Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pataka Bertabur Bintang oleh Sori Siregar

Posted on Ming, 30 Mei 2021

Ketika ia memasuki ruang kuliah, serentak mahasiswa yang berada di ruang   itu berdiri sambil meletakkan telapak tangan kanan mereka di dada sebelah kiri. Kemudian  salah seorang di antara mereka bernyanyi. Gertrude terkejut.

Setelah lagu itu selesai dilantunkan    mahasiswa tersebut   semua diam menunggu reaksi Gertrude. Akhirnya dengan tersendat Gertrude berkata: ”Terima kasih untuk kalian semua, karena lagu kebangsaan yang baru saja  dilantunkan salah seorang di antara kalian, membuat saya sadar bahwa hari ini adalah tanggal 4 Juli, hari kemerdekaan bangsa kami dari kerajaan Inggris. Tanggal 4 Juli tahun 1776 adalah hari yang sangat bersejarah bagi bangsa kami. Sekali lagi terima kasih karena kalian telah mengingatkan saya kepada tanggal yang tidak boleh dilupakan itu.”

Semua itu diceritakan Gertrude kepada Farro ketika bertemu dengan suaminya itu di rumah. ”Di luar keinginanku, dalam perjalanan pulang dengan taksi tadi, tiba-tiba aku merasa ingin berteduh di bawah bendera yang kau sebut ’pataka bertabur bintang’ itu. Aku ingin mendapatkan kembali keteduhan itu.”

Farro dapat merasakan makna yang dilontarkan Gertrude, istri yang sangat disayanginya itu. Sejak perkawinannya yang hanya dihadiri belasan temannya yang sedang kuliah di negeri empat musim itu, Farro sudah merasakan akan datang saatnya ketika istrinya menyatakan rindu dan ingin pulang. Tapi Farro tidak menduga saat itu akan datang secepat ini, ketika Gertrude baru satu tahun tinggal di negeri ini.

”Aku juga merasakan seperti itu ketika belajar empat tahun di negerimu. Perasaan  seperti itu timbul ketika aku telah berada tiga tahun di negerimu. Tapi aku berusaha keras membunuh perasaan yang mengganggu itu sampai aku kembali ke negeriku ini tahun lalu. Itu wajar, Gertrude, tapi cobalah pelan-pelan jauhi perasaan seperti itu, karena kau akan lama di sini, bahkan mungkin untuk selamanya.”

Gertrude diam. Dalam kediaman itu ia merasakan banyak sekali yang hilang  dalam hidupnya. Banyak sekali. Ia tidak dapat lagi bertegur sapa dengan kedua orang tuanya dan adik-adiknya, ia kehilangan teman-temannya, ia tidak lagi melihat Billy, remaja yang bertugas sebagai loper koran sebelum pergi ke sekolah, ia kehilangan Black, anjing kesayangannya. Ia memang masih dapat berhubungan dengan keluarga dan teman-temannya  melalui WA atau video call. Namun, jauhnya  keberadaan mereka tidak dapat diatasi oleh telepon pintar itu.

”Lagi pula,” ujar Farro melanjutkan. ”Minggu depan Sorta, sahabatmu itu, akan pindah ke kota ini karena suaminya, Basuki, akan dimutasikan ke sini. Banyak cara yang dapat kau lakukan agar merasa lebih dekat dengan negeri ini.”

Ketika berlari-lari kecil di lapangan di depan  rumahnya, ia mendengar seseorang memanggil  namanya. Ia berpaling dan dari jauh ia menyaksikan  seseorang melambaikan tangannya. Ia menunggu.

”Sorta,”  Gertrude setengah berteriak ketika orang itu berhenti di depannya dengan napas terengah-engah.

”Aku tadi ke rumahmu. Kata Farro kau sedang jogging di lapangan ini, karena itu aku segera ke sini.”

Kedua perempuan itu mengobrol sambil berdiri. Semua berkisar tentang kampus tempat mereka kuliah dulu. Berkali-kali mereka terdengar tawa mereka berderai.

”Kau ke sini untuk liburan atau seminar atau karena keperluan lain?”

”Tidak. Kami pindah. Basuki dimutasikan ke kota ini. Aku senang sekali  kami pindah ke sini. Yang pertama kali menyelinap ke dalam kepalaku adalah kau Gertrude.”

”Setelah istirahat dua minggu Farro langsung mengajar di kampus dan aku menyusul dua bulan kemudian. Basuki masih di Badan Statistik, kan?”

”Ya. Baru satu tahun kami di kota bunga itu, lalu Basuki dipindahkan ke kota ini. Aku sendiri belum bekerja lagi karena  masih menunggu panggilan dari pusat lembaga keuangan induk perusahaan tempatku bekerja.”

”Kami berdua senang sekali melihat Gertrude  betah di negeri ini,” kata Ibu Farro yang datang ke rumah mereka dan menginap selama satu minggu. ”Apa kabar kedua orang tuamu?”

Gertrude tersenyum. ”Hampir setiap hari mereka bertelepon. Alasan mereka rindu. Saya bisa mengerti karena saya adalah anak perempuan satu-satunya yang tidak pernah berpisah dengan mereka.”

”Walaupun betah di negeri kami ini tentunya kau juga rindu kepada kedua orang tuamu.”

”Betul, Ibu. Tapi rindu itu terobati dengan panggilan telepon yang saya terima hampir setiap hari dari mereka itu. Kesibukan saya mengajar dan aktivitas sosial yang saya lakukan dengan Sorta juga membuat saya dapat meredam rasa rindu itu.”

Ketika Farro, Gertrude, Sorta dan kedua orangtua  Farro akan keluar dari pusat perbelanjaan itu, suara musik terdengar keras dari toko elektronik di seberang pusat perbelanjaan itu. Toko elektronik tersebut memang selalu memperdengarkan lagu-lagu yang memekakkan telinga. Hari mendung, isyarat akan jatuhnya hujan.

Tiba-tiba di depan pusat perbelanjaan pecah kerusuhan. Dua kelompok dari kampung yang berbeda saling melempar  batu yang mereka bawa. Ini dilanjutkan dengan bentrokan fisik yang cukup mencemaskan. Dari depan pintu keluar pusat perbelanjaan  tampak jelas orang-orang yang babak belur dan luka-luka. Ketika aparat keamanan tiba sambil melepaskan tembakan dan menyemprotkan air  bentrokan fisik tidak juga berhenti.

Dalam cuaca  mendung dan hujan deras  yang mulai turun kelompok kedua kampung masih terus adu kekuatan. Hujan deras yang tiba-tiba turun  tidak berarti apa-apa bagi mereka. Kedua kampung yang bersebelahan itu memang sering bentrokan, terkadang dua kali dalam sebulan sehingga aparat keamanan senantiasa siaga menghadapi bentrokan tersebut.

Tembakan terdengar lagi dan pada waktu bersamaan  terdengar keras jeritan lagu kebangsaan ”Indonesia Raya” dari toko elektronik di seberang pusat perbelanjaan. Perang tiba-tiba berhenti dan semua yang berperan dalam bentrokan juga mendadak berhenti. Orang yang berwajah sangar dari kedua kampung begitu pula aparat keamanan berdiri dalam sikap sempurna penuh khidmat selama lagu  itu terdengar. Gertrude tidak percaya terhadap apa yang dilihatnya. Ia benar-benar tidak percaya.

Dengan penuh percaya diri Gertrude mengungkapkan apa yang selama ini tersimpan rapat dalam batinnya. Kepada kedua orang tua Farro ia berkata dengan tenang.

”Apa yang saya lihat minggu lalu benar-benar mengharukan. Wajah-wajah keras yang ingin saling menghancurkan tiba-tiba tersentak ketika mendengar lagu kebangsaan itu. Begitu hormatnya mereka kepada lagu yang penuh semangat dan merupakan simbol negara itu.”

”Toko elektronik di seberang pusat perbelanjaan itu berhasil dengan eksperimennya. Saya dengar dari seseorang pemilik toko yang muak menyaksikan bentrokan terjadi hampir setiap dua minggu itu. Karena itu ia mencoba memutar lagu kebangsaan yang sangat dihormati, pada saat orang diamuk amarah. Ia ingin tahu apakah lagu itu dapat  meredam amarah mereka dan mereka memperlihatkan rasa hormat mereka kepada lagu  itu. Ternyata ia berhasil.”

Sebelumnya telah berbagai upaya dilakukannya tetapi tidak berhasil. Kini ia gembira karena usahanya  tidak sia-sia. Semua yang mereka yang mengadu fisik memperlihatkan rasa hormat itu  dengan tidak sedikit pun bergerak ketika mendengarkan lagu itu padahal ketika itu hujan deras turun. Kemudian ketika lagu itu selesai diperdengarkan mereka semua berlari ke arah yang  berlawanan sesuai dengan tujuan mereka. Tidak ada yang tahu apakah perang akan berlangsung lagi setelah hujan berhenti. Bagi saya itu tidak penting. Rasa hormat yang tulus itu telah mereka perlihatkan tanpa pretensi. Itu yang sangat berkesan bagi saya.”

Kedua orangtua Farro tidak memahami ke mana arah yang dituju Gertrude.

Perempuan berkulit putih itu melanjutkan kata-katanya:

”Itulah sebabnya Bapak dan Ibu saya belum dapat memenuhi permintaan Anda berdua. Berat buat saya mengganti paspor dilanjutkan dengan perubahan status kewarganegaraan saya.  ”Star Spangled Banner” yang diterjemahkan Farrow dengan ”Pataka Bertabur Bintang” itu, benar-benar belum dapat saya lepaskan dan menggantinya dengan yang lain. Terutama setelah menyaksikan yang terjadi minggu lalu itu. Mungkin nanti pemikiran saya berubah dan saya siap menjadi warga sejati di negeri ini.     Saya tidak tahu kapan itu akan terjadi.”

Kedua orangtua Farro baru memaklumi mengapa menantu mereka itu tetap ingin bernaung di bawah bendera bertabur bintang itu. Ia masih membutuhkan naungan itu. Ibu Farro berdiri. Gertrude juga berdiri, Perempuan setengah baya itu memeluk Gertrude.

”Apa pun pilihanmu kau  tetap menjadi menantu kami, Gertrude,” katanya lirih.

Sori Siregar lebih dikenal sebagai penulis cerpen walaupun ia juga menulis novel dan sejumlah tulisan di rubrik kolom berbagai media. Ia pernah dua kali mendapat penghargaan Dewan Kesenian Jakarta untuk novel-novelnya. Beberapa cerpennya juga terpilih dalam Kumpulan Cerita Pendek Pilihan Kompas. Kini ia menetap di Jakarta. Sejumlah cerpennya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

RE Hartanto lahir di Bandung, 1973. Lulus dari Jurusan Seni Murni FSRD-ITB tahun 1998. Hartanto mengelola Klinik Rupa Dokter Rudolfo yang didedikasikan bagi mereka yang ingin belajar menggambar dan melukis dalam disiplin realisme.

sumber : kompas.id, 30 Mei 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme