Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Batu di Pinggang Mak Ru oleh Damhuri Muhammad

Posted on Ming, 13 Jun 2021

Siapa pun laki-laki yang beranjak balig dan sudah malu pakai celana pendek, pasti akan berurusan dengannya. Ia akan mengukur lingkar pinggang, sela pisak, dan lingkar betis. Lalu mencatat angka-angka di buku mini di atas mesin jahit. ”Ini tak akan lama. Kau akan butuh celana lebih panjang, dan lebih panjang lagi,” katanya pada bocah kerempeng bernama Jun.

”Aku ngeri menjadi dewasa, Mak Ru. Aku ingin bertahan sebagai anak-anak!” jawab Jun, gugup.

”Eiit…. Kau tak bisa menolak, Jun. Kelak, pergilah jauh-jauh. Ayunkan langkahmu lebih jauh, lebih panjang dari semua celana panjangmu!” balas perempuan tua itu.

Begitulah. Kaki anak-anak itu makin panjang, langkah mereka makin lebar. Paling lama, ia hanya berkesempatan menggunting pola dan menjahit celana panjang bagi mereka, satu sampai lima kali. Setelah itu, Anjas, Kiren, Banja, Kemal, dan Jun tidak lagi bakal mampir ke kios jahitnya, karena satu per satu akan beranjak dari kampung di tepi sungai itu. Sebagaimana Jun yang merasa lebih riang dengan celana pendek, Anjas pun begitu adanya. Bedanya, alih-alih ngeri tumbuh dan membesar, ia malah ingin selekasnya menggapai dewasa, meskipun kedewasaan yang ia bayangkan tak akan ditandai oleh seberapa besar lingkar pinggang dari sebuah celana panjang. Anjas ingin menjadi pesepak bola seperti Paolo Maldini. Bukankah kepiawaian seorang jenderal lapangan tengah justru tampak nyata manakala ia bercelana pendek di lapangan hijau?

”Celana panjang jahitan Mak Ru ini hanya untuk menyenangkan hati ayah-ibu,” kata Anjas. ”Suatu masa nanti, aku akan mengangkat piala dalam posisi berdiri dengan celana pendek saja!” lanjutnya lagi. Mak Ru tersenyum ringan belaka, mendengar kentalnya kemauan Anjas hendak merumput di AC Milan.

”Tapi saat menerima Ballon d’Or, kau bahkan tak hanya butuh celana panjang, tapi juga dasi panjang, Njas,” bisik Jun di pangkal kuping Anjas.

Lain Jun dan Anjas, lain pula si Kemal, jebolan Madrasah Ibtidaiyah itu. Sejak duduk di bangku Tsanawiyah hingga ternobat sebagai alumni Madrasah Tarbiyah Islamiyah dengan predikat mumtaz, hampir setiap tahun ajaran baru ia memang rutin menyambangi kios jahit Mak Ru guna membuat celana panjang, tapi setiap kali meteran Mak Ru melingkari pergelangan kakinya, ia tak pernah lupa menegaskan bahwa celana panjang bikinan Mak Ru yang melekat di tubuhnya sekadar tanda bahwa ia sudah dewasa, tetapi ketersampaian cita-citanya justru akan dimahkotai oleh sarung yang diketatkan dengan gesper di bawah pusarnya.

”Akan tiba saatnya, orang-orang mengenaliku bukan dari pola jahit celana panjang karya Mak Ru. Sebab, aku akan menjadi mubalig sejuta umat seperti KH Zainuddin MZ,” ungkap Kemal dengan penuh percaya diri.

”Oh, jika begitu kau akan lupa celana panjang model A Rafiq bikinanku, Mal?” goda Mak Ru, bercanda.

”Aku akan merindukan Mak Ru dari suara derit mesin jahit menjelang dini hari,” batin Kemal.

Di kios jahit yang sama, kepada Banja dan Kiren, Mak Ru pernah menceritakan tentang mendiang suaminya yang dulu adalah seorang qori terbaik, dan sudah malang melintang dari mimbar ke mimbar MTQ. Tak seperti laki-laki lain yang doyan nongkrong berlama-lama di kedai kopi, atau berburu babi hutan setiap akhir pekan, Ngku Yuliswar hanya punya dua kegemaran, yang bila dipertemukan akan terasa amat bertolak belakang, yakni mengaji tilawah dan bermain sepak bola. Dari panggung Musabaqah Tilawatil Quran, Ngku Yuliswar tak pernah pulang tanpa menenteng piala. Lemari pajangan di rumahnya sampai miring ke kanan, lantaran beratnya beban dari jejeran piala-piala itu. Sementara di klub sepak bola PS Aroma (Arak-Oper-Masuk), ia adalah kapten kesebelasan dengan nomor punggung 10.

”PS Aroma tanpa kapten Yuliswar seperti tilawah tanpa qalqalah…,” ungkap Mak Ru, bangga. Kerja sama tim tidak bisa padu tanpa arahan dan petunjuk si nomor punggung 10. Alih-alih menjebol gawang lawan, bila kapten Yuliswar cedera, atau katakanlah absen lantaran sedang bertanding di panggung MTQ, PS Aroma dipastikan bakal babak belur digempur serangan balik bertubi-tubi. Adapun yang paling menakjubkan, sepanjang kariernya menggiring si kulit bundar, tiada sekali pun ia diganjar kartu kuning. Itu sebabnya Ngku Yuliswar pernah dijuluki pemain tanpa dosa.

Sementara di gelanggang musabaqah, qori Yuliswar adalah cahaya yang senantiasa berpendar. Di mana ada Yuliswar, kontingen MTQ yang seluruh anggotanya pemegang ijazah dari universitas ternama Madinah sekalipun, tiada mungkin dapat menganggap Yuliswar sebagai saingan kaleng-kaleng.

Betapa tidak? Ia bisa membereskan tilawah 3,5 ayat dalam satu entakan napas, dengan cengkok suara yang membuat semua bulu kuduk pendengar berkibar. Yuliswar adalah qori istimewa yang amat beruntung dianugerahi kerongkongan yang begitu lapang hingga bisa menyimpan stok napas di situ. Sungguh tak dapat dimutlakkan apakah langgam tilawahnya berasal dari Pakistan, Baghdad, atau Maroko. Sebab, ia seperti merancang corak tilawahnya sendiri. Menurut para pengamat, formulasi tilawahnya dirangkai dari serpihan ratapan ibu-ibu yang kematian anak di usia belasan. Meliuk-liuk seperti batang pimping di tepi sungai, menikam-nikam perasaan.

”Sebagai raja tilawah, suamiku tampil dengan jas dan sarung Makassar. Dan sebagai kapten PS Aroma, ia dipuja dalam tongkrongan laki-laki bercelana pendek. Sementara aku tak pernah jemu menggunting kain guna membuat celana panjang untuknya,” kata Mak Ru sambil menatap Banja dan Kiren.

”Kalau begitu ceritanya, kenapa mendiang suami Mak Ru tidak mengabdikan dirinya sebagai guru tilawah di kampung tepi sungai ini?” tanya Kiren. Penasaran.

”Atau kenapa ia tidak terpanggil untuk berkhidmat sebagai pelatih sepak bola saja di sini? Supaya ia bisa mencetak talenta-talenta baru yang barangkali dapat mengantarkan Anjas ke hadapan manajer AC Milan?” lanjut Banja.

Konon, suara emas itu pula yang membawa Yuliswar bertolak ke negeri orang. Seorang saudagar kaya yang masa itu baru selesai membangun masjid pribadi, datang ke kampung tepi sungai, khusus untuk meminta kesediaan si qori berlimpah piala menjadi Imam Besar di masjid itu. Tentu dengan iming-iming yang jauh di atas rata-rata pendapatan Yuliswar sebagai kapten PS Aroma.

”Makmurkanlah masjid saya! Tuhan dan saya akan memakmurkan hidup Engkau, Wahai Ngku Yusliswar!” mohon saudagar bernama Haji Mustafa Lutfi Al-Banjari itu. Semula Yuliswar berat hati meninggalkan anggota kontingen musabaqah. Lebih berat hati lagi meninggalkan PS Aroma tanpa kapten, tapi posisi sebagai Imam Besar tentulah dapat membereskan sekian banyak persoalan.

”Saya akan membangun klub tua ini dari kejauhan. Sepanjang lapangan hijau masih terhampar luas, kalian berlatihlah guna membawa Aroma ke puncak kejayaan!” kata Yuliswar kepada para juniornya. ”Dirikanlah lembaga pendidikan tahfiz dan tilawah. Akan saya topang setiap ikhtiar kalian dari ranah seberang!” Itulah kalimat terakhir yang sempat didengar oleh para anggota kontingen musabaqah.

”Ngku Yuliswar bakal didaulat sebagai Imam besar di Tanah Banjar, kenapa Mak Ru dan anak-anak tak turut pula ke sana?” tanya Jun sekali waktu.

”Kalau saya jadi anak Mak Ru, saya tidak mau ditinggal begitu saja!” gumam Anjas.

”Mak Ru gamang hidup di negeri orang? Atau Mak Ru berat hari meninggalkan gulungan benang dan pedal mesin jahit?” Kiren menambahkan, sambil tertawa terpingkal-pingkal.

Mak Ru membalas tanya-tanya nyinyir itu hanya dengan helaan napas dalam. Ia bukan keberatan turut serta bersama Ngku Yuliswar. Hanya saja masa itu suaminya berangkat terlebih dahulu. Selang beberapa bulan kemudian, ia berjanji akan pulang menjemput Mak Ru dan anak-anak. Perempuan tua itu berpegang teguh pada janji dari qori tak terkalahkan dan kapten PS Aroma yang sudah teruji keteladanannya.

”Kau siapkan segala sesuatu guna memboyong anak-anak. Bila aku tidak pulang untuk melunaskan janji ini, berarti aku sudah mati!” ungkap Ngku Yuliswar.

Bulan demi bulan pun berganti. Tahun demi tahun berlalu. Ipit, putri sulung Mak Ru yang mewarisi suara ajaib ayahnya, bahkan tidak lagi menyanyi di pentas Gambus sebagaimana biasa, setelah dipersunting oleh tauke Pinang dari kampung sebelah, Ngku Yuliswar tak kunjung datang menjemput. Begitu pula dengan Jasrul, adik laki-laki Ipit, sudah pergi dari rumah setelah menikah, suami Mak Ru itu belum tiba juga. PS Aroma sudah lama bubar. Kontingen musabaqah mencari peruntungan sendiri-sendiri, sebagaimana jalan yang kemudian juga ditempuh oleh Mak Ru. Hidup sendirian, menginjak pedal mesin jahit sepanjang hari.

”Orang yang kerongkongannya sudah pernah basah oleh air tanah seberang, akan lupa jalan pulang,” kata Ipit pada Mak Ru.

”Baiklah. Akan saya antarkan Mak ke sana, tapi apakah Mak sanggup melihat saya bersalaman dengan ibu tiri?” tanya Jasrul.

Guna membasmi letih penantian, Mak Ru berkeputusan untuk tidak lagi menunggu orang-orang terdekat. Tidak kepulangan suami, tidak pula kedatangan Ipit dan Jasrul yang sudah sibuk mengurus rumah tangga masing-masing. Ngku Yuliswar tak pulang-pulang, bukan karena ia sudah mati sebagaimana ikrarnya dulu, tapi karena Imam Besar asal kampung tepi sungai itu menikah lagi di sana. Kalaupun beberapa tahun kemudian ia dikabarkan telah meninggal, itu terjadi jauh setelah ia memproduksi empat orang anak di Tanah Banjar. Kabar kematian itu tidak lagi mengguncang perasaan Mak Ru.

Bila masih ada penantian, itu tak lebih dari anak-anak beranjak balig yang datang ke kios jahitnya yang makin reyot itu, membawa bahan kain untuk dijahit sebagai celana panjang, hingga sampailah ia pada generasi Jun, Anjas, Kiren, Banja dan Kemal. Masa itu pun sudah lama berlalu. Yang tersisa di buku catatan usangnya hanya garisan pola dan ukuran-ukuran pisak celana panjang mereka. Masing-masing dibedakan berdasarkan tahun ajaran tsanawiyah dan aliyah. Samar-samar masih terdengar tausiyah ustaz kondang Kemal Ataturk dari radio dua band yang tersemat di dinding kios jahit Mak Ru. Gelombang radio yang menyiar-ulangkan tausiyah-tausiyah itu tak pernah bergeser dari posisinya. Seolah-olah isi siaran radio yang sampai ke kampung tepi sungai hanyalah rekaman-rekaman tausiyah ustaz Kemal Ataturk.

Pernah pula Mak Ru mendengar sorak-sorai dan yel-yel penghormatan dari anak-anak muda kampung tepi sungai setelah tersiar kabar tentang aksi penyelamatan tak terduga oleh bek tangguh tim nasional bernama Anjas Cannavaro. Anak-anak datang dan pergi. Yang lama terbang hambur dari kampung tepi sungai, tapi yang baru akan tiba lagi. Terus begitu, hingga mata penjahit itu kian menua. Pinggangnya sudah rapuh digasak batu ginjal. Tapi kakinya tak kunjung berhenti menginjak pedal mesin jahit. Meski sekadar celana belacu atau taplak meja dari kain sisa-sisa.

Sekali waktu, saat mengantarkan jahitan celana belacu ke rumah tetangga, sekilas Mak Ru melihat sosok lelaki di layar TV. Agak ragu dengan raut muka lelaki matang itu, tapi ia ingat betul pola jahit kantong samping celananya. Persis seperti bikinannya.

”Jun. Itu Jun!” gumam Mak Ru. Bocah yang dulu takut dewasa itu, kini sedang berdiri di podium, menjelaskan duduk perkara alat pemecah batu ginjal mutakhir, temuannya. Bagi orang sepenting Jun, manalah mungkin ada ruang guna mengingat penjahit renta itu. Tapi corak kantong celana itu, pola jahitan penutup ritsleting itu…. Merujuk pada bikinannya dulu. Sepi hari senja Mak Ru dan sakit menahun lantaran batu ginjal, kini terisi oleh haru-bangga dan decak kagum saat profesor Jun bicara di layar kaca. Masih ngeri kau jadi orang dewasa, Jun?

Poncol, Tanah Baru, 2020

Damhuri Muhammad adalah cerpenis, esais, dan kolumnis. Bermukim di Depok, Jawa Barat. Lahir di Padang, 1 Juli 1974. Alumnus Pascasarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pengajar di Universitas Darma Persada, Jakarta.

Made Kaek, lahir di Denpasar, 23 Januari 1967. Perupa yang aktif berpartisipasi dalam sejumlah pameran bersama di dalam dan luar negeri sejak tahun 1991. Pameran tunggalnya, antara lain, Made Kaek #50 di VIN Seminyak-Bali (2017) dan Amorf Made Kaek di Jimbaran HUB (2021). Menerima penghargaan, antara lain, Citra Usadha Indonesia Foundation Award pada 1995. Buku karya 4 + 1 = Venezia diterbitkan pada 2004.

sumber : kompas.id, 13 Jun 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme