Dari jendela, Jenkins menatap lanskap Manhattan perlahan menuju temaram. Lampu-lampu kota berpendar semuram suasana hatinya. Sehari yang lalu ia berdiri di sini, menatap lampu-lampu itu bersama Gray, dengan anggapan dapat menghibur sahabatnya itu pasca kematian Garcia. Tetapi hari ini Gray telah tiada. Kenyataan itu membuatnya merasa hampa dan kering; ia menyesali keputusan Gray mengakhiri hidup dengan cara yang sangat buruk.
Pandangan matanya beralih ke lima ekor manfish yang terkurung di dalam aquarium. Lelaki berperawakan jangkung itu menghela napas. Setelah ini, kemungkinan besar ikan-ikan kecil itu akan segera menyusul tuannya. Kemungkinan menyedihkan itu menjadi dekat bersama hal-hal yang terlihat di seluruh ruangan: darah di sofa, pistol di tangan yang terkulai, bingkai foto Garcia yang rusak, sisa mesiu di lantai, percakapan para petugas forensik, dan sirene ambulans di bawah apartemen.
“Ini tragedi,” sesal Jenkins sambil memandangi jasad lelaki setengah baya yang tersandar di dekat meja blackwood yang permukaannya penuh bercak darah mengering.
Ia berpendapat apa yang dilakukan Gray adalah upaya menghancurkan memori dengan cara paling cepat dan efektif. Petugas forensik bahkan tak perlu mengobrak-abrik apartemen itu untuk mencari petunjuk. Dengan mata kepala saja kesimpulan mudah dibuat; kematian disebabkan sebutir peluru yang bersarang telak di cerebrum.
Kekacauan di ruangan itu seharusnya tak perlu ditambah dengan serangkaian prosedur yang menurut Jenkins cuma mengganggu peristirahatan Gray. Tetapi sialnya, Jenkins tak bisa menghalau orang-orang dari Divisi Pembunuhan yang datang bak gerombolan nazar yang hendak berpesta di atas jasad sahabatnya itu.
Setelah ini mereka mungkin akan menyebut kematian Gray sebuah ironi—atau mungkin terlalu kasar untuk menyebutnya menggelikan. Bagaimana tidak, nama Gray Puncho termasuk dalam jajaran detektif paling elit di Park Row dan termasyur karena karirnya yang cemerlang, tetapi kecemerlangan itu padam lantaran ia mati oleh pistolnya sendiri, bukan mati di jalanan layaknya polisi sejati.
Pagi tadi, seorang kurir ekspedisi dan penjaga apartemen menemukan jasad Gray. Kurir itu mulanya berniat mengantar berkas tagihan biaya pemakaman Garcia yang meninggal sebulan lalu. Namun meskipun sudah diketuk berkali-kali, pintu apartemen tak kunjung terbuka. Dari lubang kunci mereka menyaksikan pemandangan mengerikan dan langsung menelpon polisi.
Beberapa polisi muda yang membereskan ruangan itu bekerja dengan wajah murung. Ini wajar saja, selain kondisi Gray yang memang menyedihkan, ikatan emosional di antara mereka memang terbilang erat. Tiga tahun terakhir Gray menjabat Kepala Divisi Pelatihan Detektif Muda di Sektor North Manhattan. Sebagian para petugas yang datang itu adalah sahabat dan muridnya sendiri.
Kekhusukan Jenkins memikirkan Gray teralihkan oleh seorang lelaki yang menghampirinya dan memperkenal diri. Dari seragamnya ia jelas berasal dari Divisi Pembunuhan. Lelaki itu menenteng dua gelas kopi. Satu gelas ditawarkannya pada Jenkins, tapi lelaki itu menggeleng. Entah kenapa, Jenkins tak pernah nyaman berurusan dengan orang-orang seperti itu.
“Robert,” ucap lelaki itu sambil menyodorkan tangan dan disambuti Jenkins dengan anggukan. Lelaki itu tersenyum meski Jenkins enggan menyambut uluran tangannya, malahan dengan santai ia melanjutkan basa-basinya,
“Sepertinya kau sedih sekali, ya?”
“Semua orang di ruangan ini sudah pasti merasa kehilangan, kecuali kalian,” jawab Jenkins menyindir. “Ia lelaki yang baik. Ia tak pantas mati berlumuran darah seperti itu. Harusnya ia mati di ranjang hangat dalam masa-masa pensiun yang menenangkan.”
“Aku tak bermaksud meremehkan,” ucap lelaki itu santai. Ia meletakkan gelas kopi untuk Jenkins tadi ke atas meja dan menghirup kopi miliknya sendiri.
“Tetapi menurutku, keputusan mengakhiri hidup seperti itu agak kekanak-kanakan.”
“Tidak juga,” jawab Jenkins membela martabat Gray. “Ia salah satu detektif terbaik yang pernah kukenal.”
Lelaki itu mengangkat bahu, “Dengan akhir hidup seperti itu, aku tak yakin.”
“Maksudmu?”
“Tidak mungkin seorang dengan reputasi terbaik memilih akhir hidup yang buruk, kecuali ia dihantui perasaan bersalah.”
“Kau tidak tahu apa-apa, Nak.” Jenkins tertawa kecut. “Jangan sembarangan bicara.”
“Asal kau tahu, aku menyukainya dan mengikuti sepak terjangnya. Ia pernah meringkus penjahat kambuhan di Baruch Houses, menangkap Jack si Gergaji di Lenox Avenue dan menembak kening psikopat itu dari jarak satu meter, hampir jatuh dari lubang udara saat mengejar pemerkosa di atap gedung kawasan 32nd Street dan banyak lagi. Aku tahu semua kisahnya.”
“Ya, ia pria yang pintar.”
“Aku tidak mengatakan ia pria bodoh.” Robert meletakkan gelas kopinya ke atas meja dan bersidekap. “Tapi bahkan orang cerdas pun kadang suka bertindak bodoh. Lihat dari sudut pandang ini. Pria malang itu baru saja ditinggal mati istrinya secara mendadak. Dan sebagai kawan dekat yang sering berkunjung ke tempat ini, mestinya kau mengetahui situasi kejiwaannya buruk.”
“Hati-hati dengan lidahmu,” ucap Jenkins dengan nada meninggi. “Jangan membuat rumor seenaknya.”
“Maaf jika terkesan begitu,” kata Robert santai. “Tapi siapa pun di Park Row ini sudah mengetahui, ada kejanggalan pada kematian orang-orang terdekatnya.”
“Apa hubungannya omong kosongmu itu dengan kematiannya?”
“Bisa saja ia menghabisi mereka,” sahut Robert menyeringai. “Dendam dan patah hati masih menjadi pemuncak daftar motif pembunuhan di muka bumi ini.”
“Kau sinting,” umpat Jenkins disambut kekeh pendek dari bibir Robert.
Tetapi perkataan itu mau tak mau membuat lelaki setengah baya itu memikirkan kemungkinannya. Pertama Joseph, adik kandung Gray. Ia ditemukan mati mengambang di sungai kecil dekat Cricklewood. Kemudian Garcia, istrinya. Perempuan itu mati di ranjangnya secara tiba-tiba. Laporan forensik mengatakan Garcia mati akibat gagal jantung, sedangkan Joseph mati akibat dipatuk derik. Penjelasan Robert membuat Jenkins berpikir, sekeji itukah sahabatnya? Rasanya tidak mungkin. Tetapi sebuah kenyataan lain membuat Jenkins bergidik; jika mau, Gray bisa saja memanipulasi kematian-kematian itu.
Jenkins menggaruk kepala, mencoba menyelami ingatannya kembali. Gray tak punya catatan apa pun yang bisa membuatnya terlihat buruk. Ya, maksudnya tak ada yang sungguh-sungguh bisa membuat reputasinya hancur. Gray suami yang baik, pemberi nafkah yang baik, mungkin akan menjadi ayah yang baik jika pernikahan mereka dianugerahi seorang anak dan ini yang paling penting; Gray polisi yang baik.
Mengenai kesan polisi yang baik itu, Jenkins bahkan rela bertaruh, tak ada yang mengenal sepak terjang Gray sebaik dirinya. Mereka menjadi partner selama sepuluh tahun dan telah melewati masa-masa paling ganas di Distrik West Side. Bermacam jenis kejahatan mengerikan hidup di kota ini: anak kecil ditembak di sekolah, pengusaha ditusuk di kereta bawah tanah, pensiunan digorok di ruang tamu, dan banyak lagi. Departemen Kepolisian tak pernah mengirim polisi kelas teri untuk menangani hal-hal semacam itu. Mereka mengirim orang berpengalaman. Ia adalah Gray.
Tiap kali mengatakan pada diri sendiri bahwa Gray tak akan melakukannya, Jenkins semakin sadar, ia bisa saja menjadi pribadi yang lugu dan dekat dengan kebodohan. Gray lelaki yang baik, polisi yang baik, tetapi kenapa ia melakukannya? Jika benar semua tudingan itu, Divisi Pembunuhan seharusnya memiliki cukup bukti untuk mengajukan kasus ini ke pengadilan. Sekecil apa pun itu.
Jenkins yakin sekali Gray banyak berubah setelah kematian adiknya dan Garcia. Tidak sekaligus, tetapi bertahap. Berhenti minum dan main perempuan, mulai menghabiskan waktu bersama kegiatan sosial dan memperbaiki hubungan dengan rekan-rekan. Dilihat dari sudut apapun, kenyataan itu menegaskan bahwa Gray orang yang baik. Tetapi di saat yang sama, mengapa ia tak kunjung mampu menyangkal apa yang dikatakan Robert?
“Masalah pentingnya hidup dan mati bukan untuk mereka yang sedang kalut,” kata Robert seolah-olah mampu mendengar suara-suara di kepala Jenkins.
“Undang-undang hukum pidana tak pernah sanggup memperbaiki hati yang hancur. Amandemen apa pun tak pernah mampu menghibur lelaki yang dikhianati. Terkadang kau harus menyingkirkan buku panduan yang berharga di pinggir meja dan bertindak di zona abu-abu demi kepuasan batin.”
“Dengar, ya,” ucap Jenkins kesal. “Siapa pun kau ini, aku sedang tak ingin mendengar rumor berengsek tentang sahabatku.”
Jenkins berdiri dua langkah di samping Robert, tangannya terselip di balik kemeja, mengamati para petugas yang memasukkan jasad Gray ke dalam kantung jenazah dengan wajah suram. Jenkins berharap Robert tak mengeluarkan perkataan lebih buruk lagi tentang Gray. Tetapi sayangnya harapan itu tak terwujud.
“Lihat ini,” ujar Robert sambil menunjukkan sesuatu di gawainya.
Jenkins melirik dari bahunya dan mengernyitkan kening. Di permukaan gawai itu tersaji rekaman video berisi adegan yang membuatnya terdiam. Kepala Jenkins mendadak sakit. Ia mengenali dua orang yang sedang berbuat tak senonoh di video pendek itu. Garcia dan Joseph.
“Tenang saja, hanya segelintir orang yang mengetahui skandal ini,” ucap Robert, tahu lelaki yang ada di sampingnya itu sudah berada dalam kendalinya dan tak bisa berpaling. “Divisi Penyelidikan Korupsi sedang mengamati aktifitas Gray saat berlibur di Cricklewood, tetapi ternyata ia sedang tak berada di sana. Kami tak sengaja menemukan bukti ini. Ya, ini mungkin sedikit kurang ajar. Namun apa boleh buat, kita tak bisa menduga apa yang bisa kita temukan di dalam kantung sulap, bukan?”
Baca juga : Penunggang Kuda Merah Padam
Jenkins tak merespon. Ia menatap keluar jendela, lebih tertarik mengamati cuaca daripada membahas topik ini. Ia berpikir tentang hal lain yang bisa mengalihkan lelaki itu. Mestinya mereka melakukan penyelidikan lebih giat; mencari saksi lebih banyak. Tetapi, sekali lagi di sanalah dirinya, Jenkins si lugu, tak bisa menolak kenyataan yang disampaikan Robert tentang Gray.
“Kenapa kau ceritakan semua ini padaku?”
Robert tertawa. Lelaki muda itu tersenyum memandang suasana di luar jendela. Awan mendung menggantung rendah di atas sungai Hudson, bayangannya memayungi gedung-gedung perkotaan. Dari kamar mandi, terdengar air menetes dari langit-langit, memerciki wastafel dengan jeda bunyi yang ganjil.
“Aku cuma ingin memberitahumu satu hal…”
“Apa itu?”
“Dalam banyak kasus, orang-orang mungkin mengetahui aib dan keburukanmu, hanya saja mereka tak ingin mengumbarnya, hal itu dikarenakan mereka menghormati reputasimu. Tidak lebih.” Robert merogoh cerutu di balik kantung celananya dan menyalakannya. “Kau tak perlu khawatir. Aku sangat menghormatinya. Rahasia ini akan terkubur bersamanya.”
Jenkins menatap tajam Robert yang melangkah menjauhinya sambil tersenyum. Terlihat rona puas di wajah lelaki muda itu. Tapi entah mengapa hal itu membuat dada Jenkins justru lebih lapang dan sedikit tergetar, menyadari lelaki muda itu baru saja memperlihatkan sesuatu yang membuatnya merasa tak perlu lagi memikirkan kematian Gray dengan sedih yang berlebih. Ia sadar, kebenaran kadang memang berada di lidah orang-orang berengsek, dan Jenkins tak berdaya menyangkal semua itu. (*)
Adam Yudhistira (1985). Saat ini bermukim di Muara Enim, Sumatera Selatan. Cerita pendek, Cerita Anak, esai, puisi dan ulasan buku yang ditulisnya telah tersiar di berbagai media massa cetak dan daring di Tanah Air. Selain bersastra, ia juga berbahagia mengelola sebuah Taman Baca untuk ikan-ikan kecil di aquariumnya. Buku kumpulan cerpennya Ocehan Semut Merah dan Bangkai Seekor Tawon (basabasi, 2017).
sumber : kompas.id, 08 Mei 2021.