Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Monang? Kau Mendengar Aku? oleh Palti R Tamba

Posted on Ming, 21 Mei 2006

Malam itu, wajah ibu hadir di ruang mata Monang. Tiba-tiba saja. Melihat mata ibu, Monang seperti menyusuri sungai yang kering yang dipenuhi batu-batu. Entah kenapa. Lambat laun kecekatan tangan Monang memilah-milah koran-koran dan tabloid yang hendak diretur besok, makin berkurang. Bahkan, akhirnya, ia menghentikan kegiatan itu. Ia tersedu-sedu.

Isteri Monang dan dua anaknya sudah lama tidur, di ruang dalam.

Seumur-umur Monang jarang menangis. Ketika kanak-kanak, kalau kalah berkelahi dengan hidung berdarah-darah dan muka babak belur—ia tidak menangis. Bila ayah maupun kakak-kakaknya memukul atau menamparnya karena satu kesalahan yang diperbuatnya, ia juga tak menangis. Waktu ayah meninggal, ia pun tidak menangis. Meski sampai Namboru Tiur memeluknya sambil menatap menceritakan betapa sedihnya ditinggal seorang ayah, ia tetap bergeming. Tapi, masih jelas dalam ingatannya sebuah peristiwa yang membuatnya menangis hebat.

Kala itu Monang melihat bagaimana ayah—tiba-tiba masuk rumah, mengejar dan memukuli ibu dengan sepotong bambu sebesar jempol hingga ke kamar. Ibu menjerit-jerit sambil menyembah-nyembah ayah, “Ampun, ampun pak,” katanya. Pakaian kebaya yang dikenakan ibu hendak mengikuti ibadah di gereja menjadi acak-acakan.

Monang—ketika itu sembilan tahun—tak bisa membenarkan perlakuan ayah itu. Namun ia takut pada ayah. Namun, mungkin didorong rasa kasihan dan sayang pada ibu serta rasa marah kepada ayah, Monang memanggil ayah sekuat-kuatnya. Beberapa kali. Tubuhnya sampai gemetaran.

Tiba-tiba ayah melihat Monang dan seperti tersadar karena Monang telah menyaksikan perbuatannya itu. Dan lebih lagi, karena Monang—katakanlah—telah memanggilnya dengan cara menghardik. (Mungkin pula, dalam pikiran ayah, Monang belum pulang dari ibadah sekolah minggu. Dan memang semestinya demikian. Pastor dari paroki datang, yang berarti ada perjamuan Misa Ekaristi. Dan Monang—salah satunya—selalu menjadi putera altar. Tapi, Monang minta digantikan. Ia minta ijin pulang. Karena Monang ingin secepatnya tiba di rumah, supaya punya waktu yang cukup untuk mengetam bawang hasil ladangnya, agar bisa dijualkan ibu ke pekan di pulau, besok. Ibu memberikan sepetak tanah seluas 20 meter persegi kepada anak-anaknya untuk diusahakan sendiri). Ayah berhenti memukul ibu. Mereka bertiga—di tempat dan dengan posisi masing-masing, seperti baru saja kena sihir menjelma patung. Tapi, tak lama berselang, ayah mendengus, lalu memukuli ibu lagi. Dan ibu menjerit-jerit lagi. Dan jeritan-jeritan itu menyesakkan dada Monang.

Monang berlari ke dapur. Monang mencari-cari pisau. Namun ia tak menemukan benda itu di tempatnya. Ia pun mencari-cari benda lain yang bisa dipergunakannya melawan ayah. Batu penggilingan? … Tidak. Ayahnya pasti bisa menghindar! … Kayu bakar? … Ah, seberapa sakitlah ayah oleh kekuatan pukulannya? Tidak, tidak! Tapi ayah mesti dilawan! Karena seingatnya, inilah yang keempat kalinya ia menyaksikan si ayah memukuli si ibu. Tujuh kakaknya pun (perempuan semua) pernah merasakan pukulan tangan si ayah. Ia memang selalu dimanjakan. Namun, ia pernah juga jatuh sakit akibat ditampar si ayah! Lalu, apa? … Matanya tertumpu pada jeriken minyak tanah. Ya! Ia cepat-cepat membuka tutup jeriken, lalu mendekat hidungnya untuk membaui apa isi jeriken itu. Minyak tanah, minyak tanah!

Akhirnya ia membawa jeriken itu dan korek api ke kamar.

“Ayah…!” panggil Monang, seusai menyiramkan minyak tanah ke tempat tidur dinding kamar dan pintu.

Ayah menoleh. Lalu berbalik, menghadap Monang menatap mata sang ayah. Ia bagai melihat samudera luas yang tengah diterjang badai di sana. Di tengah samudera itu, di malam pekat, ada sebuah perahu yang terombang-ambing. Di dalam perahu itu ada seorang perempuan: Ibu!…

“Apa yang ayah lihat di tanganku?”

Ayah mendengus. Ia merasa diajari seperti anak kecil. Ia tak menjawab. Meskipun demikian si ayah berhenti memukuli ibu. Tapi tangis ibu yang lirih itu, Monang rasakan seperti sayatan-sayatan belati—oleh ayah—di tubuhnya.

“Apakah ayah mencium bau minyak tanah di kamar ini?”

Ayah benar-benar marah dibuatnya, tapi menahan diri. Dan tetap tak menjawab. Namun, ia memikir-mikirkan cara menundukkan sang anak. Sebab, ia takut juga kalau-kalau anaknya itu bertindak nekat.

“Mo-nang…?” suara si ayah pelan.

Monang melihat si ayah sambil menyalakan korek api. Berkelebat di pelupuk matanya cerita Malin Kundang yang pernah dibacanya. Malin Kundang dikutuk karena mendurhakai ibunya! Mengiang-ngiang di telinganya cerita Sampuraga yang pernah di dengarnya. Sampuraga dikutuk karena mendurhakai ibunya! Lalu? Oh!

Monang terisak-isak. “Maafkanlah anakmu ini, ayah…. Kalau ayah berjanji tak memukuli ibu lagi, maka aku tidak membakar kamar ini, ayah…!”

“Kau…?” ayah bergerak pelan mendekati Monang.

“Ya, ayah,” Monang bergerak pelan mundur.

“Jangan, Nak…!” tangis ibu.

“Berhenti di situ, ayah…! Ya, tetap di situ…!”

Monang mencomot (lima batang) korek api dan secepat mungkin menggantikan batang korek api yang beberapa saat lagi akan tinggal puntung.

“Ayah, berjanjilah dengan sungguh-sungguh untuk tidak memukuli ibu lagi. Mulai hari ini…!”

“Kau…?”

Monang mengangguk sembari menghapus ingus dan air matanya cepat-cepat. Dan ia tetap waspada terhadap segala kemungkinan yang akan dilakukan ayah terhadap ibu mau pun terhadap dirinya.

Ayah menggelengkan kepala, lalu menghela napas panjang. “Ya, Tuhan… bukankah aku pernah mengucapkan kalimat seperti itu kepada ayah karena ayah suka main judi sampai berminggu-minggu dengan para toke di pulau?” katanya seperti berbisik kepada dirinya sendiri.

Monang terkejut mendengarnya. Ibu pun demikian.

Kemudian ayah tertegun. Lama. Sepotong bambu di tangannya terjatuh begitu saja ke lantai. Berikutnya, Monang melihat mata ayah berkaca-kaca. Serasa sekejap, ayah berlutut dengan punggung tegak. Ayah mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.

Monang tak paham apa kira-kira yang akan diperbuat ayahnya dengan sikap demikian. Berdoa?… Tentu tidak! Yang diketahui Monang bahwa sikap berdoa adalah dengan melipat tangan dan mata terpejam. Jadi bisa saja cara yang dilakukan ayah itu dalam upaya menggagalkan niat Monang! Karena itu, ia mencomot (tiba batang) korek api lagi untuk menyambung nyala api dari batang korek api terakhir.

“Ya, Allah…. Aku berjanji tidak memukuli istriku lagi….”

Sungguh. Monang terkesiap mendengar janji ayah, waktu itu. Hingga kini, Monang tak tahu kejadian sebenarnya yang membuat ayah mengejar dan memukuli ibu. Tapi menurut Monang, pastilah terkait tabiat ayah yang suka main judi. Dan ia pun tak berniat menanyakan pada ibu di mana peristiwa itu berawal….

>diaC< Telepon genggam berbunyi. Monang membersihkan kelopak matanya, meskipun kelopak mata itu sudah kering dari tadi. Tangan angin yang mengusapnya perlahan-lahan. Monang meraih telepon genggamnya dari meja. Nama kak Nurma tersurat di layarnya dengan nomor telepon rumah. Berita apakah gerangan di ujung malam begini? “H-h-hallo…?” Monang menenangkan hati. Namun, pikirannya menduga-duga hal buruk yang mungkin terjadi pada keluarga besar mereka. Bukankah berita duka cita sering datang di malam hari?… Ia mendapat berita kematian ayah pada sekitar pukul 10 malam ketika ia duduk di bangku SMP di Pangururan. Bruder Marsianus—kepala asrama—yang membangunkan dan memberitahukan kepadanya. “Engkau harus pulang sekarang, Monang. Kerabatmu datang menjemput. Ayahmu sakit keras,” katanya. Dan akhirnya, Monang tahu bahwa sebenarnya saat kerabatnya datang menjemputnya, waktu itu, ayahnya sudah meninggal. Bruder Marsianus terpaksa berbohong supaya Monang tidak langsung terguncang dengan kematian ayahnya…. “I-ibu…,” suara kak Nurma terputus. “I-i-ibu kenapa, Kak…?” “Nah…,” “Ibu kenapa, Kak…?” “Mo-nang…?” “Mmm… I-i-ibuu…?” Monang mengangguk dan lega. “Kau belum tidur, Nak?” “Beginilah tukang koran, Bu. Kadang sampai larut malam mengerjakan koran-koran atau tabloid yang mesti dikembalikan…. Tapi, Ibu pun kenapa belum tidur? Besok pagi kan bisa bertelepon? Atau aku yang menelepon besok…? “Ya, tapi ini penting, Monang! Aku takut lupa menyampaikannya besok. Karena itu aku bangunkan Nurma untuk menelepon kau… Aku ingin kau mengabulkan permintaanku ini, Nak…!” Oo, permintaan! Monang terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat. Ia menebak-nebak apa kira-kira permintaan ibu. Pakaian? Kaca mata? Keliling Jakarta? Atau tiket pesawat untuk pulang ke Medan?… Atau ibu hendak ditemani ke rumah paman di Surabaya?… Rasanya tidak mungkin! Empat kakaknya (secara ekonomi, berkecukupan) tinggal di Jakarta selalu siap memenuhi semua permintaan ibu…. Bahkan kakak-kakaknya itu sering meminta tolong kepadanya supaya membujuk ibu agar mau menerima apa yang mereka berikan dan lakukan untuk ibu. Kak Sondang pernah memohonnya supaya membujuk ibu mau ikut ke Bali bersama keluarga kak Sondang. “Aku tukang mabuk, nanti aku merepotkan mereka,” jawab ibu waktu itu. Namun, ibu mau juga ikut…. “Mo-nang? Kau mendengar aku…?” “Mm…i-i-iya, Bu….” “Lusa Ibu pulang, Nak…. Maafkanlah, Ibu tak bisa menginap di rumahmu. Tak ada yang sempat mengantarkan. Kaupun tentu sangat kesusahan bila harus menjemput dan mengantarkan aku lagi. Nanti terganggu usaha koranmu. Tak apa-apa, ya, Nak…. Pertemuan kita hari Sabtu lalu di rumah Kakakmu Pintanauli sudah memuaskan rinduku pada kalian semua—anak-anak, menantu dan cucu-cucuku…!” “Mm… iya, Bu….” Ah, ah! Lalu apa permintaan ibu?… Monang tak berani menanyakannya lebih dulu. Ia takut kalau-kalau permintaan itu mustahil ia penuhi. Tapi alangkah bahagianya kalau ia dapat memenuhi permintaan sang ibu. Betapa. Sejak ia menyaksikan ayah memukuli ibu, ia bertekad membahagiakan ibu. Namun, sampai sekarang ia merasa belum bisa melakukannya. Ya, sebagai anak lelakinya! Pernah ia dan istrinya menabung duit untuk membeli kalung emas. Mereka memberikan kalung itu kepada si ibu saat kelahiran anak pertama mereka. Tapi lima bulan kemudian, anak mereka sakit dan mesti dioperasi. Monang dan istrinya kekurangan biaya. Monang tak mau meminta bantuan kepada kakak-kakaknya. Si ibu menyuruh jual kalung itu untuk menambahi biaya operasi anak mereka. Monang menerima kalung itu dengan mata berkaca-kaca. Si ibu menguatkan hatinya. “Aku tahu keadaanmu, Nak. Aku tahu hatimu!” katanya. Peringatan dari telepon genggam Monang: battery low! “Mon….” Terputus. Monang cepat-cepat mengambil charger dan melakukan pengisian. Dan beberapa saat kemudian ia menghidupkannya. “Hallo,” kata ibu dari seberang sana. “Kenapa putus?” “Habis baterei, Bu,” “Oo…” “Ibu…! Katakanlah apa permintaanmu itu…,” kata Monang akhirnya. “Permintaanku?” “Ya, Bu.” Monang menghela nafas. “Tapi, ada kak Nurma di situ…?” “Sejak tadi dia terlelap di sofa, di sebelahku….” Monang memasang pendengaran baik-baik. Ia seolah-olah takut salah mendengar apa yang dikatakan ibunya. Dan, ia sambil berdoa dalam hati semoga bisa memenuhi permintaan sang ibu tersayang. “Di kampung Silotom banyak pohon johar di situ…. Kau ingat tempat itu, Monang….?” Monang mengiyakan. Ia ingat. Teman sebangkunya sampai tamat SD dari Silotom. Pinus Situmorang! Lalu ia mengernyitkan kening. Adalah jalan mendaki menuju kampung itu. Lantas?… Monang memikir-mikirkan kemana ujung perkataan ibu. Tapi juga mengira-ngira makna apa di balik ucapannya. Karena si ibu pandai bertutur dengan kiasan-kiasan. Berpantun pun. Mataniari manogot di Habissaran/dung botari di Hasrundutan/Sai mangoluma marhapistaran/gabe jolma naboi pangihutan—matahari terbit di Timur/ketika sore ada di Barat/selama hiduplah jadi pintar/menjadi panutan semua orang. “Monang? Kau mendengarku kan…?” “Iiya. Teruskanlah, Bu…,” “Ada dua batang yang besar lurus tinggi kulihat di situ, dua hari sebelum aku berangkat ke sini. Pemiliknya Ompung Ojak. Aku sudah katakan supaya jangan dijual ke orang lain….” Monang ingat, di kampungnya ada pohon mangga, pohon johar, dan pohon-pohon bambu memagari kampung. Bila kayu bakar di rumah habis, ayah selalu menyuruh pak Joh menebang secukupnya. Sepeninggal ayah, ibulah yang selalu menyuruhnya. Kalau pohon mangga yang hendak ditebang, maka dipilih pohon atau dahan yang tak menghasilkan buah lagi. Kalau pohon johar, maka ditebang yang tidak lurus. Sesekali pohon bambu yang sudah tua dijadikan kayu bakar. “Lagi pula, tinggal Ibu, kak Rita dan keluarganya serta Nai Haposan di kampung kita kan?… Nai Manjur sudah meninggal… tak ada anak-anaknya yang di kampung. Keluarga Amani Hobas merantau ke Sumatera Timur. Siapa lagi? Keluarga Amani Gonggom merantau juga… Apakah di kampung kita tak ada lagi pohon yang bisa ditebang, Bu…?” “Ada, Nak…,” “Terus…?” “Berjanjilah dulu kau akan membeli dua pohon itu untuk Ibu. Sepulang dari sini, aku akan beritahu Ompung Ojak…. Bagaimana, Nak…?” Oh, Ibu! Monang menarik nafas. Diam beberapa saat. “Baiklah, Bu…!” “Bagus, Nak,” jawab ibu cepat. “Sekarang dengarlah baik-baik…!” Monang mengangguk. Monang seperti melihat ibu menanami bibit-bibit johar di sekujur tubuhnya. “Dua pohon itu akan menjadi rumahku kelak, Nak….” “Apa, Bu? Ibu kan masih sehat….” “Satu batang digunakan sebagai peti, Nak….” “Ibu masih kuat. Jangan memikirkan yang tidak-tidak, Bu….!” “Sebatang lagi sebagai tutupnya…. Aku ingin ada kacanya juga, Nak….” “Ibu…!” Tut-tut-tut…. Monang menelepon. Menelepon. Menelepon. Tapi ia hanya mendengar nada sibuk di seberang sana. Aku ingin menyenangkan hatimu, Ibu, seperti yang kakak-kakak lakukan. Tetapi kenapa meminta rumah kematian dariku?***

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme