Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Rumor oleh Adam Yudhistira

Posted on Sab, 08 Mei 2021

Dari jendela, Jenkins menatap lanskap Manhattan perlahan menuju temaram. Lampu-lampu kota berpendar semuram suasana hatinya. Sehari yang lalu ia berdiri di sini, menatap lampu-lampu itu bersama Gray, dengan anggapan dapat menghibur sahabatnya itu pasca kematian Garcia. Tetapi hari ini Gray telah tiada. Kenyataan itu membuatnya merasa hampa dan kering; ia menyesali keputusan Gray mengakhiri hidup dengan cara yang sangat buruk.

Pandangan matanya beralih ke lima ekor manfish yang terkurung di dalam aquarium. Lelaki berperawakan jangkung itu menghela napas. Setelah ini, kemungkinan besar ikan-ikan kecil itu akan segera menyusul tuannya. Kemungkinan menyedihkan itu menjadi dekat bersama hal-hal yang terlihat di seluruh ruangan: darah di sofa, pistol di tangan yang terkulai, bingkai foto Garcia yang rusak, sisa mesiu di lantai, percakapan para petugas forensik, dan sirene ambulans di bawah apartemen.

“Ini tragedi,” sesal Jenkins sambil memandangi jasad lelaki setengah baya yang tersandar di dekat meja blackwood yang permukaannya penuh bercak darah mengering.

Ia berpendapat apa yang dilakukan Gray adalah upaya menghancurkan memori dengan cara paling cepat dan efektif. Petugas forensik bahkan tak perlu mengobrak-abrik apartemen itu untuk mencari petunjuk. Dengan mata kepala saja kesimpulan mudah dibuat; kematian disebabkan sebutir peluru yang bersarang telak di cerebrum.

Kekacauan di ruangan itu seharusnya tak perlu ditambah dengan serangkaian prosedur yang menurut Jenkins cuma mengganggu peristirahatan Gray. Tetapi sialnya, Jenkins tak bisa menghalau orang-orang dari Divisi Pembunuhan yang datang bak gerombolan nazar yang hendak berpesta di atas jasad sahabatnya itu.

Setelah ini mereka mungkin akan menyebut kematian Gray sebuah ironi—atau mungkin terlalu kasar untuk menyebutnya menggelikan. Bagaimana tidak, nama Gray Puncho termasuk dalam jajaran detektif paling elit di Park Row dan termasyur karena karirnya yang cemerlang, tetapi kecemerlangan itu padam lantaran ia mati oleh pistolnya sendiri, bukan mati di jalanan layaknya polisi sejati.

Pagi tadi, seorang kurir ekspedisi dan penjaga apartemen menemukan jasad Gray. Kurir itu mulanya berniat mengantar berkas tagihan biaya pemakaman Garcia yang meninggal sebulan lalu. Namun meskipun sudah diketuk berkali-kali, pintu apartemen tak kunjung terbuka. Dari lubang kunci mereka menyaksikan pemandangan mengerikan dan langsung menelpon polisi.

Beberapa polisi muda yang membereskan ruangan itu bekerja dengan wajah murung. Ini wajar saja, selain kondisi Gray yang memang menyedihkan, ikatan emosional di antara mereka memang terbilang erat. Tiga tahun terakhir Gray menjabat Kepala Divisi Pelatihan Detektif Muda di Sektor North Manhattan. Sebagian para petugas yang datang itu adalah sahabat dan muridnya sendiri.

Kekhusukan Jenkins memikirkan Gray teralihkan oleh seorang lelaki yang menghampirinya dan memperkenal diri. Dari seragamnya ia jelas berasal dari Divisi Pembunuhan. Lelaki itu menenteng dua gelas kopi. Satu gelas ditawarkannya pada Jenkins, tapi lelaki itu menggeleng. Entah kenapa, Jenkins tak pernah nyaman berurusan dengan orang-orang seperti itu.

“Robert,” ucap lelaki itu sambil menyodorkan tangan dan disambuti Jenkins dengan anggukan. Lelaki itu tersenyum meski Jenkins enggan menyambut uluran tangannya, malahan dengan santai ia melanjutkan basa-basinya,

“Sepertinya kau sedih sekali, ya?”

“Semua orang di ruangan ini sudah pasti merasa kehilangan, kecuali kalian,” jawab Jenkins menyindir. “Ia lelaki yang baik. Ia tak pantas mati berlumuran darah seperti itu. Harusnya ia mati di ranjang hangat dalam masa-masa pensiun yang menenangkan.”

“Aku tak bermaksud meremehkan,” ucap lelaki itu santai. Ia meletakkan gelas kopi untuk Jenkins tadi ke atas meja dan menghirup kopi miliknya sendiri.

“Tetapi menurutku, keputusan mengakhiri hidup seperti itu agak kekanak-kanakan.”

“Tidak juga,” jawab Jenkins membela martabat Gray. “Ia salah satu detektif terbaik yang pernah kukenal.”

Lelaki itu mengangkat bahu, “Dengan akhir hidup seperti itu, aku tak yakin.”

“Maksudmu?”

“Tidak mungkin seorang dengan reputasi terbaik memilih akhir hidup yang buruk, kecuali ia dihantui perasaan bersalah.”

“Kau tidak tahu apa-apa, Nak.” Jenkins tertawa kecut. “Jangan sembarangan bicara.”

“Asal kau tahu, aku menyukainya dan mengikuti sepak terjangnya. Ia pernah meringkus penjahat kambuhan di Baruch Houses, menangkap Jack si Gergaji di Lenox Avenue dan menembak kening psikopat itu dari jarak satu meter, hampir jatuh dari lubang udara saat mengejar pemerkosa di atap gedung kawasan 32nd Street dan banyak lagi. Aku tahu semua kisahnya.”

“Ya, ia pria yang pintar.”

“Aku tidak mengatakan ia pria bodoh.” Robert meletakkan gelas kopinya ke atas meja dan bersidekap. “Tapi bahkan orang cerdas pun kadang suka bertindak bodoh. Lihat dari sudut pandang ini. Pria malang itu baru saja ditinggal mati istrinya secara mendadak. Dan sebagai kawan dekat yang sering berkunjung ke tempat ini, mestinya kau mengetahui situasi kejiwaannya buruk.”

“Hati-hati dengan lidahmu,” ucap Jenkins dengan nada meninggi. “Jangan membuat rumor seenaknya.”

“Maaf jika terkesan begitu,” kata Robert santai. “Tapi siapa pun di Park Row ini sudah mengetahui, ada kejanggalan pada kematian orang-orang terdekatnya.”

“Apa hubungannya omong kosongmu itu dengan kematiannya?”

“Bisa saja ia menghabisi mereka,” sahut Robert menyeringai. “Dendam dan patah hati masih menjadi pemuncak daftar motif pembunuhan di muka bumi ini.”

“Kau sinting,” umpat Jenkins disambut kekeh pendek dari bibir Robert.

Tetapi perkataan itu mau tak mau membuat lelaki setengah baya itu memikirkan kemungkinannya. Pertama Joseph, adik kandung Gray. Ia ditemukan mati mengambang di sungai kecil dekat Cricklewood. Kemudian Garcia, istrinya. Perempuan itu mati di ranjangnya secara tiba-tiba. Laporan forensik mengatakan Garcia mati akibat gagal jantung, sedangkan Joseph mati akibat dipatuk derik. Penjelasan Robert membuat Jenkins berpikir, sekeji itukah sahabatnya? Rasanya tidak mungkin. Tetapi sebuah kenyataan lain membuat Jenkins bergidik; jika mau, Gray bisa saja memanipulasi kematian-kematian itu.

Jenkins menggaruk kepala, mencoba menyelami ingatannya kembali. Gray tak punya catatan apa pun yang bisa membuatnya terlihat buruk. Ya, maksudnya tak ada yang sungguh-sungguh bisa membuat reputasinya hancur. Gray suami yang baik, pemberi nafkah yang baik, mungkin akan menjadi ayah yang baik jika pernikahan mereka dianugerahi seorang anak dan ini yang paling penting; Gray polisi yang baik.

Mengenai kesan polisi yang baik itu, Jenkins bahkan rela bertaruh, tak ada yang mengenal sepak terjang Gray sebaik dirinya. Mereka menjadi partner selama sepuluh tahun dan telah melewati masa-masa paling ganas di Distrik West Side. Bermacam jenis kejahatan mengerikan hidup di kota ini: anak kecil ditembak di sekolah, pengusaha ditusuk di kereta bawah tanah, pensiunan digorok di ruang tamu, dan banyak lagi. Departemen Kepolisian tak pernah mengirim polisi kelas teri untuk menangani hal-hal semacam itu. Mereka mengirim orang berpengalaman. Ia adalah Gray.

Tiap kali mengatakan pada diri sendiri bahwa Gray tak akan melakukannya, Jenkins semakin sadar, ia bisa saja menjadi pribadi yang lugu dan dekat dengan kebodohan. Gray lelaki yang baik, polisi yang baik, tetapi kenapa ia melakukannya? Jika benar semua tudingan itu, Divisi Pembunuhan seharusnya memiliki cukup bukti untuk mengajukan kasus ini ke pengadilan. Sekecil apa pun itu.

Jenkins yakin sekali Gray banyak berubah setelah kematian adiknya dan Garcia. Tidak sekaligus, tetapi bertahap. Berhenti minum dan main perempuan, mulai menghabiskan waktu bersama kegiatan sosial dan memperbaiki hubungan dengan rekan-rekan. Dilihat dari sudut apapun, kenyataan itu menegaskan bahwa Gray orang yang baik. Tetapi di saat yang sama, mengapa ia tak kunjung mampu menyangkal apa yang dikatakan Robert?

“Masalah pentingnya hidup dan mati bukan untuk mereka yang sedang kalut,” kata Robert seolah-olah mampu mendengar suara-suara di kepala Jenkins.

“Undang-undang hukum pidana tak pernah sanggup memperbaiki hati yang hancur. Amandemen apa pun tak pernah mampu menghibur lelaki yang dikhianati. Terkadang kau harus menyingkirkan buku panduan yang berharga di pinggir meja dan bertindak di zona abu-abu demi kepuasan batin.”

“Dengar, ya,” ucap Jenkins kesal. “Siapa pun kau ini, aku sedang tak ingin mendengar rumor berengsek tentang sahabatku.”

Jenkins berdiri dua langkah di samping Robert, tangannya terselip di balik kemeja, mengamati para petugas yang memasukkan jasad Gray ke dalam kantung jenazah dengan wajah suram. Jenkins berharap Robert tak mengeluarkan perkataan lebih buruk lagi tentang Gray. Tetapi sayangnya harapan itu tak terwujud.

“Lihat ini,” ujar Robert sambil menunjukkan sesuatu di gawainya.

Jenkins melirik dari bahunya dan mengernyitkan kening. Di permukaan gawai itu tersaji rekaman video berisi adegan yang membuatnya terdiam. Kepala Jenkins mendadak sakit. Ia mengenali dua orang yang sedang berbuat tak senonoh di video pendek itu. Garcia dan Joseph.

“Tenang saja, hanya segelintir orang yang mengetahui skandal ini,” ucap Robert, tahu lelaki yang ada di sampingnya itu sudah berada dalam kendalinya dan tak bisa berpaling. “Divisi Penyelidikan Korupsi sedang mengamati aktifitas Gray saat berlibur di Cricklewood, tetapi ternyata ia sedang tak berada di sana. Kami tak sengaja menemukan bukti ini. Ya, ini mungkin sedikit kurang ajar.  Namun apa boleh buat, kita tak bisa menduga apa yang bisa kita temukan di dalam kantung sulap, bukan?”

Baca juga : Penunggang Kuda Merah Padam

Jenkins tak merespon. Ia menatap keluar jendela, lebih tertarik mengamati cuaca daripada membahas topik ini. Ia berpikir tentang hal lain yang bisa mengalihkan lelaki itu. Mestinya mereka melakukan penyelidikan lebih giat; mencari saksi lebih banyak. Tetapi, sekali lagi di sanalah dirinya, Jenkins si lugu, tak bisa menolak kenyataan yang disampaikan Robert tentang Gray.

“Kenapa kau ceritakan semua ini padaku?”

Robert tertawa. Lelaki muda itu tersenyum memandang suasana di luar jendela. Awan mendung menggantung rendah di atas sungai Hudson,  bayangannya memayungi gedung-gedung perkotaan. Dari kamar mandi, terdengar air menetes dari langit-langit, memerciki wastafel dengan jeda bunyi yang ganjil.

“Aku cuma ingin memberitahumu satu hal…”

“Apa itu?”

“Dalam banyak kasus, orang-orang mungkin mengetahui aib dan keburukanmu, hanya saja mereka tak ingin mengumbarnya, hal itu dikarenakan mereka menghormati reputasimu. Tidak lebih.” Robert merogoh cerutu di balik kantung celananya dan menyalakannya. “Kau tak perlu khawatir. Aku sangat menghormatinya. Rahasia ini akan terkubur bersamanya.”

Jenkins menatap tajam Robert yang melangkah menjauhinya sambil tersenyum. Terlihat rona puas di wajah lelaki muda itu. Tapi entah mengapa hal itu membuat dada Jenkins justru lebih lapang dan sedikit tergetar, menyadari lelaki muda itu baru saja memperlihatkan sesuatu yang membuatnya merasa tak perlu lagi memikirkan kematian Gray dengan sedih yang berlebih. Ia sadar, kebenaran kadang memang berada di lidah orang-orang berengsek, dan Jenkins tak berdaya menyangkal semua itu. (*)

Adam Yudhistira (1985). Saat ini bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan daring di Tanah Air. Selain bersastra, ia juga berbahagia mengelola sebuah Taman Baca untuk ikan-ikan kecil di aquariumnya. Buku kumpulan cerpennya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).

sumber : kompas.id, 08 Mei 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme