Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pao An Tui *1 oleh Dwicipta

Posted on Ming, 27 Nov 2005

Keng Hong terkulai lemah di depan jasad anaknya. Tubuh dan pikirannya sangat letih setelah melakukan perjalanan jauh selama dua hari dua malam. Dari balik kain penutup jasad, dilihatnya darah masih merembes membasahi bawah dipan. Ada tujuh tusukan yang bersarang di tubuh anaknya. Remaja tanggung itu telah meninggal sejak semalam. Istrinya, Ling-Ling, sedari semalam terus menangisi jasad anaknya yang membujur di atas dipan. Kedua anaknya yang masih hidup, A Cong dan Beng Sin, ikut-ikutan menjerit di samping ibunya.

Tak ada seorang pun tetangga yang melayatnya. Ia baru saja menjejakkan kaki di Kembang Jepun2 ini setelah selama hampir dua hari merangkak-rangkak di antara desingan peluru dan menyelinap menghindari laskar-laskar perjuangan yang anti-orang-orang kuning dan bermata sipit seperti dirinya. Revolusi kemerdekaan benar-benar membara di seluruh pelosok negeri. Korban berjatuhan. Tak jarang di antaranya adalah korban-korban kesalahpahaman belaka. Ia tak tahu kapan situasi perang akan berhenti.

Keng Hong mengembuskan napas panas dari hidungnya berulang-ulang. Asap hio menyengat. Ada dua saudara iparnya yang ikut menunggui rumah sejak kejadian semalam di samping istri dan anak-anaknya. Didekatinya Ling-Ling yang berurai air mata. Tangannya gemetar mengelus kepala istrinya. Rambutnya kusut, sebagian menutupi wajahnya.

”Sudahlah, Ling. Jangan menangis terus-menerus. Relakan kepergian Siong. Tuhan akan menerimanya di surga,” katanya.

”Kenapa kau tega membiarkan ia mati, Suamiku? Siong, gantunganku bila kau tak ada, mati di tangan bajingan-bajingan yang mengaku laskar perjuangan itu,” teriaknya sambil menggerung-gerung.

Sin Liong masuk ke ruangan bersama Hong San. Muka mereka pun pucat karena sejak semalam belum memejamkan mata barang sedikit pun. Keng Hong melirik kedua adik iparnya.

”Kita harus menguburkan Siong secepatnya sekalipun perlengkapan penguburan tidak lengkap. Situasi darurat harus dihadapi dengan cara-cara darurat,” kata Keng Hong.

”Lalu apa yang harus kita lakukan kemudian?” tanya Sin Liong. ”Orang-orang yang berkedok membela Republik itu sampai sekarang belum diketahui laskar mana. Kita terjepit di antara dua kekuatan besar.”

”Sudahlah, kita pikirkan nanti saja. Sekarang kita harus menguburkan A Siong cepat-cepat. Aku tak mau Ling-Ling terus-terusan menangisinya. Bagaimana kalau kita kuburkan di halaman belakang rumah,” kata Keng Hong. ”A Cong, kau pergi ke tempat Paman Cia. Suruh dia membungkus mayat dan mendoakan arwah A Siong agar diterima di surga. Dia orang baik, tentu mau menolong kita. Jangan menangis terus. Kau sekarang menjadi anak tertua. Jangan cengeng!”

Ketiga orang itu kemudian pergi mengambil cangkul dan mulai mencari tempat yang tepat untuk menguburkan jenazah. Matahari bulan Desember hilang entah ke mana. Hujan terus turun sejak semalam. Sekarang, meskipun tinggal rintik-rintik, air masih menggenangi halaman belakang. Keng Hong mencangkul tanah basah, seolah lupa kalau kepenatan telah menghajar sejak dua hari yang lalu. Setelah empat jam menggali tanpa henti, akhirnya lubang sedalam lebih dari satu meter itu berhasil dibuat. Sin Liong terpaksa memindahkan air dari lubang terus-menerus untuk memudahkan penggalian. Paman Cia menggotong mayat A Siong keluar diiringi tangisan Ling-Ling. Akhirnya tubuh remaja tanggung itu dibenamkan ke tanah dalam suasana hujan rintik-rintik.

Malam. Empat orang duduk di atas meja bundar setelah tadi berdoa bersama di depan altar sederhana yang dipersiapkan Keng Hong. Wajah-wajah mereka muram. Sedangkan Ling-Ling terus mengusap kelopak matanya yang bengkak. Pelupuk mata yang sipit semakin menyembunyikan bola matanya yang kecil.
Iklan

Dengan kalimat terbata-bata, ia bercerita tentang kematian A Siong lebih detail. Kadangkala dibantu oleh Hong San yang datang satu jam setelah terbunuhnya A Siong. Semalam, hampir lima orang tak dikenal mendatangi rumah Keng Hong, menanyakan apakah lelaki itu ada di rumahnya atau tidak. A Siong yang pertama kali membukakan pintu. Di belakangnya Ling-Ling mengikuti dengan tubuh gemetaran. Ia selalu ketakutan bila ada orang asing datang ke rumahnya. Tapi A Siong mewarisi keberanian ayahnya. Ia menjawab ayahnya tidak ada. Kalau ada apa-apa, ia bisa mewakili ayahnya. Kelima orang itu bertanya apakah ayahnya terlibat Pao An Tui atau tidak, apakah ia pergi untuk membela Republik atau KNIL. Sayangnya A Siong yang pemberani itu berkata sedikit ketus kepada kelima orang itu.

”Ayahku selamanya membela Republik. Ia lahir di sini. Dan mati pun di sini. Tak sudi ia membela orang-orang Belanda itu. Ayahku teman baik Oei Kim Sin, pendiri Pao An Tui,” kata Ling-Ling menirukan suara A Siong.

Setelah A Siong mengucapkan kalimat terakhirnya, tiba-tiba salah satu dari kelima orang itu menarik dan menusukkan parang yang disembunyikan di selangkangannya. Ling-Ling melolong-lolong. Lebih enam kali orang itu menusuk A Siong, sampai remaja tanggung itu menjelempah di lantai. Setelah korbannya ambruk, mereka kabur dari tempat itu. Ling-Ling pingsan melihat darah berceceran melumuri tubuh anaknya. Kedua adik A Siong keluar dari kamar, ikut melolong-lolong melihat tubuh A Siong.

”Aku datang terlambat. Entah kenapa aku ingin datang ke rumah Kakak Ling sejak sore. Tapi teman-teman di pos penerimaan bantuan ransum untuk Republik menahanku. Aku datang satu jam setelah pembunuhan itu,” kata Hong San dengan wajah penuh sesal.

”Kita memang serba sulit. Orang-orang di Jakarta dan kota besar lain ramai-ramai membicarakan nasib babah-babah kaya yang rumahnya terus dijarah. Dan kita merelakan diri menjadi kacung Pao An Tui. Sementara mereka, babah-babah kaya itu, yang menyandarkan nasib hartanya pada Pao An Tui tak pernah memikirkan nasib orang- orang miskin seperti kita, walaupun kita loyal terhadap Republik. Menjengkelkan kalau dipikir-pikir,” kata Sin Liong dengan nada menyesal.

”Aku masih heran kenapa laskar-laskar itu menyerang kita, kaum peranakan Cina miskin. Lagi pula mereka mestinya tahu siapa aku,” kata Keng Hong sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Berkali-kali ia duduk dan berdiri, resah. Matanya menyelundup keluar, menembus dinding dan menerawang ke angkasa yang gelap.

”Puh, kau tidak tahu, Kakak. Sudah tersebar desas-desus Pao An Tui membela Jenderal Spoor3. Lihat saja buktinya, orang-orang seperti Babah Can itu setiap hari hilir mudik bersama-sama KNIL. Padahal ia menyatakan dirinya di depan banyak orang membiayai Pao An Tui,” jawab Sin Liong kesal.

Keng Hong mengangguk. Memang benar, bukan hanya di Surabaya isu itu berembus. Di Semarang dan Jakarta isu itu pun lebih santer. Kabarnya KNIL memaksa beberapa orang petinggi Pao An Tui untuk memihak Belanda. Dan ia memang tahu sendiri iblis-iblis bermuka dua di organisasi keamanan kota itu. Ia mengenal baik Oei Kim Sin, teman masa kecilnya yang telah berjasa besar menyelamatkan orang-orang China seperti dirinya, baik yang kaya maupun yang miskin. Mereka berteman baik sejak kecil, meskipun ayah Keng Hong bekerja menjadi pembantu di rumah keluarga Oei yang kaya raya. Ia tahu seperti apa kesetiaan Oei pada Republik.

”Kabarnya rumah Babah Can dan beberapa orang kaya di Kembang Jepun ini dijaga orang-orang bayaran KNIL.”

”Benar, aku tahu sendiri ada opsir KNIL bertandang ke rumah Babah Can tiga hari yang lalu,” kata Hong San yang dari tadi diam saja.

”Lalu bagaimana kunjunganmu di Thay Kak Sie4? Apakah keluarga kita di sana baik-baik saja?” tanya Sin Liong.
Iklan

”Orang-orang kita di Semarang lebih beruntung. Mereka jumlahnya lebih banyak daripada Surabaya, dan tidak banyak terpencar-pencar. Penjagaan keselamatan hidup mereka lebih mudah.”

”Kabarnya tuan Perdana Menteri Syahrir berkunjung ke tempat kediaman Seng Kun, kepala Pao An Tui Semarang?”

”Benar. Yang Mulia Perdana Menteri teman baik Seng Kun selama gerakan bawah tanah. Ia malahan memberikan bantuan untuk gerakan kita.”

”Tak ada musuh dalam selimut? Orang-orang bermuka dua itu yang menyebabkan bencana orang kecil macam kita ini. Akibatnya pembunuhan besar-besaran seperti yang terjadi di Karawang dan Surakarta. Kita selalu menjadi kambing hitam dalam segala hal,” kata Hong San.

Seseorang mengetuk pintu. Keempat orang yang sedang terlibat pembicaraan tersebut saling pandang satu sama lain. Sin Liong yang berdiri dekat pintu hendak meraih selot pintu, tapi ditahan Keng Hong.

”Siapa?!” bentak Keng Hong.

”Aku, Mei Lan, Kakak Hong. Bukalah pintunya,” jerit perempuan di luar pintu. Sin Liong langsung meraih selot pintu dan membukanya.

”Untuk apa kau kemari? Bukankah sudah kupesan sebaiknya kau tidur saja malam ini?!” kata Sin Liong gusar melihat istrinya yang basah kuyup menerobos hujan.

”Aku takut di rumah sendirian. Semua cahaya di rumah kumatikan. Tadi baru saja ada orang mengintip,” kata istrinya sambil menggigil. Anaknya yang berusia sepuluh tahun kelihatan menggigil. Ling-Ling masuk ke rumahnya dan mengambil pakaian Tian-Tian yang seusia dengan anak Sin Liong.

”Kau gantilah pakaianmu. Masuklah, tidur di sini, temani kami,” katanya dengan suara parau.

”Sekarang apa yang harus kita lakukan, Kakak Hong?” tanya Hong San. ”Kita mesti menyelidik siapa yang membunuh A Siong. Nyawa harus dibayar dengan nyawa.”

Keng Hong tertawa samar dan kecut. Ia teringat dengan korban-korban seperti A Siong di Surakarta dan Karawang5. Tidak hanya puluhan, tapi ratusan, terbunuh sia-sia. Apakah ia harus menuntut nyawa anaknya? Revolusi memang makan banyak korban. Ia telah tercebur ke dalamnya. Dan sekarang revolusi yang diceburinya telah meminta nyawa anaknya. Ia tak akan menuntut balas dendam tak bermata seperti itu.

”Tidak, aku tak mau melakukan pengusutan lebih lanjut,” katanya pelan.

”Kau memang terlalu baik hati terhadap orang-orang Republik. Anakmu sendiri menjadi korban, dan kau diam saja,” kata istrinya sambil terisak, meninggalkan mereka. Suara tangisannya pecah, meresahkan malam yang basah.

”Ketua Pao An Tui di Surabaya telah memberikan perintah pada kita. Menurut mata-mata yang kita selundupkan ke rumah Babah Can, dan menguping pembicaraan opsir KNIL itu, dalam hitungan beberapa hari ke depan akan ada operasi militer besar-besaran oleh Belanda. Jenderal Spoor ingin Republik hancur secepatnya,” kata Hong San.

”Aku juga sudah tahu desas-desus itu. Tapi orang-orang Republik menganggap berita itu angin lalu saja. Di Semarang, kita telah membagi dua kekuatan. Sebagian untuk melindungi orang-orang kita dan yang sebagian lagi mempersiapkan logistik Republik untuk pertempuran kota dan mempermudah jalur pengiriman logistik ke desa-desa dalam perang gerilya,” kata Keng Hong. ”Sebenarnya hari ini aku diperintahkan oleh Ketua Pao An Tui Semarang menyampaikan surat untuk Ketua Pao An Tui Surabaya. Tapi aku sangat lelah. Lebih baik kutangguhkan besok pagi.”
Iklan

”Kakak beristirahatlah. Aku akan di sini sampai pagi. Besok kutemani Kakak ke rumah ketua,” kata Hong San. Ia melonjorkan kaki di atas dipan. Sementara Sin Liong menggelar tikar, lalu menelentangkan tubuhnya di lantai.

Malam turun semakin sunyi.

Entah kenapa Keng Hong tak langsung memejamkan matanya. Padahal selama dua hari tiga malam ini ia tidur ayam. Firasatnya tak enak. Hong San telah mematikan semua lampu untuk memudahkan penglihatannya ke luar rumah. Bayangan wajah A Siong bermain-main di kepalanya. ”Kau telah menjadi tumbal untukku, Siong. Dan tumbal kaum kita. Tumbal revolusi kemerdekaan Republik. Mimpi orang-orang kecil macam kita. Aku bangga memiliki anak sepertimu. Sayang Tuhan memanggilmu sangat cepat,” katanya dalam hati. Pikirannya terus mengembara ketika ia merasakan tangan Hong San menyentuh tubuhnya.

”Kakak, ada seseorang mengendap-endap di luar. Apa yang harus kita lakukan,” bisik Hong San.

Keng Hong menghunus pedang yang selalu menemani tidurnya. ”Bangunkan Sin Liong,” katanya.

”Sudah. Dia menunggu di samping pintu,” jawab Hong San.

”Mereka benar-benar meneror kita.”

Keng Hong mendekati pintu depan. Sin Liong membungkuk mengamati orang di luar rumah.

”Cuma ada satu orang. Kita sergap saja dia,” katanya.

”Jangan terjebak. Bisa saja mereka cuma memancing kita keluar,” kata Keng Hong.

Keng Hong tak melanjutkan kata-katanya karena dari kegelapan terdengar letusan bedil memecah malam. Ketiga laki-laki itu bertiarap di lantai. Papan-papan kayu di rumah Keng Hong bergemeletak tertembus peluru. Suara rentetan senjata api itu semakin membuat orang-orang tak berani keluar rumah, tercekam ketakutan. Di antara rentetan senjata api, Keng Hong mendengar gerakan orang berlari mendekat ke rumahnya, sebat. Bulu kuduknya berdiri karena orang itu berdiri tepat di depan pintu. Dalam hitungan detik, orang itu kembali berlari menjauh dari pintu. Ketiga orang itu mendengar suara pintu seperti diketuk.

Lama mereka tiarap. Setelah keadaan sepi selama hampir seperempat jam, Keng Hong memberi tanda pada Sin Liong untuk berjaga-jaga. Perlahan-lahan, ia membuka selot pintu, lalu membukanya. Sebuah kertas tertusuk pisau kecil di di pintu rumahnya. Ia mengambilnya dan menutup pintu lagi. Diambilnya korek dari kantong celananya. Ia membaca tulisan itu.

”Antek-antek Pao An Tui kalau berani bersekutu dengan Belanda akan dimusnahkan.”

Mereka berpandangan satu sama lain. Keng Hong menggeleng-gelengkan kepalanya.

”Kita benar-benar berada di tempat yang sulit. Kedua belah pihak mencurigai kita,” katanya sambil meremas kertas itu sampai hancur. Kedua adik iparnya memandang bingung, tak tahu mesti berbuat apa.

Yogyakarta, 13 Januari 2005

Catatan:

1. Barisan Polisi Keamanan Kota, suatu penjaga keamanan sipil yang dibentuk etnis China di tahun 1947 guna menjaga keselamatan orang-orang China baik karena ancaman Belanda maupun pihak-pihak Republik yang tidak menyukainya.

2. Nama daerah di Surabaya tempat bermukim komunitas China.
Iklan

3. Panglima Tentara Belanda, NICA, di Hindia Belanda yang ditugaskan untuk mempertahankan kekuasaan Hindia Belanda. Ia mati bunuh diri tahun 1949, begitu posisi Belanda di dunia internasional terjepit.

4. Nama salah satu kuil atau kelenteng di Semarang. Kuil ini diperkirakan dibangun ketika Panglima Cheng Hoo datang ke Sam Poo Toa Lang atau Semarang pada abad ke-15.

5. Antara tahun 1946 sampai tahun 1949, komunitas China di nusantara mengalami banyak sekali pembunuhan tanpa sebab. Peristiwa di Surakarta dan Karawang adalah dua contoh dari pembunuhan mengerikan terhadap orang-orang etnis China.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme