Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Indrakila oleh Bre Redana

Posted on Ming, 23 Okt 2005

Pensiun dari pekerjaannya di perusahaan surat kabar, lelaki itu pindah ke desa di ketinggian ke rumah yang dirancangnya sejak lama di antara gunung-gunung dan lembah. Didasari pertimbangan yang dibuat tak kalah lamanya, ia bersama istri ingin melewatkan hari tua usai pensiun di tempat yang tenang, mengonsumsi waktu sehari-hari dengan bebas merdeka. Pekerjaan menulis konon tak mengenal kata pensiun. Sebagai penulis, dia malah membayangkan produktivitasnya nanti, di tengah waktu yang dibayangkannya luas tak terhingga seperti samudra.

Jajaran pohon bambu di belakang rumah hanya kelihatan pucuk-pucuknya dari ruang kerja yang dibuat di lantai dua. Ini untuk melukiskan, bagaimana rumah mereka berada di atas tanah dengan tekstur berbukit, di mana beberapa sisi kemudian terlihat sebagai pemandangan yang letaknya di bawah. Di seberang sana, lembah dan gunung-gunung. Tempat tinggal mereka seolah mengapung di udara—dan memang begitulah rancangan sahabatnya, lulusan sekolah arsitektur terkemuka di Inggris. Sahabat itu sebelumnya sampai mendesak, ingin tahu lebih tegas lagi segi-segi hubungan dia dengan sang istri (karena itu segi paling penting untuk mengonfigurasi tempat tinggal katanya), kebiasaan serta irama keseharian mereka, sampai impian bahkan impian yang boleh jadi berada di balik kehidupan yang nyata, fana.

”Kamu ini psikolog, pendeta, atau arsitek?” tanya si lelaki menjelang pensiun waktu itu kepada sahabatnya tadi.

”Sudahlah, kamu jawab semua pertanyaanku. Jerussalem juga dibangun dengan gagasan spiritual, bukan teknis,” tukas sang teman.

”Wah, aku lupa, pekerjaanmu urban planner. Setahuku kamu memang belum pernah membangun rumah meski kamu arsitek, ha-ha-ha…,” sahutnya berseloroh.

Manusia menjelang pensiun malah menuliskan puisi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sahabatnya itu. Sang sahabat garuk-garuk kepala. ”Baru kali ini aku disuruh membangun rumah acuannya puisi,” ujarnya dengan tetap menggaruk-garuk kepala sehingga rambutnya yang agak kemerahan menjadi kian berantakan. ”Aku memang belum pernah membangun rumah. Kali ini aku mau, karena ini rumah wong edan…,” tambahnya getas.

Ketika hari pensiun tiba, teman-teman menyelenggarakan pesta perpisahan untuknya di kantor. Istrinya yang puluhan tahun kawin dengannya tak pernah menginjak kantor diajaknya serta.

”Masih cantik ya…,” kata beberapa teman wanita di kantor mengomentari istrinya—entah basa-basi atau sungguhan. Terus terang, ia terbiasa mendapati komentar orang seperti itu.

Dia disuruh pidato, menyatakan kesan-kesannya selama 25 tahun bekerja di situ. Beberapa teman ada yang mengusap air mata. Pimpinan perusahaan, orang sangat bijak yang telah membuatnya betah kerja di tempat tersebut, mengingatkan agar dia tetap menganggap kantor ini sebagai ”rumah kedua”.

Begitulah, sejak hari itu irama kerjanya sebagai orang kantoran berhenti. Dia menjadi navigator untuk dirinya sendiri, untuk seluruh waktu yang berada di bawah kekuasaannya sendiri, terserah mau dia manfaatkan untuk kegiatan apa.

Kebiasaannya bangun siang menjadi-jadi. Terasalah, waktu tidak seluas dibayangkannya. Setelah bangun tidur tengah hari—atau kadang lewat tengah hari—tak ada sesuatu yang menggerakkannya untuk mengerjakan sesuatu. Dia duduk bermalas-malasan minum kopi atau entah apa. Setelah itu sore tiba. Muncul alasan untuk memanjakan kemalasan yang lain, dengan menikmati matahari turun di balik lekukan gunung-gunung.

”Kalau ingin menulis, ya mustinya bangun pagi,” komentar istrinya.

Dia cuma tertawa. ”Benar juga,” ujarnya dalam hati.

Pertama berat, tapi perlahan-lahan dia mulai bisa bangun pagi. Perkembangan berikut bahkan mengagetkan sang istri. Ia mulai bangun saat subuh, sebelum matahari terbit.

”Kenapa bangun sepagi itu, Pa?” tanyanya. Dilihatnya sang suami juga tidak melakukan sesuatu di atas keyboard komputernya. Yang dilakukan adalah mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah, bersih-bersih, merapikan barang-barang, dan lain-lain. ”Ooh, barangkali memang begitu kebiasaan semua pensiunan,” pikir sang istri.

Kebiasaan itu berkembang menjadi-jadi. Pagi-pagi dia sudah memegang gunting tanaman, memangkas dan merapikan daun-daun bambu, menggunting cabang dan ranting-ranting tanaman bunga-bungaan, sesekali merawat dengan memberinya pupuk, memindahkan dan menata ulang tanam-tanaman, sampai-sampai, dia seolah seperti landscaper. Buku-buku filsafat politik sastra contemporary studies ditinggalkannya. Dia lebih tertarik pada tanaman. Kepada semua temannya ia hanya memesan buku yang berkisar soal tanaman, gardening, lanscaping, space planning, dan semacamnya.

Dari silaturahmi dengan teman-teman lama yang masih terjaga, orang-orang di kantor hampir semua tahu bahwa ia kini menjadi petani.

”Mas Daru kini jadi petani lho…,” celoteh orang di kantor.

”Ah masak?” yang lain menimpali tidak percaya. ”Apa dia bisa pegang cangkul?”

”Hu… kalian tidak tahu. Coba tanya beberapa teman. Tanah di sebelah yang kosong dia tanami singkong. Waktu saya ke sana, kebun singkongnya itu sudah seperti hutan. Katanya dia sampai diprotes tetangga, takut kebun singkongnya untuk sembunyi maling….”

Begitulah kehidupan pensiunan ini. Dia menjadi petani. Soal menulis, jangan-jangan dia bahkan sudah lupa….

Sampai suatu ketika berita mengejutkan tiba (hal seperti ini sebenarnya seperti pengulangan, selalu terjadi pada para pensiunan. Hanya saja, ketika kejadian yang tampaknya bisa menimpa siapa saja itu terjadi, kaget juga banyak orang). Apa yang terjadi di tempat tinggalnya di desa menyebar: dia ditemukan pingsan di kebun singkong.

Ia dilarikan ke rumah sakit. Beberapa teman lama berbondong-bondong datang membesuk selama dia dalam perawatan.

”Stroke ya?”

”Jantung ya? Bagaimana keadaannya?”

”Stres karena pensiun, kali….”

Beberapa orang menyimpulkan sendiri apa penyakitnya. Hanya istrinya—orang terdekatnya—yang benar-benar tahu apa yang menimpanya. Sang istri percaya, tidak ada sesuatu yang terlalu perlu dikhawatirkan. Selain sikap berserah kepada Yang Kuasa, dari berbagai penjelasan dokter, si istri ini percaya suaminya akan segera pulih. Memang kekurangan oksigen beberapa saat waktu itu sempat memengaruhi ingatan atau memorinya. Ada beberapa hal menjadi tidak bisa diingat lagi oleh suaminya. Akan tetapi, ia percaya, kemukjizatan akan mengembalikan segala-galanya kalau Yang Kuasa menghendaki.

Yang dijalani di rumah sekarang adalah proses pemulihan. Kegembiraan sang istri berangsung-angsur timbul kembali, melihat kemajuan suaminya. Ia merasa benar dengan feeling-nya. Sudah beberapa pagi dia melihat suaminya melakukan stretching di taman belakang rumah di dekat kolam. Bukan hanya stretching, tetapi bahkan mulai gerakan-gerakan lembut yang dia kenal sangat diakrabi suaminya. ”Liong bun…,” ucap sang istri dalam hati sambil menarik napas gembira. ”Dia bisa mengingat rangkaian gerakan Pintu Naga….”

Perkembangan berikutnya lagi, sang suami terlihat selalu nyenyak tidurnya, dan bangun dalam waktu yang nyaris tetap sebelum matahari terbit. Ketika si istri keluar dari tempat tidur beberapa waktu kemudian, dia sering menjumpai suaminya sudah dalam keadaan rapi, berada di ruang kerja menghadap komputer. Dia baru menyadari, bahkan meja kerja itu pun sudah diubah posisinya, langsung menghadap ruang terbuka menghadap arah gunung-gunung.

”Papa sudah sehat benar ya? Diam-diam sudah menulis lagi ya?” godanya.

Sang suami diam, duduk dengan punggung tegak dan mata menatap ke kejauhan.

Di balik gunung ada gunung, di balik cakrawala ada cakrawala….

Si istri kaget. Suaminya telah pulih kembali. Itu tadi ucapan suaminya, penggalan sajak penyair besar teman mereka yang kini tinggal menyepi di Citayam.

Didekatinya suaminya dari belakang. Ia ingin menguji memori suaminya.

”Itu gunung apa Bib…,” tanyanya, dengan menggunakan nama panggilan suaminya, semasa mereka pacaran puluhan tahun lalu.

”Indrakila!” jawabnya.

Sang istri memerhatikan suaminya dengan saksama. Ini main-main atau sungguhan? Di seberang itu jelas Gunung Gede-Pangrango.

”Raja Dharmawangsa menuju kayangan dengan mendaki Gunung Indrakila. Semua saudaranya tumbang di jalan. Hanya dia selamat sampai ke pintu kayangan, diiringi anjing kita, Patman…,” suaminya melanjutkan kata-katanya.

Ah, realitas hidupnya yang berupa kenyataan sehari-hari dan fiksi telah menyatu kembali. Wanita ini tersenyum. Itu Gunung Gede-Pangrango, bukan Gunung Indrakila. Sedangkan Patman benar-benar jenis anjing rottwiller peliharaan mereka.

Sang istri kian penasaran.

”Kita sekarang berada di mana?”

”Mertasari!”

Tersenyum sang istri. Dia tahu, suaminya pasti sadar bahwa ini Banjarsari, bukan Mertasari.

”Ingat di mana kita mendapatkan pohon kemboja itu?” sang istri bicara sambil jarinya menunjuk pohon kemboja dengan batangnya yang berbentuk arkaik, di pinggir kolam.

Si suami diam sesaat, sebelum berucap, ”Lihat bunga putih yang jatuh di air kolam. Dia bicara mengenai riwayatnya sendiri, tentang asal-usulnya, tentang Banjar Suwung Kangin yang mempertemukan kita….”

Terhenyaklah sang istri. Itu peristiwa puluhan tahun lalu, pertemuan mereka, episode-episode manis yang pernah mereka lewati.

Mata sang istri menjadi berkaca-kaca. Dia peluk suaminya dari belakang.

”Bibib telah benar-benar sehat, siap menulis lagi…,” katanya tersedu sambil makin mengencangkan pelukannya.

Langit semburat merah. Pagi benar-benar datang.

Ciawi Junction, 2005

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme