Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Negeri Matahari oleh Daisy Rahmi

Posted on Kam, 29 Apr 2021

Suara Ayah meninggi.

”Untuk apa kau ingin menemuinya?!”

Ayah menyambung perkataan dengan wajah merah padam

”Perempuan yang lari dengan laki-laki lain ketika suami dan anak-anaknya tidak ada di rumah tak layak untuk diingat!”

Adik perempuanku datang. Ditaruhnya gelas minuman yang dibawa di depan Ayah sambil berkata membujuk.

”Jangan marah-marah lagi, Ayah. Minumlah dulu.”

Ayah tak menghiraukan saran putrinya. Beliau memandangku jengkel.

”Kalau kau bersikeras mencarinya, carilah ke Negeri Matahari.”

Kutatap Ayah keheranan.

”Mana ada tempat bernama ’Negeri Matahari’?”

”Terserah kau mau percaya atau tidak. Yang kutahu dia berasal dari sana.”

”Ayah tahu letaknya?”

”Cari saja sendiri,” tukas Ayah ketus, ”Kan kau yang ingin bertemu dengannya.”

Ayah bangkit dari kursi, lalu masuk ke kamar. Pintu kamar menutup dengan suara keras di belakangnya. Ruang tengah hening. Beberapa menit kemudian aku memandang adikku.

”Kau tidak ingin bertemu Ibu?”

Adikku menggeleng setelah diam sesaat.

”Tidak. Tapi aku akan membantumu mencari di mana Negeri Matahari.”

Kami temukan letak Negeri Matahari usai menekuri ribuan peta dunia. Tempatnya tidak terlalu jauh. Ada penerbangan langsung ke sana.

”Biar kupesankan tiket,” kata adikku, ”Kapan mau berangkat?”

”Besok.”

Dalam hati aku sangat berterima kasih pada gadis itu. Meski menolak bertemu Ibu, ia telah membantu sepenuh hati.

Hanya adikku yang mengantar ke bandara pada hari keberangkatan. Ayah mengurung diri di kamar dan tak keluar sampai aku pergi. Gadis itu memelukku sebelum aku naik pesawat.

”Berhati-hatilah dan cepat kembali.”

Aku tepuk pipinya sebagai pengganti ucapan pamit.

”Jaga Ayah. Usahakan agar Ayah tidak marah-marah.”

Adikku tersenyum.

”Ayah hanya marah-marah bila teringat Ibu.”

Hawa panas menerpa begitu turun di bandara. Masih harus naik mobil beberapa kilometer untuk benar-benar sampai di Negeri Matahari. Aku berdiri berdesak-desakan dengan penumpang lain di dalam kendaraan roda empat. Dahi dan pelipis basah oleh keringat. Terik sang surya tak tertahankan. Rasanya seperti terpanggang. Bagiku yang terbiasa dengan hawa sejuk dan sedikit mendung, berada di negeri ini benar-benar menyiksa.

Perempuan yang lari dengan laki-laki lain ketika suami dan anak-anaknya tidak ada di rumah tak layak untuk diingat!

Akhirnya aku sampai di tujuan tanpa tahu harus mulai dari mana. Aku bahkan tak tahu pasti apakah Ibu memang benar di sini. Sia-sialah perjalananku seandainya beliau tidak ada di Negeri Matahari. Penduduk Negeri Matahari berjalan lalu lalang di sekitar diriku, tak mengacuhkanku yang berdiri termangu.

Kumasuki sebuah lorong. Beberapa saat kemudian terdengar gema langkah-langkah lain di belakangku. Dua remaja berusaha merampas tas jinjingku. Setelah sempat bersitegang, salah seorang mengeluarkan benda berkilat, kemudian menyabetkannya ke tanganku. Peganganku mengendur. Tas jinjing berpindah tangan dengan sekali renggut. Keduanya langsung kabur. Untung dompet dan paspor tersimpan di saku. Kubebatkan sapu tangan ke telapak tangan kiri.

Karena lapar, aku masuk ke sebuah rumah makan di pinggir jalan raya. Diriku satu-satunya pengunjung karena belum jam makan siang. Seorang pria menyapa sambil tersenyum ramah.

”Selamat datang. Anda mau pesan apa?”

Aku duduk dan memesan makanan. Semua hidangan yang kupesan sudah tersaji di atas meja dalam waktu lima menit. Aku mulai makan. Kurang cocok di lidah, tapi setidaknya perutku kini terisi. Selesai makan, kuhampiri si lelaki untuk membayar. Aku keluarkan beberapa lembar uang Negeri Matahari dari dalam dompet.

”Anda bukan orang sini, ya?” selidiknya.

Aku tersenyum.

”Dari mana Anda tahu?”

”Logat Anda berbeda dengan penduduk setempat.”

”Saya memang baru sampai.”

”Pasti bukan untuk berlibur. Kebanyakan turis menghindari Negeri Matahari. Mereka tidak tahan hawa panasnya. Padahal negeri ini indah.”

Tatapan matanya tertuju ke telapak tanganku yang dibebat. Dia berseru kaget.

”Astaga! Kenapa tangan Anda?”

Kupandang tangan kiriku. Darah mulai merembes keluar, menodai sapu tangan yang putih bersih. Tampaknya luka itu lebih parah dari yang kuduga.

”Saya dijambret orang,” jelasku, lalu menceritakan peristiwa yang baru terjadi.

Lawan bicaraku menggeleng prihatin.

”Berandal-berandal itu. Mereka memberi kesan jelek pada Negeri Matahari. Berarti Anda tak punya baju ganti. Saya bisa menunjukkan toko yang menjual pakaian bagus dan murah, kalau Anda mau. Anda juga sebaiknya melapor pada polisi. Tapi pertama-tama luka itu harus diobati,” katanya tegas.

”Tak perlu, Pak. Jangan repot-repot,” tolakku.

Si pemilik rumah makan pergi tanpa mengindahkan kata-kataku. Tak lama kemudian ia kembali sambil menenteng kotak kecil. Setelah menyuruhku duduk, dengan cekatan si lelaki melepaskan bebat telapak tangan kiri. Dibersihkannya luka dengan kapas yang dibasahi alkohol, membubuhkan obat lalu membalutnya kembali dengan kain kasa.

”Beberapa hari lagi pasti sembuh,” ujarnya sambil membereskan peralatan yang terpakai dan mengembalikan ke kotak. ”Apa Anda akan lama di sini?”

”Entahlah. Saya sedang mencari seseorang.”

”Di mana alamatnya? Mungkin saya bisa bantu.”

”Saya tidak tahu alamatnya. Bahkan saya tak yakin dia benar-benar ada di sini.”

”Wah, sulit kalau begitu.”

Ia mengusap dagu.

”Mungkin Anda bisa pergi ke kantor polisi. Mereka pasti punya data-datanya kalau orang yang Anda cari memang benar penduduk Negeri Matahari.”

Mata pria itu melihat ke balik punggungku.

”Ah, itu istri saya.”

Aku berpaling dan terkesiap. Wanita yang selama ini kucari-cari berdiri di hadapanku. Penampilannya tak berubah, sama persis seperti terakhir kali kulihat dia setahun lalu. Ia mengangguk dan tersenyum sekilas, seakan-akan aku ini orang lain.

”Tolong berikan kembalian pada anak muda ini, ya,” katanya pada sang istri dan bergegas pergi untuk melayani pengunjung yang baru masuk.

”Datanglah lagi ke sini malam-malam supaya kita bisa bicara,” bisik wanita itu cepat-cepat sambil menyerahkan uang kembalian.

Aku tertegun dan tanpa banyak bicara meninggalkan tempat itu.

Malam harinya aku kembali. Agaknya kedatanganku terlalu cepat, rumah makan itu belum tutup meski waktu hampir menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku mulai bosan dan lelah saat seorang wanita yang mengenakan jaket untuk menahan hawa dingin datang menghampiri.

”Aku tidak bisa mengajakmu masuk. Kita bicara di luar saja.”

Aku mengangguk.

”Kau pasti heran dengan sikapku tadi siang,” Ibu memulai pembicaraan.

”Sebenarnya aku sudah melihatmu sejak awal. Aku sengaja melakukannya. Aku tak mau suamiku yang sekarang tahu kalau kau anakku dari suami pertama.”

”Apa ayahmu yang menyuruh ke sini?” sambungnya melihat aku diam saja.

”Tidak.”

Aku menarik napas sebelum bertanya.

”Mengapa Ibu meninggalkan Ayah?”

Ibu memandangku lekat-lekat.

”Marital rape.”

Aku balas menatap tak mengerti.

”Itulah yang berulang kali dilakukan ayahmu padaku.”

Baca juga : Gajah, Sebuah Lelucon yang Buruk

Tenggorokan terasa kering. Lidahku kelu. Selama satu tahun selalu kudengar omelan Ayah tentang ketidaksetiaan Ibu tanpa mengetahui alasan di balik itu. Diam-diam ada rasa sesal telah bertanya.

Kecemasan terpancar dari mata Ibu saat beliau melihat telapak tangan kiriku.

”Bagaimana lukamu?”

”Darahnya sudah berhenti.”

”Menginap di mana malam ini?”

”Ada losmen dekat sini.”

”Sebaiknya pulang. Tidak ada gunanya berlama-lama di sini,” desah Ibu sebelum berjalan pergi.

Keesokan harinya aku kembali ke rumah makan itu. Sudah kuputuskan mengikuti saran Ibu kemarin malam, tapi aku harus berpamitan lebih dulu padanya. Beberapa pengunjung sedang bersantap. Kulihat Ibu duduk di belakang meja kasir, tapi kami tak bisa berbicara karena suami Ibu menghampiriku sambil tersenyum lebar.

”Selamat pagi. Apa polisi berhasil menangkap pencuri-pencuri itu?”

”Tidak. Tapi tak mengapa karena saya pulang hari ini,” sahutku.

”Berarti Anda sudah menemukan orang yang Anda cari.”

”Benar.”

”Anda akan mengajaknya pulang?”

Aku tersenyum simpul.

”Tidak. Saya yakin dia lebih bahagia di sini.”

Secara tersirat aku telah berpamitan pada Ibu.

”Jam berapa pesawat Anda berangkat?”

”Jam 14.45.”

Laki-laki pemilik rumah makan itu melihat jam dinding.

”Kalau begitu Anda harus segera berangkat. Sekarang sudah jam 9, sementara perjalanan ke bandara cukup jauh.”

Aku mengangguk.

Lembayung senja kemerahan menghiasi langit saat roda pesawat yang membawaku pulang menyentuh landasan. Tanpa barang bawaan, aku tidak perlu mengurus bagasi. Dua puluh menit kemudian aku sudah memanggil taksi. Pintu belakang kubuka, lalu duduk di kursi penumpang. Mobil bergerak keluar dari areal bandara, melaju ke rumah. Tinggal satu kelokan jalan sebelum sampai di tujuan dan aku masih belum tahu apa jawabku bila nanti ditanya Ayah.

________________

Marital rape: kekerasan seksual dalam pernikahan

Daisy Rahmi kelahiran Manado. Karya-karyanya dimuat di berbagai media massa. Kini tinggal di Jakarta.

sumber : kompas.id, 29 Apr 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme