Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Anak-anak Peluru oleh Damhuri Muhammad

Posted on Ming, 03 Jul 2005

(1)

Anakku,

Mengharapkan kepulanganmu sama saja dengan mengharap abu dari tungku-tungku pembakaran yang tak pernah menyala! Tapi, entah kenapa masih saja ibu bersetia menyia-nyiakan waktu menunggumu. Masih saja sesak dada ibu karena denyut rindu. Masih saja jemari tangan ibu hendak menulis surat untukmu, meski kau tak pernah lagi membalasnya. Ya, masih saja terkenang tentang sekeping waktu saat bayi laki-laki menyembul dari rahim ibu. Terkenang pula saat ngeyak dan rengekmu memecah sunyi di ujung malam. Saat itu, ibu tersentak bangun dan bergegas mengelus-elus kepala culunmu, hingga kau terlelap pulas dalam dekapan ibu.

”Ibu restui kepergianmu, Nak! Tapi, jangan sampai perantauanmu seperti Anak Peluru!”

”Anak Peluru? Maksud ibu?”

”Peluru jika sudah ditembakkan, tak akan kembali ke moncong senapan, bukan?”

”Ibaratkan peluru itu seorang anak, dan moncong senapan itu seorang ibu. Mana ada peluru yang kembali ke moncong senapan setelah ditembakkan? Hengkang dan tak pernah kembali pulang.”

Tiga orang anak yang terpacak dari perut ibu, dan pada setiap prosesi kelahiran itu nyaris sebesar biji Jagung peluh mengucur dari sekujur tubuh ibu karena menanggung rasa sakit, namun hasrat ibu ingin menimang bayi perempuan tak kunjung terwujud. Tiga bayi itu semuanya laki-laki. Abangmu, Rehan, setelah tamat SMU di Payakumbuh, merengek-rengek minta izin untuk merantau. Hendak mengadu nasib ke Jakarta. Ibu gadaikan sebidang sawah untuk modalnya berjualan kaki lima. Berkat kegigihan dan kerja kerasnya, lambat laun ia sukses. Khabar terakhir yang ibu dengar tentang Rehan, ia sudah punya lima toko dan dua puluh orang karyawan. Tapi, sejak menikah dengan perempuan rantau, berkembang biak dan lalu beranak pinak seperti kucing, tak pernah lagi Rehan pulang menjenguk ibu. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang?

Lain lagi ceritanya dengan Acin, abangmu yang satu lagi. Setelah lulus jadi polisi, hanya dua tahun sejak berdinas di Aceh, ia berkirim surat minta restu untuk mempersunting gadis kelahiran Takengon. Pada surat itu, Acin berjanji, setelah masa tugasnya berakhir, ia akan mengajukan permohonan agar bisa ditempatkan di Payakumbuh. Acin akan pulang membawa istrinya, dan tinggal bersama ibu. ”Kasihan, ibu sendiri saja di rumah!” katanya. Tapi, seingat ibu itulah surat pertama dan sekaligus surat terakhir Acin untuk ibu. Sejak itu, tak terdengar lagi khabar Acin. Acin tak pernah pulang menjenguk ibu. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang?

”Jangan cemas, Bu! Ruz tidak akan menjadi Anak Peluru.”

Rumah kita makin lengang. Hanya kau yang tersisa, Nak! Bapakmu tak bisa diharapkan. Sejak enam tahun lalu, nyaris setiap malam ia bersetia merawat nenek yang sakit-sakitan, sekaligus menjaganya. Delapan orang anak nenek. Dua perempuan dan selebihnya laki-laki, termasuk bapakmu. Kecuali bapakmu, tak satu pun anak-anak nenek yang menyimpan kerinduan pulang menjenguknya, apalagi kerinduan ingin merawatnya. Umurnya sudah berkepala delapan. Bapakmu rela di-perempuan-kan. Mencuci pakaian, menimba air mandi, menyuapkan makan, melayani segala tetek bengek kebutuhan perempuan setua nenek. Jika kau sudah pergi, tentu ibu akan bersendiri. Tanpa bapakmu. Tanpa Rehan, Acin dan juga kau. ”Ruz ingin jadi anak ibu, bukan Anak Peluru!”

(2)

Perempuan itu, Wafa Sulastri. Pelukis yang sedang bergiat di sanggar seni I Nyoman Gunarsa. Lukisan-lukisan karyanya sering dipamerkan di beberapa kota di Pulau Jawa. Selain bergiat sebagai pelukis, ia bekerja sebagai mediator antara buyer-buyer asing yang tertarik untuk membeli produk-produk handycraft khas Jogja dengan para pengrajin sebagai produsen. Saat itu, Wafa sedang bekerja untuk Mrs Palloma, bule perempuan berkebangsaan Spanyol.

Wafa tidak hanya cantik, tapi juga cerdas seperti terlihat dari cara dan gaya bicaranya. Tampak seperti perempuan yang kenyang pengalaman. Bukan perempuan kebanyakan. Pertemanan mereka berlanjut, makin dekat. Makin akrab. Pada sebuah janji makan malam yang mengesankan, Ruz tergoda pada ajakan Wafa untuk menginap di apartemen tempat tinggalnya. Wafa tinggal di apartemen mewah yang tidak jauh dari pusat kota bersama bos bulenya, Palloma. Semula Ruz memang berhasrat hendak menikmati kencan pertamanya itu bersama Wafa. Namun, hasrat lelaki itu padam seketika. Ia gemetar dan setengah menggigil. Saat Wafa melucuti dasternya, Ruz melihat bekas jahitan panjang membelah bagian perutnya. Lebih kurang enam puluh jahitan. Juga bekas cetakan setrika panas di punggungnya, bekas cambukan di pinggangnya, bekas tusukan benda-benda tajam di paha dan kedua betisnya.

”Siapa pelaku penganiayaan ini?”

”Siapa? Katakan!”

Wafa diam. Perlahan-lahan, gerimis merintik dari bola mata coklatnya. Terisak-isak. Tersedu-sedu.

”Aku akan menjadi pendengar yang baik, jika kau mau berbagi.”

”Kau mempercayaiku, bukan? Ceritakanlah!”

”Panjang ceritanya, Mas!”

Wafa adalah korban kesadisan seorang lelaki yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Indra Setiawan, begitu ia menyebut namanya. Setahun lalu, mereka tinggal di Denpasar, Bali, dan mengelola beberapa bidang usaha. Entah kenapa, Indra menjadi paranoid, setengah gila dan nyaris mengakhiri hidup Wafa. Tentang Indra, Wafa tidak mau bercerita panjang. ”Belum saatnya!” kata Wafa. Yang jelas, Wafa meninggalkan Bali dan melarikan diri ke kota ini, karena sudah tak tahan lagi menanggung perlakuan kasar suaminya.

”Sejak kapan mulai merokok?”

”Sejak telapak tanganku sering disulut api rokok!” jawab Wafa.

”Mulai minum?”

”Sejak aku sering teler karena setiap hari pangkal telingaku dihantam pukulan keras.”

Begitulah! Wafa sedang rapuh, goyah, dan kadang-kadang sulit dikendalikan. Beberapa kali Ruz menyelamatkan nyawanya dari tindakan konyol melakukan uji coba bunuh diri. Menenggak sebotol sprite dingin yang sebelumnya sudah dicampur bubuk racun tikus. Mengiris-iris urat nadi, bahkan dengan sengaja menabrakkan mobil yang sedang disetirnya. Wafa ingin menyudahi riwayat lukanya dengan cara; Mati. Ruz pernah membawanya ke psikiater. Setelah mempelajari gejala ganjil pada kondisi kejiwaan Wafa, psikiater itu geleng-geleng kepala sembari berbisik kepada Ruz, ”Istri Anda?” Ruz terperangah sambil menelan ludah.

Sejak kedekatannya dengan Wafa, konsentrasi kerja Ruz agak terganggu. Buyar, karena sewaktu-waktu ia mesti bergegas ke rumah sakit setelah mendengar khabar Wafa melakukan uji coba bunuh diri lagi. Tak terhitung lagi berapa kali Wafa diusung ke ruang gawat darurat akibat ulah konyolnya yang selalu ingin mati.

”Kenapa Tuhan enggan merenggut hidupku?”

”Hus… Jangan mengumpati Tuhan! Barangkali kau sedang diuji!”

”Aku sudah tak sanggup menghadapi ujian-Nya!”

”Aku ingin bebas dari ujian-Nya!”

”Dengan cara; Mati?”

”Berarti aku sudah tidak berarti lagi?”

”Kau akan berarti jika mau memberitahuku bagaimana cara mati yang paling cepat!”

Ruz berupaya menyembuhkan sakit Wafa dengan caranya sendiri. Memberikan perhatian penuh. Membujuk agar ia menghentikan kegemarannya mencelakai diri. Ruz tidak perlu mencintai Wafa waktu itu. Barangkali yang ia perlukan hanyalah bagaimana cara agar Wafa bisa sembuh dan situasi mentalnya pulih seperti sediakala. Tapi, demi kesembuhannya, Ruz akan melakukan apa saja. Tanpa sepengatahuan Wafa, diam-diam Ruz menghubungi suami Wafa via email. Meminta dan bermohon agar lelaki itu berkenan melepaskan istrinya. Dasar lelaki bajingan, (tanpa tersinggung sedikit pun) dengan senang hati ia menyerahkan istrinya pada Ruz, bahkan bersedia pula menulis surat pernyataan tidak akan menuntut jika Ruz telah menikahi Wafa, mantan istrinya itu.

”Kualat kau!” batin Ruz.

(3)

Bersusah payah Ruz memohon restu untuk menikahi Wafa. Berkali-kali ia menyurati ibu, juga menyurati sanak famili yang dipercayainya dapat melunakkan sikap keras ibu, namun Ruz gagal. Alih-alih memperoleh restu, justru yang diterimanya caci maki, umpat dan sumpah serapah.

”Ibu tidak melarang kau menikah, tapi tidak dengan perempuan rantau itu!”

”Jangan kuatir, Bu! Ruz tidak akan menjadi Anak Peluru.”

”Mungkin kau tidak akan menjadi Anak Peluru. Tapi, menikah dengan perempuan itu, kau akan jadi Anak Durhaka!’

”Ruz tidak akan melupakan ibu. Kelak, Wafa akan Ruz ajak pulang. Kami akan tinggal di kampung, menjaga dan merawat ibu. Ruz ingin jadi anak ibu!”

”Tidak, Nak! Kau bukan anak ibu lagi, jika tetap menikahi perempuan itu!”

Ruz mengurut dada membaca cercaan dan makian yang tertulis di setiap lembar surat ibu. Ia heran, tak disangka-sangka ibu yang sejak ia balita dikenalnya sebagai perempuan santun, bijak dan amat penyayang, tiba-tiba saja berubah menjadi sangat kasar, tidak penyabar, dan sulit diberi pengertian. Ibu tidak menjelaskan alasan penolakannya pada Wafa. Mencak-mencak, marah-marah, memaki dan mencela tanpa sebab musabab yang jelas. Sentimen hanya karena Wafa perempuan rantau. Ya, Wafa memang perempuan rantau, tapi apa bedanya perempuan rantau dengan perempuan-perempuan lain di ranah ibu? Bukankah Wafa juga seorang perempuan? Dan tentulah juga seorang manusia?

Hari ini entah bilangan tahun yang ke berapa sejak Ruz menikahi Wafa tanpa sepengetahuan ibu. Sejak itu pula, Ruz tak pernah pulang ke ranah ibu. Sama seperti tak pulangnya Rehan dan Acin. Tiga laki-laki itu seperti anak-anak peluru, sekali ditembakkan dari moncong senapan, tak pernah kembali pulang. Sekadar menanyakan keadaaan ibu yang kian lama kian ringkih dan sering sakit-sakitan pun tidak juga. Lupa jalan pulang atau memang sudah tak berniat pulang? Entahlah!

(4)

Anak-anakku; Rehan, Acin dan Ruz…!

Menunggu kepulangan kalian sama saja dengan menunggu sekawanan Kelinci di kandang Macan! Namun, di usia yang sudah berkepala tujuh ini, (entah kenapa) masih saja ibu bersetia menyia-nyiakan waktu menunggu kalian. Masih saja sesak dada ibu karena denyut rindu ingin bertemu kalian. Masih saja jemari tangan ibu hendak menulis surat untuk kalian, meski kalian tak pernah lagi membalasnya. Ya, masih saja terkenang tentang tiga bayi laki-laki yang menyembul dari rahim ibu.

”Sampai kapan ibu harus menunggu kalian?”

”Sampai ibu menemukan alasan untuk tak menunggu kami lagi!”

”Apa alasan paling tepat untuk melupakan kalian, Nak?”

”Kematian! Hanya kematian kami yang mampu memadamkan api rindu ibu!”

Benarkah ibu sungguh-sungguh sedang menunggu? Jangan-jangan ibu tak sedang menunggu kepulangan kalian, tapi menunggu khabar kematian kalian! Bilamana kalian sudah jadi mayat, mungkin saat itu ibu akan berhenti menunggu. Kalau pun ibu masih juga menunggu, itu hanya sekedar membunuh waktu sambil menunggu ajal datang menjemput ibu.

”Bukankah ibu hanyalah moncong senapan dan kalian adalah anak-anak peluru yang telah dimuntahkan?”

Kelapa dua, 2005

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme