Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Perihal Menyederhanakan Cinta oleh Rika

Posted on Ming, 28 Mar 2021

Percayakah kau bahwa suatu hari hujan turun karena alasan sederhana, awan-awan mencair karena panas oleh hati seorang perempuan yang diselubungi cemburu? Orang-orang percaya cemburu itu perlu, cemburu itu bagian paling nyata dalam cinta. Aku lebih percaya pada cinta yang baik, yang tidak ingin ada luka. Adakah cinta dalam hati seseorang jika ia bersikeras untuk lebih menyakitimu ketimbang membuatmu merasa bahagia? Tapi benarkah bahwa cinta selalu menanggung segalanya? Ya segala-galanya. Hati yang luka, tubuh yang luka, kebersamaan yang luka, kenangan yang luka.

Pagi yang basah oleh embun dan burung-burung berlarian di langit bersorak bahagia, aku masih duduk dengan kantong mata tebal meratapi kegilaanku pada lelaki yang mungkin sedang tidur lelap dalam pelukan istrinya. Orang-orang berpikir, apakah aku dapat menanggung kebodohan ini selama sisa hidupku? Aku pun berpikir demikian. Bumi nama lelaki itu. Lelaki yang jika dalam sehari ada delapan puluh enam ribu empat ratus detik, maka namanya mengisi sepertiga dari detik dalam sehari dalam pikiranku, sisanya mungkin aku sedang tidur. Namanya mengambang antara kebencian dan kecintaanku. Begitu tipiskah beda di antara keduanya?

Aku menyesap rokokku dalam-dalam, mungkin ini sudah puluhan batang sekian. Aku duduk mengamati jendela dengan tirai yang masih tertutup di dalam ruangan gelap tanpa cahaya. Aku sedang mengamati kehampaan, pikirku. Pernahkah kau bertemu seseorang dan seketika saja hidupmu seolah hanya berkisar tentangnya. Jika ada laki-laki lain dalam pikiranmu, itu hanya ilusi yang kau ciptakan di balik segala penolakannya terhadap dirimu.

Aku tidak pernah berpikir bahwa Bumi tidak mencintaiku. Tapi, jelas ia tidak pernah memilihku. Pernah sebuah drama Korea menyebutkan kurang lebih begini dalam satu kalimatnya yang selalu kuingat. ”Apakah karena aku menginginkan tas milik perempuan lain karena itu aku dalam penderitaan ini?” Seingatku kalimatnya demikian. Menusuk tepat hatiku yang naif. Aku sedang menginginkan suami milik perempuan lain.

Sebenarnya tepatnya ia yang lebih dulu menginginkanku. Akan kuceritakan secara singkat pertemuan kami yang kemudian membuat kami sendiri babak belur dihajar keinginan kami.

Aku pikir sebagai perempuan aku cukup lovable. Aku memiliki kulit putih dengan porsi tubuh ideal dan wajah yang mungkin akan dilirik satu dua laki-laki ketika aku berpapasan dengan mereka. Aku memiliki kehidupan yang cukup menarik secara materi. Aku mandiri dan pekerja keras. Aku pintar dalam beberapa hal, terutama menulis dan memasak. Aku kecanduan pada hal-hal yang mungkin buruk untuk kesehatan, merokok dan begadang. Aku lebih menyukai kota ketimbang desa. Lebih menyukai puisi ketimbang apa pun di muka bumi ini. Aku bukan perempuan matre, ini satu hal yang banyak diidamkan laki-laki. Aku lebih percaya bahwa uang datang dari Tuhan bukan dari sosok seorang laki-laki yang harus terus aku peloroti. Dalam urusan ranjang, aku mungkin tidak perlu diragukan.

Bukankah segala yang aku tawarkan itu cukup menarik bagi seorang Bumi yang bosan dengan hiruk-pikuk rumah tanggannya yang sudah belasan tahun ia jalani. Aku jelas lebih menarik daripada istrinya. Tapi, yang lebih penting adalah aku memberikan tantangan baru bagi hidupnya yang datar.

Kami memutuskan berpacaran tepat pada ciuman pertama kami. Tidak satu hari pun dilewatkan Bumi untuk tidak mencium aroma tubuhku. Sampai detik-detik di mana ia begitu gilanya padaku. ”Istriku, aku akan menceraikannya.” Tanpa ragu Bumi mengatakan karena ia sedang dilanda kegilaannya padaku.

Kami pergi ke semua tempat yang bisa kami datangi tanpa takut hubungan kami ketahuan. Kami pergi ke pantai mendengar ombak dan melihat pasangan yang lebih romantis dari kami, ternyata orang-orang juga sedang jatuh cinta, pikirku. Tapi, apakah mereka juga menjalani hubungan rumit seperti yang kami jalani? Setiap akhir pekan, kami pergi ke bioskop dan setelahnya di sebuah kafé yang ramai kami menertawakan dan memuji hebatnya film yang kami tonton. Kami pergi ke toko buku, Bumi akan langsung menuju rak non-fiksinya. Aku menemaninya sebentar, tapi selalu singgah untuk melirik buku-buku sastra. Aku mencintai puisi, Bumi pun sama tertariknya. Kami pergi ke danau, melihat keindahannya, menikmati anginnya, berpelukan dan pergi.

Kami berdiskusi banyak hal. Politik, agama, musik, film, buku, dan hal yang terabsurd sekalipun, hidup. Kebanyakan dari hasil diskusi kami adalah Bumi yang akhirnya ngambek. Dia selalu menyatakan bahwa dirinya adalah orang yang berpikiran terbuka, senang Amerika, dan kritik. Tapi, lebih baik jangan percaya kata-katanya. Jika berdebat, aku selalu kalah karena akhirnya aku harus terbawa drama ngambek-nya. Dia orang yang konvensional, pada dasarnya membenci kebebasan, menghina kemodernan, dan yang paling parah adalah menganut itu secara berlebihan.

Bumi adalah orang yang akan terus menasehatiku untuk tidak merokok. Dia mengatakan itu jutaan kali mungkin, tanpa bosan. Dia akan mengajakku jalan-jalan kemana pun, kapan pun jika memang dia sedang di sampingku. Dia akan menceritakan kisah lucu, tapi lebih banyak kisah bijak sebelum aku tidur atau ketika aku sedang sedih dan mengutuki kehidupanku. Dia terus menceramahiku perihal agama dan moral. Dia akan memijat kakiku ketika aku terlihat stres.

Aku memasak makanan enak untuk Bumi jika aku sedang rajin, tapi aku lebih banyak mengajaknya makan di luar. Aku membuatkan kopi terenak saat ia sedang bekerja. Aku selalu memakai pakaian terbaikku ketika aku bertemu dengannya, aku ingin selalu terlihat cantik untuknya, aku ingin dia selalu mengagumiku tanpa pernah menjadikan kekuranganku alasan untuk meninggalkanku. Aku akan memijatnya kapan pun ia terlihat lelah. Aku tidak akan merepotkannya masalah uang karena aku ingin berusaha terus membuatnya nyaman. Aku akan berusaha terus mempercayainya walaupun aku tahu dia pembohong. Saat aku terus melakukan ini, aku sadar aku sendiri telah berusaha membuatnya nyaman, tapi aku sendiri tidak. Saat kau mulai memutuskan mencintai seseorang, saat itulah kupikir kau akan kehilangan sebagian dirimu.

Aku terus berusaha berpikir bahwa cinta berjalan sedemikian wajar pada kami berdua. Kami bahagia, terlepas seberapa konservatif Bumi dan seberapa modern aku. Kami tahu kapan kami harus menyesuaikan satu sama lain. Tapi, masalah terbesar bagi kami bukanlah apakah kami cocok atau tidak. Tapi, ini mengenai tas milik orang lain.

”Apa kau bahagia dengan keadaan ini?” Bumi menanyaiku ketika kami sedang joging di taman. Aku terengah. Tepat demikian itulah juga hatiku. ”Aku tahu kau tidak. Sampai sekarang aku belum bisa menceraikan istriku. Maaf.”

Kata terakhir, itu yang sebenarnya tidak pernah bisa aku maafkan. Apakah kau harus menunggu untuk laki-laki yang mulai ragu-ragu? Aku menanyai diriku. Aku putuskan, ya, aku menunggu. Terlepas apa yang menanti di ujung sana.

Malam itu aku rasakan angin lebih dingin dari biasanya. Bumi duduk dan membacakanku cerita, Seribu Kunang-kunang di Manhattan. Aku pikir ia sedang tidak membaca buku, tapi mengisahkan ulang kisah kami, sama menderitanya aku dan perempuan dalam kisah itu. Berbulan sejak kisah itu, aku masih percaya Bumi akan menepati janjinya, ia hanya perlu waktu sedikit lagi.

Kami sedang menikmati bulan purnama yang indah di taman belakang rumahku. Bumi menceritakan cerita orang-orang bijak. Kadang aku lelah mendengarnya, karena nyatanya ia tak sebijak yang ia ceritakan. Ia tak sebijak pengetahuannya tentang kebijaksanaan. Saat Bumi sibuk dengan kisahnya, sebuah pesan masuk, Bumi melirik handphone-nya.

”Maaf, aku harus pulang, anakku sakit.” Bumi menutup pintu rumahku. Air mataku berbisik, ”Jangan.” Yang tersisa saat itu hanya aku dan kesunyian.

Aku pikir aku mulai kelelahan, menunggu Bumi yang tidak juga bercerai. Aku kehilangan harga diriku sebagai seorang perempuan. Aku menunggu laki-laki yang bisa saja datang atau tidak karena alasan perempuan lain. Aku lelah menunggu Bumi bekerja untuk menafkahi hidup perempuan lain. Aku lelah melihatnya kadang terluka dan bahagia sekaligus karena memiliki dua perempuan di sisinya. Aku cemburu pada banyak hal yang kadang terasa tidak masuk akal.

Kadang kau harus sadar seseorang datang dalam hidupmu hanya karena mereka penasaran dan ingin mencoba. Kamu perempuan yang tidak bisa dilewatkan begitu saja, dalam kebosanan hidup yang sudah terlampau jauh menyiksa kebahagiaan, laki-laki akan menjadi egois. Jika ada yang harus tersakiti, itulah konsekuensi dari kata ”mau”, ”ayo”, ”coba dulu”, ”percaya aku”, ”sabar”, ”bertahan sedikit lagi”. Pada titik akhirnya mereka hanya akan menjadi dua pilihan bagi diri mereka sendiri, pengecut atau penjahat!

Aku ingat sore itu, senja sudah hampir menggantung di langit. Bumi datang membawa secangkir teh hangat untukku dan kopi susu untuknya. Kami duduk di beranda mengawasi angin yang lalu-lalang dalam napas kami.

”Aku ingin bicara.” Bumi membuka kalimatnya dan aku tahu pertanda buruk sedang menggantung di atas kepala Bumi. ”Istriku hamil.” Hanya ada dua pilihan, ”Jika ingin bertahan dengan hubungan ini, aku akan menikahimu, tapi tidak menceraikan istriku.” Bumi menyesap udara, sedangkan aku seperti kehabisan udara di tenggorakanku. ”Atau pilihan yang lebih baik, kau akan mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dariku, kau akan bahagia.”

Kita sadar agama menjanjikan surga bagi perempuan yang ikhlas berpoligami, bukankah surga tidak melalui jalan yang benar-benar mudah? Surga mungkin tidak akan didapatkan hanya dengan berpangku tangan dan bahagia, kau perlu usaha lebih. Setidaknya bersabar dalam penderitaan. Tapi, mampukah aku ikhlas dalam keserakahan seorang lelaki?

Aku berpikir keras, tentang hal yang setiap detiknya aku pikirkan semenjak hubungan kami. Betapa bodohnya aku, memikirkan hal yang sama setahun belakangan padahal aku tahu hari ini memang akan datang. Aku percaya laki-laki yang mengatakan rumah tangganya berantakan dan ingin berpisah dan menginginkan aku. Aku telah percaya pada laki-laki yang setelah ia berhasil menaklukkanku ia katakan ia lebih mencintai keluarganya yang tadinya berantakan. Aku membiarkan pertanyaan Bumi menggantung, seperti senja yang saat ini menggantung di depan kami. Betapa sulitnya menyederhanakan cinta, pikirku.

Rika, menulis novel, puisi, dan cerpen, menetap di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Pernah menjadi perserta Kelas Cerpen Kompas dan salah satu cerpennya lolos kurasi buku antologi Cerpen Pilihan Kompas.

Astuti Kusumo, lahir di Yogyakarta tahun 1970. Ia pelukis otodidak yang menempuh pendidikan di UPN Fakultas Ekonomi Yogyakarta. Ia pernah berpameran keliling dalam ASEAN Children Exhibition tahun 1985. Tahun 2019 dua kali pameran tunggal, yakni UGEMI di Sangkring Arts Space, Yogyakarta, dan Gemati di Balai Soedjatmoko, Solo. Selama tahun 2020 tujuh kali pameran bersama di Yogyakarta. Pernah memenangi penghargaan Silver Medal Shankar India Art Exhibition tahun 1985.

sumber : kompas.id, 28 Mar 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme