Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ia Ingin Mati di Bulan Ramadhan Ini oleh Agus Noor

Posted on Ming, 16 Okt 2005

Betapa menyenangkan bila ia mati di bulan Ramadhan ini. Ia tak ingin kecewa lagi. Ramadhan berlalu, tapi ia masih saja hidup. Rasanya seperti seorang anak yang kecewa karena ditolak permintaannya saat lebaran. Ramadhan kali ini, ia berharap maut benar-benar akan datang. Saat ia berbaring di ranjang, hingga ia bisa mati tenang…

Alangkah menenteramkan membayangkan kematian yang nyaman seperti itu. Tak ada darah membuncah dari kepala pecah. Atau erang kesakitan leher digorok. Ia memejam, mengusir bayangan buruk itu. Bayangan kematian penuh darah. Ah, ia bisa mencium bau amis darah itu, seperti lengket di hidungnya!

Segera ia mandi, keramas. Menyisir rambut dan memotong kuku, sembari bersiul-siul kecil. Rasanya segar mendapati suasana yang sudah serba bersih, rapi, dan wangi. Tak ada lagi serakan puntung rokok atau tumpukan pakaian kotor mengonggok di pojok. Setiap menjelang Ramadhan, ia selalu membersihkan kamar kontrakannya. Saat Ramadhan kemarin, ia malah mengecat ulang dinding-dindingnya. Dan tadi, ia sudah menjemur kasur bantal yang lembab apak berjamur. Melipat selimut. Merapikan pakaian. Menyemprotkan pewangi ruangan. Ia lakukan itu setiap kali menyambut Ramadhan—seakan ia menyiapkan upacara kecil menyambut kematian…

Ia berdiri di ambang pintu, memandang langit siang yang terang, sembari terus bersiul- siul ringan.

>diaC< Beberapa tetangga—yang tengah duduk menggerombol— memandang ke arah laki-laki yang bersiul-siul itu, dan segera saling bisik. Anak-anak yang sedang bermain seketika berhenti, mengerut menatap laki-laki itu. Langsung, seorang perempuan tergopoh menarik anak-anak itu menjauh. Kemunculan laki-laki itu selalu menimbulkan ketidaknyamanan. Ia jarang berada di kamarnya. Seperti selalu menghilang. Berhari-hari. Kadang berbulan-bulan. Bila pulang, ia mendekam dalam kamarnya yang selalu tertutup. Sesekali, beberapa tetangga melihatnya keluar tengah malam. Bergegas. Memakai jaket kulit hitam. Menenteng koper besar, seperti kotak tempat menyimpan gitar. Ada yang bilang ia seorang pemusik yang main di sebuah bar. Entahlah. Sebab, banyak yang sering melihatnya duduk-duduk menenggak tuak di pelacuran bawah jembatan. Mungkin ia rampok. Lihat saja tampang seramnya. Tato di lengan kanan. Parut luka seputar pundak, seperti bekas bacokan. Tapi ada yang pernah melihatnya jualan es cendol saat ada demonstrasi menentang kenaikan harga BBM—matanya jelalatan, seperti mengawasi. Mungkin intel. Dan seseorang yang sering ikut demonstrasi bayaran beberapa kali melihat laki-laki itu ikut teriak-teriak menuntut pembebasan mantan menteri yang didakwa korupsi. Tetangga yang jadi tukang ojek pernah secara tak sengaja berpapasan dengannya: rapi berdasi mirip sales obat kuat. Para tetangga penasaran menyimpan dugaan. Sikapnya yang dingin membuat para penghuni rumah petak tak pernah berani bertanya. Ia seperti tak mau dikenali. Menutup diri. Misterius. Aneh. Seperti kebiasaannya itu: berdiri membisu, memandang entah apa. Rutin yang ganjil. Menjelang Ramadhan ia muncul. Beres-beres kamar. Pintu jendela yang biasanya tertutup dibuka lebar. Sepanjang malam mondar-mandir dalam kamar. Mungkin sedang menyiapkan makanan buat sahur. Tapi mereka tak yakin kalau laki-laki itu puasa. Sering, ia terlihat merokok siang hari. Tiap sore ia keluar. Bukan ke masjid mendengarkan pengajian dan buka puasa bersama, tapi pergi ke kuburan. Ini yang membuat kian penasaran. Sampai kemudian beberapa orang tahu: laki- laki itu ternyata sudah membeli kapling kuburan buat dirinya! Juru kunci bercerita, betapa ia sering melihat laki-laki itu mencabuti rumput, menyapu, atau berdiri termangu memandangi kapling makam itu. Seperti seorang yang tengah menziarahi kubur sendiri. Dan orang-orang merinding mendengarnya. Para tetangga jadi gelisah. Barangkali ia dukun. Bisa-bisa ia mencabuli gadis di sini. Atau ia lagi menyempurnakan ilmu hitam? Kuduk mereka meremang. Sering mereka mendengar erang panjang dari kamar laki-laki itu… >diaC< Mayat-mayat yang melepuh gosong terbakar itu muncul dari liang kelam. Seperti iblis yang marah karena diusir dari neraka, mereka mendengis bengis. Mengepungnya. Kulit wajah mayat- mayat itu meleleh, seperti lilin panas mencair. Ia mengerang, mengenali beberapa wajah remuk rusak itu. Wajah-wajah orang yang pernah dibunuhnya. Wajah mahasiswa yang ketakutan ketika ia pelan-pelan mengerat ibu jarinya. Wajah pucat perempuan simpanan yang lehernya ia sayat. Wajah tirus gadis kecil berpita merah yang seketika bersimbah darah ketika ia membantai keluarganya. Wajah- wajah yang membuatnya mengerang panjang. Ia tergeragap bangun. Mimpi terkutuk! Mimpi yang membuatnya ingin mati. Mati dengan tenang, di bulan Ramadhan. Meski ia tahu, sebagai seorang pembunuh bayaran, ia bisa saja menghadapi kematian yang paling buruk. Mungkin, seorang pembunuh bayaran lain pada suatu malam akan menyergapnya—dan ia meronta melawan tapi tak berdaya. Ia terkapar, memandang pembunuh itu berdiri menyeringai menikmati saat-saat paling mengasyikkan ketika seorang korban mengejang mati pelan-pelan. Ia pun suka menikmati saat- saat seperti itu. Itulah kenapa ia paling suka membunuh pakai pisau belati. Membuatnya bisa lebih dekat dengan wajah sekarat orang yang mesti dihabisinya. Ada kenikmatan yang membius setiap kali menyaksikan urat-urat di leher korban pelan-pelan berubah menjadi lebih lembut kehijauan. Seperti menyaksikan kematian mengecup pelan-pelan… Sejak kecil ia suka menikmati saat-saat merasakan aroma maut seperti itu. Ia selalu ingin berada sangat dekat, setiap kali kakeknya menyembelih ayam. Ia tak suka bila ibunya bercerita putri-putri jelita dan para pangeran yang hanya sibuk berpesta. Ia lebih menyukai dongeng makhluk-makhluk seram penghuni hutan. Kisah para raksasa penyantap manusia. Ia senang membayangkan memenggal kepala para raksasa itu. Umur tujuh tahun, diam-diam ia membunuh kucing pamannya. Saat SMP ia berkali-kali berkelahi, membuat lawan-lawannya bonyok nyaris mati. Ia terkenal sebagai bocah tangguh jago kelahi. Kamu pantas jadi tentara, kata teman-temannya. Dan ia membusung bangga. Memang, ia suka membayangkan diri jadi tentara. Di kampungnya, orang yang jadi tentara sangat ditakuti. Ia pernah melihat seorang tentara mengajar tukang parkir, saat ada keramaian pasar malam di alun-alun kecamatan. Orang- orang mengerubung, tak ada yang berani menghentikan. Alangkah hebatnya jadi tentara, bisa memukuli orang sepuasnya. Ia pun mendaftar jadi tentara. Dikirim ke medan perang. Ia paling senang ketika harus menyiksa para pemberontak. Ia melaksanakan penyiksaan dengan tenang, tertib, dan disiplin. Dan itu disukai komandannya. ”Kamu punya bakat bagus. Percuma kalo cuma jadi tentara. Paling mentok jadi sersan,” kata komandannya. Lalu sepulang perang, ia diberinya pekerjaan. Pekerjaan yang tak terlalu sulit: cuma menghabisi istri seorang pejabat, karena pejabat itu pingin kawin lagi. Lalu beberapa order ringan lainnya. Membunuh seorang pengusaha. Menghabisi seorang wartawan. Seorang hakim. Ia menikmati bayaran yang lumayan. Benar kata komandannya. Penghasilan pembunuh bayaran lebih baik ketimbang gaji sersan. Rezekinya lancar sebagai pembunuh bayaran. Ia sudah membeli rumah buat hari tua. Tapi selama ini ia lebih memilih tinggal di sepetak kamar kontrakan. Tempat menyembunyikan diri. Sumpek bau comberan. Tapi membuatnya merasa aman. Lagi pula ia bisa mengatasi kecurigaan tetangga. Ia akan tinggal di rumahnya, nanti bila sudah berhenti. Selalu ia mengangankan usia tua yang tenang. Ia kenal beberapa mantan pembunuh bayaran yang menderita di masa tuanya. Beberapa mati dalam penjara. Beberapa menderita sakit jiwa. >diaC< Sampai satu peristiwa membuat segalanya jadi tak seperti yang ia angankan. Pesan itu singkat dan jelas: bunuh Kiai Karnawi. Dan ia mulai mengawasi. Beberapa kali ia menguntit ketika kiai itu memberi pengajian. Ia amati raut tua Kiai Karnawi. Kulitnya yang coklat resik. Rahang terkesan pipih, membuatnya makin terlihat tua dengan jenggot panjang putih bersih. Sorot matanya tenang. Bicaranya santun. Ia heran, kenapa orang seperti itu dianggap membahayakan negara dan mesti dilenyapkan? Dianggap memimpin para militan? Tapi itu bukan urusannya. Tugasnya hanya membunuh. Tanpa jejak. Biar nanti bisa direkayasa: Kiai Karnawi mati kecelakaan… Ia menunggu Kiai Karnawi selesai memberi pengajian. Ia tak terlalu menyimak. Sepotong- sepotong mendengar kiai itu bicara soal kemuliaan bulan Ramadhan. Beruntunglah orang yang mati di bulan Ramadhan. Mati di bulan Ramadhan ialah mati yang mulia. Dan ia tersenyum. Mencibir. Getir. Apakah seorang pembunuh bayaran juga akan mendapatkan kemuliaan bila mati di bulan Ramadhan? Semua sudah sesuai rencana. Ia berhasil menyamar sebagai sopir colt omprengan yang akan membawa pulang Kiai Karnawi. Ia merasa segalanya akan berjalan lebih mudah ketika Kiai Karnawi menolak tiga orang panitia pengajian yang hendak ikut mengantar Kiai Karnawi pulang. Itu lebih menggampangkan rencananya: menyekap kiai itu di tengah jalan, lalu mendorong mobil ke jurang. Semua berjalan sebagaimana sudah ia perhitungkan. Sampai Kiai Karnawi kemudian bicara tenang, ”Aku tahu, kamu mau membunuhku. Aku ingin mempermudah pekerjaanmu. Karena itulah, aku tadi tak mau ada orang lain yang ikut mengantar. Biar tak banyak korban. Kamu cukup membunuhku, tak perlu repot-repot membunuh yang lain…” Ia tak tahu, kenapa mobil perlahan berhenti. Ia tak mengeremnya! ”Mari kita turun,” ajak Kiai Karnawi. ”Kamu bisa membunuhku di sini. Tak usah membuangku ke jurang dengan mobil itu. Sayang kan, itu mobil mahal. Nanti bisa dipakai ngompreng bila sampeyan memang berniat pensiun jadi pembunuh bayaran.” Baru kali ini ia gemetar. Kiai Karnawi minta izin untuk sholat terlebih dulu. ”Setelah itu kamu bisa membunuhku. Tapi tolong, yang pelan. Jangan sampai aku kesakitan ya, hehehe…” Kiai Karnawi terkekeh. Lalu menggelar sajadah. Ia meraba belati. Gemetar tak yakin. Lalu meraba pistol yang ia siapkan sebagai cadangan. Ia bisa menembaknya. Tapi sampai Kiai Karnawi selesai sholat, ia hanya berdiri gamang. ”Sekarang, lakukan tugasmu. Mungkin Allah memang memilihku mati di bulan Ramadhan. Alhamdulillah. Kalau boleh memilih, aku sih inginnya mati dengan cara enak dan nyaman di bulan Ramadhan. Enggak usah merepotkan sampeyan…,” lalu kembali Kiai Karnawi tertawa ringan. Ia merasa senja meremang. Yang terjadi kemudian lebih serupa bayang-bayang suram. Terdengar letusan. Senyap. Kelebat bayang burung menyambar. Kemeresek daun jati jatuh. Pelan. Lengking gagak di kejauhan. Dengung jutaan serangga mengepung. Singup. Seperti ada jutaan pasang mata yang mengawasinya dari balik rembang petang. Jutaan pasang mata yang sejak itu terus mengintainya. Berpasang-pasang mata yang mengingatkan pada orang-orang yang telah dibunuhnya, dan kini memburu kematiannya. Ia mulai diusik gelisah. Ia jadi suka membayangkan kematiannya sendiri. Membuatnya mulai menginginkan kematian yang tenang. Kematian di bulan Ramadhan. Rasanya tak ada yang lebih membahagiakan, kecuali mati di bulan Ramadhan. Ia pun kemudian selalu berharap, diperkenankan mati di bulan Ramadhan. Dan semoga saja, ia benar-benar mati di bulan Ramadhan ini. Amin. Yogyakarta, 2005

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme