Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Riwayat Seekor Babi oleh Afri Meldam

Posted on Sab, 03 Apr 2021

Aku tak terlalu ingat kejadian persisnya. Yang masih membekas di cecabang ingatanku hanyalah gurat jingga di ujung langit yang tampak seperti membakar pohon-pohon. Lalu hiruk-pikuk itu. Sorak-sorai para pemburu yang tiba-tiba muncul begitu saja dari sisi selatan lembah.

Kawanan yang tengah menikmati santapan mereka langsung berhamburan, menerobos semak-belukar, menyelamatkan diri masing-masing. Aku yang tengah berjaga di depan sarang hanya bisa menguik sekeras mungkin, berharap anak-anak segera bergabung dengan kawanan. Namun, hanya beberapa detik berselang, seekor anjing berlari begitu kencang ke arahku dan langsung saja menancapkan taring-taringnya di panggulku, yang kemudian disusul oleh gigitan demi gigitan. Lalu semuanya hening. Semesta hitam.

Dan, entah berapa lama setelah senja naas itu, aku mendapati diriku berada di sebuah rongga kayu yang lembab dan berbau masam. Di mana ini? Apakah aku sudah mati, dan kini aku mulai membusuk di dalam rongga kayu ini? Ah, tidak.

Tidak mungkin seeokor babi mati bisa mengendus bebauan. Aku masih hidup. Hanya saja tubuhku terluka. Anjing-anjing sialan itu telah mencabik-cabik bagian tubuhku yang dipenuhi lemak ini. Tapi, kenapa mereka tidak menghabisiku? Bukankah setiap kali mereka berhasil menangkap salah satu dari kami, tuan-tuan mereka akan mencincang tubuh saudara kami dan menghadiahkannya untuk anjing-anjing yang selalu kelaparan itu?

Aduh, entah seperti apa rupaku sekarang. Aku tak bisa memastikan apa-apa selain rasa sakit yang menjalar ke seluruh persendianku. Setiap kali aku bernapas, rasanya darah segar masih terus mengucur dari balik kulitku yang telah dicabik-cabik taring tajam anjing-anjing pemburu.

Ah, aku yakin, kau pasti berharap aku akan bercerita seperti itu padamu. Sebagai primata yang merajai rantai makanan, kau tentu ingin unggul dalam segala hal. Kau tentu ingin selalu menenangi setiap pertempuran. Tapi, tidak kali ini! Ini ceritaku, dan aku akan menuliskannya sesukaku.

Begini. Sehari sebelum perburuan itu, kami sudah mengendus semua recana busuk kalian. Bahwa kalian akan melepas anjing-anjing mengepung hutan tepat pada saat matahari tergelincir ke barat. Tidakkah kalian tahu, bahwa kami juga diberkahi kemampuan untuk mengembangkan naluri hewani kami? Taktik perburuan semacam itu sudah lama kami pelajari, dan kami tidak ingin lagi kawanan kami menjadi korban kebiadaban kalian. Kami sudah bertekad, ketika manusia sudah bertindak semena-mena, hanya ada satu kata: lawan!

“Bagaimana mungkin kita akan melawan manusia. Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan sekarang adalah lari dari hutan ini.” Malam itu, di tengah pekik semangat dari kaum muda revolusioner kami, terdengar juga suara pesimistis dari salah seekor babi tua. Ia tampak gusar dan sangat meragukan rencana-rencana yang tengah kami susun.

“Sepanjang ingatanku, tak pernah seekor babi pun mengusulkan rencana seperti ini. Dari dulu, kita selalu bisa mengandalkan alam untuk berlindung.”

“Ke mana kita akan lari?” Seekor babi muda bertanya dengan nada tinggi, kentara sekali bahwa ia sangat tidak setuju dengan sikap kaum tua yang selalu mengangung-agungkan cara lama. “Alam sudah rusak. Dirusak oleh manusia!”

“Kita masih punya cukup waktu untuk mencapai hutan di utara kampung. Kenapa tidak kalian hentikan obrolan tak berguna ini, dan kita segera bergerak.” Babi tua itu masih saja berusaha mematahkan semangat kami.

“Kami memang akan bergerak ke utara. Tapi bukan untuk melarikan diri!” Aku, yang dipercaya mengomando babi-babi muda, akhirnya ikut bersuara.

“Anda boleh tidak setuju dengan rencana yang akan kami jalankan. Tapi jangan racuni otak kami dengan gagasan-gagasan usang itu!”

Babi tua itu menatapku dengan tajam, lalu setelah meyakinkan dirinya bahwa tak ada seekor babi pun yang setuju dengan idenya, ia pun melengos dan segera berlalu. Entah siapa yang memulai, kami semua lalu bersorak gembira, seakan tidak ada lagi yang lebih membahagiakan daripada melihat babi tua itu menghilang dari balik pepohonan.

“Ke mana kita akan lari?” Seekor babi muda bertanya dengan nada tinggi, kentara sekali bahwa ia sangat tidak setuju dengan sikap kaum tua yang selalu mengangung-agungkan cara lama. “Alam sudah rusak. Dirusak oleh manusia!”

Babi-babi muda penuh gairah yang ada di kawanan selalu muncul dengan ide-ide yang mencengangkan. Dan, Van, salah satu yang paling cemerlang, mengusulkan sebuah strategi perlawanan yang bahkan tak pernah terlintas di benak babi mana pun: melawan manusia dengan teknologi yang mereka ciptakan sendiri.

Van memberikan detail yang sangat mengagumkan tentang rencananya itu, tapi demi kepentingan cerita ini dan mengingat kapasitas otakmu yang tak seberapa, baiknya kusederhanakan saja bagian ini dengan mengatakan bahwa kami akan membongkar perangkap yang ditanam manusia di hutan Utara. Berdasarkan informasi yang berhasil dikumpulkan anggota telik sandi kami, jumlah perangkap yang ada di sana cukup banyak, dan kami tentu tak memerlukan semuanya. Kami akan memilih beberapa yang terbaik dan membawanya ke sini – sesuai dengan rencana yang telah dipaparkan Van.

Kau mungkin akan bertanya-tanya, bagaimana mungkin kami, para babi ini, bisa memindahkan perangkap-perangkap itu dari hutan Utara ke sini? Kalian memang selalu memandang rendah makhluk yang memunggungi langit seperti kami, dan lupa bahwa evolusi tak pernah berhenti bergulir. Moncong kami yang memanjang dan taring runcing yang menyembul dari mulur kami seiring perkembangan waktu tentu tidak hanya bisa difungsikan untuk menggali tanah berlumpur dan menyedot cacing atau apa saja yang bisa dimakan di sana. Dengan latihan rutin, moncong dan taring itu juga bisa kami gunakan untuk urusan di luar perut, yang oleh babi-babi tua selalu dianggap sebagai sebuah pembangkangan.

“Sebagai babi, kerja kita ya makan, tidur, dan beranak-pinak!” Seru mereka selalu setiap kali melihat babi-babi muda mencoba hal-hal baru di luar kebiasaan.

“Dulu semua kita berasal dari laut,” seseorang dari kami, maksudku babi yang lebih muda, pernah memberikan bantahan dengan mengetengahkan sebuah fakta evolusi yang kami pernah kami dengar dari manusia. “Jika spesies laut bisa berjalan ke darat dan beradaptasi dengan lingkungan dengan mengubah bentuk dan fungsi organ-organnya, bukankah kita masih punya kesempatan yang sama? Toh manusia katanya juga berasal dari monyet!”

“Monyet ya monyet. Manusia ya manusia!” Babi-babi tua biasanya selalu mengakhiri perdebatan dengan kalimat pamungkas seperti itu, lalu berlalu dari kerumunan sambil mendengus kesal.

Di lain kesempatan, di saat mereka kembali tak bisa menahan diri untuk tidak mencampuri urusan babi-babi muda, mereka – babi-babi tua itu – akan mencoba membangkitkan ingatan kolektif kawanan tentang asal-usulku. “Betapa bodohnya kalian! Mau saja mengekor babi yang tak jelas entah berasal dari mana!”

“Betapa piciknya pikiran semacam itu!” Tanpa kuperintahkan, babi-babi muda biasanya akan maju membela.

“Itulah yang membelenggu kita selama ini. Yang membuat kita terus terperangkap dalam kubangan, menunggu manusia bersama anjing-anjing mereka datang menghabisi kita satu persatu!”

“Berapa kali harus kami katakan, kalian sedang melawan hukum langit! Kalian tak akan menang melawan manusia!”

“Alah, babi tua tak usah didengar! Revolusi ada di tangan babi muda seperti kita!” Pekik seekor babi yang telah naik ke gundukan tanah, yang kemudian dibalas gemuruh ‘hei ho hei yo’ dari babi-babi muda lainnya.

Demikianlah hingga hari ini tiba. Begitu rencana dimatangkan dan pembagian tugas selesai dibicarakan, kami segera berlari menuju hutan Utara. Besok, sebelum manusia dan anjing-anjing pemburu itu datang mengobrak-abrik sarang kami, perangkap-perangkap itu akan terlebih dulu mengirim mereka ke neraka. Percayalah, kami, para babi muda, tak akan pernah diam dan membiarkan manusia bertindak semena-mena.

Dan, menghabisi para pemburu itu tentu hanya permulaan dari rencana besar kami: dari sana, kami akan bergerak terus ke utara dan menaklukkan kota yang kami dengar tengah sekarat akibat terpaan wabah.

***

Ia tak terlalu ingat kejadian persisnya. Yang masih membekas di cecabang ingatannya hanyalah gurat jingga di ujung langit yang tampak seperti membakar gedung-gedung. Lalu hiruk-pikuk itu. Jeritan para penduduk kota yang berlarian kian kemari, mencari perlindungan dari sekawanan besar babi yang tiba-tiba saja datang dari hutan di pinggir kota dan menyeruduk siapa saja yang mereka temui di jalanan.

Petang itu seharusnya menjadi petang yang cukup membahagiakan baginya kalau saja kawanan babi itu tidak merangsek masuk ke kedai kopi tempat ia tengah duduk menikmati secangkir espresso setelah seharian mengunci diri di ruang pengap laboratorium. Beberapa proyek penelitian obat-obatan penyakit tropis yang mereka kembangkan sudah mulai membuahkan hasil. Setidaknya beberapa pasien yang mereka tangani masih mampu bertahan hingga hari itu.

Fakta tersebut tentu sedikit banyaknya telah meringankan beban pikirannya yang selama hampir dua tahun belakangan ia paksa bekerja sekeras mungkin untuk memenuhi tuntutan pemerintah dan masyarakat yang menginginkan agar obat-obatan untuk melawan serangan virus mematikan itu segera ditemukan.

“Kami tak sudi pajak yang kami bayar hanya untuk menggaji ilmuwan-ilmuwan dungu seperti kalian! Sudah jutaan nyawa melayang, dan kalian masih belum bisa menemukan satu pun obat yang bisa menangkal serangan virus sialan itu!”

“Apa pemerintah sengaja merekrut orang-orang tolol sehingga mereka punya kambing hitam atas angka kematian yang terus meningkat?”

“Heran, apa sih yang mereka kerjakan di laboratorium itu?”

“Kalau saja kita punya ilmuwan-ilmuwan lain yang bisa diandalkan, tentu sudah sejak lama kudoakan supaya otak-otak udang di laboratorium itu mampus digerogoti virus!”

“Apa pemerintah sengaja merekrut orang-orang tolol sehingga mereka punya kambing hitam atas angka kematian yang terus meningkat?”

Itu beberapa komentar tajam yang mendesing sampai ke kupingnya. Dan, seolah belum cukup, pemerintah pun menjadikan ia dan tim peneliti lainnya pelampiasan atas ketidakmampuan mereka mengendalikan massa yang mulai kehilangan kepercayaan.

“Dana penelitian yang kalian minta terus bertambah. Tapi apa hasilnya? Nihil!”

“Andai saja ada negara sahabat yang bisa dimintai tolong di saat krisis seperti sekarang, kami tentu sudah meminta mereka mengirimkan ilmuwan-ilmuwan hebat untuk menghasilkan obat-obatan untuk rakyat kita! Kalian tentu tahu, semua negara sudah terlalu sibuk dengan urusan mereka masing-masing! Jadi, bekerjalah, kerahkan kemampuan terbaik kalian!”

“Virus yang semakin resisten! Apa-apan itu!”

“Jadi, virus di sini berkembang sepuluh kali lipat lebih cepat? Begitu? Bagaimana dengan otak kalian? Apa ia tak ikut berkembang agar bisa menciptakan satu saja obat mujarab untuk melumpuhkan virus-virus keparat itu?”

Kalimat-kalimat penuh amarah itu hampir saja kembali menguasai pikirannya kalau saja ia tak segera menyadari sekawanan besar babi itu kini telah sepenuhnya berpencar, menguasai semua sudut kota. Ia yang saat itu tengah melipat tubuhnya di bawah hanya bisa berharap babi-babi itu segera berlalu dari sana sehingga ia bisa berlari secepat mungkin menuju lift.

Namun, saat itu juga, ia melihat seekor babi besar datang menghampirinya. Dan, ia pun terpaku. Mata babi itu! Mata babi itu sungguh sangat ia kenali. Hanya sekilas, tapi ia bisa memastikan bahwa ia tahu dari mana babi yang sedang mengambil ancang-ancang untuk menghabisinya itu berasal.

***

Suatu hari, ia terbangun dari tidur siangnya dengan sebuah gagasan ganjil di kepala: menyuntikkan spermanya sendiri ke babi betina muda paling subur yang telah ia pilih di antara belasan ekor babi yang menghuni sebuah kandang besi di belakang laboratorium tempat ia bekerja.

“Spesies seperti apakah yang akan lahir ketika sperma ini membuahi sel telur babi betina pilihan?”

Babi betina itu hanya menggelenjot beberapa detik ketika cairan sperma itu masuk ke dalam rahimnya. Sementara laki-laki itu menyengir dengan sangat menjijikkan, mungkin ia geli sendiri membayangkan bentuk makhluk yang akan lahir dari hasil persilangan antara manusia dan mamalia berkuku tunggal itu, atau bisa jadi ia merasa bahwa ia telah melalukan sesuatu yang seharusnya untuk menyelamatkan umat manusia di tengah wabah yang telah merenggut jutaan nyawa itu.

Entahlah. Yang jelas, eksperimen sampingan itu bisa menyelamatkannya dari rasa bosan dan himpitan pekerjaan yang terus menderanya sejak beberapa waktu belakangan. Apalagi ketika ia melihat mata babi betina itu memancarkan sinar kebahagiaan yang tak pernah ia lihat sebelumnya dari mata babi mana pun di dunia.

Dan, kuharap kalian cukup cerdas untuk sekadar menyimpulkan bahwa akulah satu dari belasan ekor babi yang kelak lahir dari perut babi betina itu.

“Dan kau tak sekalipun menulis nama kami di ceritamu. Kau bahkan menghadirkan tokoh bernama Van sebagai glorifikasi alter egomu. Padahal kita berjuang bersama-sama merebut kota ini dari para manusia!” protes saudara-saudaraku.

Biarkan saja! Ini ceritaku, ini bagian dari sejarah hidupku. Sebagai pemenang, aku tentu berhak menuliskannya sesuka hatiku.

Agustus, 2020

***

Afri Meldam, lahir dan besar di Sumpur Kudus, Sumatra Barat. Menulis cerpen dan puisi. Buku kumpulan cerpennya, Hikayat Bujang Jilatang terbit pada 2015. Noveletnya yang berjudul “Di Palung Terdalam Surga” bisa dibaca di Pitu Loka (2019).

sumber : kompas.id, 03 Apr 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme