Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kirimi Aku Makanan oleh GM Sudarta

Posted on Ming, 02 Okt 2005

Aku lupa, kapan aku kenal temanku yang satu ini. Namanya Roni. Dengan tiba-tiba aku sangat akrab dengannya. Semula pada suatu sore dia datang, tanpa mengenalkan diri, dia mengucapkan salam dengan menyebut nama panggilan akrabku: Mas Sudar. Dan kami langsung ngobrol ngalor-ngidul tentang dunia gaib. Soal tuyul, genderuwo, jin, sampai segala macam pesugihan. Seakan dia sudah tahu benar bahwa aku paling suka cerita-cerita begituan sampai paling getol nonton televisi yang menayangkan tentang dunia hantu dan alam gaib.

Di kompleks rumah Mas Sudar ini ada yang pelihara tuyul lho,” katanya.

”Ah yang benar!” sahutku.

”Benar! Mas Sudar kerap kali kehilangan uang kan?”

Memang benar. Aku kerap dan bahkan sangat kerap kehilangan uang. Uang ”laki-laki” yang aku simpan di tas kerjaku kerap berkurang. Tapi aku tak menyangka itu pekerjaan tuyul, paling-paling kerjaan istriku yang tahu nomor kode kunci tas kerjaku. Karena dia pun suka ngerjain kartu ATM saya.

”Kok tahu?” tanyaku tertawa.

Kemudian dengan serius dia mengatakan bahwa pekerjaannya adalah sebagai mediator untuk orang-orang yang perlu bantuan untuk bisa memelihara tuyul, genderuwo atau jin.

”Di kota ini sudah banyak pengusaha toko sepeda motor, mobil, atau restoran yang memerlukan penjaga usahanya dengan memelihara makhluk seperti itu berkat bantuan saya. Bahkan beberapa pejabat negara pun minta dicarikan jin.”

Saya terdiam bengong.

”Betul kok Mas, saya biasa melihat siapa saja yang memelihara tuyul atau sebangsanya. Kalau Mas Sudar mau bisa saya carikan.”

”Ah musyrik,” jawabku. ”Anda sendiri gimana. Berprofesi makelar tuyul, apa tidak dosa?”

”Ah ya tidak. Wong saya hanya perantara. Meskipun saya mendapat bayaran untuk itu, aku tidak mau dibayar dengan uang sesudah dapat tuyul. Harus dengan uang sebelumnya. Dan saya sudah serahkan tanggung jawab kepada mereka, bahwa mereka akan selamanya sampai hari kiamat menjadi budak setan.”

Beberapa hari kemudian, ada peristiwa aneh di rumahku. Kami sekeluarga sedang menghitung uang belanja dan memisah-misahkan mana untuk belanja harian, mana untuk uang sekolah anak-anak, dan lain-lain. Uang kami atur menurut nilainya, lima puluhan ribu ditumpuk jadi satu, ratusan ribu dengan ratusan ribu. Dan baru sedetik istriku menaruh selembar ratusan ribu, detik itu pula raib di depan mata kami. Kami bingung mencarinya.

”Diambil tuyul kali Yah!” kata anakku.

”Tuyul?… Tuyul kepala hitam!” jawabku. Istriku merengut, rupanya tersinggung karena saya selalu menyebut diambil oleh tuyul kepala hitam, setiap uang di tas kerjaku hilang. Lebih mengherankan lagi tak lama kemudian Roni datang.

”Betul kan Mas, ada tuyul di sekitar sini,” katanya. ”Mau tahu siapa yang punya.”

Kemudian dia minta disediakan baskom berisi air. Dia minta memerhatikan air. Nanti akan terlihat siapa orangnya. Tapi sampai mata saya hampir lepas tak kulihat siapa-siapa, kecuali bayang-bayang wajahku sendiri.

”Lihat Mas. Itu orangnya. Perempuan berambut ikal. Nah itu nomor rumahnya kelihatan.”

”Saya tidak melihat apa-apa,” jawabku.

”Ah memang, perlu tirakat dan ritus tertentu untuk bisa melihat penampakan…. Nanti kalau mau saya ajari. Tapi sekarang kalau Mas Sudar melihat seorang perempuan jalan sore dengan kedua tangan di belakang, itu dia sedang menggendong tuyul. Coba nanti dari belakang kita cibiri dia, maka dia akan menoleh karena tuyulnya memberi tahu bosnya.”

Ternyata betul dengan apa yang Roni katakan. Dan sekarang saya tidak pernah lagi kehilangan uang. Mungkin tuyulnya malu karena sudah ketahuan.

Rupanya perkenalanku dengan alam gaib semakin jauh. Kami sekeluarga baru saja menikmati honor cerpenku yang telah dimuat di sebuah majalah dengan makan-makan di warung lesehan, Roni mengunjungi kami lagi di rumah.

”Cerpenmu bagus Mas,” katanya. ”Saya dengar mau bikin novel ya?”

Aku baru saja membuat cerita pendek dengan latar belakang peristiwa G30S, dengan mengumpulkan referensi dan data dari para saksi mata dan pelaku yang masih hidup.

”Harusnya Mas Sudar melengkapinya dengan menambahkan dari narasumber yang menjadi korban pembantaian!”

Ah gila. Mana mungkin, pikirku.

”Bisa lho Mas,” ujarnya. ”Mereka ini masih penasaran jadi arwah yang masih gentayangan karena merasa tidak rela akan nasibnya. Kuburan massalnya ada di daerah Luwengombo, Pandansimping, atau di Desa Tempuran. Dengan cara tertentu kita bisa menemui mereka. Dan nanti akan membuat novel Mas benar-benar hebat.”

Benar-benar gila orang ini, pikirku.

”Benar-benar biasa lho Mas! Dengan ritual tertentu kita bisa berhadapan dengan mereka di tempat mereka dibunuh. Cuma kita harus tabah dan siap mental karena mereka akan hadir dengan bentuk keadaan terakhirnya. Saya sendiri kurang berani menghadapinya. Sungguh mengerikan mereka menampakkan diri dengan kepala terbelah atau usus terburai atau tanpa kepala.”

Bulu kudukku meremang.

”Tapi kalau Mas hanya ingin mengenal dunia alam gaib mereka, ini saya beri tahu ritualnya.”

Dia menulis kelengkapan ritual dengan laku, rapal, dan amalan di atas sesobek kertas dan diberikan kepadaku.

Ya Allah, ampunilah dosa hambamu ini…! Oleh kekuatan rasa ingin tahuku, tanpa setahu istriku aku laksanakan ritual itu. Ah, ini pasti perbuatan iseng si Roni, pikirku.

Hingga pada suatu sore, sewaktu aku mengunjungi sahabat di sebuah pesantren di Desa Tempuran, agak di luar kota. Ketika melintasi jembatan sungai berpagar tembok di ujung desa, terasa bulu kudukku meremang. Di sepanjang pinggiran sungai penuh pohon pisang sehingga memberi kesan gelap. Pulangnya sehabis magrib, menjelang melintasi jembatan, tiba-tiba saja ada seorang lelaki tua melambaikan tangannya ke arahku. Aku tidak tahu dari arah mana dia muncul. Kupinggirkan sepeda motorku di samping pagar jembatan.

”Monggo Pak,” sapaku. ”Kalau mau ke kota, saya boncengkan.”

”Tidak kok Nak Mas,” jawabnya lirih. ”Saya hanya mau minta tolong untuk menyampaikan pesan saya kepada anak saya, supaya kerap mengirimi saya makanan.”

”Alamat anak Bapak di mana?”

Dia sebutkan sebuah nama dengan alamat jalan nomor rumah di luar kota.

”Lha, Bapak tinggal di mana?”

”Tidak jauh dari sini kok, Nak,” jawabnya sambil menunjuk searah dengan rumpun pisang. Mungkin tinggal di desa seberang sawah sana, pikirku.

Saat kunyalakan sepeda motor dan berpamitan, dia mengucapkan terima kasih sambil tersenyum. Tapi… senyum itu… ya Allah, senyuman seperti orang menahan sakit itu, telah membuatku tidak bisa tidur semalaman.

Paginya kusempatkan waktuku untuk mencari alamat anaknya. Ternyata tidak mudah. Setelah bertanya kesana-kemari, kebanyakan orang mengatakan tidak tahu, bahkan ada yang kelihatan enggan menjawab. Ataupun kalau menjawab pasti ditambah kata: oooh…, eks tapol Pulau Buru itu? Akhirnya kutemukan juga. Seorang lelaki paruh baya, air mukanya nampak bagai orang yang telah mengalami tempaan hidup yang keras, menyambut kedatanganku dengan pandangan penuh curiga.

”Dari mana Bapak tahu alamat saya, dan tujuan Bapak mencari saya?” tanyanya menyelidik. Kusampaikan kepadanya bahwa aku telah bertemu ayahnya yang tinggal di Desa Tempuran, serta kusampaikan pula pesan ayahnya. Dia tertegun beberapa saat.

”Ayah saya? Seperti apa dia?”

”Rambut sudah beruban, alis tebal, berjanggut yang sudah sebagian memutih, berbaju lurik dan memakai sarung pelekat hijau,” jawabku seingatnya.

Tiba-tiba dia benamkan wajahnya di kedua telapak tangannya. Katanya di sela sedu sedannya:

”Ya Allah, dalam pakaian itulah sewaktu ayah dibantai bersama orang-orang yang dianggap melakukan gerakan makar. Ternyata benar kata orang mereka telah dikubur di bantaran sungai yang kemudian ditanami pohon pisang di atasnya.”

Jantungku serasa berhenti berdetak!

(Belakangan aku sarankan kepadanya untuk mengirim doa kepada ayahnya setiap kali dia shalat. Mungkin itu yang dipesankan ayahnya untuk dikirimi makanan. Dan selama ini aku tidak lagi berjumpa dengan Roni, kabarnya dia telah menjadi salah satu penasihat spiritual pejabat tinggi di Jakarta.)

Klaten 2004

Catatan:

Ngalor-ngidul: Utara Selatan, tak terarah

Laku: Melakukan ritual fisik, seperti puasa, tidak tidur malam, dsb.

Rapal: Mantra

Amalan: Bacaan Doa

Monggo: Mari, silakan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme