Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Cik Giok oleh Reda Gaudiamo

Posted on Ming, 18 Sep 2005

Jangan lupa kirim tiket buat Cik Giok biar bisa ke Jakarta, lalu di pelabuhan. Jangan lupa baju buat Cik Giok.

Di rapat persiapan perkawinanku, mengapa Pa justru sibuk mengurusi Cik Giok? Mengapa Cik Giok begitu penting, mengalahkan aku, anak tunggal yang akan kawin? Lebih hebat lagi, setiap kali Pa bersuara, Ma, yang biasanya tidak pernah rela menerima usul apa pun dari Pa, diam. Emak, yang selalu mendukung semua kehendak Ma, bisu.

Cik Giok sudah lama tinggal bersama kami. Malah sejak aku belum lahir. Kalau mengikuti urutan keluarga, aku harus memanggilnya A’i—bibi—Giok. Karena kata Pa, Cik Giok itu anak angkat Emak—nenekku. Tetapi karena semua memanggilnya Cik Giok, aku mengikut saja. Dan tak seorang pun merasa keberatan dan punya niat memperbaiki kesalahan itu.

Emak dan orangtua Cik Giok tinggal sekampung, di Pontianak. Pa bilang, orangtua Cik Giok kurang mampu. Hidup mereka susah, apalagi dengan jumlah anak yang banyak. Waktu Cik Giok lahir—ia anak terakhir dari 11 bersaudara—hingga umur setahun, ibunya sakit-sakitan. Supaya anak dan ibu selamat, Cik Giok ditawarkan kepada Emak untuk diambil anak. Emak mau.

Di rumah kami, Cik Giok menempati kamar belakang, dekat dapur, di sebelah gudang. Kalau tak boleh dibilang paling jelek, kamar itu amat sangat sederhana. Sempit. Separuh dindingnya dari tembok. Sisanya dari kawat ayam yang dilapis kawat nyamuk, diberi tirai kain belacu yang selalu dicuci setiap Sabtu pagi.

Aku pernah bertanya, mengapa Sabtu.

Itu hari yang paling tepat, katanya. Supaya di hari Minggu, saat bisa sedikit bersantai di kamar, ia bisa berbaring dengan tenang tanpa perlu merasa jengkel memandangi tirai yang kotor, berdebu.

Emak—ibu Ma—melarang aku main ke kamar Cik Giok. Katanya kamar itu sumpek dan lembab. Tidak bagus untuk aku yang punya asma. Sayangnya aku malah tergila-gila memasuki kamar itu, menemuinya. Terutama siang hari, ketika kamarku terasa begitu panas: tirai jendela kamar Cik Giok yang menari-nari ditiup angin, memanggil, mengajakku merasakan kesejukan di sana. Kalau sedang tak banyak tugas (ia membantu Ma memasak, mencuci, menggosok, membereskan rumah, dan mengurusi segala keperluan Emak), Cik Giok pasti menemaniku membuat pe-er. Tetapi yang paling sering kami lakukan adalah bertukar cerita. Aku paling sering mengeluhkan pelajaran—terutama berhitung, dia melepas cerita tentang kampungnya yang jauh atau mengulang cerita tentang aku waktu masih bayi. Katanya, aku bayi yang cengeng, yang cuma diam kalau digendong Cik Giok. Sering di tengah cerita, aku mengantuk. Kalau sudah begitu, Cik Giok langsung menyodorkan bantalnya yang tipis dan lembek itu. Lalu jarinya mengelus-elus alis mataku, hingga aku terlelap. Sore hari, sebelum Emak bangun, Cik Giok sudah mengusir aku keluar kamarnya

Aku baru menyadari kedekatanku dengan Cik Giok ketika ia mendadak pergi dari rumah. Aku kelas enam, waktu itu. Sudah dekat ujian. Sehari sebelumnya, Cik Giok menangis seharian. Emak dan Ma melarang aku masuk kamarnya. Ketika aku ingin mencari tahu sebabnya, dia cuma menggeleng sambil mengusap-usap kepalaku. Tidak apa-apa, katanya, berusaha mengeluarkan senyum. Esok harinya, ketika pulang sekolah, kudapati kamar itu sudah kosong. Emak bilang Cik Giok pulang kampung. Ma bilang, ibunya Cik Giok sakit keras. Malam itu aku tak bisa tidur. Juga beberapa malam setelah itu. Lewat seminggu, kangen pada Cik Giok membuat dadaku mau pecah saja. Pulang sekolah, aku masuk kamarnya. Memeluk bantalnya yang tipis. Tiba-tiba aku menangis. Emak, yang kebetulan tidak tidur siang, tahu. Aku ditariknya keluar.

Katanya, buat apa menangisi Cik Giok? Percuma! Dia juga tidak ingat kamu. Buktinya sampai sekarang tidak balik-balik!

Aku ingin berteriak, bilang pada Emak, bahwa ia bohong. Tetapi aku diam saja. Setengah mati menahan air mata agar tak menetes lagi. Takut Emak tambah marah dan nanti memukulku dengan rotan.

Sebulan. Satu kuartal. Enam bulan. Lewat. Lalu setahun: aku berhenti mengharap Cik Giok kembali. Bahkan kemudian lupa kalau di ujung rumah kami ada kamar yang pernah amat sering kukunjungi. Cik Giok seakan terhapus dari catatan keluarga kami. Hingga seminggu lalu, ketika mendadak namanya disebut-sebut dalam rapat persiapan perkawinanku. Cik Giok harus dipanggil, dibuatkan baju…. Jadi Cik Giok akan datang. Setelah empat belas tahun pergi, ia kembali ke rumah ini lagi. Kembali ke kamar dekat gudang itu yang sedang dibersihkan oleh pembantu, atas perintah Ma.

Ia akan tinggal terus bersama kita, aku bertanya pada Ma.

Tidak. Habis pesta kawinmu dia balik ke kampung lagi, kata Ma.

Dan Cik Giok benar-benar datang. Pa menjemputnya di Tanjung Priok. Aku sedang menyirami bunga kamboja Jepang milik Ma ketika Cik Giok dan Pa turun dari bajaj. Aku berlari menyambutnya. Kami berpelukan erat.

Mau kawin kamu, Lin? katanya sambil mengusap dahiku. Aku menyeringai saja. Tenggorokanku kering. Wajahnya lebih tirus sekarang. Matanya, kelihatan sedih. Ubannya sudah banyak sekali. Kurebut tas kain dari tangannya. Ia kutarik masuk. Di ruang tamu, dengan dahi berkerut, Ma menanyakan kabar Cik Giok.

Baik. Semua baik, selamat, kata Cik Giok. Emak, yang tak beranjak dari meja makan, mendengus. Keras. Cik Giok menangkupkan tangannya, memberi hormat pada Emak, lalu mendahului aku menuju kamarnya yang lama. Aku mengikutinya dari belakang. Persis seperti dulu.

Pagi-pagi, Cik Giok sudah sibuk di dapur. Menyiapkan sarapan untuk Emak, Pa, Ma, dan aku. Bubur encer dengan tung cai, suwiran ikan asin bakar, acar ketimun dan telur asin yang berminyak bagian kuningnya. Semua dari kampung. Kami menyantapnya dengan lahap. Cik Giok mengawasi saja dari pintu dapur.

Makan, Cik, kataku.

Sudah, katanya. Ketika Emak mengangkat mukanya dari mangkuk bubur, Cik Giok bergegas pergi ke belakang. Aku sudah berdiri, siap menyusulnya. Tetapi melihat wajah Emak, aku putuskan kembali duduk. Menghabiskan bubur di mangkukku.

Siangnya, aku harus mengepas baju pengantin. Aku bilang, mau mengajak Cik Giok. Ma kelihatan kurang senang, tetapi suaranya nyaring memanggil Cik Giok.

Ayo ikut, Cik, kata Ma. Cik Giok tampak bingung.

Antar Alin mengepas baju pengantinnya, Ma menjelaskan. Kulihat wajah Cik Giok bersemu merah. Senyum mencuat dari sudut-sudut bibirnya. Tetapi langsung hilang ketika aku menggodanya. Aku bilang mungkin ia ingin beli baju pengantin juga. Ma mencubit lenganku. Sakit. Ma menggeret Cik Giok keluar. Kami berjalan beriring, menuju jalan besar. Mencari bajaj. Sepanjang perjalanan kami tak saling bicara.

Baju sudah hampir selesai. Meski masih agak longgar di pinggang, bagiku gaun satin putih penuh payet serta sulaman bunga ini sudah sangat sempurna. Aku berputar-putar di depan cermin. Cik Giok tetap diam. Tak berkomentar, tak tersenyum. Lalu kami mampir ke tempat tukang kue basah untuk upacara minum teh dan tempat memesan undangan. Menuju pulang, kami singgah ke tukang jahit khusus untuk baju keluarga. Model baju untuk Cik Giok sudah ditentukan. Sama persis dengan Ma, hanya beda warna. Sedikit lebih gelap. Cik Giok tetap diam sampai kami tiba di rumah.

Sudah tiga malam aku tak bisa tidur. Ma bilang itu biasa. Apalagi kalau hari perkawinan makin dekat. Katanya lagi, setiap calon pengantin selalu begitu. Itu karena terlalu senang. Mungkin. Tubuhku lelah. Mataku berat. Aku keluar kamar, mencari makanan di dapur. Tetapi begitu melihat lemari es penuh sesak dengan makanan, perutku terasa sangat penuh. Kulihat kamar lampu di kamar Cik Giok masih menyala. Dia belum tidur. Aku masuk tanpa mengetuk pintu. Kudapati ia sedang menulis sesuatu. Terkejut dia melihatku.

Ada apa? Ia bertanya.

Tidak bisa tidur, Cik, kataku. Ia membereskan kertas suratnya.

Apa tidak mengantuk? Ia bertanya lagi.

Aku hanya mengangkat bahu. Lalu aku naik ke tempat tidurnya. Kakiku menjuntai tak tertampung lagi oleh tempat tidurnya yang dulu terasa begitu lapang untukku.

Tulis surat buat siapa, Cik?

Keluarga di kampung. Mereka khawatir. Aku sudah tua, sudah lama tidak jalan jauh. Aku harus kasih kabar kalau sudah sampai Jakarta. Sehat dan selamat.

Hanya itu yang kuingat dari percakapan kami. Aku tertidur. Entah untuk berapa lama. Lalu aku terbangun oleh suara Cik.

Cepat bangun. Dicari Emak, katanya. Aku melompat, menuju kamar mandi. Terlambat, Emak sudah berdiri di depan pintu kamar Cik Giok. Ia marah besar! Sampai sore Emak mendiamkan aku. Ma ikut bersungut-sungut. Malamnya, Kuku—kakak perempuan Papa—datang. Di ruang tamu kami membahas acara minum teh bersama keluarga calon suamiku, dua belas hari lagi. Entah dari mana, tiba-tiba Cik Giok sudah berdiri di ambang pintu ruang makan. Di tangannya ada kursi plastik. Wajahnya tegang. Kuku menyuruhnya masuk. Tetapi ajakan itu justru membuat gusar Ma dan Emak. Dengan suara keras, Mama menyuruh Cik Giok tak perlu ikut duduk bersama kami. Emak menangis. Pa tiba-tiba menghilang. Padahal tadi duduk manis di samping Emak. Aku berlari ke kamar tidurnya. Kosong. Ketika aku kembali ke ruang tamu, Cik Giok sudah pergi. Ma sibuk mendiamkan Emak yang menangis makin keras. Aku bersiap menyusul Cik Giok, tetapi Kuku menahanku. Urus Emak, katanya.

Ada apa ini? Aku bertanya pada Kuku. Dia cuma bilang, nanti aku akan mengerti. Nanti semua akan jelas. Nanti. Kapan? Dia ikut-ikutan memeluk Emak. Meninggalkanku. Ada apa dengan mereka? Ada apa dengan perkawinanku? Ada apa dengan Cik Giok? Dengan kepala pening dan hati gusar, aku masuk kamar. Menguncinya dari dalam.

Keesokan harinya aku bangun terlambat. Cik Giok sudah pergi. Ma bilang Cik Giok ada keperluan mendadak di Bandung. Dia akan segera kembali menjelang pesta. Terserah apa kata Ma, aku yakin Cik Giok tak akan kembali ke rumah kami. Tidak juga untuk pesta perkawinanku.

Sebulan lewat pesta perkawinanku yang berlangsung meriah itu, Ma minta aku pulang. Penting, katanya. Ketika aku tiba, Emak, Pa, Ma, dan Kuku telah menunggu di ruang makan.

Kau harus berangkat ke Pontianak. Temani Pa, kata Ma. Cik Giok kena stroke.

Aku tak ingin pergi. Malas. Tetapi suami malah mendesak. Katanya, siapa tahu ini kesempatan terakhir aku menemuinya.

Dua hari kemudian Pa dan aku berangkat. Ketika itu Cik Giok sudah masuk ICU. Perutku mulas.

Cik Giok tak menunggu aku tiba. Ia pergi satu jam sebelum pesawat kami mendarat. Kakak perempuan Cik Giok, yang wajahnya amat mirip dengannya, menjemput kami. Ia memelukku. Tangisnya membasahi wajah dan rambutku. Pa, diam-diam, membuang muka, menyeka matanya.

Di rumah duka, barisan perempuan tukang menangis sudah membanting-banting badan, genta-genta kecil bertalu-talu. Cik Giok begitu cantik dengan baju cheong sam-nya. Aku menangis. Pa menangis lebih keras lagi. Tangannya mencoba memeluk tubuh kaku Cik Giok. Maafkan aku, katanya berulang-ulang. Semua yang ada di sana menangis, menjerit sambil berebut mendekati aku, memelukku. Erat, hingga aku sulit bernapas. Dengan muka basah, kakak Cik Giok mencium pipiku.

Beri hormat pada Mamamu, ia berbisik.

Rawamangun, Juli 2005

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme