Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Dendang Perempuan Pendendam oleh Martin Aleida

Posted on Ming, 22 Jan 2006

Laksana gagak lapar, sudah sejak lama aku menunggu kematiannya, untuk mengobati kepedihan hatiku. Dendamku takkan pernah kehilangan isi, meskipun dia masih punya hubungan darah dengan kami. Dia adik Ayah kami semua. Namun, aku ingin melihat jasad Pakde Suto tak bisa dimasukkan ke dalam keranda. Peti matinya beberapa kali harus dibongkar-pasang karena kurang panjang. Dan, di pemakaman, aku ingin menyaksikan kutuk terhadap dia yang merampas tanah keluarga kami yang tak berayah, dengan menggeser pematang secara licik.

Kejahatan itu berlangsung sangat perlahan, seperti tak pernah terjadi. Namun, pematang sawah tak pernah lupa mencatat kelakuan busuknya itu. Pakde Suto telah mencaplok sawah Ibuku dua kali seratus meter bujur sangkar dalam masa hampir empat puluh tahun. Empat puluh tahun!

Dia menelan kekayaan Ibu satu-satunya separtikel lumpur demi separtikel lumpur. Saat menyiangi sawah, dengan liciknya Pakde membiarkan lumpur yang dia lemparkan ke atas pematang melimpah ke sawah Ibu. Diganggang matahari, limpahan lumpur itu lantas mengering, dan dengan begitu menggeser pematang.

Ibu tak mau mengadukan penjarahan itu dalam rapat desa. Juga tak pernah mau mengungkit-ungkitnya dalam percakapan di rumah. Dia selalu berusaha menenteramkan perasaan kehilangan yang bergejolak di dalam hati anak-anaknya. Juga di dalam hatinya sendiri. Dia memilih diam untuk menghindari pertikaian, karena dia tahu, kematian suaminya, Ayah kami, masih saja dianggap sebagai keniscayaan, karena keterlibatan Ayah dalam pematokan tanah para tuan tanah dengan berlindung di balik undang-undang pokok agraria yang berlaku ketika itu. Ketika aku berusia belasan.

Gerimis menyudahi dirinya. Membuat malam membeku sendiri. Emprit ganthil, yang sejak subuh menyayat-nyayatkan isyarat kemalangan, sudah terbang meninggalkan bubungan rumah Pakde Suto. Kudengar suara seperti daun yang gemersik di pekarangan. Kemudian isak tangis yang mengalun dari mereka yang tak kuasa menampik kematian. ”Mengucaplah Suto…!” kata-kata itu diulang berkali-kali, diiringi sedu-sedan, dilantunkan ke kuping Pakde yang meregang dikepung maut.

Raung kematian kemudian menggunung dari rumah Pakde. ”Oh, Gusti….” Para pelayat menyelinap ke ruang tengah, tempat jasad Pakde terkapar. Di jalan terdengar langkah yang tergopoh menuju rumah kematian. Kentongan titir di persimpangan jalan ditalu satu-satu.

Dia sudah mati. Tapi, apakah nasib Ibu kami akan berubah? Kalaupun nanti pematang yang menjarah sawah Ibu sudah digempur, dan Ibu bisa menuai panen di sawah seluas ketika dia baru menikah dengan Ayah, namun sakit hati ini tetap tak terdamaikan. Sakit hatiku, hati kami semua, tidak hanya sebatas pematang itu. Karena Pakde Suto-lah Ayah kami mati bukan dengan jalan sebagaimana halnya dia sendiri menemui maut di ruang tengah rumahnya, tetapi dengan kepala dipenggal dan dicampakkan seperti bangkai tikus.

Takkan terkikis dari ingatanku. Di akhir tahun kekacauan, kebingungan, dan penuh ketakutan, 1965, Ayah tinggal berpindah-pindah, menghindar dari kejaran benggolan-benggolan yang dikirimkan kaum tuan tanah, yang tanahnya dipatok dan dibagi-bagikan Ayah kepada petani tak bertanah. Tentara, dengan diiringi gerombolan pemuda, tiada terhitung berapa kali menggeledah rumah kami seraya membentak dan mengancam Ibu. Penampungan kotoran yang baru dibuat Ayah, dituduhkan tentara sebagai lubang penguburan manusia.

Suatu malam, Ayah menginap di rumah Pakde Samin. Paginya, setelah Ayah berangkat entah ke mana, Pakde Suto mendatangi rumah adiknya itu dan mengancam, ”Kalau koé lain kali berani menyimpan Paijan, koé akan kubunuh!” Siangnya, tentara menggedor rumah Pakde Samin, dan dia digelandang ke dalam jip. Di markas tentara dia disiksa hingga beberapa kali tak sadarkan diri. Dia selamat dari maut setelah menceritakan bahwa dari rumahnya Ayah berangkat ke Semarang, berjualan kacang tanah di salah satu pasar di kota itu. Selang beberapa hari kemudian, dua jip tentara datang membawa ketakutan yang mencekam. Dengan cara yang sangat menghinakan, mereka mendorongkan Ayah yang matanya tertutup kain merah, turun dari jip. Ayah dipertontonkan di depan rumah Pakde Samin, dan orang sedesa diperingatkan tentara yang mengacungkan pistol, ”Barangsiapa yang berani menyimpan orang macam ini, mati!”
Iklan

Ayah diarak ke rumah kami. Kesembilan penghuni rumah dipaksa keluar. Ah, betapa pedih melihat Ayah dengan tangan terikat ke belakang, mata tertutup. Ibu, sambil menggendong adikku yang terkecil, dan kami anak- anak yang lain, hanya merunduk menatap kerikil-kerikil kecil di pekarangan, mencari kekuatan di situ, tak kuasa melihat orang yang kami cintai diperlakukan sebagai seorang yang bejat.

Berminggu-minggu kemudian, sampailah berita yang tak bisa dipastikan kebenarannya, tapi karena Ayah tak pernah kami lihat lagi, maka kami memercayai kabar burung itu. Konon, Ayah digiring ke atas jembatan yang menghubungkan kedua tebing Bengawan Solo. Di bawah todongan pistol, Ayah diperintahkan bersujud, mata tertutup. Begitu dia dibentak supaya duduk kembali, dan manakala dadanya belum tegak benar, seorang pemuda melayangkan sebilah parang panjang ke tengkuknya, dan kepala Ayah, (Oh, Tuhan… aku takkan bisa memberikan ampun kepada mereka yang terlibat dalam pembantaian tiada tara dosanya itu!) kepala Ayah terpelanting ke bawah, dan dengan cepat tubuhnya ditendang menyusul kepalanya yang lebih dulu mencebur…. Ah, pantaskah sebuah peradaban memberikan ajal serupa itu kepada Ayah kami?!

Ibu, kami anak-anak, sembunyi-sembunyi membeli bunga ke pasar, supaya tak ada orang desa yang melihat, dan kami pergi ke jembatan di mana Ayah kami yakini menemukan kematiannya. Kami larungkanlah bunga yang kami bawa agar aromanya membuat semerbak dunia di mana Ayah sekarang berada. Bunga-bunga itu mengambang, cepat dilarikan arus, mencari Ayah, kami kira.

Tak pernah kubayangkan ziarah akan mencambuk hidupku. Setelah menikah, suamiku mengajak aku ke kampung kelahirannya di Sumatera. Dituntunnya aku berziarah ke makam orangtuanya. Sepulangnya dari ziarah di pulau seberang itu, dia mendesak, mengapa aku tak pernah bertanya, bukankah dia juga ingin berziarah, meminta berkah, ke makam Ayahku. Bukannya tak kuberitahukan kepadanya bahwa Ayahku mati terbunuh pada tahun yang membingungkan, menakutkan. Tak punya kuburan, tak punya nisan. Suamiku menjawab dengan kata-kata bersayap, mengharukan. Dia, katanya, takkan pernah menyesal memperistri aku bagaimana hina pun Ayahku menemukan ajal.

Begitulah. Dia kuajak menemui Ibuku di desa. Sebelum menuju bengawan, kami terlebih dulu berziarah ke makam kakek-nenekku. Dia terpesona menyaksikan kuburan di pinggir desa itu, di mana salib dan nisan berbaur. Sesuatu, yang katanya, tidak bakal ditemukan di Aceh sana. Katanya, sepantasnyalah nisan Ayahku berada di tengah pemakaman itu, makam yang mempersatukan manakala orang memaknai agama untuk memecah belah.

Ketika tiba di jembatan tempat Ayah dipancung, suamiku berjalan dengan teguh di sampingku. Cuma, ketika kami menuruni tebing, menghampiri bengawan, beberapa kali dia tertegun. Mengikuti aku, dengan tangan gemetar, dia taburkan bunga ke permukaan bengawan. Setelah itu, kami pulang, dan, Oh Tuhan, itulah akhir perkawinan kami. Walaupun tidak dikatakannya, aku tahu nisan bagi suku bangsanya adalah tanda bagi pokok kehidupan satu keturunan. Tanpa itu, ada semacam nista yang akan selalu melekat. Diperparah lagi dengan kenyataan bahwa setelah perkawinan kami yang memasuki tahun kelima, dan aku belum hamil juga, maka lengkaplah alasan suamiku untuk dengan baik-baik meminta maaf, karena dia terpaksa pergi meninggalkanku.

Pukul dua siang sekarang. Sama seperti ketika menjemput maut, maka pada saat jasad Pakde Suto diberangkatkan ke pemakaman pun, gerimis mendesah dari langit.

Peti matinya diusung menuju pemakaman, dua ratus meter ke arah bengawan.

Angin yang menerabas gerimis membisikkan ke kupingku tentang awal dari keributan di antara penggali liang kubur. Suara-suara itu kemudian semakin nyata. ”Turunkan dulu. Letakkan di tanah. Gali lagi tanah di sebelah kepala…” Pacul, linggis, bertubi-tubi ditancapkan ke tanah. ”Coba angkat! Letakkan! Cukup…?” kaki-kaki berkecipak di tanah liat. Bagian kaki dari liang lahat itu sekarang dapat giliran digali, diperlebar, membukakan gerbang petala bumi bagi sesosok jasad yang sedang menelan sumpah. Kedua sisi, dari mana mayat akan diluncurkan, juga dicangkuli, diperlebar nganganya. Setelah berkali-kali liang itu diperbesar, dan peti mati tetap saja tak bisa diturunkan, maka mendengunglah keputusasaan: ”Gusti… Engkau yang maha pengampun, maafkanlah umatmu ini. Tunjukkan apa yang harus kami lakukan. Tolong, terimalah saudara kami ini….” Keranda diangkat dan diamangkan lagi di mulut liang lahat yang sudah diperlebar. Sia-sia.
Iklan

”Sudah berapa kali kami menggali, tapi tak bisa juga, Gusti…! Ingin berapa kali lagi Gusti? Ampun… ” Bingung, juga panik, sarat di wajah para pengantar, terutama mereka yang menggali berlumur tanah.

Dua orang pengantar jenazah melepaskan diri dari kebingungan dan kecemasan yang mengerubung di mulut liang lahat. Mereka bergegas ke perempatan jalan desa. Seperti mengutuk diri sendiri, mereka berbicara dengan keras ke arah sekeliling. ”Ampun…. Barangsiapa yang pernah dirugikan Pakde Suto, sudilah kiranya memaafkan. Ampunilah, biar Gusti mau menerimanya.”

Kuhela nafas. Dari celah dinding tepas, kulihat sekelompok perempuan merapat ke rumah. Ibu keluar menemui mereka di beranda. Kudengar kata-kata permohonan yang mereka ucapkan dengan nada begitu rendah, seperti berbisik, mengiba-iba, diiringi isak-tangis. Dengan kepala tertunduk, perempuan-perempuan itu kemudian menarik diri.

”Las…,” bujuk Ibu lunglai di bendul pintu kamarku. ”Orang-orang menunggumu di pekuburan,” katanya menunduk. Aku tahu dia ingin aku yang datang ke tengah kerumunan orang yang kebingungan untuk membukakan pintu maaf buat mayat seorang musuh yang masih sedarah dengan Ayah. ”Kami pasrah. Kau yang jadi kunci. Kalau kau maafkan, orang sedesa akan tahu siapa kita.” Kata-kata Ibu itu membuatku melangkah menyibak gerimis.

Laki-laki yang memonopoli kehormatan tunggal dalam mengantar jenazah, terpaksa mendobrak adat kebiasaan, menguak membukakan jalan untukku. Aku maju dengan dada tegak, mendekati peti mati, meminta pengusung jenazah membukakan tutup keranda. Dengan jijik kucabik kafan penutup muka Pakde Suto, dan dengan sebal, ”cuih…,” kusemburkan ludahku ke mulutnya. Kain kafan kubebat kembali menutup wajahnya yang pucat kehitaman, beku.

Aku membalik, meninggalkan jejak di tanah basah. Beberapa saat kemudian, kudengar lenguh nafas lega serta gemuruh gumpalan tanah menghujani peti mati yang sudah tertidur di dasar kubur.

”Jeng, atas nama jenazah dan keluarganya, kami minta maaf kepadamu.” Itu diucapkan beberapa orang dari keruman manusia yang kupapasi.

Aku cuma membatu, terus menjauh. Terlalu pendek waktu untuk mempertimbangkan sebuah maaf. Karena terlalu lama aku memendam dendam ini….

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme