Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sujud Terlama di Dunia oleh Akhmad Sekhu

Posted on Kam, 22 Apr 2021

Apakah Anda bisa membedakan dua orang kembar? Maksudnya, bertemu dengan orang kembar benar-benar bisa langsung tahu kalau ini kakaknya dan itu adiknya, atau begitu juga sebaliknya.

Masalahnya, di Desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, ada dua orang kembar, Bejo dan Sugeng namanya, yang wajahnya tampak persis sama. Begitu bertemu salah satu dari mereka dipastikan tak ada  bisa membedakan mana Bejo mana Sugeng, karena wajahnya memang benar-benar persis sama, tapi kalau ditanya orang, apakah Bejo atau Sugeng, bukannya dijawab ya atau tidak, melainkan malah hanya ditanggapi dengan senyum yang makin membuat orang bingung, bahkan malah dibalik bertanya mengujinya, menurut Anda saya ini siapa? Tentu saja hal itu membuat orang bertambah jadi lebih bingung lagi, jadinya semakin dibikin keki.

Tampaknya memang tak ada orang yang benar-benar bisa tahu membedakan dua orang kembar yang selalu bikin keki orang itu. Sepertinya yang tahu hanya Tuhan dan diri mereka sendiri saja.

Bejo dan Sugeng, kedua kakak beradik kembar itu memang selalu bikin ulah, kadang bikin orang tersenyum, tapi kadang juga membuat orang jadi kesal. Tapi pada dasarnya, mereka berdua itu orang baik, niatnya memang baik, selalu ingin berbuat baik untuk menghibur masyarakat desa, hanya saja sukanya bercanda, dan parahnya bercandanya sering kelewatan. Seharusnya kadar bercandanya sesuai dengan porsinya saja karena segala sesuatu kalau berlebihan tentu tidak baik.

***

Saat petang sudah menjelang malam, setelah selesai sholat maghrib berjamaah tampak Mushola Abdul Rohman pun sepi. Hanya terdengar suara jangkrik, katak, ngengat dan berbagai serangga lainnya, seperti musik alam yang alami

Dari kejauhan tampak tiga orang nenek berjalan tergopoh-gopoh begitu sangat buru-buru datang ke mushola itu, tapi berpapasan pulangnya orang-orang yang sudah sholat berjamaah. Ketiga nenek itu pun menjadi ragu untuk melanjutkan langkahnya, tapi begitu melihat tampak masih ada seorang lelaki yang berada di mushola, yang kemudian membuat mereka semangat dan semakin mempercepat langkahnya ke mushola.

”Ayo, cepat jalannya!” ucap Mbok Darmi, salah seorang nenek yang berjalan paling depan, tampaknya nenek yang paling cerewet dan paling tidak sabaran.

Berhenti sesaat dan kemudian merapikan mukena putih yang dikalungkan di lehernya, Mbok Darmi menunjuk ke arah mushola dan berkata, ”Itu di mushola masih ada seorang lelaki yang bisa kita jadikan imam sholat.”

”Ya, ayolah!” sahut Mbok Siti tampak turut senang dan semakin tersemangati.

”Iya ini aku juga cepat jalannya,” Mbok Rindiani juga turut tersemangati, tapi saking jalannya terburu-buru, terantuk batu hingga kemudian kedebug dirinya jatuh.

”Wah ini pakai jatuh segala!” Mbok Darmi mengomentari tampak kecewa begitu melihat Mbok Rindiani jatuh, yang baginya akan memperlambat jalan sampai ke mushola.

”Darmi ini aku jatuh bukannya ditolong tapi malah menyalahkan,” gerutu Mbok Rindiani bersungut-sungut raut wajahnya yang tirus.

”Maaf bukannya menyalahkan,” bantah Mbok Darmi tampak tak terima, kemudian menyarankan, ”tapi kalau kamu jalan hati-hati tentu tidak jatuh begitu.”

”Jangan terlalu cepat-cepatlah jalannya,” protes Mbok Rindiani seraya berusaha keras untuk bangun, tapi tidak bisa bangun, karena itu ia perlu waktu untuk istirahat sesaat. Umur uzur memang tak bisa dibohongi yang membuatnya cepat lelah.

Mbok Darmi menghela napas panjang, kemudian pamitan, ”Kita berdua duluan jalan ya agar lelaki yang masih berada di mushola tu tidak buru-buru pergi.”

Dengan penuh keterpaksaan karena masih belum bisa bangun, Mbok Rindiani langsung mempersilakan, ”Iya, kalian berdua pergi duluan, aku nyusul karena encokku kumat.”

”Yuk, Sit, jalannya lebih dipercepat lagi,” ajak Mbok Darmi langsung menggandeng tangan Mbok Siti, tapi Mbok Siti tampak tak tega melihat Mbok Rindiani jatuh, tatapan matanya mengarah terus pada nenek yang sudah begitu sangat sepuh.

”Ayolah Sit, cepat jalannnya!” desak Mbok Darmi semakin tidak sabaran.

”Jalan nenek-nenek seperti kita ini ya ndak bisa cepat,” Mbok Siti memprotes.

”Jangan protes, ayo cepat kita jalan,” bentak Mbok Darmi dengan suara meninggi sambil menarik tangan Mbok Siti. Mbok Darmi bertubuh besar gempal itu memang tenaganya kuat yang sekali tarik mampu menyeret tubuh Mbok Siti yang kurus kerempeng. Sehingga Mbok Siti terpaksa nurut kemauan Mbok Darmi.

Mbok Darmi bersama Mbok Siti pun cepat-cepat berjalan setengah berlari hingga dapat sampai mushola tepat berpapasan dengan seorang lelaki yang nyaris pergi kalau mereka berdua tidak buru-buru sampai ke mushola.

”Eit, jangan pulang!” teriak Mbok Darmi dengan suara menggelegar seraya tangannya merentang panjang untuk menghalang-halangi lelaki itu pergi.

”Lho kok jangan pulang,” ucap lelaki itu menolak, serta-merta beralasan, ”saya sudah sholat ya langsung pulang.”

”Eh, Darmi, ini siapa?” Mbok Siti membisikkan pertanyaan, tubuhnya yang kecil seperti berlindung di bawah naungan Mbok Darmi. ”Bejo atau Sugeng?”

”Ndak tahu aku, orang kembar ini memang membingungkan,” jawab Mbok Darmi sambil tangannya tetap merentang panjang untuk menghalang-halangi lelaki itu pergi.

”Hehehe, kalian bingung siapa saya,” lelaki itu tampak ketawa terkekeh melihat kedua nenek itu kebingungan tak tahu dirinya Bejo atau Sugeng.

”Bejo atau Sugeng ndak urusan, yang penting kamu mau menjadi imam sholat kita,” tegas Mbok Darmi tetap pada pendirian tak tergoyahkan digelanyuti kebingungan Mbok Siti. ”Pokoknya jangan pulang dulu karena kita-kita butuh kamu jadi imam sholat!”

”Ndak mau ah,” lelaki itu tetap menolak.

Mbok Darmi menerangkan keinginannya, ”Apa kamu ndak kasihan sama kami ini nenek-nenek yang sudah uzur, sudah pikun dan sudah ndak bisa menghapal surat Al Quran untuk bacaan sholat, hah?!”

”Ndak bisa karena aku memang harus buru-buru cepat pulang,” terang lelaki itu kini mencoba meyakinkan dengan alasan.

Mbok Darmi kini buru-buru mencopot sandalnya dan langsung mengacung-acung sandal yang bermerek Lily itu tinggi-tinggi sebagai tanda ancaman untuk siap menimpuk lelaki itu kalau tetap tidak mau menuruti kemauannya untuk menjadi imam sholat.

”Iya deh, aku mau jadi imam sholat,” lelaki itu kini menyanggupi tapi terdengar penuh keterpaksaan.

”Jangan pakai deh, kedengarannya terpaksa banget, “ protes Mbok Darmi, kemudian menerangkan, “padahal sholat berjamaah pahalanya sangat besar 27 kali lipat dibanding dengan sholat sendirian.”

”Ya, ayo cepat sekarang aku siap mengimami,” ucap lelaki itu menyanggupi dengan memberi tekanan.

”Sebentar jangan terburu-buru banget begitu,” cegah Mbok Darmi kemudian menunjuk ke arah kejauhan, ”Tuh masih ada satu nenek lagi yang mau sholat berjamaah sama kita, kalau tambah satu orang lagi, mungkin juga Tuhan menambah lagi pahalanya.”

”Hehehe,” lelaki itu ketawa terkekeh-kekeh, memberikan bantahan, ”ibadah ndak bisa dihitung pakai ilmu matematika dunia begitu.”

”Sudah ah jangan membantah,” tangkis Mbok Darmi, tampak enteng menanyakan,”Umurku sama umurmu tua mana?”

”Ya tua nenek-neneklah,” jawab lelaki itu.

”Nah, itu kamu mengakui kalau aku lebih tua,” Mbok Darmi tampak menunjukkan keseniornya, ”aku lebih berpengalaman jadi jangan bantah-bantah lagi.”

Lelaki itu menunduk, kali ini benar-benar dirinya dibuat takluk oleh nenek-nenek yang galak dan sangat konfrontatif itu.

”Tunggu, tunggu!” seru Mbok Rindiani tampak dari kejauhan mengacung-acungkan tangannya seraya mempercepat jalan, begitu sangat kepayahan menahan encoknya.

Begitu sampai mushola, Mbok Rindiani mengajukan permintaan, ”Saya minta waktu untuk cuci kaki dulu.”

”Lho Rin, kamu tadi sudah wudhu dari rumah kan?” Mbok Darmi mempertanyakan.

”Iya saya sudah wudhu dari rumah,” jawab Mbok Rindiani, kemudian menerangkan, ”tapi karena tadi saya jatuh jadi harus cuci kaki dulu.”

”Sana cepat cuci kakinya!” perintah Mbok Darmi tampak paling tidak sabaran.

Mbok Rindiani buru-buru menuju ke tempat wudlu untuk cuci kaki dulu, setelah itu langsung ikut sholat maghrib berjamaah dengan diimami lelaki itu yang masih belum diketahui jatidirinya Bejo atau Sugeng.

Sholat maghrib berjamaah dimulai dengan penuh kehusyukan. Lelaki itu tampak begitu sangat serius mengimami ketiga nenek tersebut, mulai dari mengangkat kedua kanan dengan membaca ”Allahu Akbar” yang suaranya begitu sangat fasih sekali. Setelah itu, membaca Al-Fatikhah dan surat pendek An-nas.

Mbok Darmi kini buru-buru mencopot sandalnya dan langsung mengacung-acung sandal yang bermerek Lily itu tinggi-tinggi sebagai tanda ancaman untuk siap menimpuk lelaki itu kalau tetap tidak mau menuruti kemauannya untuk menjadi imam sholat.

Kemudian, rukuk di mana lelaki itu begitu penuh pengertian menjadi imam dari ketiga nenek-nenek yang kesemuanya sudah senja lanjut usia jadi dilakukan dengan pelan dan perlahan-lahan penuh kekhusyukan.

Selesai rukuk, dilanjutkan dengan sujud dan kemudian duduk di antara dua sujud, juga dilakukan dengan pelan perlahan-lahan penuh kekhusyukan. Nah, pada saat akan sujud kembali, lelaki itu melakukannya semakin lebih pelan lagi, perlahan-lahan penuh kekhusyukan. Bahkan sujud dilakukan lama, begitu amat sangat lama.

Saat ketiga nenek tampak begitu sangat khusyuk dalam sujudnya, lelaki itu diam-diam bangkit dan berjingkat-jingkat pergi agar kakinya tidak menimbulkan bunyi. Matanya masih tetap menatap sujudnya ketiga nenek dan saat sudah dekat jendela mushola yang terbuka, ia dengan sigap melompat dan berusaha mendaratkan kaki begitu sangat hati-hati sekali.

Setelah itu lelaki tersebut mencari sandal dengan mata tralap-tralap begitu awas sekali hingga tak berapa lama dapatlah sandalnya langsung buru-buru pergi meninggalkan mushola, meninggalkan ketiga nenek yang sedang sujud begitu sangat lama sekali.

Lelaki itu pergi dengan menahan geli sekuat mungkin akan polahnya sendiri yang keterlaluan begitu tega meninggalkan jamaahnya yang nenek-nenek lama sekali dalam kekhusyukan sujudnya.

***

Pada awalnya, Mbok Darmi tidak curiga apa-apa dengan sujudnya yang sangat lama. Bahkan dirinya begitu sangat kagum pada lelaki yang masih muda itu meng-imaminya dengan gerakan pelan, tampak begitu pengertian pada orang yang sudah nenek-nenek seperti dirinya. Tapi lama kelamaan, ia jadi curiga juga karena sujudnya sangat beda, sangat lama.

Posisi Mbok Darmi yang berada di tengah-tengah antara Mbok Siti dan Mbok Rindiani  itu memang strategis hingga praktis dirinya dapat melihat ke kanan-kiri, di mana kedua teman yang menua bersamanya itu masih tetap sama-sama khusyuk dengan sujudnya. Meski kemudian terlihat Mbok Siti sudah mulai tidak tenang, kenimgnya bergerak kesana-kemari karena saking sudah sangat lama sekali durasi sujudnya.

Mbok Darmi juga kini sudah mulai tidak kuat kalau harus terus-menerus sujud karena keningnya terasa sudah lekat sekali di ubin lantai mushola sehingga terasa mulai panas, maka mulai goyah juga konsentrasinya. Untuk itu, ia ingin segera mengingatkan imam agar secepatnya menyudahi sujud yang sudah sangat lama ini.

Pelan-pelan Mbok Darmi mengangkat kepala dengan tatapan matanya langsung tertuju lurus ke depan ke arah imam, tapi di manakah imam yang memimpin sholatnya? Dengan lebih mempertajam tatapan matanya yang belo, ia pun mencari-cari ke sekeliling keberadaan sang imam, tapi tetap tidak ada. Ia bangkit dari sujudnya dan memang di depan sudah tidak ada lagi, di manakah sang imam gerangan?

Menengok kanan-kiri tampak Mbok Siti dan Mbok Rindiani masih sujud terus, Mbok Darmi segera menepuk-nepuk pundak kedua temannya itu untuk segera membangunkannya. “Siti, Rindiani, bangun-bangun!”

Baca juga: Bibir-bibir yang Manis

Mbok Siti dan Mbok Rindiani pun bangun dari sujudnya dan langsung masing-masing tampak mengucek-ucek matanya.

”Imamnya tidak ada,” Mbok Darmi memberitahukan.

”Lho kok tidak ada?” tanya Mbok Siti seketika.

”Hah?!” Mbok Rindiani terperangah heran dibuatnya.

Mbok Darmi geleng-geleng kepala penuh kegeraman mengatakan, ”Rupanya kita dikerjain lelaki itu saat sujud yang lama sekali ternyata ditinggal pergi!”

”Hahh?!” Mbok Rindiani tampak masih tetap terperangah.

”Hah-heh-hah, hah-heh-hah, jangan bengong terus, Rin,” Mbok Darmi mengingatkan, dan langsung mengajak, ”Ayo cepat kita cari imamnya!”

”Kemana?” Mbok Rindiani sontak balik bertanya.

”Ya seputar mushola ini,” jawab Mbok Darmi tampak sangat kesal, ”Kalau ketahuan imam sembunyi, kita seret saja ramai-ramai!”

”Ngapain nyari-nyari imam yang tidak tahu kemana perginya,” Mbok Siti mengingatkan, kemudian menunjuk jam, barulah mengatakan, ”Ini sudah jam berapa? Bentar lagi waktu maghrib hampir habis, ayo kita cepat-cepat sholat lagi, biar aku yang jadi imam!”

Mbok Darmi dan Mbok Rindiani menurut saja ucapan Mbok Siti. Ketiga nenek itu memang terpaksa harus kembali sholat maghrib lagi, karena sholat mereka tadi tidak sampai selesai saat sujud ditinggal pergi sang imam. Kali ini yang akan menjadi imam adalah Mbok Siti yang lebih fasih bacaannya sesuai dengan makhraj-nya.

***

Sejak kejadian itu, ketiga nenek tersebut berangkat ke mushola lebih cepat agar tidak ketinggalan waktu sholat berjamaah. Bahkan mereka jadi sering kecepatan datang ke mushola. Tapi ketiga nenek tersebut tidak mempermasalahkan datang lebih awal karena yang penting bisa berangkat bersama-sama sekalian bisa sambil cerita nostalgia.

Sedangkan, Bejo atau Sugeng, tampaknya masih tetap biasa saja seperti tidak terpengaruh kejadian itu, tingkah maupun polahnya tetap saja kocak, baik sebelum ataupun sesudah kejadian yang menggegerkan masyarakat desa setempat. Mengenai siapa sebenarnya yang mengerjai ketiga nenek tersebut, tidak ada yang tahu, bahkan Bejo dan Sugeng saling menutupi tingkahnya yang sungguh sangat keterlaluan itu.

Memang selalu ada hikmah di balik segala kejadian. Terlambat datang dan memaksa orang yang sudah sholat untuk menjadi imam hingga kemudian dikerjain sampai melakukan sujud terlama di dunia itu memang tidak bisa menyalahkan siapapun. Semua harus menyadari bahwa ibadah tentu ada aturannya sesuai yang ajaran agama.

Desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, 2021

——-

Akhmad Sekhu, penulis kelahiran Desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, Jawa Tengah, 27 Mei 1971. Novelnya: Jejak Gelisah (2005), Chemistry (2018), Pocinta (2021). Kumpulan cerpennya, Semangat Orang-orang Jempolan (siap terbit).

sumber : kompas.id, 22 Apr 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme