Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kecebur Got oleh Yus R Ismail

Posted on Sab, 01 Mei 2021

Tidak heran sebenarnya waktu Kasut terpilih jadi ketua RT. Mau jadi bupati pun sebenarnya dia bisa saja. Tanahnya luas, perusahaannya banyak. Itu sebenarnya modal utama saat ini. Betul kan seperti itu? Jangankan jadi RT, bupati, mencalonkan diri jadi RI-1 atau RI-2 pun bisa saja dilakukan oleh pengusaha. Syaratnya, kekayaannya tidak terhitung.

Tapi Kasut, dia kan hanya kaya dalam level kampung. Sejak awal saya memang sudah tertarik dengannya. Maksudnya, tertarik dengan kekayaannya itu. Dulu dia dikenal hidupnya susah. Pastinya ada sesuatu yang sangat memotivasi orang dari pengalamannya.

Tapi tentu saja saya tidak percaya ketika desas-desus itu saya dengar. Kasut, katanya, memiliki kekayaan sekitar 500 M rupiah. Wah, saya jadi penasaran dengan perasaan terbesar tidak percaya. Masa orang kampung sekaya itu? Meski banyak tidak percayanya, sebagai wartawan muda media online, tentu saya ingin memberitakannya. Apalagi Kasut ini adalah tokoh masyarakat di kampung tempat saya tinggal 10 tahun lalu.

”Benar Kasut sekaya itu?” tanya saya kepada Setia, teman saya sewaktu SD di kampung. Sekarang Setia masih kuliah di wilayah Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.

”Bener lho, kalau tidak percaya datang saja dan buktikan,” jawab Setia.

Saya pun sengaja datang ke kampung yang saya tinggalkan 10 tahun lalu. Saya tinggal di kampung yang saya memilih untuk merahasiakannya (sementara waktu saja sebenarnya) sampai kelas 6 SD, usia 11-12 tahun. Ayah saya kemudian pindah bekerja ke kota dan saya ikut. Sejak itu hanya dua kali saya pernah mengunjungi kampung itu lagi. Ya, karena sebenarnya ayah dan ibu saya juga sebenarnya bukan asli orang kampung sana. Kami tinggal di sana hanya karena urusan pekerjaan saja.

Dua kali saya pernah ikut ayah mengunjungi lagi kampung itu. Pertama, saat ayah mengunjungi tempatnya bekerja dulu. Kedua, saat ada undangan syukuran pernikahan dari sahabat ayah waktu tinggal di sana. Saat itu, saya tidak melihat perbedaan yang mencolok dengan Kasut. Rumahnya memang diperbaiki, diperbesar, ada mobil-mobil bagus di garasinya. Saya rasa masih wajar, seperti halnya bandar-bandar ubi yang sukses menjual ubi simadu yang terkenal dari kampung itu.

Oh iya, Kasut itu sebenarnya nama sapaan akrab orang kampung. Kasut itu kependekan dari Kasdi Kusut. Ya, karena Pak Kasdi ini memang selalu kelihatan kusut yang artinya tidak rapi. Rambut suka acak-acakan, wajah selalu seperti bangun tidur setelah semalaman begadang. Memang Pak Kasut ini tidak punya pekerjaan tetap. Kadang memelihara burung, ayam, kelinci, memancing, adu muncang (kemiri), menyaksikan kolecer (baling-baling) berputar dan berbunyi sambil tertawa senang.

Itu semua tentu saja kelangenan, hobi. Meski begitu Pak Kasut kaya. Sawah, kebun, kolam, diperkirakan ada ratusan hektar di beberapa tempat. Ternak, pabrik tahu, pabrik gula merah, pabrik layang-layang, dan banyak lagi. Belum yang berupa emas, surat berharga, dan yang masih rahasia. Konon, kelangenannya saja sekarang bisa berharga ratusan juta rupiah. Burung perkutut, ayam sabung, beberapa ekor yang ditempatkan khusus di halaman belakang, harganya di atas seratus juta rupiah. Itu kabar yang sampai kepada saya.

”Wah, kabar bohong itu ha-ha-ha…,” kata Kasut senang waktu saya bertanya. Pagi itu saya menemuinya di belakang rumahnya yang asri. Bunga-bunga anggrek, ayam-ayam adu, burung-burung kicau, sedang diurus oleh para pegawainya. Mata saya berkeliling sambil menerka burung dan ayam mana yang harganya di atas seratus juta rupiah.

”Tapi kenyataannya kan begitu, Pak. Bapak usahanya banyak, tanahnya di mana-mana, ternaknya juga. Saya hanya ingin tahu bagaimana perjuangan Bapak merintis usaha,” kata saya lagi. ”Itu pasti memotivasi banyak orang.”

”Ya, awalnya karena… kecebur got.”

Saya yang sekarang tertawa. Pak Kasut ini ada-ada saja. Atau memang orang-orang kaya suka aneh. Seperti dulu saya kagum kepada Bob Sadino almarhum, pengusaha hebat yang sukses setelah menggoblok-goblokkan diri sendiri. Tapi sampai saya pulang, Kasut tidak menceritakan kisah kecebur gotnya sampai dia jadi pengusaha sukses.

Sebagai wartawan muda yang belum lama lulus kuliah saya memang merasa tertantang. Setiap hari saya mendatangi Kasut. Ngobrol lagi. Dan akhirnya bertanya lagi mengenai ”kecebur got”-nya itu.

Kasut itu orang baik. Sangat dermawan dikenal oleh orang-orang kampung. Menyumbang ini menyumbang itu, membantu siapa saja. Setiap saya bertamu, suguhannya juga selalu istimewa. Tetangga dan kenalannya dari kampung lain pun setiap hari silih berganti dan mereka dijamu dengan makanan dan minuman yang istimewa.

Tapi khusus kepada saya, karena selalu ditanya mengenai ”kecebur got” itu, Kasut seperti marah. Dia mulai menolak kehadiran saya. Dia tidak mau bertemu saya. Tentu saja itu tantangan. Semakin membuat saya penasaran. Dan suatu malam, dia mengundang saya ke rumahnya.

”Begini Nak Wartawan, Bapak akan cerita mengenai kecebur got itu. Tapi harus tahu diri! Di kisah ini ada banyak rahasia. Bila Nak Wartawan tidak bijak, Bapak tidak tahu apa yang akan terjadi,” kata Kasut.

Tentu saja saya tidak mengerti. Ada apa ini sebenarnya? Di ruangan yang luas, ada meja biliar satu, di pinggir ada lemari berisi botol minuman, kursi dan sofa; hanya ada kami berdua. Tapi di luar ruangan, dari kaca pembatas, saya melihat ada beberapa orang mengintip. Badannya tegap-tegap dan besar.

”Saya hanya ingin tahu ceritanya saja, Pak,” kata saya gugup.

”Dulu Bapak ini pekerja serabutan. Suatu hari Bapak berjualan tape ke kota. Di sebuah perumahan mewah di Jakarta, saat Bapak keliling menawarkan tape, Bapak dikejar anjing yang lepas. Bapak lari dan kecebur got.”

Saya tersenyum. Lucu juga. Lalu minum air yang disuguhkan. Terasa hangat ke seluruh badan.

Dulu Bapak ini pekerja serabutan. Suatu hari Bapak berjualan tape ke kota. Di sebuah perumahan mewah di Jakarta, saat Bapak keliling menawarkan tape, Bapak dikejar anjing yang lepas. Bapak lari dan kecebur got.

”Bukan hanya baju dan badan Bapak yang kotor, bau, tapi semua tape tidak lagi bisa dipungut. Untungnya Bapak ditolong satpam, lalu dibawa ke rumah Beliau Yang Terhormat yang menjadikan Bapak seperti ini. Bapak disuruh mandi, dikasih baju bagus, dan disuguhi makanan yang luar biasa enaknya dan baru kali itu mencicipinya. Pulangnya Bapak diantar sampai ke sini oleh sopir pribadinya, naik mobil mewah, yang membuat bengong orang sekampung. Dan Bapak ditinggalin karungan uang miliaran rupiah.”

Tentu saja saya pun seperti orang kampung, bengong hanya mendengarkan ceritanya.

”Selanjutnya tidak hanya Beliau Yang Terhormat itu yang datang ke sini. Tapi sahabat Beliau Yang Terhormat lainnya berdatangan. Mereka menitipkan uang bermiliar-miliar rupiah. Bapak belikan tanah, usaha, ternak, dan lainnya. Semua surat-surat kepemilikan memang atas nama Bapak. Tapi nanti bila diambil, ya harus dikasihkan. Bapak kebagian sekian persennya saja.”

”Wah, itu money laundering, Pak! Itu cuci uang!” kata saya mulai mengerti.

”Ssstt…!” Kasut membuat saya diam. ”Kamu memang pintar, Nak. Makanya Bapak ajak bicara berdua. Bapak ceritakan apa yang kamu mau. Tapi Bapak berharap kamu bijak untuk tidak menceritakan kisah kecebur got itu.”

Kasut lalu mengeluarkan sebuah amplop coklat besar dari bawah mejanya.

”Bapak sudah konsultasi dengan beberapa Beliau Yang Terhormat, dan mereka menitipkan ini. Cukup buat membeli mobil. Kamu memang masih muda, Nak, tapi bekerja ke mana-mana naik ojek itu kurang asyik, kurang menyenangkan,” kata Kasut sambil mendorong amplop itu.

Saya terkejut. Duduk pun berubah jadi bersandar ke kursi.

”Tapi bila kamu sok idealis, menolak kasih sayang Beliau-Beliau Yang Terhormat, orang-orang di luar itu tidak hanya berbadan besar, bertato, jago bela diri. Mereka juga jago melenyapkan orang.”

Saya merasa detik itulah hidup saya menjadi kusut.

***

Yus R Ismail, menulis cerpen, novel, dan puisi dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Buku terbarunya In The Small Hours of The Night terjemahan CW Watson (Lontar, 2019) memuat 5 carpon-nya. Novelnya Tragedi Buah Apel dan Buku Ajaib Jiko terpilih sebagai Pemenang Pertama Lomba Novel Anak penerbit Indiva 2019. Saat ini tinggal di Desa Rancakalong, Jawa Barat, menulis dan bertani bunga.

sumber : kompas.id, 01 Mei 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme