Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Radio Transistor oleh Akbar Faizal

Posted on Ming, 04 Des 2005

Hujan sore tadi masih menyisakan genangan di jalan becek yang memotong kampung di pinggiran sungai pada kaki bukit. Selain perahu penyeberangan yang ditarik tambang antara kedua sisi sungai, tak ada penduduk yang berani menyeberang dengan perahu kecil lainnya terutama pada musim seperti saat ini.

Hari ini bulan ketujuh sejak Hamid hilang tertelan arus sungai yang membelah kampung itu. Sejak sebuah perusahaan milik orang kota menebang pohon di gunung tepat ke arah matahari terbenam itu, arus sungai menjadi sangat deras. Paling berbahaya sebab batangan pohon sering ikut menerjang apa saja yang menghalanginya. Iman desa Basari pernah ditemukan pingsan dihantam batangan pohon yang hanyut itu saat berak di pinggir sungai. Beruntung ia tidak terbawa arus dan menjadi mangsa buaya putih yang dipercaya penduduk kampung sebagai penjaga sungai itu entah sejak kapan.

Beberapa kali terdengar suara gedebuk dari kebun belakang. Buah kelapa yang matang tak kuat lagi bergelantungan di pohonnya sehingga harus rela jatuh ke bumi menimbulkan bumi gedebuk tadi. Tak ada yang peduli. Selain pohon cokelat yang tumbuh serampangan, pohon kelapa menjadi penghasil kopra dan menjadi pendapatan lain selain padi dan jagung bagi penduduk kampung itu. Beberapa keluarga menanam ubi jalar dan ketela di antara pohon cokelat. Beberapa ratus meter ke arah bukit, terdapat pekuburan yang berbatasan langsung dengan hutan lebat. Tak banyak penduduk yang suka datang ke pekuburan itu, selain untuk memakamkan warga kampung yang meninggal. Terlalu angker, kata mereka.

Kampung sebenarnya telah mati bersamaan saat matahari jatuh ke ufuk barat. Surau yang lebih banyak kosong berdiri rapuh di ujung jalan menghadap ke timur. Beberapa rumah terlihat masih menyisakan aktivitas. Terdengar suara bercakap dari penghuninya diselingi gerakan lampu minyak kemiri yang sering-sering hampir padam terkena angin dari sela-sela dinding rumah. Dinding rumah penduduk yang bisa dihitung dengan jari tangan dan kaki memang jarang-jarang. Itulah mengapa angin malam yang dingin menggigit bisa dengan leluasa memainkan api lampu kemiri yang menjadi penerang utama rumah-rumah penduduk. Aktivitas pemilik rumah juga dengan mudah terlihat dari luar. Hampir-hampir tak ada privacy. Bahkan, aktivitas di atas tempat tidur pun bisa terlihat dari sela-sela dinding rumah yang tak pernah tersentuh alat serut kayu.

Nenek Lido masih merapikan jagung-jagung kering sisa kebun yang dipetiknya tiga hari lalu. Rencananya, jagung yang telah mengeras itu akan ditumbuk di lesung kayu miliknya tepat di bawah pohon samping kandang dua ekor kambing miliknya di belakang rumah. Kakek Lido, suaminya, sangat gemar menyantap nasi campur jagung meskipun hanya berlauk ikan asin dan sayur daun berbumbu segenggam garam kasar.

Dua anak gadisnya, Jona dan Warni, berusaha menggotong pisang yang masih basah sisa hujan ke loteng darurat, tepat di atas ranjang keduanya. Jona yang lebih tua memanjat loteng terlebih dahulu untuk menarik ke atas sementara Warni adiknya mengusung pisang dari bawah. Dua orang gadis tangguh. Tak hanya secara fisik, tapi juga ketegaran menghadapi kemiskinan. Sesekali Nenek Lido memandang kedua anak gadisnya dari arah belakang. Ia masih sering memendam keinginan menggendong mereka dalam buaian kasihnya seperti ketika ia melahirkan mereka berdua. Nenek Lido melahirkan Jona ketika usianya telah mendekati masa menopause. Puluhan tahun ia menunggu kehadiran anak- anaknya. Tak terhitung dukun yang didatanginya. Ia telah hampir putus asa ketika Jona mulai ia hamilkan. Nenek sangat mencintai kedua putrinya itu meskipun orang-orang kampung sering kali menggunjingkan usianya yang tidak lagi muda.

Tak lama, upaya Jona dan Warni berhasil dan pisang bisa digantung di sebilah bambu yang dipasang melintang di loteng. Jona sempat berbalik ke belakang sebelum turun ke lantai bawah. Ujung telinganya seakan mendengar tarikan nafas di balik timbunan daun jagung yang menjadi dinding penahan angin di loteng bagian belakang. Tak ada apa-apa. Gelap.

Kakek Lido tak pernah beranjak dari tempatnya, kursi kayu sekaligus ranjang tempat tidurnya. Sudah tiga belas tahun dia menikmati hari-harinya di situ. Saat istrinya membopong pisang, jagung atau hasil bumi kebun mereka ke pasar untuk di jual dengan berjalan kaki sejauh empat kilometer setiap Rabu, Kakek Lido tak pernah jauh beranjak dari tempatnya. Ia hanya gelisah jika suara radio transistor yang menjadi temannya sejak lama sekali mulai suak. Kakek Lido tak akan bisa tidur tanpa radio itu di samping kepalanya. Tak peduli apakah siaran di radio transistornya ia mengerti maksudnya. Tapi dunia seakan menjadi miliknya jika suara Elia Khadam melantun meskipun sesekali suara radio melengking akibat gelombang radio lagi jelek.
Iklan

Nenek Lido bertubuh subur. Meskipun giginya hanya tersisa tiga buah di bagian kanan atas dan kiri bawah, senyum tak pernah hilang dari wajahnya. Konon, nenek Lido dulu cantik. Banyak jawara kampung dulu mencoba mendapatkan cintanya. Tapi ia dengan tulus menerima pinangan kakek Lido sesuai keinginan ayahnya. Kata ayahnya, terlalu bodoh untuk menolak pinangan Lido muda. Rajin shalat dan punya empat ekor sapi gemuk. Lagipula, mana ada anak gadis di kampungnya yang berani melawan keinginan orangtuanya. Cerita tentang kecantikan itu mungkin saja benar sebab dua anak gadisnya manis, segar, dan kuat seperti ibunya.

Malam semakin dingin dan Nenek Lido berusaha menegakkan badannya untuk menuju ke ranjangnya. Dari kamar bagian tengah yang hanya dibatasi selembar kain bekas seprei yang tak lagi terpakai, dua anak gadisnya tak lagi terdengar suaranya kecuali derit ranjang kriaak… kriuuuk setiap ada pergerakan di atasnya. Kakek Lido tenggelam dalam buaian lagu entah siapa dari radio transistornya. Tapi kakek belum tertidur. Batuknya masih bersahut-sahutan pada beberapa jeda waktu.

”Kamu pinjam alu Puang Daha’ besok pagi. Alu kita patah,” Nenek Lido mematikan nyala lampu minyak kemiri yang terselip di tiang rumah. Tak jelas ia berbicara dengan siapa.

”Kata Nisa, kambing yang hitam kemarin makan bangkai di dekat kuburan. Coba kamu periksa apa dia terkena racun dari bangkai itu,” kata Nenek Lido lagi. Kakek Lido hanya menggerakkan tubuhnya di ranjang mininya pertanda mengerti perintah Nenek. Nenek Lido adalah kepala keluarga yang sebenarnya. Ia roh bagi keluarganya sekaligus pencari nafkah. Tak pernah ia mengeluh dalam hidupnya. Tidak juga ketika Kakek Lido memutuskan menjual dua petak sawah warisannya beberapa tahun lalu untuk selanjutnya membeli radio transistor dan sedikit diserahkan kepada istrinya untuk selanjutnya menikmati hari-harinya dengan radio transistornya. Tak pernah pula ada protes dari kedua anak gadisnya atas semua beban dan peran yang diemban ibunya. Mana berani keduanya masuk ke wilayah peran kedua orangtuanya? Semuanya seperti berjalan alamiah.

Malam merangkak jauh dan dingin semakin menggigit. Hujan mulai turun lagi meski tak sederas sore tadi. Nenek Lido agak gelisah tidurnya. Ia sempat ke dapur dalam gulita untuk mencari sesuatu. Tapi kedua anak gadisnya telah lelap. Terdengan pelan suara krek… krreek… krreeek dari loteng. Sekelebat bayangan melompat ke tiang tengah rumah tepat di atas kamar Jona dan Warni. Rumah panggung itu bergerak. Nenek Lido menggerakkan kepala di atas bantal kusamnya seakan mendengar atau merasakan sesuatu. Akh, angin semakin kencang, pikirnya. Anjing melolong bersahut-sahutan di ujung kampung tepat dari arah kuburan. Tak terdengar suara apa-apa kecuali hujan yang jatuh ke atap rumbia, namun tak cukup keras untuk mengalahkan suara radio transistor Kakek Lido. Tiba-tiba.

”Siapa kamu? Aaakkhh… Kindo,” Jona dan Warni menjerit. Seseorang bertubuh besar bersarung dan berbaju kaus hitam berusaha menindih tubuh Jona. Warni melompat ke luar kamar dan berlari ke ranjang ibunya di dekat dapur. Jona berusaha melepaskan diri dari bekapan lelaki yang mendengus keras. Baju Jona telah robek di bagian depan.

Nenek Lido melompat dari tempat tidurnya. Rambutnya yang telah memutih di sana-sini berurai panjang kusut. Tak dihiraukan sarungnya melorot dan menyisakan celana pendek besarnya menggelantung tak beraturan di perutnya yang bergelambir.

”Siapaa…?” teriaknya setengah melompat.

”Siapa yang berani memegang anakku?” Nenek Lido telah sadar apa yang terjadi. Warni meringkuk di dekat ranjang ibunya sambil menangis.

Dengan keras, Nenek Lido menarik baju lelaki besar yang hampir berhasil memeloroti pakaian Jona. Lelaki itu tersentak keras. Kini ia menghadapi Nenek Lido dengan marah. Matanya berkilat menahan nafsu dan amarah. Nenek Lido mengenalinya: Rappe. Dengan sekali mengayunkan tangan, Rappe, jawara kampung sebelah, menempeleng wajah Nenek Lido dengan keras hingga terhuyung ke atas onggokan daun jagung sisa pekerjaannya tadi sore. Tapi Nenek Lido bisa bangun dan berhasil mencengkeram baju lelaki itu. Sebuah tendangan di bagian muka merontokkan gigi terakhir Nenek Lido. Dari arah belakang, Jona berteriak marah sambil memukulkan bambu obor yang selalu terselip di dinding kamarnya. Rappe semakin marah. Jona tertampar keras di bagian wajah sebelah kiri hingga terjengkang ke belakang.
Iklan

Nenek Lido melengking marah. Ia melompat menghalangi Rappe yang akan menarik Jona. Rumah panggung itu bergoyang keras. Dalam gelap, Nenek Lido sedang bertarung mempertahankan permata hatinya. Rappe mundur. Wajahnya mengilat bengis dalam gelap malam. Ia tiba-tiba menarik sesuatu dari balik bajunya. Sebilah pedang pendek. Nenek Lido tetap berdiri membelakangi Jona yang menangis ketakutan.

Dalam gelap, sekelebat Rappe bergerak ke depan dengan tangan teracung dengan pedang di tangannya. Tak ada ruang bagi Nenek Lido untuk menghindar atau Jona tertebas di belakangan. Maka, dengan secepat kilat, nenek melompat ke depan menyambut tubuh Rappe. Terjadi tubrukan keras dan keduanya jatuh ke lantai. Dengan cepat Nenek Lido memegang tangan kanan Rappe dan membalikkan tubuhnya ke depan pintu kamar. Rappe kini terdesak dan berusaha menarik tangannya dari pegangan Nenek Lido. Cresss… Berhasil. Secepat kilat Rappe melompat ke pintu belakang dan menghilang ke dalam gelap dan hujan yang semakin deras. Jona melompat memeluk ibunya sambil meraung tangis, ”Kindo…..”. Warni tetap menangis di kamar ibunya dengan penuh ketakutan.

”Dia sudah pergi. Nyalakan lampu,” Nenek Lido menyuruh Jona. Tapi Jona semakin keras memeluk ibunya. Nenek membelai rambut putrinya yang merasakan tangan ibunya basah. Dengan susah payah, Nenek Lido melepaskan diri dari pelukan anaknya dan berusaha menyalakan lampu minyak kemiri. Tangannya gemetar dan nyeri. Lampu berhasil dinyalakan dan Jona menjerit lalu pingsan. Tangan dan baju ibunya yang lusuh penuh darah, kepalanya juga. Nenek Lido jatuh menyandar ke dinding. Ia memegang tangannya yang bersimbah darah. Tiga jari tangan kanannya telah hilang dari tempatnya tersayat pedang saat bergubung dengan Rappe tadi. Tapi Nenek Lido tidak menangis.

Tidak juga ia marah kepada Kakek Lido yang tak pernah beranjak dari tempat tidur dan radio transistornya saat pergumulan dengan mautnya tadi. Kakek bahkan tak pernah merasa perlu untuk menanyakan atau ikut nimbrung pembicaraan kampung ketika Rappe ditemukan mati dengan leher tertebas saat di pinggiran kampung sepulang dari minum tuak di kampung sebelah. Ia hanya sempat bertanya kepada beberapa orang yang melintas di depan apa bertemu dengan Nenek Lido yang belum juga pulang sejak sore hari, bertepatan dengan malam ditemukannya Rappe terkapar mandi darah di pinggir jalan tanah kampung. Kakek bermaksud menyuruh istrinya membeli baterai radionya yang mulai melemah.

Tapi Kakek Lido sadar bahwa kedua anak gadisnya marah kepadanya sebab tak pernah lagi menyapanya sejak kejadian malam itu. Toh ia juga tak terlalu peduli bahkan ketika kedua anak gadisnya menolak duduk di dekat pembaringannya beberapa saat sebelum ia mengembuskan nafas terakhirnya beberapa bulan sejak peristiwa malam itu. Hanya Nenek Lido yang setia menemani Kakek di dekat kepalanya yang mulai melemah. Saat mendekati sakratul maut, Nenek Lido mendekatkan mulutnya ke telinga kakek dan membisikkan sesuatu. Entah apa. Tak ada yang tahu. Kakek tak bereaksi apa-apa. Hanya satu permintaan Kakek Lido saat akan meninggal: Dimakamkan bersama radio transistor miliknya dalam satu liang. Hanya itu.

Jakarta, 4 November 2005

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme