Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Bocah-bocah Berseragam Biru Laut oleh Puthut EA

Posted on Ming, 17 Jul 2005

Aku seperti kupu-kupu di ruang ini. Kupu-kupu dengan sayap yang butut dan rapuh. Kupu-kupu yang kadang kala berlagak bisa terbang jauh. Seekor kupu-kupu yang berharap bisa mendekati fakta tetapi malah terperangkap di kaca jendela. Lingsut, lelah, dan menggelepar di sana. Mungkin selamanya.

Ruang teduh, ruang nyaman. Ruang tunggu dengan warna pastel. Lubang-lubang ventilasi kecil di dekat langit-langit tinggi itu membawa bocoran harum yang mungkin berasal dari beranda surga. Ratusan kepala bocah yang ada di dalamnya menekuri lantai, ratusan yang lain terlentang menatap langit-langit ruang. Aku mengitari mereka perlahan-lahan, sebagaimana seekor kupu-kupu mencari hinggapan. Kepala-kepala itu masih penuh cerita. Kepala-kepala itu masih penuh derita. Yang membuat lega hanyalah ketika malaikat penjaga neraka menolak mereka. ”Tempat ini bukan untuk anak-anak manis seperti kalian. Pergilah ke ruang tunggu yang nyaman itu. Tunggulah sejenak, sebentar lagi surga akan dibuka tepat pada saat di mana kalian merasa mengantuk.”

Bocah-bocah itu berseragam biru laut. Dari tubuh mereka menguar bau harum taman di pagi hari. Tapi jangan bayangkan bahwa kulit mereka lembut dan bantat seperti donat. Mereka belum sempat bermimpi mempunyai rambut lurus di tengah kewajaran rambut bergelombang, mereka belum sempat bermimpi mempunyai kulit putih di tengah kegaliban warna kulit coklat matang.

Kepala mereka memancarkan warna ungu yang sedih. Sebagian dari kepala mereka menunduk, menekuni lantai, mungkin ingin kembali membaca masa lalu, sebuah masa di mana kisah sedih digelar oleh waktu. Sebagian menatap kosong langit-langit ruang, mungkin ingin membaca masa lalu, sebuah masa di mana rasa sakit berpilin dengan nelangsa. Ada masa memang, seluruh anak diciptakan hanya untuk bersedih dan menderita. Ada kurun waktu di mana kelak akan tercatat, anak-anak terlahir untuk menangis sepanjang waktu.

Aku masih mengitari mereka seperti kupu-kupu. Aku ingin hinggap dan menyadap kisah. Tapi selalu dan selalu, ada jarak yang terentang jauh antara si penyadap dan yang disadap. Senantiasa ada pintu-pintu terkunci, halaman-halaman tak terbaca, antara aku yang hanya membaca dan mendengar, dengan mereka yang mengalami sendiri.

Tubuh mereka seperti dilindungi oleh arus deras yang tidak terlihat. Ada semacam badai lembut yang membalut tubuh mereka. Sehingga setiap kali aku mencoba hinggap, aku terlempar. Percobaan yang selalu aku ulang. Sekali dua, sempat aku hinggap, sebelum kemudian kembali terlempar jauh, dengan hanya membawa sari-sari kisah yang tidak cukup sah untuk kurangkai.

Lalu aku akan terbang agak tinggi, mendekati lubang ventilasi, mencoba bernapas lebih lapang dengan bocoran harum yang bertiup dari beranda surga. Setelah cukup tenaga, kembali aku mengitari mereka, mendaratkan diri di antara ratusan bocah yang menekuri lantai. Tapi seperti mata yang menghadang cahaya matahari, seperti laron yang mencoba mendekati unggunan api, aku lebih sering terpelanting. Hanya sesekali, ada sari-sari kisah yang cacat peristiwa, bisa kubawa pergi. Dan aku terus mencoba lagi, setelah mendapatkan tenaga dari lubang ventilasi.

Demikianlah, setelah beribu kali aku melalukan percobaan tolol itu, kuberanikan diri untuk merangkainya. Dan aku seperti kupu-kupu yang terjerembab di tanah berdebu. Mengepak pelan, melemparkan rangkaian kisah yang cacat peristiwa. Hanya bermodal harap dan cita, siapa tahu memang ada suatu masa di mana seluruh bocah datang hanya untuk berbahagia.

***

Dua bocah itu berpelukan di sebuah sudut. Dua kakak beradik, beradu kepala, dan saling melingkarkan lengan, berpelukan. Aku mencium sari kisah yang terbakar. Mereka mati dibalut api. Ibu mereka terlalu bersedih. Kemiskinan mungkin masih berani dihadapinya. Tapi satu di antara mereka, menderita sakit yang tak mungkin ditanggulangi. Uang mereka tidak cukup untuk membiayai. Si ibu mengambil seliter minyak tanah. Dua orang yang masih lelap, mencoba diselamatkan oleh sepasang tangan yang menggigil. Tangan ibu mereka sendiri. ”Nak, penderitaan ini tidak akan sanggup kita hadapi. Hanya kematian yang bisa menyelamatkan kita.” Dan api berkobar. Mereka bertiga meregang. Mereka bertiga berpelukan, seakan masih ada janji yang belum selesai ditunaikan, berharap ada dunia di seberang yang bisa membuat mereka berkumpul untuk makan bersama di pagi yang cerah.

Aku mampir pada segerombol bocah yang lain. Bocah-bocah itu seperti berjongkok, membuat lingkaran besar dengan posisi saling berhadapan. Tangan-tangan mereka terkait satu sama lain, membuat rantai lingkaran yang kokoh. Kaki-kaki mereka mengecil. Kaki-kaki mereka bengkok. ”Ada yang salah dengan tubuh kami. Kami tidak ingin berjalan empat kaki seperti sapi. Mereka membangun rumah sakit bergedung tinggi. Mereka menganggap rumah sakit adalah hiasan kota yang membuat para pelancong merasa nyaman dan senang. Mereka ingin mengatakan pada dunia, inilah kota kami yang indah dan makmur. Mereka seperti sepasang keluarga yang memajang potret pernikahan di ruang tamu, untuk memastikan pada seluruh orang yang berkunjung bahwa pernikahan dan rumah tangga mereka baik-baik saja. Tapi mereka membiarkan kami seperti ini.”

Di samping lingkaran besar itu, tubuh-tubuh kecil berbaring. Tubuh mereka mengecil dengan mata terbelalak membesar. Mulut mereka sangat lemah. Bumi seperti menyedot seluruh daya mereka lewat punggung yang tertempel di lantai. Satu di antaranya berkata, ”Ibu membawaku pulang dari rumah sakit. Ibuku tahu aku akan mati. Ibuku sudah tidak punya air mata. Ibuku kalah dalam menagih janji. Mereka bilang biaya perawatan gratis. Mereka bohong. Mereka membiarkan aku mati, dan membiarkan perasaan ibuku bolong. Mereka mencoba membunuhku dua kali. Pertama membiarkanku tidak punya gizi, kedua membiarkanku pulang karena ingkar terhadap janji.”

”Aku pulang ketika bel istirahat pertama berbunyi.” Si anak yang berkata, bermata alum. Suaranya serak. ”Orangtuaku tidak ada di rumah. Aku pergi ke lemari pakaian ibuku yang sudah tidak ada kuncinya lagi. Aku mengambil selendang milik ibu, selendang yang baunya selalu membuatku rindu padanya dan pada masa ketika aku sering digendongnya. Sudah dua bulan SPP-ku tidak terbayar. Aku juga masih belum membayar uang Lembar Kegiatan Siswa. Aku tidak enak dengan ibu guru, aku malu dengan teman-temanku. Aku membuat tali menggantung dari selendang ibuku. Aku tahu ibu sangat menyayangiku. Tapi di hari itu, aku ingin mengatakan kepadanya bahwa di luar sana, uang tidak bisa diganti dengan rasa sayang.”

Pintu masuk ruang tunggu itu terbuka, sebaris anak-anak berseragam biru laut masuk. Sebagian dari mereka mengambil posisi duduk melingkar, sebagian lagi terlentang menatap langit-langit ruang tunggu yang begitu tinggi. Seluruhnya anak-anak yang seharusnya berpakaian putih dan merah.

Aku mengitari sesosok tubuh yang menyandarkan tubuhnya di dinding. Kepalanya menyorotkan sinar ungu. Arus kuat menderas ketika aku hendak hinggap. Kembali aku hampir terpelanting, kembali aku harus menuju ke lubang ventilasi, lalu pada kali ketiga aku berhasil hinggap di kepalanya, menyadap sari ce- rita, sebelum kembali terlempar jauh.

”Kami belum ingin surga. Kami ingin dunia. Kami ingin belajar menjadi manusia. Tapi kami tidak sanggup berada di dunia yang dulu. Dunia yang pahit. Dunia yang tidak kunjung kami mengerti. Kami ingin bermain layang-layang dan bersepeda. Kami ingin bernyanyi dan berlari. Kami ingin bermain air dan bermain api. Kami tidak ingin di sini. Kami belum ingin ke sini. Tapi mereka memaksa kami. Mereka mendorong kami. Kami tahu dunia adalah tempat orang bersedih, tapi kami tahu dunia adalah tempat orang bergembira. Hanya kami sungguh tidak mengerti, ada celah di dunia sana, begitu bayi terlahirkan, dia harus menanggung nista dan sengsara. Mereka tahu kami akan mati. Mereka tahu kami mati. Mereka tahu, dan mereka diam saja!”

Seorang gadis kecil di sampingnya ikut berkata, ”Aku telah jadi mayat ketika bapak menggendongku naik kereta. Aku mati karena muntaber. Mati karena tidak cepat mendapat pertolongan. Bapakku tidak kuat menyewa ambulans untuk mengangkut mayatku. Aku digendong naik kereta. Bahkan, bapakku sempat bingung dan tidak tahu di mana bisa memakamkan mayatku. Bagi orang miskin seperti kami, mati pun masih menyisakan masalah.”

Aku hinggap lagi. Aku terlempar lagi. Kembali, hanya serpih sari-sari kisah yang bisa kusadap. Dan tibalah satu sentakan besar. Sangat besar dan kuat. Aku ditabrak warna hitam. Aku ditabrak warna putih. Aku seperti hancur. Seperti hilang.

***

Aku masih seperti kupu-kupu di dunia ini. Dengan sepasang mata yang rabun dan perih. Kupu-kupu yang berharap bisa terbang mendekati fiksi, tapi malah terperangkap dalam kawat-kawat besi. Mungkin sampai mati.

Aku hanya seperti kupu-kupu. Hanya seperti. Tidak lebih. Karena aku melewati masa kecil tanpa ancaman busung lapar, tanpa takut terserang polio, tak pernah berpikir jika sakit dipulangkan oleh petugas rumah sakit. Aku memang pernah berpikir untuk bunuh diri di waktu kecil, tapi itu karena uang jajanku tidak ditambah. Aku hanya seperti kupu-kupu. Berharap mendekati dan mengerti penderitaan mereka hanya lewat kabar dari koran dan berita dari televisi. Seekor kupu-kupu yang berlagak bisa memilin fakta dan fiksi, namun yang terjadi selalu masuk dalam dua jebakan besar. Kalau tidak malu-malu dan salah tingkah, pasti masuk ke jebakan serampangan dan genit.

Sementara barisan bocah-bocah berseragam biru laut terus mengalir ke ruang tunggu. Mereka datang dari mana-mana. Sementara banyak orang yang seperti kupu-kupu, beterbangan, berharap menyadap dan menghadirkan kisah, sambil terus menyimpan kenangan tentang masa kecil yang riang sekaligus menyimpan harapan akan masa depan yang nyaman, di tengah- tengah barisan bocah-bocah berseragam biru laut menuju ke ruang tunggu.

”Ah, itu hanya kabar yang berlebihan. Lihatlah, akan selalu lahir generasi-generasi yang lebih baik dari kita.” Mereka berkata sambil terus menggali lubang-lubang utang, meracuni laut, membobol gunung, menebangi hutan. Ya, generasi yang lebih baik. Dengan wajah dan kulit plastik, dengan tangan penuh tombol, dengan tubuh terlilit kabel. Sambil terus mengunyah berita-berita penuh kebohongan, sambil menyeringai dan berkata, ”Hari gini, gitu loogh…”.

Mereka benar. Ada perbedaan memang, bocah-bocah berseragam biru laut mati dengan cepat, kurang gizi, kelaparan, bunuh diri. Sedangkan yang lain mati dengan cara lebih lambat, disorientasi, depresi, keracunan kabar bohong dan bahan makanan.

Mereka benar, dan mungkin sekaligus mereka tolol. Sedangkan aku seperti seekor kupu-kupu yang tidak kalah tololnya. Hari itu, sebuah koran mengabarkan seorang bocah mati bunuh diri karena tidak bisa membeli buku, dan televisi memberi tahu ada seorang bocah mati bunuh diri karena ia merasa terlalu gemuk dan tidak secantik dulu. Mereka berdua sama-sama bertemu di ruang tunggu, memakai seragam biru laut dengan kepala memancarkan warna ungu.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme