Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Bang Acung Tidak Bunuh Diri, Yah oleh Aba Mardjani

Posted on Ming, 14 Agu 2005

Tiga kali Ny Laila tak sadarkan diri. Yang pertama pukul sembilan pagi ketika ia mendapat kabar Mansur, anaknya, meninggal dunia. Dunia tiba-tiba terasa jadi begitu gelap. Tak pernah terbayangkan anak keduanya akan pergi begitu cepat. Karena itu, begitu mendengar kabar duka itu, seluruh persendian tubuhnya terasa lunglai. Ia seperti kehilangan seluruh darah dan tenaganya.

Ny Laila pingsan untuk kedua kalinya pukul sebelas siang begitu ia akhirnya tahu orang kasak-kusuk membicarakan soal penyebab kematian Mansur. Putranya yang baru berusia 18 tahun itu meninggal bukan karena komplikasi penyakit yang selama ini ia derita dan membuatnya harus dirawat di rumah sakit. Mansur meninggal karena bunuh diri. Ia dikabarkan melompat dari lantai empat rumah sakit tempatnya dirawat selama ini. Untuk pertama kalinya Ny Laila berteriak histeris. Ia tak ingin percaya dengan apa yang ia dengar.

Untuk ketiga kalinya Ny Laila pingsan setelah jasad Mansur dibawa pulang dari rumah sakit. Ia pingsan setelah melolong-lolong sambil mendekap tubuh lunglai Mansur. Sisa-sisa darah masih tampak di beberapa bagian tubuh putranya. Dua petugas kepolisian baru saja pulang. Keduanya gagal membujuk Mahmud, suaminya, untuk menuntut pihak rumah sakit yang telah mengabaikan unsur pengamanan bagi para pasien. Kematian Mansur tak lepas dari lemahnya hal itu. Mahmud tak ingin lagi direpotkan untuk urusan-urusan seperti itu. Ia ingin menerima kematian anaknya sebagai suratan takdir. Kecuali kalau tuntutan itu bisa menghidupkan lagi anaknya.

Kini Ny Laila duduk bersimpuh di salah satu sudut ruangan tak jauh dari jasad Mansur dibaringkan. Ia merasa seluruh tubuhnya kian lemah. Tatapan matanya kosong. Ia seperti tak lagi mendengar orang-orang yang berganti-ganti mendekatinya dan menghiburnya. Sesekali air matanya meleleh. Matanya sembab. Mahfud, kakak Mansur, duduk bersimpuh di samping jenazah adiknya sembari tak henti-henti membacakan Surat Yasin. Suaranya patah-patah. Di sebelahnya, Mahmud, ayahnya, juga membacakan Surat Yasin. Suaranya terputus-putus dalam isak yang tertahan. Sesekali ia menyeka air mata. Sesekali ia juga berhenti membaca ayat-ayat suci itu untuk menerima uluran tangan atau dekapan para tamu yang datang untuk menyatakan ikut berbelasungkawa.

Di mata Ny Laila terus-menerus melintas bayangan Mansur yang ceria. Pada usia 16 dua tahun lalu, Mansur adalah anak yang sangat sehat. Meskipun badannya gemuk, ia adalah anak yang lincah. Suka bermain sepak bola. Ia juga rajin mengikuti kegiatan remaja masjid dan aktif sebagai anggota kelompok marawis. Mansur adalah anak yang disukai teman-temannya karena perangai santunnya. Ia tak pernah menyakiti perasaan teman-temannya.

Memasuki usia 17, Mansur memang mulai mengeluhkan tubuh tambunnya. Cinta membuatnya ingin tampil lebih menarik. Mona, gadis temannya di kelompok remaja masjid yang ditaksirnya, kata Mansur kepada ibunya, menolak cintanya. Mona ingin punya pacar yang tubuhnya langsing.

Mengikuti nasihat ibunya, Mansur kemudian mencoba berpuasa tiap hari Senin dan Kamis. Tetapi, baru berjalan satu bulan, ia berhenti karena tak tahan godaan. Upaya mengurangi makan pun tidak berhasil karena Mansur juga tak bisa menahan rasa lapar. Ny Laila tahu bagaimana Mansur secara sembunyi-sembunyi makan atau jajan.

Ayahnya yang kemudian menyarankan Mansur meminum minuman suplemen pelangsing tubuh yang banyak diiklankan dan dijual di toko-toko. Dan, ternyata, hasilnya sangat manjur. Bobot badan Mansur turun secara menakjubkan karena ia memang seperti kehilangan nafsu makan. Tetapi, empat bulan kemudian Mansur jatuh sakit. Dokter yang memeriksa meminta Mansur menjalani rawat inap karena ususnya mengalami luka serius. Mahmud yang kemudian tak henti menyesali dirinya. Kenapa ia sendiri yang justru menyarankan anaknya meminum suplemen pelangsing tubuh itu? Mengapa ia tak membiarkan saja Mansur memiliki tubuh tambun tapi sehat? Apalagi setelah dua pekan dirawat di rumah sakit, Mansur kemudian jadi langganan. Ia bolak-balik menjalani perawatan karena penyakitnya kerap kali kambuh. Yang terakhir, kata dokter, ia mengalami komplikasi. Selain luka di usus yang kembali kumat, ginjalnya juga terganggu. Karena itu, ia kembali harus dirawat untuk waktu yang tak jelas sampai kapan.

Lima malam sebelum kematian Mansur, Mahmud bersimpuh di atas sajadah di kamarnya di tengah malam. Kepada Tuhan ia panjatkan doa agar putranya segera disembuhkan. Kepada Tuhan pula ia mengadu bahwa ia tak lagi punya uang untuk membayar biaya-biaya perawatan dan pengobatan anaknya. Hampir semua benda berharga di rumahnya telah dijualnya. Ia kini hampir tak memiliki apa-apa lagi.

Empat malam sebelumnya, Ny Laila membesuk putranya. Dan menginap di rumah sakit. Tengah malam ia terbangun dan terkesima melihat sesosok wanita berpakaian serba putih berdiri di sudut ruangan. Sorot mata perempuan berambut panjang itu begitu tajamnya sampai-sampai mulut Ny Laila ternganga dan napasnya terengah-engah ketakutan. Keringat dingin mengucur dari sekujur tubuhnya. Sorot mata itu seolah mengatakan ia tak boleh berada di situ. Sorot mata itu melukiskan betapa perempuan itu membencinya. Ketika akhirnya bayangan itu lenyap, Ny Laila merasa tubuhnya panas dingin. Ia tak mampu lagi memejamkan mata sampai pagi tiba. Sesampainya di rumah, panas dinginnya tak kunjung hilang. Sorot tajam tatapan mata perempuan misterius itu seolah terus mengikutinya. Karena itu, ia tak lagi berani membesuk putranya.

Juga kemarin, sehari sebelum Mansur dikabarkan meninggal dunia. Kata Mahmud, suaminya, Mansur ingin segera dibawa pulang. Tetapi, sebelum itu, ia ingin sekali ibunya datang membesuk. Amat merindukan ibunya. Dengan alasan tubuhnya masih lemah, Ny Laila menolak pergi ke rumah sakit. Sampai kemudian ia mendengar kabar itu dan kini ia cuma bisa menyesali semuanya.

Ny Laila masih bersimpuh di tempatnya. Tiba-tiba ia menangis lagi. Ia ingat ucapan seorang guru ngajinya. Bahwa orang yang meninggal karena bunuh diri, arwahnya tak bisa diterima Tuhan. Tuhan bahkan memurkai makhluk-Nya yang membunuh dirinya hanya karena ingin melepaskan diri dari segala belitan persoalan hidup. Duka mendalam menderanya. Dalam tangis ia berdoa semoga Tuhan mau memaafkan segala kesalahan anaknya.

Sebagai tetangga, aku datang melayat sesaat sebelum jenazah Mansur dimandikan. Kuucapkan rasa belasungkawa mendalam kepada Mahmud yang tampak tegar. Matanya tampak lelah dan marah. Ia tersenyum getir. Kuucapkan juga rasa belasungkawa kepada Ny Laila. Air matanya meleleh. Tak ada senyum. Tatapannya kosong. Menembus relung-relung gelap di antah berantah.

Kusingkap kain penutup wajah Mansur. Di pipi kirinya ada sisa-sisa darah yang telah mengering. Tetapi, ia tampak damai. Pejam matanya seperti bocah remaja yang tengah tertidur pulas sekali. Bahkan bibirnya seperti tengah tersenyum. Jauh dari gambaran-gambaran menyeramkan yang secara liar melintas dalam benakku. Sebelum pulang, dengan tulus kuucapkan pula doa. Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wa’fu anhu. Setelah itu kubacakan Surat Alfatihah. Semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan. Apa pun penyebab kematiannya.

Ocha, putriku, baru saja bangun dari tidur siangnya ketika aku tiba di rumah. Ada segaris putih di sudut bibirnya tanda ia ngiler waktu tidur.

”Ayah habis dari mana?” ia bertanya. Suaranya serak.

”Habis melayat.”

Gadis berusia enam tahun itu menyibak rambut yang menutupi matanya.

”Melayat Bang Acung?” ia bertanya lagi.

”Bang Acung? Bukan. Bang Mansur,” kataku.

”Iya, Yah. Bang Acung itu Bang Mansur,” istriku menimpali sambil lewat.

”O, gitu. Memangnya kenapa, Ocha?” aku bertanya melihat ia seperti sangat tertarik.

”Yah, Bang Acung kata orang mati karena bunuh diri,” gadisku bersila di hadapanku.

”Ocha dengar dari siapa?”

”Kata orang-orang, Yah. Bunuh diri itu kan enggak boleh ya, Yah. Tetapi, orang-orang enggak tahu sih. Bang Acung itu bukan bunuh diri, Yah.”

”Kenapa Ocha bilang begitu?”

”Tadi Ocha mimpi, Yah,” jawabnya.

Gadis kecilku itu kemudian menceritakan mimpinya. Katanya, Bang Acung mula-mula sedang tidur di rumah sakit. Tiba-tiba ia terbangun karena mendengar ada yang memanggil-manggil namanya. Suaranya datang dari samping kamarnya. Bang Acung lalu membuka jendela kamarnya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat seekor cecak. Kepalanya dua. Lalu Bang Acung mendengar bisikan. Kata suara itu, kalau mau sembuh dari penyakitnya, Bang Acung harus memakan cecak berkepala dua itu. Bang Acung, cerita putriku selanjutnya, menyambar cecak itu untuk dimakan. Saat itulah ia terpeleset dan terpelanting jatuh ke bawah.

”Jadi begitu ceritanya, Yah. Jadi, Bang Acung itu bukan mati karena bunuh diri. Dia jatuh. Orang-orang tidak pada tahu sih, Yah. Coba kalau mereka tahu seperti Ocha, orang-orang pasti tidak akan bilang Bang Acung bunuh diri.”

Aku agak tertegun. Lalu terbayang wajah damai Mansur. Dengan bibirnya yang seolah tersenyum. Diam-diam aku pun berharap mimpi putriku tak sekadar bunga tidur.

Tanah Kusir, Juli 2005

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme