Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Gajah, Sebuah Lelucon yang Buruk oleh Aliurridha

Posted on Sab, 24 Apr 2021

Orang-orang memanggilnya gajah. Meski panggilan itu bernada mengejek, dia tidak pernah marah. Dia dipanggil gajah karena tubuhnya yang tinggi, gemuk, dan sangat besar. Dia jauh lebih besar dari teman-teman sekelasnya. Tingginya bahkan menyamai guru-guru di sekolahnya dan besar badannya bahkan melebihi para guru di sekolahnya. Dia memang berusia jauh lebih tua dari teman-teman sekelasnya; Gajah dua kali tinggal kelas dan dua tahun terlambat masuk sekolah.

Dulu, ketika ayahnya membawanya untuk mendaftar ke sebuah sekolah dasar, pihak sekolah menolaknya. Kepala sekolah bahkan mengatakan kalau dia anak spesial, dan sebaiknya disekolahkan di sekolah luar biasa. Gajah senang sekali mendengarnya, baru kali ini ada yang mengatakannya spesial. Tapi dia heran karena ayahnya sama sekali tidak terlihat senang pada pujian itu. Ayahnya justru sangat marah dan membawanya pulang. Sejak itu ayahnya tak pernah lelah mencari sekolah yang mau menerimanya.

Dua tahun ayahnya berusaha mencari sekolah untuk anaknya hingga ia lelah dan hampir menyerah. Ayah Gajah benar-benar ingin membuktikan pada semua orang bahwa anaknya tidak berbeda dengan anak-anak lain. Namun dari sekolah yang satu ke sekolah yang lain, semua menolaknya. Sampai akhirnya ada sekolah yang berbaik hati menerima Gajah.

Dua tahun lebih tua dari teman sekelasnya, tidak juga membuat Gajah menjadi paling pintar. Ayah dan ibunya tidak pernah mengharapkan dia menjadi anak paling pintar di kelas, mereka sadar diri kalau mereka berdua bukanlah orang tua yang pintar, tapi setidaknya mereka pikir anaknya tidak akan menjadi yang paling bodoh di kelas dan selalu membuat malu mereka setiap hari pembagian rapor.

”Dasar bodoh kamu bikin malu bapak lagi,” umpat ayah Gajah seraya mencambuki Gajah dengan sabuk. Aktivitas ini rutin dilakukannya setiap pulang mengambil rapor. Dia selalu marah mengetahui, lagi-lagi, anaknya mendapat ranking satu dari belakang.

Dua kali setahun Gajah rutin dicambuki oleh ayahnya hingga garis-garis biru kemerahan menyisa di punggung hitam yang tebal berlapis lemak. Kadang-kadang dia mendapat bonus; diikat di pohon mangga yang penuh dengan semut rangrang, lalu dicambuki oleh ayahnya yang tidak terima ketika Gajah tidak hanya menjadi paling bodoh di kelas, tapi juga tidak naik kelas.

Mendengar tentang perlakuan yang diterima Gajah di rumah, pihak sekolah tidak lagi membuat Gajah tidak naik kelas. Bahkan beberapa guru berbaik hati, menaikkan nilai Gajah beberapa poin guna meringankan hukuman yang diterima Gajah di rumah. Hanya itu yang bisa mereka lakukan karena hal itu jauh lebih mudah daripada menasehati ayahnya yang sangat keras kepala.

Setiap Gajah dipecut oleh ayahnya, ibunya akan menegur suaminya. ”Mas, anakmu tidak akan jadi pintar hanya dengan dipecut.” Tapi hanya sebatas itu yang dilakukannya. Setelah itu dia akan berlalu sambil menggendong anak keduanya, Melisa. Melisa sangat berbeda dengan kakaknya; putih, mulus, imut, dan enak dipandang, sangat kontras dengan Gajah yang berkulit hitam, burik, dan menyeramkan.

”Harusnya aku dengarkan kata-kata mereka. Kamu ini memang idiot! Makanmu saja yang banyak, tapi otakmu seperti udang. Isinya tai semua.” Ayah Gajah tidak pernah kurang dalam menghina anaknya. Dia tidak pernah merasa sungkan melampiaskan segala rasa kesalnya pada Gajah sampai-sampai tetangga-tetangganya menyebarkan gosip; kalau saja ayahnya Gajah bisa membuktikan bahwa Gajah bukan anaknya, mungkin dia akan meninggalkan Gajah di tengah hutan.

Dulu sebelum Melisa lahir, Gajah tidak pernah mendapat perlakuan kasar dari ayahnya. Dia pernah menjadi anak kesayangan mereka. Bagaimanapun, saat itu Gajah adalah anak satu-satunya, dan segala kasih sayang kedua orangtuanya, tumpah ruah hanya untuknya seorang. Ibu dan ayahnya Gajah tak pernah kurang menuruti keinginannya. Bahkan sebelum Melisa lahir, Gajah selalu tidur bersama kedua orangtuanya karena keduanya tidak ingin jauh-jauh darinya.

Di suatu malam, Gajah pernah terbangun mendengar rintihan ibunya. Dilihatnya ayahnya sedang menindih ibunya, mendengus seperti binatang buas yang sedang memangsa buruannya. Gajah menangis melihat adegan di depan matanya. Gajah memukul punggung ayahnya dan memintanya berhenti. ”Kamu kenapa sayang? Sudah jangan menangis,” ucap ibunya meraba lembut wajah Gajah.

”Ibumu tidak apa-apa. Ayah dan ibu sedang main smack down, seperti yang kamu tonton,” ucap ayahnya terkekeh. Kedua orangtua itu tidak menghentikan apa yang sedang mereka kerjakan. Mereka bahkan membiarkan anaknya menontonnya dan semakin tenggelam dalam berahi mereka. Hal ini tidak hanya terjadi sekali dua kali, tapi berkali-kali. Mereka berpikir Gajah tidak akan mengingatnya karena dia masih kecil. Mereka salah, otak Gajah mungkin tidak berkembang dengan sempurna, tapi ingatannya adalah yang paling sempurna di antara anak seusianya.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan perkembangan masa kecil Gajah. Ketika bayi, dia lucu seperti bayi pada umumnya. Beranjak balita, dia tumbuh juga seperti balita-balita seusianya. Ketika balita-balita seusianya belajar bicara, Gajah juga belajar bicara. Ketika mereka menangis saat terjatuh, Gajah juga menangis. Bahkan seringnya, tangis Gajah lebih keras. Tidak ada yang terlihat berbeda pada Gajah dibanding anak-anak seusianya, selain tubuhnya yang sedikit lebih besar dan makannya yang sedikit lebih banyak.

Awalnya Gajah hanya makan sedikit lebih banyak, lama-lama menjadi kelewat banyak. Setiap hari, dia menghabiskan sedikitnya sepuluh piring nasi, dan meminum sedikitnya lima belas gelas es teh. Ibu Gajah tak pernah mampu menolak keinginan Gajah untuk makan karena dia tidak tahu lagi cara mengekspresikan cinta selain dengan memberinya makan. Namun semakin ke sini, makan Gajah semakin banyak, dan jika tidak dituruti, Gajah akan mengamuk dan membanting segala jenis benda yang ada di rumah. Meski dipukuli ayahnya, dia tidak akan berhenti mengamuk sampai perutnya benar-benar kenyang. Dan masalahnya, dia tak pernah benar-benar kenyang. Akhirnya badannya berkembang melampaui anak-anak seusianya, tapi otaknya tidak berkembang seperti anak-anak seusianya, seolah-olah otak Gajah berhenti berkembang.

Di sekolah dan di kompleks perumahannya, Gajah tidak pernah mencari masalah. Dia disukai oleh teman-temannya karena meski diejek, dia tidak pernah marah. Mau dikatai bodoh, gendut, jelek, apa pun itu, dia tidak peduli. Selama tidak dikatai idiot. Itu adalah garis yang tidak boleh dilewati karena jika Gajah sudah marah, tidak ada satu pun yang bisa menghentikannya kecuali beberapa lelaki dewasa.

Para remaja nakal juga sangat senang mengajak Gajah bermain, atau lebih tepatnya menjadikan Gajah sebagai mainan. Mengetahui otak Gajah tidak benar-benar penuh, mereka melakukan berbagai eksperimen padanya. Beberapa anak memberinya rokok, beberapa anak lainnya memberinya tuak dan arak.

Beberapa kali pula Gajah pulang dengan terhuyung-huyung yang disambut murka ayahnya yang kemudian mengikatnya di pohon mangga, memecutnya seperti sedang memecut binatang.

Setelah ayahnya puas melampiaskan amarahnya, ibunya akan mengobati lukanya, dan semua kembali seperti sedia kala, seolah tidak terjadi apa-apa. Kejadian itu terus berulang, namun tidak membuat ayah Gajah menyalurkan kekesalannya pada para berandalan yang mencekoki tuak dan arak pada Gajah. Dia lebih memilih untuk melampiaskan kemarahannya pada anaknya. Dia tidak mau mempermalukan dirinya lebih dari ini.

Dari sekian cara berandalan kecil itu membuat Gajah menjadi mainan, mereka paling puas ketika membuatnya menonton film porno lewat hape. Bagi mereka tidak ada yang lebih menarik dari melihat Gajah sange. Jika kepada anak SD lain, para berandalan itu akan meminta uang sewa 1.000 rupiah per video, untuk Gajah mereka memberinya gratis, full service. Kemudian mereka akan menjadikan Gajah yang sedang menonton film porno sebagai tontonan.

Mereka sangat menunggu-nunggu komentar Gajah yang selalu muncul di sela-sela aktivitasnya menonton. Dia akan berkata, ”Main smack down, seperti ayah dan ibu.” Komentar itu selalu mampu membuat para berandalam tertawa sejadi-jadinya, seolah apa yang dikatakan Gajah adalah lelucon paling lucu. Kemudian mereka akan semakin puas jika dapat melihat penis Gajah berdiri; karena setelah itu, tanpa perlu dibimbing, Gajah akan memainkan penisnya. Segalanya terjadi dengan sangat alami, seolah apa yang dilakukannya telah terekam dalam kode genetik yang tertanda pada DNA-nya. Gajah mungkin tidak memiliki otak yang sempurna, namun ia juga manusia yang selalu mencari pelepasan dari berahi yang menjalari tubuhnya.

Ketika melihat Gajah memainkan penisnya, salah satu dari mereka akan berkomentar dengan nada mengejek. Kemudian semua anak akan tertawa terbahak-bahak sampai perut mereka keram. Gajah tidak memedulikan apa yang mereka tertawakan dan terus bermasturbasi. Dia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dia lakukan, yang dia tahu hanya rasanya enak.

Cerita tentang ”Gajah ngocok” ini kemudian berkembang menjadi lelucon yang buruk, lelucon yang diceritakan berulang-ulang, dilebih-lebihkan, ditamba-tambahi, seperti setiap cerita karangan manusia. Segala bumbu diberi untuk membuat lebih lucu, lebih jenaka, dan lebih menarik dari cerita yang sebenarnya. Beberapa pemabuk bahkan menjadikan cerita Gajah ngocok sebagai teman minum, sebagai bahan lucu-lucuan ketika menegak arak dan tuak.

Gajah kemudian menjadi legenda yang hanya dengan menyebut namanya, setiap orang yang sedih akan tertawa. Setiap orang yang baru saja putus, juga akan tertawa. Setiap suami maupun istri yang baru saja bercerai, juga dibuat tertawa. Bahkan mereka yang baru saja mendapatkan musibah, bisa dibuat tertawa oleh lelucon Gajah ngocok. Segala lelucon tentang Gajah membuat mereka tertawa, sampai akhirnya lelucon yang buruk ini menjadi benar-benar buruk ketika Gajah membawa anak-anak mereka, keponakan mereka, cucu mereka, adik-adik, saudara sepupu mereka ke semak-semak untuk mengajaknya bermain Smack Down. (*)

Sandik, Februari 2021

Aliurridha merupakan penerjemah dan penulis lepas. Sehari-hari menulis esai, opini, cerpen, dan cerita horor. Karyanya tersebar di beberapa media, baik cetak maupun daring. Cerpen-cerpennya telah terbit di Koran Tempo, Republika, Lampung News, Medan Pos, Magrib.id, dan Metafor.id. Aktif berkegiatan dan berproses dalam komunitas Akarpohon.

sumber : kompas.id, 24 Apr 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme