Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Di Bawah Pohon Kersen oleh Atta Verin

Posted on Ming, 23 Mei 2021

Aku berada di atas batang pohon kersen yang kuberi nama Tuwut bersama buku gambar bajak laut dan bolpen merah yang kucuri dari meja kerja Papi. Dari atas aku bisa melihat ke ruang kerja Papi yang tampak berantakan karena terlalu banyak tumpukan buku, kertas, dan botol-botol berserakan. Hampir tidak ada ruang untuk meletakkan sebejana bunga potong atau sekotak kertas warna-warni bertuliskan mantra pengusir sedih. Jendela di sana hanya menjadi jalan masuk cahaya matahari.

Dari atas pohon aku juga bisa melihat bagian utara dapur tempat Mami biasanya duduk menyalin resep masakan, membuat kue, atau mendengarkan musik kesukaannya sambil membuat selimut dari kain perca.

Aku bisa pula melihat bagian belakang rumah Bu Madya di bawah bukit sana. Perempuan salih, kata Mami. Ia senang memberi dan selalu menyapa siapa pun yang berpapasan dengannya. Bahkan seekor kambing sekali pun. Biasanya dia ada di beranda belakang itu sambil mengupas singkong, mangga, atau menumbuk kacang tanah. Ia memang senang membuat banyak makanan lalu membagikannya kepada siapa pun yang dia temui.

Kemudian aku juga bisa melihat Sori, anak laki-laki seumurku—baru sebelas tahun—yang sering mengintip dan mencuri pandang ke arahku. Kata Papi, orang tua Sori tidak tahu bahasa Inggris karena kalau tidak mereka pasti tak akan memanggilnya Sori. Mungkin jadinya Anshor karena menurut Papi akan lebih aneh lagi kalau namanya lengkap disebutkan, yakni Anshori. Papi pikir itu berarti ”Maafkan aku”. Mungkin bagi Papi itu terdengar seperti ”I’m sorry.”

Sori sebenarnya lebih senang bermain di lapangan, tetapi kata Mami dia sengaja nongkrong di teras samping rumahnya yang berbatasan dengan rumah Bu Madya hanya agar aku bisa membalas mengintipi dia. Tetapi aku tidak pernah merasa perlu mengintip. Dia terlihat jelas dari pohon kersenku. Dari sela-sela halaman buku yang kubaca, atau boneka-boneka kain yang kubawa naik ke atas pohon, dia akan terlihat sesekali, seperti penjual es badeg langganan Papi yang seharusnya setia datang seminggu sekali saja, tapi setiap hari selalu menampakkan diri berharap Papi akan membeli dagangannya.

Suatu hari Sori melempariku yang sedang berada di atas pohon kersen dengan mainan plastik berbentuk miniatur tentara. Tentara kecil hijau tua itu memakai helm, menyandang bedil panjang, dan ada ransel kecil di punggungnya. Lucu. Tapi ada kertas yang diikat karet pada mainan itu. Isinya: ”Nang kali, yok!”

Dia mengajakku bermain di sungai. Tapi aku tidak mau ke sungai tanpa Papi. Bukan karena takut hanyut atau bertemu ular, tapi karena hanya Papi yang selalu punya cerita tentang sungai. Aku yakin si Sori ini tidak bisa mengalahkan Papi soal itu.

Namun, sepertinya anak laki-laki ini agak bandel dan keras kepala. Tidak berhasil dengan lima mainan tentara hijau, dia lalu melempariku dengan buah-buahan—apel mentah, tomat mentah, jambu monyet, dan belimbing mentah. Semuanya berasal dari halaman belakang rumah Bu Madya.

Kukembalikan semua buah-buahan mentah itu kepadanya beserta jawaban di atas kertas bekas kalender China: ”Nggak”, ”Emoh”, ”Gendeng”. Begitu terus kuulang-ulang.

Sori mungkin sering melihatku bersama Papi di sungai. Kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam di sana. Jika semua bekal makanan dan minuman yang dibawakan Mami habis, barulah kami pulang. Sepertinya dia iri. Dia pasti ingin tertawa-tawa dan asyik bermain bersama kami, tapi dia terlalu malu untuk bertemu Papi yang dia sebut ”Om Bule” itu. Sebetulnya aku bisa saja bermain bersama dia di sungai atau di atas sini, di bawah kerimbunan daun-daun beludru Tuwut. Tetapi, dia belum memberiku cukup alasan untuk bermain bersama.

Aku pernah tak sengaja mendengar Mami mengobrol dengan Bu Madya tentang Sori. Mami ingin agar aku punya teman bermain. Namun, Bu Madya berkata bahwa sebaiknya aku bermain bersama Asti saja. Asti anak perempuan tukang jamu langganan Mami yang usianya lebih tua sedikit dariku. ”Biar sekalian momong Mira,” kata Bu Madya kepada Mami.

Mami sepertinya tidak setuju. Mami mengatakan pendapatnya tentang itu kepada Papi ketika Papi menemaniku membaca sambil tiduran di bawah Tuwut. Aku membaca di atas tentu saja, di tempatku. Mami pikir, karena aku berada dua meter di atas mereka, aku tak akan jelas mendengar pembicaraan mereka. Mami salah.

Aku bisa mendengar Mami keberatan jika Asti datang ke rumah kami karena nanti ibunya yang tukang jamu Mami itu jadi punya alasan untuk berlama-lama juga di rumah kami. Mami menuduh ibunya Asti itu suka mencuri barang-barang di dapur, dimasukkan ke dalam tas atau disisipkan ke bawah tumpukan botol jamunya.

Papi bertanya apakah Mami pernah melihat langsung perbuatan itu. Mami menjawab ia pernah melihat sendiri. Satu kali ketika Mami sedang membuatkan mereka teh manis dan membalikkan badan tiba-tiba, Mbak Sari ibunya Asti itu sedang menjejalkan sendok-sendok kecil yang gagangnya berhias bendera negara-negara peserta Olimpiade ke dalam gendongan jamunya. Itu koleksi kesayangan Mami pemberian kerabat jauh Papi.

Mami lalu mengalihkan obrolan. Ia bertanya kenapa Papi membiarkan aku berlama-lama di atas pohon kersen setiap hari. Kata Mami, tetangga kami mulai menjulukiku munyuk bule karena aku terlalu sering berada di atas pohon kersen.

Papi lalu berteriak ke arahku dalam bahasa Inggris. ”Hei, Em, kamu keberatan kalau dipanggil munyuk bule?” tanya Papi sambil tertawa berderai.

Aku hanya menjawab, ”Uh, huh!”, sambil menggeleng.

Aku memang tidak peduli mau dijuluki apa pun. Mereka punya hak berpendapat dan menjuluki siapa pun semau mereka. Tapi aku tak peduli. Lalu Papi menjelaskan kepada Mami bahwa memanjat pohon kersen membuat badanku lentur dan pohon ini mengajari aku banyak hal.

”Mengajari?” ulang Mami tak percaya.

”Pohon kersen daunnya banyak dan rimbun. Mira harus menyapanya dulu dan meminta izin sebelum mencari dan memetik buah-buah kersen yang sudah matang. Kadang-kadang Mira membujuknya dengan mengelus-elus batang utamanya sambil minta izin untuk memanjatnya. Nah, kalau sudah diajak bicara baik-baik begitu, buah-buah merah ranum yang tadinya tidak terlihat dari bawah akan terlihat sedikit demi sedikit. Itu karena pohonnya sudah memberi izin Mira memanjat dan memetiki buahnya. Meminta izin terlebih dahulu juga membuat batangnya akan membantu Mira naik, tidak mudah patah, dan memudahkan kaki kecil Mira menjejaknya. Kamu boleh tak percaya, tapi Mira sudah membuktikannya sendiri. Kamu bisa mencobanya sendiri, Sayang. Coba kamu memanjatnya tanpa minta izin dan minta izin baik-baik kepada pohonnya. Kamu akan merasakan bedanya.”

Dari atas pohon kersen aku bisa melihat Mami melongo mendengar penjelasan Papi. Tapi kemudian Mami tersenyum dan mencubit tangan papi dengan mesra. Aku tertawa senang. Aku yakin betul Mami tidak memercayainya.

”Ya, ya, ya… Kamu pasti mengira aku sedang mengarang. Tak apa-apa. Tapi Mira belajar banyak dari pohon kersen ini. Ia membawa alat untuk mengambil buah-buah kersen di ranting terjauh yang tak terjangkau tangan kecilnya. Alatnya ia buat sendiri dari botol plastik bekas yang dia temukan di dapur dan ia sambungkan dengan gagang sapu bekas. Ketika ia memanjat membawa alat itu, ia tidak bisa membawa buah lebih banyak dari yang bisa ditampung oleh alat yang dibawanya itu. Ia diajari untuk merasa cukup meskipun masih banyak buah kersen ranum di pohon ini. Ia belajar untuk tidak serakah. Aku katakan kepada Mira bahwa buah-buah yang tidak bisa ia petik itu mungkin memang harus ia sisakan untuk burung atau hewan lain. Dan Mira paham itu. Ia belajar bersyukur dengan buah yang bisa dia dapatkan, berterima kasih pada pohon ini, dan menikmatinya. Dengan semua itu, ia merasakan buah yang ia petik jadi jauh lebih nikmat dari seharusnya.”

Mami tertawa-tawa lagi.

”Kamu tidak percaya, ya? Sekali-sekali kamu harus melihat bagaimana putrimu naik ke atas pohon ini. Ia akan berbicara dan membuat perjanjian terlebih dulu. Ia meminta pohon ini memastikan dulu bahwa tidak ada ular atau lebah berbahaya yang diam-diam menunggunya di atas sana. Mira menjalin hubungan baik dengan pohon kersen ini.”

Mami tertawa lepas. Aku bisa membaca isi kepala Mami ketika dia tertawa. Mami menertawakan bahasa Indonesia Papi yang menurut Mami aneh. Dan semua yang dikatakan Papi dimaklumi Mami sebagai gangguan pemahaman Papi dalam berbahasa. Berbeda dengan Mami yang orang Jawa, Papi memang orang asing. Dia berasal dari Skotlandia. Mereka bertemu dan saling jatuh cinta dua belas tahun lalu saat Papi melakukan penelitian di desa ini. Setahun setelah mereka menikah, lahirlah aku.

Aku tidak pernah tahu apakah Mami pada akhirnya memahami apa yang dimaksud oleh Papi atau tidak. Tetapi kuharap Mami akhirnya tahu.

***

Malam itu empat lelaki yang tak kami kenal menerobos masuk ke rumah kami. Aku mendengar Mami menjerit-jerit. Ketika aku memburu ke kamar mereka, Papi menangkap tanganku dan menarik tubuhku ke balik lemari. Aku tahu Papi menatapku tajam meski di dalam kegelapan. Kedua tangannya merengkuh wajahku, menciumiku, lalu berbisik di telingaku, ”Bersembunyilah dengan Tuwut. Jangan turun sampai siang. Papi dan Mami menyayangimu!”

Aku didorong Papi untuk merangkak keluar dari pintu dapur, keluar perlahan ketika orang-orang itu berusaha mencari benda-benda berharga di kamar Papi dan Mami. Aku lalu naik ke atas Tuwut, pohon kersenku. Aku memeluknya erat-erat sambil menangis tanpa suara dan duduk dalam kegelapan di tempatku biasa duduk membaca komik.

Tanpa aku berkata apa pun, aku yakin Tuwut tahu apa yang kurasakan. Tuwut memelukku. Daun-daunnya merapat, menghangatkan tubuhku di udara dingin malam. Angin menggoyang-goyangkan dahannya, tapi aku merasakan Tuwut menimang-nimangku, seperti Mami atau Papi menggendongku ketika aku kecil untuk meninabobokan aku.

Dari atas Tuwut aku mendengar jeritan Mami dan Papi, bentakan orang-orang serakah itu, tawa keji mereka, dan bunyi barang-barang pecah. Lalu terdengar suara orang-orang itu ribut mengambil mobil kami. Dua orang di antara mereka membawanya pergi dengan banyak barang di dalamnya. Dua orang lagi entah ke mana.

Aku diam menanti di atas Tuwut. Aku tidak berani turun. Dua penjahat yang lain mungkin sedang menungguku di dalam rumah. Tetapi kemudian semuanya hening.

Aku merasa Tuwut memelukku, menidurkanku. Lama kemudian aku terbangun oleh teriakan Bu Madya. Langit sudah terang. Perempuan setengah baya itu berteriak-teriak di bawah sana memanggilku. Tetapi aku tak mau meninggalkan Tuwut. Aku memeluknya erat. Aku tahu Tuwut juga memelukku. Dia tidak mengizinkan aku turun meninggalkannya.

”Mira, sini turun, Nak!” ratap Bu Madya.

Ada banyak orang di bawah sana. Mereka keluar masuk rumahku. Orang-orang menggotong tubuh Mami dan Papi yang tak bergerak ke dalam sebuah mobil, lalu tubuh dua lelaki jahat itu.

Aku tak mau pergi meninggalkan Tuwut. Aku tahu kini aku hanya punya Tuwut. Aku tak mau turun meskipun orang-orang mengambil tangga untuk menurunkanku. Bu Madya dengan kakinya yang gemetaran berusaha naik ke atas Tuwut. Tetapi aku tetap tidak mau turun.

Lalu, Sori datang. Dia merentangkan tangannya dan berteriak, ”Nang kali, yok!”

Wajah Sori tampak aneh. Mungkin dia baru saja menangis. Aku ingin pergi ke sungai bersamanya, ingin mandi dan berendam. Namun, aku bisa merasakan bahwa Tuwut tidak mengizinkan aku turun.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak tahu bagaimana turun dari ketinggian Tuwut. Di atas pohon aku merasa aman. Aku tidak suka berada di bawah pohon kersen. []

Atta Verin adalah ibu penuh waktu, penulis, penerjemah, dan pegiat literasi. Dia menulis cerpen, puisi, novel, dan laporan jurnalistik. Novel terjemahannya yang telah terbit, antara lain, Namaku Merah Kirmizi (Orhan Pamuk, 2006—diterjemahkan bersama Anton Kurnia). Kini dia bergiat bersama putrinya, Amorafati ”Maura” Antonia, di Ponggy (Ponggok Green Library), sebuah perpustakaan dan arena kreatif yang dia rintis dan semai di Desa Ponggok, Klaten, Jawa Tengah.

Antonius Kho, lahir tahun 1958 di Klaten, Jawa Tengah. Menempuh pendidikan seni rupa di Bandung, melanjutkannya di Koln, Jerman. Menerima sejumlah penghargaan, antara lain, 1st Prize ”Mask in Venice” Art Addiction Annual di Venesia (1998) Gold Masks ”Diploma of Excellence”, Palazzo Correr di Venesia (1989). Sejak 2004 , mendirikan Liang Art Space (Wina Gallery), di Ubud, Bali.

sumber : kompas.id, 23 Mei 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme