Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Jejak yang Kekal oleh Gus tf Sakai

Posted on Ming, 22 Mei 2005

Sepatu itu, dengan cara begitu rupa, menginjak seekor trilobite, tertahan dalam bongkah batu. Betapa kekal, pikirmu. Di suatu waktu di zaman lain, seperti yang selalu kami yakin, bongkah itu akhirnya pecah. Dan terbukti: kekal adalah kata keliru untuk menyebut bahwa semua cuma sembunyi.

Tetapi trilobite, makhluk yang hidup tak kurang tiga ratus juta tahun lalu, bagaimana bisa dijejak oleh sepatu? Kami lalu membuat kira-cetaknya: panjang 28 cm, lebar 11 cm, lekuk bawah tumit 2 cm. Sepatu lars. Dan itu artinya, sepatu manusia. Adakah manusia pada zaman homo habilis bahkan belum ada?

Kenyataan itu, bagi kami, artinya pula tak lain satu kata: gila. Semua akan hancur. Homo habilis, homo erectus, neanderthal, homo sapiens, segera jadi bohong besar. Teori yang kebenarannya telah mendarah daging dalam diri kami tak lebih hanya omong kosong. Tubuh kami pun mendadak seolah menyerpih, menguap. Adakah hal yang lebih buruk kecuali mendapati dirimu, seluruh waktumu, setiap detik dalam hidupmu, ternyata sia- sia?

Maka sembunyi itu, tak bisa tidak, harus kami bikin tetap sembunyi. Tak ada siapa pun boleh tahu bahwa di Utah pada musim semi 1968 itu, selain fosil antilope, ditemukan juga jejak sepatu. Jejak sepatu celaka, yang persis sama seperti jejak sepatu masa kini, tetapi kenyataannya menginjak seekor trilobite, makhluk yang hidup saat manusia-menurut teori kami-masih berupa kera. Bisakah seekor kera membuat benda semacam sepatu? Sungguh tak lucu.

Betapa kekal jejak itu. Dari satu waktu ke lain waktu, dari satu batu ke lain batu. Dengarlah sepatu berderap, dan waktu melenguh. Jejak melesak di tubuh-tubuh ….

Sepatu itu, dengan bertumpu di bagian tumit, melesak di leher, memanjang ke fragmen tengkorak. Walau belum dipastikan fragmen tengkorak apa, tetapi bongkah pembungkusnya segera kami kenali sebagai batu karbon dari zaman Trias, tak kurang dua ratus juta tahun lalu. Jejak celaka! Bagaimana bisa, sepatu serupa, di zaman homo habilis juga belum ada, ditemukan pula dalam sebuah ngarai di lain benua?

Tetapi, untunglah, fosil itu ditemukan secara tak sengaja oleh seorang geolog yang langsung menghubungi salah seorang arkeolog rekan kami. Jadi, penemuan itu boleh dikata bisa kami “tangani” tanpa kesulitan. Memang muncul berita di koran lokal, tetapi itu biasa. Dengan satu kali jumpa pers, selesai. Akan lain kalau jejak sepatu lars itu lebih dulu sampai ke tangan tim arkeolog lain. Bisa runyam. Bisa heboh. Mungkin pula bisa kembali muncul di majalah Science.

Jejak sepatu di trilobite Utah dulu itu, ketika muncul di Science, membuat kami sungguh kelabakan. Butuh beberapa tulisan dari sejumlah rekan di beberapa edisi sebelum publik yakin jejak itu bukan jejak sepatu, apalagi jejak sepatu yang sama dengan sepatu masa kini. Tulisan yang tentu saja direkayasa, penuh literatur fiktif, dengan foto-foto yang dideformasi. Dan setelah segalanya beres, semua kami musnahkan. Tetapi yang masih mengganggu adalah ucapan seorang rekan yang merasa satu foto asli berkurang. Foto yang dicetak dalam ukuran persis sama dengan si fosil jejak sepatu. Betulkah foto itu hilang? Atau, sebetulnya telah ikut terbakar, tetapi kami lupa?

Tetapi toh, telah hampir sepuluh tahun kini, tak ada sesuatu yang mengkhawatirkan muncul berkaitan dengan si foto. Artinya, foto itu tak sepatutnya dipikirkan dan telah pantas kami lupakan. Baiklah. Tetapi lalu, kenyataan buruk berikut yang muncul menyusul, yang membuat kami betul-betul bagai akan gila, adalah ketika fragmen tengkorak itu selesai diidentifikasi. Fragmen tengkorak itu, tak lain tak bukan: tengkorak manusia. Homo sapiens! Manusia sempurna! Oh oh, bagaimana bisa?

Jejak melesak di tubuh-tubuh. Menggasak leher, rusuk. Kaudengar pulakah suara seperti mengerang? Lapat-lapat, timbul-hilang, begitu jauh. Menembus ruang, melipat waktu, menjalar lirih ke telingamu….

Sepatu itu, dengan amarah bagai meluah, menerjang, merangsek masuk ke dalam kampus. Mahasiswa berlarian, berhamburan. Pekik, jerit, bertumpang tindih dengan hardik, bentak, gebuk pukulan. Gemuruh derap menggasak koridor, ruang kuliah, perpustakaan. Racau panik, lengking tangis, juga lolongan. Terdengar pula suara seperti letusan. Orang-orang berseragam ini, kenapa mereka menyerbu kampus?

Namun tentu, itu bukan urusan kami. Alasan yang membuat kami muncul di sini adalah foto itu. Kekhawatiran seorang rekan tentang selembar foto yang hilang ternyata benar. Butuh uraian panjang menceritakan bagaimana akhirnya kami tahu. Tetapi yang jelas, telah dua puluh tahun ini (bersama satu generasi baru peneliti), seluruh waktu kami, setiap detik dalam hidup kami, kami gunakan untuk mencari. Takkah aneh bahwa foto itu, kemudian, ternyata ada di sini?

Memang aneh. Dan butuh cerita panjang pula bagaimana akhirnya kami tahu. Tetapi, di sinilah foto itu kini. Di sebuah negara dengan begitu banyak pulau. Pulau-pulau yang terbujur, bagai tertidur- bermimpi tentang demokrasi. Dan lihatlah itu tadi, demonstrasi. Mahasiswa diburu. Kampus diserbu. Dan setelah segalanya selesai, lihatlah kini: kaca-kaca berserakan, kursi-meja berjumpalitan. Labor-ruang praktikum hancur, pun ruang perpustakaan. Dan lihat pula mahasiswa-mahasiswa itu. Bila sebelumnya tampak heroik, kini menjelma jadi kuyu. Beberapa digelandang digiring ke truk, beberapa dilarikan ambulans.

Sungguh situasi yang tak terduga. Dan juga celaka. Di manakah foto itu? Kampus tempat si foto berada telah porak-poranda. Lihatlah seorang dari kami, salah seorang dari generasi baru peneliti (yang juga penduduk negara kepulauan ini), tegak termangu di puncak tangga. Ke arah kiri adalah koridor lantai dua. Ke arah kanan sebuah ruangan luas, entah ruangan apa. Melalui pintu yang ternganga, ruangan itu juga tampak porak-poranda. Dan di lantai, seperti halnya juga tadi di lantai satu, berbaku tindih jejak sepatu. Beberapa tercetak dari darah walau tentu lebih banyak dari lumpur. Dari manakah datangnya lumpur? Padahal, di luar tak ada becek. Tak ada hujan.

Tak ada hujan, tetapi terasa seperti hujan. Tak ada becek, tetapi toh tak hanya becek yang mendatangkan lumpur. Mungkinkah hujan lain, dari hari lain. Dan takkah pula lumpur lain, dari waktu lain? Seperti mungkin kaulihat aku. Dalam lembab, dalam basah, aku bagai melayang. Menembus waktu, menembus ruang. Masuk ke halaman yang kukenal. Rumah yang kukenal.

Di luar rumah sangat banyak orang. Di dalam juga tak kalah sesak. Dan lihatlah lembab itu, basah itu. Ia ada pada setiap wajah yang tunduk, pada setiap kepala yang tepekur. Merembes dalam bisik, meresap dalam senyap. Menetes. Padahal tak ada hujan, bukan? Sesekali terdengar helaan napas. Juga senggukan tertelan. Beberapa kepala pelan terangkat, seperti berat. Menatap ruyup ke tengah ruangan. Ke sesosok tubuh yang terbujur, bagai tertidur. Begitu tenang. Seperti lelap.

Itulah aku. Tubuhku. Kauciumkah bau sesuatu seperti lumpur? Dan bila matamu lebih jeli, atau mencoba melihat menggunakan mataku, akan tampak pula olehmu jejak sepatu. Menghunjam dan melesak, di hampir seluruh bagian tubuh itu. Meremukkan leher, mematahkan rusuk, menggasak setiap tulang yang (pernah) membuat si tubuh tegak. Bagaimana tubuh itu bisa tampak begitu tenang-seperti lelap?

Aku terus melayang, masuk ke sebuah ruangan di beranda kanan. Ruang kerja Ayah. Kulihat Ayah duduk di belakang meja dan aku di seberangnya. Ayah bercerita tentang selembar foto yang tersimpan di kampus, memintaku mencarinya. Tetapi itulah, aku selalu lupa. Dan setiap kali Ayah menagih dan kubilang lupa, aku akan duduk di seberang meja seperti itu: serupa terdakwa. Menerima makian. Gebrakan meja. Sedemikian pentingkah foto itu bagi Ayah, sang arkeolog ini, sehingga ia begitu marah?

Tetapi, kapankah itu? Pastilah di masa lalu. Tetapi, kenapa seingatku tak pernah? Tetapi ah, pernah atau tidak, tak lagi penting. Kini aku bebas ruang. Bebas waktu. Mungkin juga itu orang lain, bukan aku. Mungkin pula itu di masa depan. Siapa tahu. Betapa kekal jejak itu. Dari satu waktu ke lain waktu, dari satu batu ke lain batu. Dengarlah sepatu berderap, dan waktu melenguh. Jejak melesak di tubuh-tubuh. Menggasak leher, rusuk. Kaudengar pulakah suara seperti mengerang? Lapat-lapat, timbul-hilang, begitu jauh. Menembus ruang, melipat waktu, menjalar lirih ke telingamu.

Kembali aku melayang. Menembus dinding, ke lain ruang. Dan inilah ia, kamarku. Kamar yang juga tampak begitu tenang. Begitu lengang. Dan, tahukah engkau? Di salah satu laci di meja belajarku, ada foto itu. Foto yang dengan ganjil bagai tergeletak begitu saja, tak jauh dari tubuhku, ketika aku tengah sekarat di perpustakaan itu.

Dan, ganjilnya pula: di atas foto itu, sebuah jejak baru, tepat menimpa si fosil jejak sepatu. Begitu pas. Sangat serupa. Dan, pikirmu, takkah itu jejak yang sama?

Payakumbuh, 4 April 2005

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme