Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Cucu Tukang Perang oleh Soeprijadi Tomodihardjo

Posted on Ming, 05 Mar 2006

Setiap hari lelaki itu berbaring di ranjang, makan di ranjang, baca koran di ranjang, apa pun di ranjang. Setiap hari pula seorang perawat yang rajin datang memberi layanan kemanusiaan: menata kamarnya, menyeka tubuhnya, mengantar sarapan, meletakkan selembar koran.

Di pengujung musim rontok itu ketika angin laut yang dingin berembus menembus tingkap-tingkap jendela, datang perawat baru—seorang pemuda yang ramah dan belum pernah dikenalnya. Pasti bukan sekadar basa-basi bila si pemuda mencoba tanya ini-itu tentang kesehatannya, asal kota tempat tinggalnya, pekerjaannya, dan beberapa hal yang ingin diketahuinya sebagai perawat baru di sanatorium kaum penderita cacat itu. Sambil tak lupa mengingat-ingat ajaran Zuster Kepala dalam kursus singkat beberapa waktu sebelumnya, ia ingin menjalin keakraban ketika memperkenalkan diri, justru pada hari pertama masa dinas sipilnya. Seperti ia lakukan pada penghuni kamar-kamar lainnya, ia memberi salam, membuka percakapan dengan maksud merebut hati lelaki itu agar dirinya dihargai sebagai perawat yang berwibawa dan tidak diremehken kecakapannya. Dengan takzimnya, ia menyapa, ”Selamat pagi, Meneer.”

”Pagi!” lelaki itu menjawab singkat dengan suara berat tanpa beranjak dari ranjang.

Si pemuda merasa kurang dihiraukan dan tak ingin diperlakukan begitu dingin pada hari-hari berikutnya. ”Sekali Anda membiarkannya, seterusnya akan diremehkan,” pesan Zuster Kepala kepada setiap perawat baru yang ditempatkan di bawah pengawasannya. Sejumlah pasien lain di kamar-kamar lain yang ia layani di sanatorium itu selalu menyambut salamnya dengan santun, lalu bangun, dan segera bangkit untuk berbenah diri menjelang jam sarapan. Tetapi, tidak demikian halnya dengan lelaki itu. Dan ia teringat nasihat Zuster Kepala agar tak membiarkan pasien bermalas-malas. Namun, tata tertib yang berlaku harus ditaatinya: ia tak diperbolehkan bersikap kasar, apalagi gusar, meskipun ada pasien yang rewel dan malas bangun pagi sebelum jam sarapan. Ia lantas coba mengajaknya berbicara sambil membenahi tempat sampah di pojok kamarnya.

”Musim rontok hampir berakhir Meneer, angin laut masih terus berembus dengan kencang, tetapi tiap pagi jendela mesti dibuka supaya udara di kamar menjadi segar.”

>1<”Ya,” jawab lelaki itu, masih saja tidur membujur dengan muka menghadap ke atap. Si perawat muda merasa tak cukup puas dengan sikap lelaki itu lantas coba mendesaknya, ”Pagi sekali saya sudah harus bangun, menggenjot sepeda dari rumah, empat kilometer jauhnya. Sampai di sini Anda masih enak-enakan meringkuk di bawah selimut. Ayo bangun, Meneer!” ”Ya,” mulut lelaki itu menyahut, tetapi tak sedikit pun membuka selimutnya. Karena ruangan dalam kamar agak gelap lantaran gorden jendela belum dibuka, pemuda itu menyalakan lampu, menatap wajah si lelaki yang terlihat pucat di bawah sinar lampu kamar yang mendadak menyilaukan matanya. ”Sebenarnya ini bukan lapangan kerja yang cocok buat saya, Meneer. Tetapi, apa boleh buat, saya terpaksa melakukannya,” kata si pemuda. ”Ya,” sahut lelaki itu singkat. ”Kalau tidak, saya akan dipaksa menjalani dinas wajib militer.” ”Hhmm,” lelaki itu mulai beringsut dari balik selimut seakan-akan menaruh perhatian untuk menuruti perintahnya. ”Coba, Anda renungkan,” kata perawatnya, ”…perang dingin sudah berakhir, Pakta Warsawa sudah lama bubar dan kita hidup di zaman damai, tidak memerlukan rekrut serdadu baru. Lantas buat apa orang dipaksa menjalani wajib dinas militer? Cukup dilakukan oleh mereka yang sudah profi saja, bukan?” >d 1<”Mmmm,” lelaki itu mengerinyutkan muka, mungkin tak senang mendengar obrolan seorang anak muda yang merasa sok tahu dan lebih tahu daripada dirinya. Kendati bukan jawaban yang memuaskan, si pemuda terus saja mengobrol, lebih banyak tentang kisah dan keluh kesahnya sendiri sambil menata meja untuk menyiapkan sarapan setelah membenahi kamar lelaki itu. ”Delapan belas bulan saya harus melayani Anda di sini! Ini dinas sipil, gajinya kecil Meneer, tetapi bagi saya lebih manusiawi daripada jadi tentara!” ”Ya….” ”Nah, bayangkanlah, saya akan kehilangan satu setengah tahun. Saya terpaksa menunda studi saya di universitas!” bual pemuda itu semata-mata bermaksud mengangkat derajat dirinya sendiri sebagai pemuda yang berpendidikan dan bukan perawat yang sembarangan. ”Yaaa….” ”Anda tahu sekarang, kenapa saya berada di sini, kerja kasar seperti ini. Sebabnya, saya menentang perang dan menolak dinas wajib militer karena keyakinan agama saya.” Lama ditunggunya reaksi lelaki itu atas kalimat-kalimat yang terus saja mengalir lewat bibirnya. Tetapi, tak ada juga tanggapan yang didengarnya, kecuali ya, ya, dan ya yang sangat menjemukan. Maka, dilontarkannya pertanyaan, ”Mungkin Anda pun pernah menjalani dinas militer?” ”Ya.” ”Ya? Tetapi, sebagai profesi, bukan?” terka si pemuda sambil menaksir usia lelaki itu: sekitar empat puluh. ”Ya.” ”Itu lain dengan wajib dinas militer seperti yang saya maksudkan.” ”Mmmm.” Jawaban yang meragukan tentu saja. Dan ia mendapat kesan, lelaki itu tidak tuna telinga seperti ia duga dan dengan jelas dapat menangkap pembicaraan orang, tetapi ada kesulitan dalam hal bercakap-cakap. Ia lantas mengira lelaki itu pernah mengalami stroke dan sekarang sedang dalam proses penyembuhan. Aku bisa terus mengobrol tanpa mengharapkan jawaban dari dia, pikirnya. ”Perang memang mengerikan, Meneer. Saya tak tahu, Anda pernah berdinas di mana, dalam satuan apa. Tetapi, perang selalu berarti membunuh atau dibunuh. Itu saya tidak bisa. Membunuh lalat saja saya tidak tega. Tragisnya, perang masih juga terjadi sesudah Pakta Warsawa bubar. Di Serbia, Bosnia, Kroasia, Irak, misalnya….” ”Mmmm.” Suara lelaki itu terdengar datar, hanya seperti gumam dan tetap tidak tanggap pada segala omongannya. Pemuda itu lantas benar-benar yakin lelaki itu belum mampu berbicara secara normal setelah mengalami stroke sebelum dirawat di sanatorium. Ia agak kecewa mengapa Zuster Kepala tidak memberi informasi tentang diri lelaki yang satu ini. Segera ia memalingkan muka dan mulai sibuk mengelap meja, memindahkan piring dan cangkir kotor bekas sajian makan kemarin malam ke atas nampan. Seekor lalat hijau yang kebingungan lantaran tersekap sepanjang malam di kamar itu tiba-tiba terbang melesat sangat cepat, mendesing di sekeliling lampu. Ia mengejarnya hingga ke setiap penjuru kamar, tidak untuk membunuhnya, melainkan menangkapnya untuk dilempar keluar. Tetapi, akhirnya ia gagal menemukannya. Ia lantas beranjak ke jendela, tangannya merenggut-renggut sejalur tali yang menjulur di dekat kepala lelaki itu hingga gorden jendela tergeser ke satu sisi. Hati-hati dibukanya kedua daun jendela, matanya nanar mengedari seluruh ruangan, tetapi si lalat sudah minggat dan ia tak tahu binatang itu bersembunyi di mana. ”Anda tentu bisa melakukannya sendiri,” ujarnya. ”Tiap pagi jendela perlu dibuka supaya ada pergantian udara di kamar Anda. Tidak terlalu sukar, bukan? Cukup sambil berbaring saja.” ”Ya.” ”Terima kasih, Meneer! Lakukanlah mulai esok, buka jendela setiap pagi demi kesehatan Anda sendiri. Cukup beberapa menit saja, lalu ditutup lagi bila udara dingin.” ”Ya.” ”Ayo Meneer, bangun! Saya harus menyeka tubuh Anda, lantas mengganti seprai,” desak si pemuda yang mulai kehilangan kesabaran. ”Ya.” Akhirnya berhasil juga perawat muda itu menyuruhnya bangun. Lelaki itu buru-buru mengangkat selimut dan beringsut, lalu duduk dengan kaki ongkang-ongkang di pinggiran ranjang. Si perawat mendadak terkesiap ketika matanya menatap kedua tangan lelaki itu. Ia merasa diguncang perasaan iba yang menggetarkan dadanya. Belum pernah ia melihat seorang manusia tanpa telapak tangan. Kedua ujung lengan lelaki itu tampak bulat dan mengilat dengan goresan-goresan bekas jahitan. Naluri kemanusiaan tiba-tiba memaksa si pemuda membatalkan sederet pertanyaan dalam hatinya: apa yang terjadi pada kedua telapak tangannya, kapan itu terjadi, di mana? Ia tahu bekas-bekas jahitan itu telah menjawab sendiri: bukan pembawaan sejak lelaki itu dilahirkan. Namun, pemandangan apa pun yang membuat hatinya kecut mendenyut-denyut, si perawat segera menyadari bahwa tugasnya harus segera diselesaikan. Diletakkannya sebuah ember berisi air hangat yang sudah disiapkannya di kamar mandi. Lantas memeras handuk yang berada dalam rendaman. Sambil menyeka muka dan dada lelaki itu, ia mulai bicara lagi, ”Meneer, saya rada neuwsgierig sebenarnya, apakah Anda pernah berdinas di Bosnia?” ”Ya.” ”Ya? Saya sendiri menentang perang, Meneer. Perang adalah cara paling gila dalam memecahkan perselisihan antarmanusia. Kakek saya tukang perang Meneer sampai akhir hayatnya masih mengharap saya berangkat ke medan perang di Maluku Selatan. Konon, tentara Ambon memang tukang perang, Meneer. Tetapi, kakek saya lupa, di zaman dia dulu, mereka berada di bawah perintah penjajah. Suku Ambon sendiri adalah pemeluk agama yang kusuk. Mereka adalah rakyat yang melarat tetapi berjiwa damai.” ”Ya.” ”Saya menentang perang Meneer, apalagi melawan bangsa sendiri. Saya ingat gambar kuburan massal yang baru kemarin dulu dibongkar di Kosovo. Delapan ribu orang Bosnia dibantai tentara Serbia! Tetapi Anda tidak berada di front Bosnia, bukan?” ”Mmmm….” ”Mereka memerkosa wanita, Meneer. Mereka bahkan melakukannya di depan suami dan anak-anak. Ribuan orang yang tidak berdosa juga dibantai. Sering kali korbannya malah bekas kawan sekolah atau sesama tetangga. Bagaimana bisa manusia sekejam itu!” ”Mmmm….” ”Saya kira bukan hanya Slobodan Milosevic yang bertanggung jawab. Sekarang dia berada dalam tahanan Mahkamah Internasional di Den Haag. Tetapi, Karazic dan Jenderal Mladic masih terus buron, belum tertangkap sampai sekarang. Pasukan Uni Eropa ikut bertanggung jawab untuk terjadinya masaker itu. Tragisnya, di Sebreniza pasukan itu justru tentara Belanda, Meneer….” ”Mmm…, ya.” ”Mereka kelewat percaya pada budi baik Karazic dan Mladic. Lantas menyerahkan nasib warga Sebreniza kepada tukang-tukang jagal itu. Delapan ribu orang Islam, Meneer! Mereka menjagalnya hanya karena perbedaan ras dan agama. Kebodohan yang keterlaluan di pihak pasukan Belanda, bukan?” ”Ahh.” Tentu saja perawat muda itu terkejut mendengar reaksi singkat dari mulut lelaki itu. Ia lantas bungkam, seperti baru sadar, lelaki itu membiarkan dirinya membual terus tanpa dijawab dengan serius kecuali dengan suara ahh yang berarti membantah. Ia lantas jadi malas untuk mengajak lelaki itu berbicara berlama-lama. Untuk itu ia sendiri tak punya cukup waktu. Beberapa jompo lainnya mesti juga didatanginya satu demi satu, kamar demi kamar. Cepat-cepat ia rampungkan menyeka tubuh lelaki itu, menukar piyamanya, dan mengganti seprai. ”Maafkan saya,” katanya sambil meletakkan koran de Telegraaf terbitan hari itu di atas ranjang. ”Saya terkadang lupa, tidak semua orang di negeri ini suka bicara tentang kekejaman. Tapi lihatlah gambar kuburan massal yang dibongkar itu di halaman dua.” Lelaki itu menatapnya sambil kembali menelentang di ranjang. Si perawat belum juga merasa puas dengan sindiran yang ia lontarkan. Dengan menenteng sekantong sampah dan nampan berisi cangkir dan piring kotor, ia melangkah keluar dari kamar. Tiba-tiba didengarnya suara pukulan-pukulan di meja. Ketika ia berpaling, dilihatnya kedua ujung lengan lelaki itu menjepit lempitan koran dan dengan cekatan memukul-mukul meja. ”Lihat ini lalat!” kata lelaki itu. ”Saya sudah membunuhnya karena Anda tidak tega melakukannya. Tidak terlalu sukar, bukan? Cukup sambil berbaring saja.” ”Oh! Saya tidak mengira Anda mampu melakukannya,” si pemuda nyengir karena merasa disindir. Ia melangkah balik ke dalam, merenggut kertas tisu dari saku, dan membersihkan bangkai lalat yang muncrat di atas meja. ”Ah, Anda tak tahu apa yang terjadi di Sebreniza,” ujar lelaki itu. ”Tiap jengkal tanah berisi ranjau, tak semuanya berhasil dijinakkan. Saya kehilangan dua tangan. Tetapi, perang perlu dilanjutkan.” ”Apa? Anda bilang apa, Meneer?” ”Perang mesti dilanjutkan! Hanya dengan perang kita bisa melawan kebiadaban. Anda kira Milosevic dan pengikutnya akan berhenti melakukan masaker tanpa dilawan dengan perang?” ”Ya, tetapi….” ”Tetapi, kerja sipil gajinya kecil, bukan? Lebih manusiawi daripada jadi tentara, kata Anda.” ”Ya.” ”Nah, tolonglah Anda ambilkan sarapan saya. Siapa sebenarnya nama Anda?” ”Patti Sahetapi Meneer, cucu tukang perang. Panggil saja Patti.” Pemuda itu melangkah keluar, mulutnya diam, tetapi menggumam dalam hati, ”Dinas sipil gajinya kecil!” ** Paran, 7206

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme