Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Penunggang Kuda Merah Padam oleh Badrul Munir Chair

Posted on Kam, 06 Mei 2021

Hari-hari lalaran, kata kakek, jauh lebih mencekam dari hari-hari peperangan. Musuh tidak dapat dilihat dan dalam hitungan hari ribuan orang tumbang. Senjata tidak lagi diperlukan dan satu-satunya cara agar tidak terpapar lalaran adalah bersembunyi atau menghindar. Orang-orang menutup pintu rumahnya rapat-rapat, bahkan memalang pintu rumah mereka dengan kayu-kayu tebal.

Banyak orang menyepi ke bukit, bertapa di goa-goa, dan sebisa mungkin menjauh dari kerumunan. Sepanjang hari hanya terdengar suara batuk bersahutan dan bersin tak berkesudahan. Ribuan orang tiba-tiba terserang demam, kemudian lemas seperti tidak ada lagi tulang yang melekat di badannya. Dan ketika demam itu berpadu dengan salesma, mereka tinggal menunggu ajal yang akan segera tiba.

Ketika itu tahun 1923. Kakekku yang baru menginjak usia belasan tahun baru datang dari gerilya berbulan-bulan di hutan ketika wabah itu mulai masuk ke desa kami. Kakekku dibuat terkejut melihat banyaknya lubang kubur yang belum lama digali di perbatasan antara hutan dan perkampungan. Puluhan orang tampak menyeret belasan jenazah untuk dikuburkan. Kata para penggali kubur itu, masih ada puluhan jenazah lain yang menunggu giliran untuk dikuburkan. ”Apakah pasukan Belanda tiba-tiba datang dari arah laut dan melakukan pembunuhan massal?” tanya kakek ke para penggali kubur itu.

Mereka menggeleng. Dari salah seorang penggali kubur kakek mendapat jawaban: dalam sehari puluhan penduduk desa kami meninggal karena serangan penyakit yang mengerikan. Di desa-desa lain, ada ribuan orang yang juga tumbang.

Kakek mengenang hari-hari mewabahnya lalaran itu sebagai peristiwa terbesar dalam sejarah hidupnya yang dalam sekejap mampu mengubah tatanan kehidupan. Orang-orang tidak berani ke ladang karena menganggap lalaran adalah semacam siluman yang dapat menyerang mereka di tengah jalan. Pintu-pintu rumah tertutup rapat, orang-orang memilih bersembunyi meski harus menahan lapar. Penduduk desa mencurigai setiap orang yang baru datang dari gerilya atau baru pulang dari pengembaraan meski sebenarnya orang-orang yang baru datang itu adalah orang-orang yang sebelumnya telah mereka kenal.

”Kami seperti baru pulang dari perang yang lebih kecil, dan harus menghadapi perang yang jauh lebih besar. Sialnya, kali ini musuh kami tidak kelihatan,” kata kakek mengingat hari-hari yang penuh dengan kecemasan itu.

Kakek bergabung dengan Barisan Pejuang Kemerdekaan sejak berumur delapan tahun. Dari enam bersaudara, kakek adalah anak laki-laki satu-satunya sehingga ketika ada peraturan bahwa satu keluarga harus mengirim satu pejuang untuk melawan penjajah, kakeklah yang direlakan buyutku untuk berperang, sebab kakek buyutku harus bekerja menghidupi istri dan lima anaknya yang lain, sementara nenek buyut ketika itu masih menyusui anak bungsunya yang baru berumur beberapa bulan.

Bersama pejuang-pejuang lain, kakek ditempa di dalam hutan. Hutan di sebelah timur dan bagian selatan daerah kami adalah benteng yang akan melindungi kami dari serangan Belanda. Jika pasukan Belanda hendak masuk ke daerah kami, mereka harus menembus hutan yang luas dan rapat, atau harus melalui jalur laut di bagian utara—yang karena perairannya sangat dangkal mustahil kapal-kapal Belanda bisa merapat ke daratan.

Tiga bulan pertama adalah penempaan, dua tahun berikutnya adalah gerilya untuk menghalau pasukan penjajah agar tidak mendekati perkampungan penduduk. Bahkan dalam beberapa kesempatan, mereka harus berjalan lebih jauh untuk menghalau penjajah hingga ke wilayah Bancaran, kota pertama setelah kawasan pelabuhan yang sudah dikuasai Belanda di ujung barat daya pulau, menempuh perjalanan dua minggu berjalan kaki dari markas terdekat di desa kami. Pernah dalam dua tahun ia tidak pulang, namun tidak jarang—ketika pasukan Belanda ditarik kembali ke Pulau Jawa—kakek hanya di rumah selama berbulan-bulan.

”Bahkan dalam perang, kami memiliki waktu untuk beristirahat. Tapi tidak dengan lalaran, ia dapat menyerang siang dan malam,” ujar kakek, membandingkan betapa merepotkannya melawan musuh tidak terlihat seperti wabah lalaran.

”Kami seperti baru pulang dari perang yang lebih kecil, dan harus menghadapi perang yang jauh lebih besar. Sialnya, kali ini musuh kami tidak kelihatan,” kata kakek mengingat hari-hari yang penuh dengan kecemasan itu.

Ketika lalaran menjangkit penduduk desa kami, sudah lebih dari lima tahun kakek ikut berperang.  Ia pernah mengalami hari-hari yang buruk selama peperangan, berlari dua malam tanpa henti untuk menghindari kejaran penjajah, terkena tembakan di kaki kanannya, bersembunyi di atas pohon selama berhari-hari, kehabisan bahan makanan selama berminggu-minggu, dan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri satu demi satu rekan seperjuangannya tumbang dengan cara mengenaskan: dihunjam belasan peluru atau dieksekusi di tiang gantungan. Namun, betapa pun mengerikannya melihat orang mati karena perang, tidak semengerikan kematian karena lalaran.

Pasukan perang, kata kakek, mati terhormat sebagai pejuang, sementara kematian karena wabah adalah penderitaan tak tertanggungkan, mereka harus gugur dan dicap sebagai pembawa sial, atau penanggung kutukan.

* * *

Tidak banyak yang bisa mereka tahu tentang sebab musabab munculnya wabah itu. Ketidaktahuan itu membuat sebagian besar penduduk—yang memang dalam keseharian mereka percaya takhayul dan tulah makhluk halus jahat—mengusir anggota keluarga mereka yang terjangkit lalaran. Setiap hari ada yang harus terusir dari rumah dan dikucilkan.

Para anggota Barisan Pejuang Kemerdekaan yang baru kembali dari gerilya memutuskan membuat barak di tepi hutan, menampung mereka yang terusir, berusaha mengobati mereka yang terpapar—dengan peralatan dan obat-obatan seadanya. Barisan Pejuang Kemerdekaan memiliki persediaan obat-obatan yang biasa mereka gunakan untuk mengobati korban perang yang terluka, atau pejuang yang terjangkit malaria di tengah hutan. Mereka memberikan sisa obat-obatan itu kepada orang-orang yang terpapar lalaran di barak penampungan, meski mereka tidak terlalu yakin apakah obat-obatan itu dapat berkerja dan memperbaiki keadaan.

Di barak penampungan itu, mula-mula kakek ditugaskan sebagai juru masak. Orang-orang yang masih memiliki persediaan bahan makanan menyumbangkan sedikit persediaan mereka ke barak—sumbangan yang begitu berarti di tengah kondisi sulit yang mengharuskan sebagian besar orang terpaksa menahan lapar.

Ketika persediaan bahan makanan semakin menipis, bersama dua orang lain kakek mendapat tugas tambahan: harus bergantian masuk ke dalam hutan untuk mencari apa saja yang masih mungkin untuk dimakan.

Perang yang panjang telah menempa kakek mengolah apa pun yang bisa dimakan dari dalam hutan, menjerat binatang-binatang kecil dengan peralatan seadanya, memanjat hingga ke puncak pohon untuk mencari telur burung, atau menentukan bagian terbaik dari sebuah pohon untuk dijadikan bahan makanan atau bumbu masakan. Tiga hari sekali kakek harus berjalan masuk ke dalam hutan sendirian, berangkat di pagi buta dan baru kembali ke barak menjelang malam.

Di saat-saat sering masuk-keluar hutan itulah suatu sore kakek dikejutkan dengan kedatangan penunggang kuda merah padam.

Sosok dengan selubung hitam itu, kata kakek, datang dari arah selatan di suatu sore menjelang malam. Hari itu kakek kesulitan mencari bahan makanan dan harus berjalan lebih jauh ke dalam hutan sehingga kakek terpaksa kembali ke barak lebih sore dari biasanya. Di tengah perjalanan pulang, tiba-tiba kakek dikejutkan dengan lamat suara gesekan ladam pada tanah kapur di dalam hutan.

Kakek tentu ketakutan karena mengira pasukan Belanda datang kembali ke pulau ini dan kini mereka semakin dekat ke perkampungan.

Ketika suara ladam itu semakin dekat dan kuda itu semakin jelas dalam penglihatan, kakek memutuskan bersembunyi di balik semak-semak. Dengan parang di tangan, kakek bersiap menyerang jika ia terdesak sewaktu-waktu.

Seseorang di atas kuda berwarna merah padam itu seakan tahu di mana kakek bersembunyi. Ia menghentikan laju kudanya, memandang ke arah semak-semak di mana kakek bersembunyi, lalu mengulurkan tangan kanannya dari atas kuda tunggangannya seakan hendak memberi tanda agar kakek tak perlu takut. Ia tetap tenang dan tidak beranjak dari pelananya, tanpa ada gelagat untuk berbuat jahat atau menyerang. Sebelum kakek memutuskan keluar dari tempat persembunyiannya, sesosok berselubung hitam di atas kuda itu tiba-tiba mengambil sesuatu di balik punggungnya, kemudian melempar sebuah buntalan yang semula terikat di balik punggungnya ke arah tempat persembunyian kakek.

Sebelum kakek menyentuh buntalan itu, lelaki di atas kuda itu membalikkan arah kudanya, kemudian memacu kudanya kencang-kencang meninggalkan kakek yang masih kebingungan.

Baca juga : Rahasia Bubur Pedas

Dari tempat persembunyiannya, kakek hanya terpana menyaksikan penunggang kuda merah padam itu berlalu, dengan surai dan ekor berwarna keperakan memantulkan sinar matahari senja yang menerobos ranting-ranting pohon tinggi di dalam hutan.

* * *

Mula-mula tidak seorang pun di barak penampungan yang percaya ketika kakek bercerita tentang sosok penunggang kuda merah padam yang baru ditemuinya di dalam hutan. Namun, ketika kakek membuka buntalan besar itu di tengah-tengah mereka, barulah mereka mulai memikirkan kebenaran cerita kakek.

Buntalan besar tertutup kain hitam itu berisi obat-obatan dalam kemasan dan beberapa peralatan kesehatan yang masih sangat langka di zaman itu, dan tidak mungkin di dalam hutan ada obat-obatan dan peralatan seperti itu kecuali ada seseorang yang memberikannya.

Sosok penunggang kuda merah padam itu terus menjadi bahan perbincangan dalam waktu yang sangat lama. Beberapa orang berusaha mengaitkan sosok misterius itu dengan kuda merah padam koleksi keraton. Seorang pangeran dari kerajaan kecil di ujung timur pulau dikenal memiliki puluhan kuda, dan bukan tidak mungkin kuda merah padam itu adalah salah satunya. Namun, hari demi hari orang-orang kemudian tidak lagi memikirkan siapa sebenarnya sosok misterius itu sebab yang paling penting puluhan bahkan ratusan orang di desa dapat disembuhkan dengan obat-obatan yang dikirim secara misterius itu. Dan ketika wabah lalaran itu telah lenyap dari desa kami, kedatangan penunggang kuda merah padam yang menemui kakek di dalam hutan itu dikenang sebagai sebuah mukjizat dan terus diceritakan secara turun-temurun.

Di masa pendudukan Jepang, ketika seluruh pasukan Belanda ditarik pulang, tempat-tempat yang pernah dijadikan markas pasukan Belanda dibakar atau dijadikan gudang, setelah sebelumnya sisa-sisa barang berharga di markas Belanda itu dijarah oleh Barisan Pejuang Kemerdekaan sebagai harta rampasan perang. Dari beberapa rumah dan tempat yang pernah dijadikan sebagai markas pasukan Belanda, kakek berhasil mendapatkan piring, teko, dan beberapa buku tebal yang tidak ia pahami bahasanya.

Bertahun-tahun kemudian, ketika suatu hari kakek iseng membuka-buka buku tebal yang dulu dijarahnya dari rumah yang ditinggali pasukan Belanda, kakek menemukan beberapa foto pasukan Belanda yang terselip di salah satu buku itu.

Salah satu foto yang ditemukan kakek menampakkan seorang pemimpin pasukan Belanda sedang menunggang kuda—kuda yang memiliki perawakan, bentuk surai, dan ekor yang sama dengan kuda berwarna merah padam yang dulu pernah dilihatnya di dalam hutan pada masa gerilya puluhan tahun lalu.

Kakek tidak akan pernah melupakan peristiwa itu, ketika seorang penunggang kuda merah padam melemparkan sebuah buntalan berisi obat-obatan ke hadapannya, obat-obatan yang telah menolong puluhan nyawa selamat dari wabah yang mematikan.

”Kadang-kadang, juru selamat datang dengan cara yang tidak pernah kita pikirkan,” ujar kakek memungkasi ceritanya, seakan masih tidak percaya bahwa kuda merah padam yang pernah dilihatnya di hutan adalah kuda milik pasukan Belanda, dan bukan tidak mungkin jika penunggang kuda merah padam yang mengenakan selubung hitam dan memberikan bantuan obat-obatan kepada kakek adalah salah satu di antara mereka.

[]

Lalaran (Madura): penyakit menular

Badrul Munir Chair lahir di Sumenep, 1 Oktober 1990. Karya-karyanya yang sudah terbit antara lain novel Kalompang (2014) dan kumpulan puisi Dunia yang Kita Kenal (2016). Saat ini mengajar Filsafat di UIN Walisongo, Semarang.

sumber : kompas.id, 06 Mei 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme