Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kematian Gumortap (Ombak dan Belati Tanpa Sarung) oleh Arie MP Tamba

Posted on Ming, 26 Jun 2005

Sembilan belas hari sebelum kematian Gumortap.

”Tangkap!” teriak seorang kenek kapal Makmur yang melemparkan tali kapal ke arah orang-orang yang berkerumum di tepi pelabuhan Onansait. Langit pagi sebagian masih memerah. Angin bertiup ringan. Dua orang pemuda dengan agak berebutan menerima tali itu, dan salah seorang yang berhasil menangkapnya segera mengikatkannya ke tiang tambatan kapal Penjelajah yang sedang berlabuh.

Ikat yang kencang!” teriak si kenek ke arah si pemuda yang mengikatkan tali itu, seraya menahan gerak kapal Makmur dengan menjolokkan galah bambu ke geladak kapal Penjelajah. Sisi kedua kapal itu kemudian berendeng, dan kapal Makmur mendekati dermaga searah kapal Penjelajah.

Kecuali melayani para penumpang borongan secara bebas, setiap pekan atau pasar mingguan maupun ke pelabuhan pemberangkatan ke kota-kota besar, ada pembagian jadwal antara kapal Makmur dan kapal Penjelajah dari kampung Onansait. Dan pagi itu adalah giliran kapal Makmur dari kampung sebelah membawa penumpang ke pasar Pangru, ibu kota kecamatan di seberang danau.

Dua kenek kapal Makmur lainnya menyusul turun ke dermaga, memastikan anjungan kapal Makmur bersandar aman ke dinding dermaga. Meskipun mesin kapal sudah dinetralkan, sisa kecepatannya tetap membuat kapal bergerak cukup kencang, hingga kedua kenek itu berusaha menahan dengan pundak mereka. Mereka sempat juga terdorong mundur di antara orang-orang ramai di dermaga itu, sebelum kapal sepenuhnya berhenti. (Masa itu tidak semua mesin kapal memiliki fasilitas mundur. Sehingga yang bisa dilakukan kapal bermesin jenis ini saat berlabuh adalah mematikan mesin atau menetralkannya agak jauh dari pantai, kemudian menahan sisa lajunya dengan menjolok-jolokkan galah bambu, ke dasar danau atau ke geladak kapal lain yang sedang berlabuh di kiri atau kanannya).

Kini orang-orang yang sejak pagi sudah memenuhi dermaga dan mau berangkat ke pekan pun berebutan naik. Banyak dari mereka membawa peralatan belanja atau barang dagangan. Para pedagang bawang harus berkali-kali turun-naik dibantu para kenek memundak bergoni-goni bawang yang akan mereka jual, demikian juga para pedagang beras. Sementara para pemilik warung dari atas bukit, seperti biasa mengangkati beberapa jeriken minyak tanah yang kini masih kosong ke atas kapal. Sedangkan anak-anak selalu saja memandang semua itu dengan penuh minat. Beberapa anak yang akan pergi ke pekan dengan orangtua mereka, sengaja memandang tertawa ke arah teman-teman mereka yang hanya menatap iri dari dermaga.

”Ke mana?” orang-orang masih juga bertanya.

Semua sudah tahu jawabannya.

”Mau beli apa?”

Semua kembali mendengarkan apa yang mau dibeli.

Maka perbincangan yang sama pun berlanjut dan berulang dengan orang yang berlainan. Dan selalu saja suasana mau berangkat ke pekan menjadi peristiwa yang jarang dilewatkan untuk membahas apa saja di perkampungan tepi danau itu.

Onansait termasuk pelabuhan yang ramai dan pantainya landai berpasir putih. Pada saat itu, di antara keramaian orang-orang di dermaga dan bias-bias cahaya matahari pagi yang dipantulkan hamparan pasir putih—Horas, 13 tahun, si bungsu dari tiga bersaudara anak pemilik kapal Penjelajah—melihat si pemuda Gumortap. Mungkin semuanya akan berlangsung biasa saja dalam kehidupan Horas yang baru saja menyelesaikan pendidikan dasar itu—seandainya ia tidak melihat ”tanpa sengaja” sebilah belati tanpa sarung—yang terselip di pinggang Gumortap.

Kedua bola mata Horas terbelalak dan dadanya tiba-tiba berdegup kencang. Orang-orang ramai dan hamparan pasir putih kini mengabur dari pandangannya. Dalam kibasan kesan dan perasaan gentarnya yang bergemuruh, sampai kapan pun ia akan dapat membayangkan wujud belati tajam dari baja di balik kemeja Gumortap yang tersibak angin pagi, saat Gumortap melompat naik ke kapal Makmur. Horas kini membuktikan sendiri bahwa Gumortap memang membawa-bawa belati tak bersarung di pinggangnya.

Belum lama berselang, Gumortap adalah seorang montir dan juru mudi kapal Penjelajah. Gumortap adalah seorang pemuda bertubuh tinggi dan tegap, yang keberaniannya membawa kapal Penjelajah membelah danau penuh ombak suatu malam, menjadi perbincangan anak-anak di tepi danau itu. Karena kisah keberanian Gumortap yang sudah didengarnya berkali-kali, Horas terkadang membayangkan Gumortap adalah jelmaan ombak malam itu sendiri. Mungkin beberapa bulan lalu atau barangkali setahun lalu, tak ada anak-anak yang tahu pasti kapan peristiwanya. Yang jelas, keberanian Gumortap menyelamatkan kapal Penjelajah bersama penumpang dan barang yang dibawanya mengarungi amukan ombak, telah menjadi buah bibir anak-anak di Onansait dan kampung-kampung tepi danau itu.

Tiga belas hari sebelum kematian Gumortap

”Anak-anak burung itu tidak bodoh. Mereka memahami gerak-gerik kita.”

”Mereka belum bisa melihat penuh. Cuma asal terbang, makanya sering saling tubruk.”

”Tapi, setiap kali aku mau menghalau, mereka sudah terbang duluan.”

Anggi dan Olan berbincang di tepi sawah mereka, ketika Horas meneruskan langkah menuju rumah Gumortap.

”Heh, Horas? Mau ke mana?”

”Kau tidak belajar mesin?”

Horas menggeleng. Berlalu dari samping Anggi dan Olan.

Pematang sawah cukup untuk kaki-kaki mereka yang kecil berselisih jalan. Meskipun mereka harus saling merapatkan badan agar tidak terjatuh ke sawah di kiri kanan mereka.

”Mau ke mana?” ulang Anggi.

”Ke rumah Gumortap,” kata Horas.

Ketiganya memandang beberapa rumah di pojok danau, di ujung persawahan luas yang sedang menguning subur di sekitar mereka.

”Ada enggak?” tanya Horas.

”Mau apa?” tanya Olan.

”Paling-paling masih di sawahnya di bukit,” kata Anggi.

”Dia dipanggil ayahku,” kata Horas melihat sekilas ke arah Olan.

”Mau membawa kapal?” tanya Anggi.

”Mesinnya kan sedang rusak,” kata Horas.

”Coba dia membawa kapal sekarang. Nanti malam musim ombak besar. Dia bisa menunjukkan lagi kemampuannya menaklukkan ombak,” kata Anggi.

”Tapi semua sudah tahu, Gumortap sekarang membenci ayahmu,” ungkap Olan. ”Bahkan dia membawa belati ke mana-mana, siap berkelahi dengan ayahmu.”

Horas merasa kurang nyaman dengan kata-kata Olan itu. Ia ingin cepat berlalu dan segera melangkah. ”Aku jalan dulu,” katanya.

”Aku ikut,” kata Anggi.

”Heh, kita harus mengusir burung,” kata Olan.

”Mereka masih anak-anak burung,” kata Anggi. ”Biarkan saja mereka makan padinya, tak akan banyak!”

Olan memandang kesal ke arah Horas dan Anggi yang melangkah cepat menuju rumah Gumortap di pojok danau. Dari sana kini sayup-sayup mulai terdengar suara gondang bertalu-talu. Agaknya Gumortap memang sedang di rumah tapi mulai berlatih main gondang. Gumortap adalah seorang pekerja sawah yang tekun, pemain gondang yang baik, dan tentu saja, juru mesin dan juru mudi yang baik.

Dan karena Gumortap ternyata sedang berlatih gondang, Horas dan Anggi pun pulang hampa tangan. Anggi kembali menemani Olan mengusir burung-burung dari sawah mereka, sementara Horas meminta bantuan abangnya untuk sama-sama menyampaikan kabar kepada ayah mereka, bahwa Gumortap tidak bisa datang. Gumortap sedang berlatih gondang karena tiga hari lagi akan disewa main gondang untuk pesta adat di seberang danau.

Ayah Horas mengarahkan tatapannya ke luar rumah, melalui jendela, ketika Horas dan abangnya melaporkan hasil perjalanan Horas itu.

”Kau saja yang memanggil lagi,” kata Ayah Horas. ”Bilang sangat penting, karena kapal akan membawa penumpang borongan nanti malam,” kata Ayah Horas kepada abang Horas.

Abang Horas menoleh ke arah Horas dengan kesal, seolah menyalahkan Horas yang gagal memanggil Gumortap dan ikut merepotkannya. Padahal semua orang sudah tahu sedang terjadi ketidakcocokan antara Gumortap dan Ayah mereka. Ketidakcocokan itu konon hanya sebagai pertengkaran mulut, tapi kemudian berlanjut saling pukul, sebelum keduanya dipisahkan orang ramai di dermaga suatu sore.

Dan sejak itu, semua orang pun tahu bahwa Gumortap kemudian membawa-bawa belati di pinggangnya, siap menikam ayah Horas yang dulu adalah majikannya. Apa penyebab pertengkaran mereka sesungguhnya, tak banyak yang tahu. Sebagian kecil menduga-duga dan mulai percaya bahwa penyebabnya adalah Gumortap yang menggelapkan uang hasil sewa kapal ke sebuah pekan di seberang. Paling tidak itulah yang tergambar dari pertengkaran mulut mereka. Gumortap tidak melaporkan seluruh uang masuk yang diperolehnya karena kebetulan ia membawa kapal Penjelajah tidak disertai ayah Horas yang sedang mengikuti pesta adat ke kota.

Begitulah, karena Gumortap masih juga menolak ketika abang Horas kembali memanggil, ayah Horas terpaksa turun sendiri dan sesorean bekerja keras membetulkan mesin kapal Penjelajah itu. Dan mesin kapal tersebut kemudian dapat dijalankan saat para penumpang borongan berdatangan. Ayah Horas dibantu dua kenek kemudian membawa kapal Penjelajah mengarungi malam berombak, tanpa dukungan juru mudi Gumortap. Tapi yang mengesan kuat bagi Horas tentang hari itu bukanlah penolakan Gumortap membantu ayahnya. Yang terus membayang adalah—belati tanpa sarung yang telah dilihatnya terselip di pinggang Gumortap—di balik bajunya yang berkibar suatu pagi di dermaga.

Enam hari sebelum kematian Gumortap

Kini Horas sedang berdiri di tengah kegelapan kamar. Dia baru saja menutupkan jendela. Ia dapat merasakan tajamnya belati di tangannya ketika ia menggesekkan bagian belati yang tajam itu ke jari telunjuknya. Karena merasa sakit dan khawatir berdarah, Horas menarik belati itu dan kini mengelusnya dari gagang hingga ke hulu. Licin dan halus. Belati yang terbuat dari baja itu menyebarkan hawa dingin yang meresap ke sekujur tubuhnya. Di benaknya melintas sebuah bayangan mengerikan: saat belati tajam dan dingin itu berkali-kali menembusi perut seseorang. Dan seseorang itu bisa saja…ayahnya!

Horas segera menyembunyikan belati milik ayahnya itu ke bawah bantal. Lamat-lamat telinganya menangkap suara-suara memasuki ruang depan. Suara ayahnya dan beberapa orang lain. Entah siapa yang datang bertamu. Horas mendengarkan dari balik pintu. Ayahnya akan marah bila mengetahui Horas masih di rumah, tidak mengikuti para kenek untuk belajar menguasai mesin kapal. Ayahnya sangat tidak senang bila anak lelakinya mengendap-endap di rumah dan mendengarkan perbincangan orangtua.

”Kami mendengar lagi Pak,” kata salah seorang tamu itu.

”Banyak yang marah,” kata yang lain.

”Saya malah membentaknya!” kata salah seorang yang kelihatannya lebih tua, barangkali seusia ayahnya.

”Dia kurang ajar. Berani mengumbar ancaman kepada orang tua,” kata yang lain.

”Bapak harus menegurnya, kalau tidak langsung ya melalui orangtuanya.”

”Bila perlu mendatangi rumahnya.”

”Jangan mendatanginya.”

”Ya, jangan mendatanginya. Perintahkan, akan saya panggil ia ke sini.”

”Kita paksa saja!”

”Bawa belati ke mana-mana, dan menyebut-nyebut nama Bapak dengan kurang ajar.”

””Katanya Bapak menghinanya.”

”Mana mungkin!”

”Bapak juga bawa belati, berjaga-jaga.”

”Jangan!”

Belum terdengar suara ayah Horas. Sementara keempat orang tamu ayahnya itu terus mendesakkan kabar dan keinginan mereka.

”Eh, ada tamu,” kata ibu Horas yang tiba-tiba memasuki ruang depan itu dengan kakak perempuan Horas.

“Baru dari pekan, Inang?” tanya salah seorang tamu itu.

Ibu Horas dan kakak perempuannya memang baru pulang dari pekan di desa sebelah. Horas ingin keluar menjumpai ibunya dan menanyakan apakah sang ibu membelikan jajanan pesanannya. Tapi kalau ia keluar, maka semua orang akan mengetahui keberadaannya yang sedang mengintip mereka. Dan Horas juga tak sanggup berpura-pura, bahwa ia sedang baru keluar dari ruang dalam dan muncul di ruang depan itu. Yang dapat dilakukannya adalah, segera mundur dari balik pintu ke ruang tengah itu. Ia khawatir ibu dan kakak perempuannya akan memergokinya.

Horas pun masuk ke ruang dalam dengan langkah mengendap-endap. Kemudian ia bergegas ke pintu samping dan keluar ke halaman. Saat itu ia mencemaskan belati yang tersembunyi di bawah bantalnya. Belati itu adalah milik ayahnya yang selama ini tergantung di dinding kamar. Belati itu sama bentuknya dengan belati yang terselip di pinggang Gumortap. Belati telanjang dan berbahaya. Mudah-mudahan ayahnya tidak segera memerlukannya!

Hari kematian Gumortap

”Apa maumu?” tanya Gumortap ke arahnya. Langit sore sebagian memerah.

Horas memandang tajam dan menghampiri Gumortap. Napasnya menderu dan wajahnya panas terbakar kebencian. Beberapa orang tua sempat ingin memegangi tangannya, tapi Horas berhasil mengibaskan. Di sebelahnya, di kakinya, tampak ayahnya terkapar dengan perut berlumuran darah. Beberapa orangtua berusaha menolong. Horas melihat sekilas, sang ayah baru menyadari bahwa Horas juga berada di dermaga itu. Sang ayah memandang khawatir ke arahnya, seraya mengatakan sesuatu. Namun Horas tak mendengar. Tatapannya nyalang ke arah Gumortap yang sedang melap belatinya yang berlumuran darah dengan handuk kecil. ”Apa yang mau kau lakukan heh?” Gumortap mendelik ke arahnya.

Horas tak menjawab. Ia kini menghunus belati telanjang yang dicabutnya dari pinggangnya, dan sekarang ia tusukkan ke arah perut Gumortap. Gumortap tertawa sinis dan mundur selangkah. ”Anak gila!” umpatnya. Beberapa orang terdengar menjerit khawatir, entah mengkhawatirkan siapa.

Horas terus merangsek, menusuk, menusuk, menusuk, hingga belatinya tertahan sesuatu yang lunak seperti ombak. Ombak itu bergulung-gulung dan memercikkan sesuatu yang hangat dan berdebur sampai ke telinganya. Tangan Horas kini berlepotan darah, darah seharum ombak malam. Lalu Horas menangkap suara kaget dan rasa takut yang memancar bagai kilat dari sepasang mata Gumortap yang terbelalak tak percaya. Belati dan handuk kecil terlepas dari tangannya. Ia kini memegangi perutnya yang sudah sobek dan berlubang berdarah-darah.

Horas terus memandangi Gumortap dengan nafas menderu. Tangannya gemetar menggenggam belati. Ia masih ingin menusukkan lagi belati tersebut ke perut Gumortap yang lunak seperti ombak. Tapi Gumortap sudah terkapar mengerang-erang memegangi perutnya, di antara sebagian orang tua yang kini berusaha pula menolongnya. Sesaat, Horas pun merasa baru saja menunaikan tugasnya sebagai anak, seperti halnya melaksanakan perintah ayahnya mempelajari mesin kapal Penjelajah, yang suatu saat akan dibawanya mengalahkan ombak.*

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme