Aku tak terlalu ingat kejadian persisnya. Yang masih membekas di cecabang ingatanku hanyalah gurat jingga di ujung langit yang tampak seperti membakar pohon-pohon. Lalu hiruk-pikuk itu. Sorak-sorai para pemburu yang tiba-tiba muncul begitu saja dari sisi selatan lembah.
Kawanan yang tengah menikmati santapan mereka langsung berhamburan, menerobos semak-belukar, menyelamatkan diri masing-masing. Aku yang tengah berjaga di depan sarang hanya bisa menguik sekeras mungkin, berharap anak-anak segera bergabung dengan kawanan. Namun, hanya beberapa detik berselang, seekor anjing berlari begitu kencang ke arahku dan langsung saja menancapkan taring-taringnya di panggulku, yang kemudian disusul oleh gigitan demi gigitan. Lalu semuanya hening. Semesta hitam.
Dan, entah berapa lama setelah senja naas itu, aku mendapati diriku berada di sebuah rongga kayu yang lembab dan berbau masam. Di mana ini? Apakah aku sudah mati, dan kini aku mulai membusuk di dalam rongga kayu ini? Ah, tidak.
Tidak mungkin seeokor babi mati bisa mengendus bebauan. Aku masih hidup. Hanya saja tubuhku terluka. Anjing-anjing sialan itu telah mencabik-cabik bagian tubuhku yang dipenuhi lemak ini. Tapi, kenapa mereka tidak menghabisiku? Bukankah setiap kali mereka berhasil menangkap salah satu dari kami, tuan-tuan mereka akan mencincang tubuh saudara kami dan menghadiahkannya untuk anjing-anjing yang selalu kelaparan itu?
Aduh, entah seperti apa rupaku sekarang. Aku tak bisa memastikan apa-apa selain rasa sakit yang menjalar ke seluruh persendianku. Setiap kali aku bernapas, rasanya darah segar masih terus mengucur dari balik kulitku yang telah dicabik-cabik taring tajam anjing-anjing pemburu.
Ah, aku yakin, kau pasti berharap aku akan bercerita seperti itu padamu. Sebagai primata yang merajai rantai makanan, kau tentu ingin unggul dalam segala hal. Kau tentu ingin selalu menenangi setiap pertempuran. Tapi, tidak kali ini! Ini ceritaku, dan aku akan menuliskannya sesukaku.
Begini. Sehari sebelum perburuan itu, kami sudah mengendus semua recana busuk kalian. Bahwa kalian akan melepas anjing-anjing mengepung hutan tepat pada saat matahari tergelincir ke barat. Tidakkah kalian tahu, bahwa kami juga diberkahi kemampuan untuk mengembangkan naluri hewani kami? Taktik perburuan semacam itu sudah lama kami pelajari, dan kami tidak ingin lagi kawanan kami menjadi korban kebiadaban kalian. Kami sudah bertekad, ketika manusia sudah bertindak semena-mena, hanya ada satu kata: lawan!
“Bagaimana mungkin kita akan melawan manusia. Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan sekarang adalah lari dari hutan ini.” Malam itu, di tengah pekik semangat dari kaum muda revolusioner kami, terdengar juga suara pesimistis dari salah seekor babi tua. Ia tampak gusar dan sangat meragukan rencana-rencana yang tengah kami susun.
“Sepanjang ingatanku, tak pernah seekor babi pun mengusulkan rencana seperti ini. Dari dulu, kita selalu bisa mengandalkan alam untuk berlindung.”
“Ke mana kita akan lari?” Seekor babi muda bertanya dengan nada tinggi, kentara sekali bahwa ia sangat tidak setuju dengan sikap kaum tua yang selalu mengangung-agungkan cara lama. “Alam sudah rusak. Dirusak oleh manusia!”
“Kita masih punya cukup waktu untuk mencapai hutan di utara kampung. Kenapa tidak kalian hentikan obrolan tak berguna ini, dan kita segera bergerak.” Babi tua itu masih saja berusaha mematahkan semangat kami.
“Kami memang akan bergerak ke utara. Tapi bukan untuk melarikan diri!” Aku, yang dipercaya mengomando babi-babi muda, akhirnya ikut bersuara.
“Anda boleh tidak setuju dengan rencana yang akan kami jalankan. Tapi jangan racuni otak kami dengan gagasan-gagasan usang itu!”
Babi tua itu menatapku dengan tajam, lalu setelah meyakinkan dirinya bahwa tak ada seekor babi pun yang setuju dengan idenya, ia pun melengos dan segera berlalu. Entah siapa yang memulai, kami semua lalu bersorak gembira, seakan tidak ada lagi yang lebih membahagiakan daripada melihat babi tua itu menghilang dari balik pepohonan.
“Ke mana kita akan lari?” Seekor babi muda bertanya dengan nada tinggi, kentara sekali bahwa ia sangat tidak setuju dengan sikap kaum tua yang selalu mengangung-agungkan cara lama. “Alam sudah rusak. Dirusak oleh manusia!”
Babi-babi muda penuh gairah yang ada di kawanan selalu muncul dengan ide-ide yang mencengangkan. Dan, Van, salah satu yang paling cemerlang, mengusulkan sebuah strategi perlawanan yang bahkan tak pernah terlintas di benak babi mana pun: melawan manusia dengan teknologi yang mereka ciptakan sendiri.
Van memberikan detail yang sangat mengagumkan tentang rencananya itu, tapi demi kepentingan cerita ini dan mengingat kapasitas otakmu yang tak seberapa, baiknya kusederhanakan saja bagian ini dengan mengatakan bahwa kami akan membongkar perangkap yang ditanam manusia di hutan Utara. Berdasarkan informasi yang berhasil dikumpulkan anggota telik sandi kami, jumlah perangkap yang ada di sana cukup banyak, dan kami tentu tak memerlukan semuanya. Kami akan memilih beberapa yang terbaik dan membawanya ke sini – sesuai dengan rencana yang telah dipaparkan Van.
Kau mungkin akan bertanya-tanya, bagaimana mungkin kami, para babi ini, bisa memindahkan perangkap-perangkap itu dari hutan Utara ke sini? Kalian memang selalu memandang rendah makhluk yang memunggungi langit seperti kami, dan lupa bahwa evolusi tak pernah berhenti bergulir. Moncong kami yang memanjang dan taring runcing yang menyembul dari mulur kami seiring perkembangan waktu tentu tidak hanya bisa difungsikan untuk menggali tanah berlumpur dan menyedot cacing atau apa saja yang bisa dimakan di sana. Dengan latihan rutin, moncong dan taring itu juga bisa kami gunakan untuk urusan di luar perut, yang oleh babi-babi tua selalu dianggap sebagai sebuah pembangkangan.
“Sebagai babi, kerja kita ya makan, tidur, dan beranak-pinak!” Seru mereka selalu setiap kali melihat babi-babi muda mencoba hal-hal baru di luar kebiasaan.
“Dulu semua kita berasal dari laut,” seseorang dari kami, maksudku babi yang lebih muda, pernah memberikan bantahan dengan mengetengahkan sebuah fakta evolusi yang kami pernah kami dengar dari manusia. “Jika spesies laut bisa berjalan ke darat dan beradaptasi dengan lingkungan dengan mengubah bentuk dan fungsi organ-organnya, bukankah kita masih punya kesempatan yang sama? Toh manusia katanya juga berasal dari monyet!”
“Monyet ya monyet. Manusia ya manusia!” Babi-babi tua biasanya selalu mengakhiri perdebatan dengan kalimat pamungkas seperti itu, lalu berlalu dari kerumunan sambil mendengus kesal.
Di lain kesempatan, di saat mereka kembali tak bisa menahan diri untuk tidak mencampuri urusan babi-babi muda, mereka – babi-babi tua itu – akan mencoba membangkitkan ingatan kolektif kawanan tentang asal-usulku. “Betapa bodohnya kalian! Mau saja mengekor babi yang tak jelas entah berasal dari mana!”
“Betapa piciknya pikiran semacam itu!” Tanpa kuperintahkan, babi-babi muda biasanya akan maju membela.
“Itulah yang membelenggu kita selama ini. Yang membuat kita terus terperangkap dalam kubangan, menunggu manusia bersama anjing-anjing mereka datang menghabisi kita satu persatu!”
“Berapa kali harus kami katakan, kalian sedang melawan hukum langit! Kalian tak akan menang melawan manusia!”
“Alah, babi tua tak usah didengar! Revolusi ada di tangan babi muda seperti kita!” Pekik seekor babi yang telah naik ke gundukan tanah, yang kemudian dibalas gemuruh ‘hei ho hei yo’ dari babi-babi muda lainnya.
Demikianlah hingga hari ini tiba. Begitu rencana dimatangkan dan pembagian tugas selesai dibicarakan, kami segera berlari menuju hutan Utara. Besok, sebelum manusia dan anjing-anjing pemburu itu datang mengobrak-abrik sarang kami, perangkap-perangkap itu akan terlebih dulu mengirim mereka ke neraka. Percayalah, kami, para babi muda, tak akan pernah diam dan membiarkan manusia bertindak semena-mena.
Dan, menghabisi para pemburu itu tentu hanya permulaan dari rencana besar kami: dari sana, kami akan bergerak terus ke utara dan menaklukkan kota yang kami dengar tengah sekarat akibat terpaan wabah.
***
Ia tak terlalu ingat kejadian persisnya. Yang masih membekas di cecabang ingatannya hanyalah gurat jingga di ujung langit yang tampak seperti membakar gedung-gedung. Lalu hiruk-pikuk itu. Jeritan para penduduk kota yang berlarian kian kemari, mencari perlindungan dari sekawanan besar babi yang tiba-tiba saja datang dari hutan di pinggir kota dan menyeruduk siapa saja yang mereka temui di jalanan.
Petang itu seharusnya menjadi petang yang cukup membahagiakan baginya kalau saja kawanan babi itu tidak merangsek masuk ke kedai kopi tempat ia tengah duduk menikmati secangkir espresso setelah seharian mengunci diri di ruang pengap laboratorium. Beberapa proyek penelitian obat-obatan penyakit tropis yang mereka kembangkan sudah mulai membuahkan hasil. Setidaknya beberapa pasien yang mereka tangani masih mampu bertahan hingga hari itu.
Fakta tersebut tentu sedikit banyaknya telah meringankan beban pikirannya yang selama hampir dua tahun belakangan ia paksa bekerja sekeras mungkin untuk memenuhi tuntutan pemerintah dan masyarakat yang menginginkan agar obat-obatan untuk melawan serangan virus mematikan itu segera ditemukan.
“Kami tak sudi pajak yang kami bayar hanya untuk menggaji ilmuwan-ilmuwan dungu seperti kalian! Sudah jutaan nyawa melayang, dan kalian masih belum bisa menemukan satu pun obat yang bisa menangkal serangan virus sialan itu!”
“Apa pemerintah sengaja merekrut orang-orang tolol sehingga mereka punya kambing hitam atas angka kematian yang terus meningkat?”
“Heran, apa sih yang mereka kerjakan di laboratorium itu?”
“Kalau saja kita punya ilmuwan-ilmuwan lain yang bisa diandalkan, tentu sudah sejak lama kudoakan supaya otak-otak udang di laboratorium itu mampus digerogoti virus!”
“Apa pemerintah sengaja merekrut orang-orang tolol sehingga mereka punya kambing hitam atas angka kematian yang terus meningkat?”
Itu beberapa komentar tajam yang mendesing sampai ke kupingnya. Dan, seolah belum cukup, pemerintah pun menjadikan ia dan tim peneliti lainnya pelampiasan atas ketidakmampuan mereka mengendalikan massa yang mulai kehilangan kepercayaan.
“Dana penelitian yang kalian minta terus bertambah. Tapi apa hasilnya? Nihil!”
“Andai saja ada negara sahabat yang bisa dimintai tolong di saat krisis seperti sekarang, kami tentu sudah meminta mereka mengirimkan ilmuwan-ilmuwan hebat untuk menghasilkan obat-obatan untuk rakyat kita! Kalian tentu tahu, semua negara sudah terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing! Jadi, bekerjalah, kerahkan kemampuan terbaik kalian!”
“Virus yang semakin resisten! Apa-apan itu!”
“Jadi, virus di sini berkembang sepuluh kali lipat lebih cepat? Begitu? Bagaimana dengan otak kalian? Apa ia tak ikut berkembang agar bisa menciptakan satu saja obat mujarab untuk melumpuhkan virus-virus keparat itu?”
Kalimat-kalimat penuh amarah itu hampir saja kembali menguasai pikirannya kalau saja ia tak segera menyadari sekawanan besar babi itu kini telah sepenuhnya berpencar, menguasai semua sudut kota. Ia yang saat itu tengah melipat tubuhnya di bawah hanya bisa berharap babi-babi itu segera berlalu dari sana sehingga ia bisa berlari secepat mungkin menuju lift.
Namun, saat itu juga, ia melihat seekor babi besar datang menghampirinya. Dan, ia pun terpaku. Mata babi itu! Mata babi itu sungguh sangat ia kenali. Hanya sekilas, tapi ia bisa memastikan bahwa ia tahu dari mana babi yang sedang mengambil ancang-ancang untuk menghabisinya itu berasal.
***
Suatu hari, ia terbangun dari tidur siangnya dengan sebuah gagasan ganjil di kepala: menyuntikkan spermanya sendiri ke babi betina muda paling subur yang telah ia pilih di antara belasan ekor babi yang menghuni sebuah kandang besi di belakang laboratorium tempat ia bekerja.
“Spesies seperti apakah yang akan lahir ketika sperma ini membuahi sel telur babi betina pilihan?”
Babi betina itu hanya menggelenjot beberapa detik ketika cairan sperma itu masuk ke dalam rahimnya. Sementara laki-laki itu menyengir dengan sangat menjijikkan, mungkin ia geli sendiri membayangkan bentuk makhluk yang akan lahir dari hasil persilangan antara manusia dan mamalia berkuku tunggal itu, atau bisa jadi ia merasa bahwa ia telah melalukan sesuatu yang seharusnya untuk menyelamatkan umat manusia di tengah wabah yang telah merenggut jutaan nyawa itu.
Entahlah. Yang jelas, eksperimen sampingan itu bisa menyelamatkannya dari rasa bosan dan himpitan pekerjaan yang terus menderanya sejak beberapa waktu belakangan. Apalagi ketika ia melihat mata babi betina itu memancarkan sinar kebahagiaan yang tak pernah ia lihat sebelumnya dari mata babi mana pun di dunia.
Dan, kuharap kalian cukup cerdas untuk sekadar menyimpulkan bahwa akulah satu dari belasan ekor babi yang kelak lahir dari perut babi betina itu.
“Dan kau tak sekalipun menulis nama kami di ceritamu. Kau bahkan menghadirkan tokoh bernama Van sebagai glorifikasi alter egomu. Padahal kita berjuang bersama-sama merebut kota ini dari para manusia!” protes saudara-saudaraku.
Biarkan saja! Ini ceritaku, ini bagian dari sejarah hidupku. Sebagai pemenang, aku tentu berhak menuliskannya sesuka hatiku.
Agustus, 2020
***
Afri Meldam, lahir dan besar di Sumpur Kudus, Sumatra Barat. Menulis cerpen dan puisi. Buku kumpulan cerpennya, Hikayat Bujang Jilatang terbit pada 2015. Noveletnya yang berjudul “Di Palung Terdalam Surga” bisa dibaca di Pitu Loka (2019).
sumber : kompas.id, 03 Apr 2021.