Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Surtikanti oleh Desynata Purnamasari

Posted on Sab, 27 Mar 2021

Namaku Surtikanti, tapi semua orang memanggilku dengan nama Suti, termasuk orangtuaku. Aku selalu penasaran dengan arti namaku sebenarnya, karena nama ini terdengar tak biasa bagiku. Orang tuaku memiliki darah Jawa dan aku juga lahir di sana. Sayangnya, aku tumbuh besar di pulau lain, karena sudah 20 tahun kami memantapkan kaki di Pulau Dewata. Kedua orang tuaku memutuskan merantau ke Pulau Bali sejak usiaku 3 tahun.

Aku memang tumbuh dan besar di tengah keluarga Jawa, tapi aku tak pernah merasakan atmosfer Jawa yang kata orang kental dengan tradisinya. Bahkan orang tuaku tak pernah mengajariku bicara dengan bahasa kelahiran mereka. Setidaknya mereka bisa memberitahuku cara menyapa orang tua dalam bahasa Jawa dengan benar, tapi hal itu tak pernah dilakukan. Mereka terlihat lebih nyaman menggunakan bahasa Indonesia saat berbicara denganku.

Sejak kecil aku selalu suka menulis. Bahkan aku bisa menghabiskan waktu sepanjang hari di balik pintu kamarku hanya untuk membuat goresan pena. Sebuah buku catatan menjadi temanku yang paling setia selama ini. Hanya ada satu kata yaitu ”lega” jika kutorehkan deretan huruf membentuk diksi yang mengalun indah menciptakan kalimat. Pada tahap inilah aku bisa menumpahkan perasaan juga pikiranku. Jika kurasa sempurna, aku akan menyalinnya pada sebuah komputer jinjing berukuran 17 inci yang selalu berada di mejaku.

Baca juga: Redian dan Kulkas Barunya

Aku selalu berpikir untuk menciptakan sesuatu sebelum ajal menjemputku, sebelum sakit mendatangiku. Semakin hari semakin kusadari jika menulis adalah kebahagiaanku. Aku bisa menuliskan apa pun yang kumau bahkan imajinasiku sekalipun tanpa khawatir ada yang mencela. Secara tidak langsung aku telah menemukan caraku untuk membentuk duniaku sendiri.

Tidak semua tulisanku sesuai harapan. Seperti hari ini, sebuah kisah telah tercatat dalam satu lembar kertas, tapi tak juga kulihat sempurna. Semakin sering kubaca, tulisanku makin tak menunjukkan kualitas yang baik. Hingga lembaran itu hanya berakhir di kotak sampah dengan kondisi terkoyak dan hangus terbakar.

Entah apa yang membebaniku, biasanya aku bisa menyelesaikan banyak halaman tanpa harus mengulang. Kulirik sebuah kotak yang berada di atas tempat tidurku. Sebuah wadah yang paling aman untuk menyimpan tulisanku.

Ah, sebaiknya segera kubereskan kertas yang berserakan dan kususun rapi di dalam kotak. Aku memang tak bisa menciptakan kisah hari ini, mungkin diriku terlalu lelah, atau kapasitas otakku sudah mencapai batas maksimal.

Kupaksakan diri menuju taman di depan rumah. Kududuk di atas bangku kayu yang masih segar dengan aroma catnya. Aku dapat melihat ibu menuju kamarku, mungkin untuk membersihkan debu dan sarang laba-laba yang telah menghiasi sudut ruang. Apakah ibu akan melihat ke bawah tempat tidurku dan menarik kotak yang kusembunyikan tanpa keraguan sedikitpun? Mungkin kubiarkan saja jika ibu membaca beberapa halaman, dengan begitu ibu akan berbicara kepadaku.

**

Haruskah aku berbangga dengan kemampuanku menulis dalam bahasa asing? Terkadang ingin kutunjukkan pada dunia kemampuanku menggunakan bahasa Jerman dan Inggris. Barisan diksi yang tertulis rapi di buku catatan dalam tiga bahasa. Deretan kata demi kata yang membentuk harmoni, jika dibaca akan terdengar nada yang indah. Susunan kalimat demi kalimat yang membentuk keserasian dalam sebuah paragraf. Ya, aku menyusunnya dengan ketulusan dari hatiku. Sebenarnya, aku hanya ingin ibu berkata ”aku bangga denganmu”, sepertinya keinginanku takkan pernah terwujud, karena ibu selalu diam menutup mulutnya.

Siapa yang bisa menyangka bahwa anak desa sepertiku bisa menguasai bahasa asing. Mungkin karena aku memiliki rasa penasaran diatas rata-rata, terlebih bahasa yang terdengar tak biasa bagiku. Selain itu, ayahku telah mengenalkanku pada bahasa asing sejak aku duduk di kelas satu Sekolah Dasar. Ayahku orang yang selalu menginginkanku sekolah ke luar negeri. Dia bahkan rela membuang hasil keringatnya hanya untuk mendatangkan guru les setiap hari. Jujur saja, aku kehilangan masa kecilku yang bebas dan bahagia. Saat anak lain mempunyai waktu untuk bermain, aku hanya menghabiskan waktuku untuk membuka buku dan belajar.

**

Ada kalanya aku dibuat penasaran dengan percakapan yang dilakukan orang tuaku. Aku sama sekali tak mengerti apa yang tengah mereka bicarakan. Aku tak pernah memiliki keberanian untuk bertanya pada ibuku, kenapa aku tak pernah dikenalkannya pada bahasa Jawa. Sesekali terdengar ibu berbicara dengan ayah menggunakan bahasa Jawa yang tak bisa kumengerti satu kata pun. Bahkan jika diminta untuk menuliskan kata demi, aku takkan bisa.

Malam ini kulihat ibu berbicara dengan ayah sembari menangis terisak-isak. Samar-samar kudengar tentang kepindahan kami ke pulau Jawa. Apakah aku harus bertanya? Yang pasti, aku merasa takut dan cemas untuk tahu lebih dalam. Entah sejak kapan komunikasi dengan orang tuaku menjadi ganjalan. Sulit bagiku untuk membayangkan tinggal di tengah masyarakat yang berkomunikasi dengan bahasa Jawa. Mungkin aku harus memulai kelas bahasa daerah agar bisa menyesuaikan diri. Seharusnya ayah dan ibu mengenalkanku pada bahasa asal kami sebelum mencekokiku dengan bahasa negara lain.

Terkadang kenyataan memang tak seindah harapan, itulah kehidupan sesungguhnya. Di hari keberangkatan kami, tak sedikitpun aku bertanya pada ibu tujuan dan alasan meninggalkan rumah kami di Bali. Aku tak suka mencampuri urusan orang tuaku, apa pun yang mereka putuskan, sudah mereka pahami segala resiko dan konsekuensinya. Begitupun saat mereka memutuskan kembali ke tanah kelahiran mereka, pulau Jawa.

Selama satu jam berada di udara membuatku memikirkan hidup dan mati. Begitu kaki menginjak daratan, aku hanya bersyukur masih hidup dalam keadaan utuh. Sepanjang perjalanan meninggalkan bandara, bentangan sawah yang indah bak permadani menghipnotis mataku seketika. Tak terlalu banyak rumah penduduk yang kulihat, gedung bertingkat juga tak menampakkan dirinya. Beberapa orang masih terlihat menggunakan kain jarik dan topi caping. Bahkan masih ada yang bertelanjang kaki memanggul cangkul di pundaknya. Kendaraan roda empat pun jarang terlihat, hanya sepeda onthel melaju dengan santainya. Sempat kulihat papan jalan berwarna hijau tertera Simo. Sebuah desa di salah satu kabupaten di Jawa Tengah menjadi tujuan akhir dari perjalanan kami.

**

Kami tiba di sebuah rumah yang memiliki atap menyerupai gunung dan berlatar luas. Ibu masuk ke dalam rumah dengan sangat berhati-hati, membuka tirai kamar yang terletak di sudut ruang tengah. Ibu masuk seakan ibu telah terbiasa dan hafal dengan setiap sudur ruangan. Aku turut masuk dengan rasa penasaran, siapa yang kami kunjungi.

Aku hanya melihat sosok laki-laki separuh baya, terbaring di tempat tidur tanpa suara, pandangan mata kosong seakan tengah berada di dunia antar dimensi.

”Pripun kabaripun mas? Sampun senggang?”

Kata demi kata terdengar lembut menyentuh telinga, tapi tak bisa kupahami. Bahkan jika aku berhasil mengucapkan kalimat yang ibu katakan, akan terdengar aneh dengan aksenku.

Aku keluar dari kamar setelah memberi salam. Rasa penasaran memaksa pikiranku bekerja keras untuk mencari tahu siapa pria paruh baya itu. Mungkin saja dia muncul dalam memoriku yang lama tertidur. Tapi tak juga kuingat sosok pria itu. Saat kulangkahkan kaki menuju teras, aku kagum dan terpana. Sungguh, mataku dimanjakan dengan hamparan kebun tebu yang siap untuk dipanen. Terlepas dari riuhnya perkotaan, sejenak kupejamkan mata mencoba memahami kenyataan yang sedang kuhadapi. Tak lama ibu menyusulku dan memegang bahuku.

”Dia akan segera meninggal.”

”Bu…”

”Ibu tak akan berbohong padamu, ibu sungguh sedih. Rasanya sangat menyakitkan kehilangan separuh nyawaku.”

Aku hampir saja menitikkan air mata mendengar ibu berbicara padaku. Untung ayah segera datang. Meskipun aku ingin berbicara banyak hal dengan ibu, tapi tak ingin ibu terus tenggelam dalam kesedihannya. Kubiarkan ayah mendekat, mungkin bisa menghibur hati ibu yang tengah porak-poranda.

Ibu tak akan berbohong padamu, ibu sungguh sedih. Rasanya sangat menyakitkan kehilangan separuh nyawaku.

Tiga hari berlalu, apa yang diucapkan ibu pun menjadi kenyataan. Pria paruh baya itu meninggal. Dua hari sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, dia hanya menatapku tanpa mampu berucap. Jauh di dalam sorot matanya, ada sejuta cerita yang ingin dia sampaikan. Sorot matanya terlihat tak asing bagiku. Mungkin inilah yang disebut dengan deja vu. Mungkin aku pernah bertemu dengannya di kehidupanku sebelumnya.

**

Seminggu setelah kepergian pria itu, ibu masih terlihat pucat dan tak bertenaga. Bahkan tak pernah kulihat ibu tersenyum atau tertawa sebentar saja. Kuberanikan diri untuk memasuki kamar yang ditempati pria itu. Sengaja kulakukan untuk mencari serpihan kenangan yang bisa mengembalikan ingatanku. Kenapa aku merasa mengenal dekat pria itu. Bagaimanapun juga, aku tak ingin hidup dengan rasa penasaran yang menyiksa.

Kususuri tiap sudut kamar, kubuka setiap laci meja yang terletak di ujung ranjang. Kudapati sebuah buku catatan dengan sampul berwarna biru, sedikit berdebu bahkan kertasnya pun telah berubah warna menjadi coklat dengan beberapa noda. Kubuka dengan sangat hati-hati agar tak membangunkan kerapuhanya. Ada 33 halaman dengan tulisan yang tak bisa kuartikan. Sebuah catatan yang tergores rapi dalam setiap lembarnya, kata demi kata membentuk kalimat bahasa Jawa yang mengelus sudut mata.

Gemuruh hati ingin bisa memahami. Keingintahuan menyeruak dari akar kepala. Tapi saraf-saraf ragawi tak mampu mengimbangi. Satu kata yang bisa kupahami dengan baik dari catatan itu. Ya, sebuah nama ‘Surtikanti’ tertulis dalam setiap halaman dan selalu menjadi kata pertama dalam memulai tulisan.

***

Desynata Purnamasari SS, lahir tanggal 26 Desember 1985 di Surakarta, Jawa Tengah. Tinggal di Muara Enim, Sumatera Selatan. Tulisan pernah menjadi juara favorit blog competition Kompasiana. Juara 2 menulis esai oleh Yayasan Plan International Indonesia. Cerpennya juga pernah menjadi juara harapan II dalam kompetisi menulis PPWI. Beberapa puisi dibukukan dalam buku antologi lomba berjudul Aksara dan Kenangan.

sumber : kompas.id, 27 Mar 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme