhubungi nomor tempat Zen menginap tak diangkat-angkat. Aku berpikir, mungkinkah Zen tidur lagi setelah meneleponku karena hari libur? Atau, pikiran lainku menyergap, jangan-jangan ia sedang keluar bersama perempuan bule? Aku cemas. Membuatku sulit sekali memejamkan mataku.

Pada pukul 02.01 kembali kutelepon. Seorang lelaki, tentulah teman Zen di tempat kosnya itu, yang menyambut. Ia katakan kalau Zen sedang keluar. “Katanya mau cari buku,” jelasnya. Lalu aku menitip pesan: jika Zen pulang segera telepon aku.

Sudah lama aku tidak mengunjungi Mama. Kini kurasakan tubuh Mama makin menyusut. Pandangannya tidak seperti dulu lagi, bercahaya. Tersadar bahwa aku sudah lama meninggalkan Mama. Tepatnya sejak aku menikah, Zen memboyongku ke lain kota. Sejak aku jarang menjenguk Mama, selain meneleponnya untuk tahu kabar keluargaku.

Aku akan menetap di rumah Mama untuk beberapa hari. Mungkin juga sepekan atau lebih. Zen sudah mengizinkan. “Itu bagus, Demi. Daripada kau kesepian di rumah, lebih baik temani Mama. Kasihan Mama juga sendirian…,” kata Zen.

Dan, memang Mama selalu sendirian. Papa tak pernah pulang. Kalaupun pulang hanya mengganti pakaian atau seperti menumpang tidur, lalu pergi lagi untuk beberapa hari kemudian. Tanpa percakapan. Tiada lagi sapa dan menyapa antara Mama dan Papa. Keduanya pun tampak tak bersitatap. Bila Papa mau makan segera ia ke meja makan, dan Bik Sumi sudah menyiapkan hidangan.

Aku tahu Mama amat kecewa pada Papa. Mama telah dikhianati. Diam-diam Papa main perempuan saat di luar rumah. Bahkan, ini menurut Mama, Papa sudah menikah. Selain itu, Papa penjudi berat. Hampir ludes harta di rumahku dibawa Papa ke meja judi. Padahal, kekayaan itu ditabung Mama bertahun-tahun dari hasil kerja Papa. Untunglah perusahaan Papa tidak ambruk. Untung pula Mama segera mengambil alih kemudi perusahaan tersebut, kemudian dijalani oleh Om Firman-adik bungsu Mama hingga kini. Om Firman S2 ekonomi lulusan Amerika. Kalau tidak, entah apa jadinya dengan nasib perusahaan Papa. Kini Papa tak lagi diperkenankan menjalani roda perusahaan. Hanya mendapat bagi keuntungan setiap tahunnya.

Papa juga tak punya hak atas saham perusahaan tersebut. Kata Mama, sejak ketahuan Papa beristri lagi, Mama langsung menggugat. Tidak tanggung-tanggung, Mama menggugat cerai dan sekaligus menyoal gono-gini. Papa keberatan digugat cerai. Lalu Mama kasih solusi. “Baik kalau kau tak mau menceraikan aku. Cuma aku minta syarat, serahkan saham dan perusahaan itu padaku.”

“Untuk apa? Apakah kau sudah tak percaya lagi dengan kemampuanku menjalani perusahaan?”

“Dulu aku percaya,” jawab Mama ketus. “Kalau kau masih pegang perusahaan, bisa-bisa kekayaan kita kauhabisi di meja judi dan untuk perempuanmu itu. Aku akan menggaji Firman untuk memajukan kembali perusahaan itu. Sementara soal saham, itu ganti dari pengkhianatanmu padaku.”

Papa tak berkutik. Akhirnya Papa keluar dari perusahaan miliknya itu. Meski begitu, Mama tetap menaruh kasihan pada Papa. Mama selalu membuka pintu bagi Papa untuk pulang. Menyilakan Bik Sumi menghidangkan makanan buat Papa. Membelikan pakaian beberapa bulan sekali untuk Papa. Mama juga menyediakan satu kamar tidur buat Papa jika pulang. Dan seterusnya dan seterusnya. Kecuali satu: Mama tak lagi memberikan cintanya. Mama juga tak hendak dicumbui….

Mama senang sekali ditemani aku. Waktu-waktu senggang, kami isi dengan berdialog. Bahkan jelang tidur (kebetulan aku meminta tidur bersama Mama di kamarnya), kami masih mengobrol. Sampai mata kami mengatup sendiri. Begitu pula di meja makan saat sarapan pagi, kami pun mengobrol. Intensitas percakapan kami melebihi ketika aku belum berkeluarga. Entah mengapa tiba-tiba aku merasakan keakraban yang berlebihan justru ketika kami sudah sering tak berjumpa. Mungkin benar, kata orang, sebuah pertemuan akan menjadi indah dan bermakna apabila intensitas pertemuan sebelumnya amat kurang. Kini kurasakan itu. Baik aku atau Mama seperti tak ingin melewatkan waktu tanpa berdua-dua dan berdialog. Suasana itu juga dibarengi dengan tertawa atau tersenyum.

Akhirnya aku lupa pada Mas Zen. Lupa kalau sesungguhnya aku sedang kehilangan suasana bulan maduku. Bila di rumah aku selalu menunggu Zen menelepon, namun bersama Mama aku tak begitu lagi berharap-harap. Mungkinkah aku sudah kehilangan rindu? Adakah Zen juga sudah kehabisan kangen, disebabkan kesibukannya? Ah! Aku tak yakin lantaran kesibukan, ia bisa abai meneleponku. Jangan-jangan sudah ada perempuan lain yang merebut kerinduannya padaku? Jangan-jangan karena aku mendapatkan kebahagiaan dan keriangan bersama Mama, membuatku tak berharap lagi perhatian Zen?

Teringat ucapan Zen bahwa saling percaya dan jujur akan menjaga cinta, belakangan ini sudah tidak begitu kuyakini. Mama adalah contoh paling dekat bagiku. Betapa tingginya kepercayaan Mama, betapa jujur dan setianya Mama pada Papa. Tetapi, sekali lagi tetapi, Mama terlempar ke tepi paling sepi oleh ketidakjujuran Papa. Terbukti akhirnya Papa mencampakkan kepercayaan Mama dengan bermain perempuan lagi. “Papamu buktinya tidak jujur, diam-diam dia mengkhianati kesetiaan Mama…,” kata Mama yang tampak benci sekali.

Kata Mama lagi, “Semua lelaki sama. Bajingan! Pengkhianat. Tidak jujur. Merobek-robek kepercayaan yang diberikan perempuan!” Entah mengapa, Mama berulang mengutuk Papa di depanku. Mungkinkah di balik itu semua, ia ingin mengingatkan aku bahwa jangan terlalu percaya pada bahasa dan janji lelaki. Berkali-kali kubela Zen bahwa suamiku bukan tipe lelaki seperti Papa, tetapi berkali pula Mama membongkar kebejatan Papa. Supaya tak terjadi perdebatan yang berakibat retaknya kebahagiaan kami, aku tak lagi mengimbangi dialog Mama. Aku diam. Mendengarkan keluh kesah Mama.

Zen menelepon pada malam kedelapan aku menginap di rumah Mama. Aku santai saja mengambil gagang telepon ketika Mama memanggilku bahwa Zen ingin bicara padaku. Tidak seperti ketika aku di rumahku: mendengar dering telepon sekali saja aku segera menyambar dengan hati berbunga-bunga.

“Halo…”

“Kau sehat Demi?”

“Ya. Mas Zen sendiri, juga sehat kan? Bagaimana dengan pelajaranmu, tak ada masalah kan?”

“Aku sehat. Tentang studiku juga sampai hari ini aman- aman saja. Tak ada masalah,” jawab Zen. Entah mengapa aku mendengar suaranya tidak berapi-api seperti dulu, tidak hangat karena penuh oleh kerinduan. Kini dingin. Datar. Bahkan terdengar sumbang dan sember.

“Syukurlah. Kalau kau bahagia di sana, aku di sini tentu bahagia juga.”

“Ya.”

“Kau sudah makan?”

“Baru saja. Kebetulan ada teman yang mengajakku makan di luar. Aku ditraktirnya, karena dia berulang tahun,” ujar Zen kemudian. Ketika Zen menyebut “dia”, tiba-tiba kedengarannya terasa asing. Aku ingin sekali tahu siapa “dia” yang disebut Zen.

“Siapa temanmu, Mas? Lelakikah?”

“Oh, maaf Demi. Aku belum mengenalkan temanku yang mentraktir makan. Dia perempuan, asli dari Leiden. Namanya Juliana Derks. Satu kampus denganku di sini.”

“O ya? Aku yakin dia pasti cantik….”

“Ya sejujurnya, Juliana memang cantik,” jawab Zen pendek.

“Dia menyenangkan, bukan?”

“Ya. Orangnya ramah. Mungkin karena ia pernah tinggal beberapa lama di Indonesia. Aku akan kenalkan Juliana padamu, nanti kalau dia ke Indonesia.”

“Tak usah Mas. Terima kasih…,” jawabku. Aku seperti enggan melanjutkan dialog soal perempuan Leiden itu. Entah mengapa.

“Orangnya familiar, Demi. Kau pasti suka kalau sudah mengobrol dengannya.”

“Mudah-mudahan.…”

Setelah itu, Zen mengutarakan rencananya ingin berlibur ke beberapa kota: Berlin, Napoli, dan entah kota apa lagi di Eropa. Aku sudah malas mendengarnya. Zen juga mengatakan semua transportasi ditanggung Juliana.

“Ini kesempatan yang tak akan datang dua kali. Sayang kan Demi, kalau tak kuambil? Tanpa mengeluarkan uang berapa pun, kita bisa mengelilingi kota-kota besar di Eropa. Daripada di rumah saja waktu liburan bisa-bisa aku bosan, kan lebih baik kuisi dengan jalan-jalan?”

Aku sudah kehabisan kalimat lagi, karena selalu kata-kata “langka dan kesempatan yang tak akan datang dua kali” akan meluncur dari mulut Zen. Akhirnya aku hanya berpesan, “Hati-hati di jalan. Ingat orang Eropa berbeda dengan bangsa Timur.”

Zen tersenyum. Ia juga mengakui sejujurnya kalau sebenarnya Juliana Derks menyukainya. Tetapi, ia tak mungkin terjebak untuk jatuh cinta. “Cintaku hanya untuk satu nama: kau, Demi….”

Cuma aku tak lagi merasa tersanjung dengan pujian seperti itu. Aku bahkan ingin segera menyudahi percakapan ini. Dengan alasan mau tidur karena sudah larut dan aku juga sudah mengantuk, aku meminta Zen menutup gagang telepon.

Aku sangat kaget, nyaris tak sadarkan diri ketika teman kos Zen mengabarkan kalau suamiku mengalami kecelakaan di Jerman. Pesawat mereka tak bisa landas dengan baik karena pacuan bandara licin. Akhirnya pesawat itu menabrak pagar pembatas bandara dan terganjal di pemakaman. Sekitar 50 penumpang, termasuk Zen dan Juliana Derks, tewas di tempat kecelakaan.

Dibiayai oleh perusahaan tempat Zen bekerja, aku menjemput mayat Zen di Jerman. Lalu membawanya ke Amsterdam terlebih dulu untuk sekalian membawa barang-barang Zen, kemudian terbang ke Tanah Air. Di sepanjang jalan, baik sewaktu di rumah sakit di Jerman, ataupun saat di tempat kos Zen di Amsterdam, tak henti-hentinya aku menangis. Rasanya sudah habis persediaan air mataku.

Aku sungguh-sungguh sedih. Entah karena kematian Zen, nasibku yang kini harus menjadi janda tak beranak, atau karena kejujuran dan kepercayaanku pada Zen yang dikhianati. Sebab, seperti kata Ronald Rijkad, perempuan Leiden itu sering mengajak jalan Zen. Bahkan beberapa hari tidak pulang ke kos. “Juliana amat menyukai Zen,” kata Ronald, orang Belanda itu. Dan aku yakin, Zen pasti menyambut. Kalau tidak, bagaimana mungkin terjadi suara jika bertepuk sebelah tangan?

Aku kasihan pada Zen, sekaligus membencinya!

Hanya untuk satu nama: Demi.

Kalimat itu terukir rapi di atas foto Mas Zen berlatar belakang bunga tulip yang tengah mekar. Foto itu masih tetap terpajang di dinding rumahku. Di ruang tamu. Aku akan memandangnya, setiap aku merasa benar-benar rindu pada Zen. Aku belum ingin menurunkannya dari tembok itu untuk kusimpan di lemari atau gudang.

“Phuihh!”

Aku seperti hendak muntah setiap membaca baris-baris kalimat yang ditulis rapi dengan tangan Zen itu. Cuma sampai kini belum menghasutku untuk menurunkan atau membakarnya….*

Lampung, Februari 2005

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme