Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pos Kambing Ti-Ji Ti-Beh oleh Akhmad Sekhu

Posted on Sab, 19 Jun 2021

Lebaran Haji sebentar lagi. Banyak orang yang menjadi juragan kambing dadakan. Terutama di desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, yang banyak orang sontak menjadi aktif sekali mencari kambing kesana-kemari untuk dibeli dan kemudian akan dijual di Hari Raya Idul Adha. Keuntungannya lumayan, meski mereka harus bersaing dengan juragan-juragan kambing yang sudah bangkotan, sudah sangat pengalaman, yang pekerjaannya jual-beli kambing.

Bejo dan Sugeng juga ikut-ikutan jadi juragan kambing dadakan. Si kembar yang biasanya kerja serabutan, tak menentu, kadang jadi petani penggarap mengerjakan sawah orang, kadang pula jadi belantik motor, tapi kini beralih profesi sebagai juragan kambing dadakan. Dibandingkan dengan orang-orang kebanyakan, mereka berdua termasuk yang paling aktif mencari kambing kesana-kemari.

Modal kembar yang memungkinkan Bejo dan Sugeng dapat menguasai pembelian kambing ke berbagai penjuru kampung Jatibogor, bahkan sampai ke tetangga-tetangga kampung, hingga sekecamatan Suradadi, bahkan se-Kabupaten Tegal. Si kembar yang terkenal cerdik seperti Kancil itu menjadi juragan kambing dadakan akan mampu mengalahkan persaingan dengan juragan-juragan kambing yang sudah bangkotan.

Salah seorang juragan bangkotan, yakni Juragan Roji, yang sudah sangat terkenal kebangkotannya sampai kalah dalam penguasaan kambing.

”Maaf, Gan, tadi kambing-kambing saya sudah dipesan Mas Bejo,” ucap Pak Sanali pemilik kambing.

”Lho, bukannya tadi saya lihat Mas Sugeng yang ke sini?” Juragan Roji serta-merta mempertanyakan.

Pak Sanali tentu jadi bingung dibuatnya dan hanya bisa garuk-garuk kepala karena memang tidak titen, tidak tahu persis, pada duo kembar, apakah tadi yang datang memesan kambing itu Bejo atau Sugeng? ”Maaf Pak, saya tidak tahu persis yang datang ke sini tadi Bejo atau Sugeng? Karena orang kembar memang sulit dibedakan,” kata Pak Sanali.

”Saya sangat senang kambing-kambing saya diborong semua,” imbuh Pak Sanali memperlihatkan wajahnya yang begitu cerah berseri-seri.

”Wah kok diborong semua?” Juragan Roji kembali mempertanyakan, kemudian protes, ”Nanti Lebaran Haji saya jualan apa?”

”Pak Roji terlambat datangnya sih!” Pak Sanali menyalahkan.

”Bukan saya yang terlambat, tapi si kembar itu yang licik,”

”Licik bagaimana?”

”Saya dan juragan-juragan kambing lainnya ke tempat orang yang punya kambing selalu saja keduluan dengan si kembar, apakah itu Bejo atau Sugeng, orang yang punya kambing mengaku tak tahu persis karena yang penting kambingnya diborong semua,” papar Juragan Roji. ”Kalau begini, nanti Lebaran Haji kita jualan apa?”

”O,” Pak Sanali hanya bisa melongo.

”Atau, begini saja, bagaimana kambing-kambingnya dibagi dua?” usul Juragan Roji.

”Maaf tidak bisa, Gan, karena siapa cepat dia yang dapat,” Pak Sanali mengelak.

”Tapi saya kan sudah puluhan tahun langganan beli kambingmu,” Juragan Roji mendesakkan pendapatnya. ”Jangan karena ulah juragan kambing dadakan yang sok borong kambing sana-sini membuat pasaran kambing jadi gonjang-ganjing…”

”Iya tapi sudah duluan si Kembar yang beli,” Pak Sanali kekeh, ”Saya sudah pegang janji kalau kambing-kambing ini sudah diborong semua si kembar.”

Kalau diplomasi dalam transaksi sudah mentok begini Juragan Roji tahu sekali ”syarat” sebagai tanda untuk menutup mulut dan dengan tanpa basa-basi lagi langsung ia selipkan beberapa lembar ratusan ribu ke saku baju Pak Sanali, ”Sudahlah, kita tahu sama tahu.”

”Iya dah,” ucap Pak Sanali tampaknya tak bisa mengelak, apalagi saku bajunya terisi, setengah pasrah dengan senyum cerah, buru-buru langsung serahkan sebagian kambing miliknya pada Juragan Roji.

”Kali ini saya minta Juragan Roji pegang janji, jangan bilang siapa-siapa ya,” imbuh Pak Sanali memohon pengertian.

”Tenang saja!” tegas Juragan Roji sambil kembali menyelipkan selembar ratusan ribu ke saku ke Pak Sanali untuk lebih memuluskan sebagai bentuk terima kasih.

***

Besoknya, salah seorang kembar mendatangi Pak Sanali, kedatangannya memang mengecek borongan pembelian kambingnya, tapi masih tetap menyembunyikan jati dirinya, apakah Bejo atau Sugeng, karena memang siasatnya sengaja dibuat demikian. Tapi sebagai juragan kambing dadakan terpaksa harus mengaku kalah siasat dengan juragan kambng bangkotan yang punya 1001 cara dalam transaksi pembeliannya.

”Wah, wah, Pak Sanali, kenapa kambing pesanan saya kok jadi berkurang?” ucap Sugeng tampak mencak-mencak tak terima melihat kambing yang sudah dipesan berkurang. Mata dan tangannya jelalatan menghitung kambing-kambing yang berjejalan tak tenang di kandang yang sangat sempit.

Saya dan juragan-juragan kambing lainnya ke tempat orang yang punya kambing selalu saja keduluan dengan si kembar, apakah itu Bejo atau Sugeng, orang yang punya kambing mengaku tak tahu persis karena yang penting kambingnya diborong semua.

Pak Sanali tentu saja jadi kalang kabut dan sekenanya langsung mempertanyakan. “Pesanan kapan?”

”Ya, pesanan yang kemarin.”

”Sepertinya kemarin bukan kamu yang datang ke sini,” selidik Pak Sanali dengan mata berkenyit-kenyit, ”Tapi saudara kembarmu…”

”Kok Pak Sanali bicara begitu? Masa tidak mengenali saya?”

”Saya tidak tahu persis situ Mas Bejo atau Mas Sugeng.”

”Tapi saya masih ingat kalau saya pesan sebelas kambing tapi kok tinggal enam kambing, yang lima kambing lagi ke mana?”

”Maaf, kambing milik saya hanya enam. Lainnya titipan orang.”

”Kemarin katanya semua kambing milik Pak Sanali.”

”Kambing saya memang hanya enam saja.”

”Ah, Pak Sanali tidak bisa dipercaya.”

***

Untuk tempat penjualan kambing juga si kembar lebih dulu mendapatkan tempatnya, yang paling strategis dekat sekali dengan pasar. Juragan Roji tentu jadi mencak-mencak lagi karena kembali didahului si kembar lagi.

Sayangnya, sejak wabah pandemi Covid-19 daya beli masyarakat berkurang sehingga beberapa hari menjelang hari H Lebaran Haji masih banyak kambing yang belum bisa terjual. Si kembar jadinya kebingungan dan sangat kewalahan untuk tempat penampungan kambingnya karena halaman rumahnya yang tak seberapa lebar sudah penuh dengan kambing, bahkan masih banyak kambing yang tidak tertampung.

”Kamu sih beli kambing banyak-banyak jadinya begini,” Sugeng menyalahkan.

”Ah, kau ini, kalau rugi sukanya menyalahkan aku, tapi kalau untung mana pernah mau memuji aku,” Bejo tak terima disalahkan.

”Mestinya kita lihat kondisi, pandemi Covid sekarang ini, orang-orang jangankan beli kambing, karena untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sekarang ini sudah sangat susah,” Sugeng semakin memojokkan.

Bejo tentu saja tidak terima, ”Mana saya tahu keadaannya jadi seperti ini?!”

”Kalau sudah begini, mau ditaruh di mana kambing-kambingnya?”

Kening Bejo berkerut tampak berpikir keras untuk secepatnya harus dapat menyelesaikan masalah tempat penampungan kambing-kambingnya.

”Bagaimana kalau kambingnya ditampung di pos kamling?” Bejo mengusulkan.

”Pos kamling? Apakah boleh untuk menampung kambing?” Sugeng berulangkali memberondong pertanyaan karena ia sudah dibuat pusing dengan kambing-kambing jualannya yang harus secepatnya ditampung.

”Namanya saja kita dalam keadaan darurat jadi bisalah dimaklumi pos kamling untuk menampung kambing,” papar Bejo tampak berusaha keras meyakinkan saudara kembarnya. Untuk urusan berpikir, Bejo memang yang selalu diandalkan. Meski kembar tak selalu sama, masing-masing punya keahlian dan spesialisasi sendiri-sendiri.

”Okelah kalau begitu!” Sungeng kini terpaksa setuju, meski hatinya masih diayun keraguan.

***

Tak lama setelah diputuskan untuk menampung kambing di pos kamling, si Kembar cepat-cepat mengecek pos kamling. tapi ternyata sudah keduluan dengan Juragan Roji yang menambatkan kambing-kambing jualannya. Si Kembar kini kembali harus mengakui kekalahan dengan juragan bangkotan itu.

”Kamu sih yang beli kambing banyak-banyak jadinya begini,” Sugeng kembali menyalahkan saudara kembarnya. Tapi Bejo kini tak lagi terpancing emosi karena ia sudah punya rencana untuk bisa mengusir kambing-kambing milik juragan bangkotan itu. Bejo punya banyak plan, banyak rencana, kalau plan A gagal, maka secepatnya harus move on untuk menjalankan plan B, otaknya memang encer.

”Tenang saja, semua masalah serahkan sama aku, pasti beres semua,” bisik Bejo mendekat ke telinga saudara kembarnya yang tampak mengangguk-angguk langsung setuju-setuju saja.

***

Malamnya, Bejo segera menjalankan plan B dengan mengendap-ngendap di balik semak-semak dan tatapan tak lepas ke arah pos kamling untuk menunggu saat yang tepat langsung melancarkan aksinya. Anak buah Juragan Roji yang menjaga kambing di pos kamling tampak sedari tadi sudah mulai menguap-nguap terus diserang rasa kantuk yang amat sangat. Tinggal tunggu tidurnya barulah aksi plan B dieksekusi.

Dalam menjalankan plan B, Bejo memang tak hanya harus ekstra sabar menunggu orang yang jaga kambing di pos kamling itu tidur, tapi juga harus tahan menghadapi nyamuk-nyamuk liar yang begitu sangat banyak di semak-semak, meski sudah diolesi obat anti-nyamuk, tapi tampaknya masih ada juga nyamuk yang digdaya bisa menggigitnya.

Untuk mengeksekusi plan B, Bejo cukup dengan membawa cat pilox. Begitu orang yang jaga kambing di pos kamling itu tidur, Bejo buru-buru mencoret tulisan ”Pos Kamling” dan kemudian langsung diganti menjadi tulisan ”Pos Kambing”.

***

Besoknya, saat Juragan Roji ke pos kamling untuk memantau kambing yang akan dijual ke pasar, wajahnya tampak cerah, tapi begitu melihat papan yang bertuliskan ”Pos Kamling” berubah menjadi ”Pos Kambing” sontak ia jadi marah-marah.

”Siapa yang bikin ulah itu?” tanya Juragan Roji dengan nada suara meninggi tampak begitu sangat marah, tapi anak buahnya yang menjaga kambing di pos kamling itu diam saja.

Juragan Roji memang sangat tersinggung pada tulisan pos kamling yang diubah jadi pos kambing dan serta-merta hari itu juga langsung memutuskan untuk memindahkan kambingnya dari pos kamling.

Melihat kenyataan demikian, tampak dari kejauhan, Bejo yang merasa menang itu buru-buru memberitahukan kepada Sugeng. Tapi saudara kembarnya bukannya menyambut kemenangannya, melainkan malah kembali menyalahkan.

”Bejo, Bejo, memangnya dengan kamu bisa membuat Juragan Roji langsung memindahkan kambingnya dari pos kamling, kita bisa menampung kambing-kambing kita disitu?”

”Ya kan pos kamlingnya sekarang sudah kosong jadi tinggal kita isi dengan kambing-kambing milik kita.”

”Hahaha, Bejo, Bejo,” Sugeng tergelak menertawakan, kemudian menerangkan.

”Memangnya kamu tidak malu dengan tulisan pos kamling berubah menjadi pos kambing?”

”Oh, iya, “ Bejo menepuk keningnya menyadari diri.

”Apa yang kamu lakukan itu namanya ti-ji ti-beh, mati siji mati kabeh, mati satu, mati semuanya,”  Sugeng menyimpulkan, kemudian langsung memberikan hukuman, ”Beberapa kambing yang tidak tertampung di halaman rumah harus kau masukkan ke kamarmu sendiri.”

Bejo kini hanya bisa pasrah harus menanggung hukuman atas kesalahan yang diperbuatnya dan membayangkan bagaimana rasanya harus tidur bersama kambing-kambing yang akan membuat badannya bau sekali seperti orang yang tidak mandi berhari-hari.

Desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, 2021

***

Akhmad Sekhu, lahir 27 Mei 1971 di Desa Jatibogor, Suradadi, Tegal. Novelnya: Jejak Gelisah (2005), Chemistry (2018), dan Pocinta (siap terbit).

sumber : kompas.id, 19 Jun 2021.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme